Martabat dan Makna

Seorang pendeta di sebuah kota kecil di luar Lynchburg, Virginia, menceritakan kisah ini:

Diaken saya datang pada saya meminta bantuan saya. “Dalam jemaat kita,” ia berkata, “ada seorang janda dengan enam anak. Saya telah melihat catatan saya dan mendapatkan bahwa ia selalu memberikan persembahan empat dolar setiap bulan – perpuluhan dari penghasilannya. Tentu saja ini terlalu besar bagi dia. Kami minta Anda berbicara pada janda itu memberitahu agar ia jangan menganggap itu sebagai keharusan dan membebaskan dia dari tanggung jawab itu.”

Saya bukan orang yang bijaksana. Waktu itu lebih tidak bijaksana lagi. Saya pergi dan menyampaikan padanya keprihatinan para diaken. Saya berkata pada dia seramah dan sesimpatik mungkin agar ia tidak merasa terbeban. Ketika saya bercakap dengan dia, air mata membasahi pelupuk matanya. “Saya ingin memberi tahu Anda,” ia berkata, “bahwa Anda sedang mengambil hal terakhir yang memberi hidup saya bermartabat dan bermakna.”
Source: These Times
copy paste dari situs gki pasteur
-----

Manusia sering berpikir dan bertindak berdasarkan apa yang nampak, apa yang di dengar dan apa yang dia rasakan. Dengan dasar semua itu dia akan berpikir lantas menyimpulkan dan merealisasikannya ke dalam perbuatan.
Tuhan hanya memandang hati. Ini yang manusia tidak bisa lakukan.
Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati. 1Sam.16:7

Satu lagi yang sering manusia lupa, bahwa Tuhan adalah Maha. Seringkali kita lupa bahwa Tuhanlah pencipta segalanya, pemelihara dan pemberi hidup. Kita sering bertindak seolah-olah untuk menolong Tuhan, meringankan pekerjaan Tuhan dll. Seringkali kita merasa tindakan orang lain salah atau tidak sesuai, sehingga sah-sah saja kita menilai dan menghakimi mereka. Tetapi kita lupa bahwa Allah pasti juga sedang melihat. Allah yang berhak untuk menghakimi, karena setiap individu adalah milik Allah, kepunyaan Allah, kesayangan Allah. Menyakiti hati orang lain sama dengan menyakiti hati Allah. Sudahkah itu terpikirkan?

Siapakah diantara kita yang tidak menyayangi kepunyaannya? Seorang ibu akan menangis diam-diam jika anaknya sakit. Demikian juga suami akan tidak bisa tidur jika putera kesayangannya sedang sakit. Seorang anak kecil akan menangis bila seseorang merusakkan mainan yang disukainya. Dan jika kita bisa memahami semua itu, pahamilah apa yang Allah rasakan jika diantara anak-anakNya saling menyakiti.

Allahlah yang akan memperbaiki dan meluruskan segala kesalahan manusia. Tugas kita hanyalah mengingatkan dan mendoakan, baik untuk orang lain ataupun berdoa untuk diri sendiri. Karena hikmat Allah berbeda dengan hikmat manusia. Belum tentu apa yang kita rasa benar adalah benar. Hendaknya kita minta tolong kepada Allah untuk memberikan pimpinan. Hanya Dia yang sanggup untuk merubah ketidakbenaran menjadi benar, kesalahan menjadi hikmat dan kepedihan menjadi sukacita.

Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. Yeremia 18:4