Kemarin khotbah, Pendeta cerita pernah ditanya oleh dosennya,
mana yang lebih mudah dilakukan berkenaan dengan ayat di Roma 12:15;
Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan
menangislah dengan orang yang menangis!
Lebih mudah bersukacita dengan orang yang bersukacita...
atau
Lebih mudah menangis dengan orang yang menangis...
Sepertinya kecenderungan kita akan memilih yang pertama.
Karena nampaknya memang lebih mudah dilakukan.
Masalahnya... benarkah demikian?
Benarkah lebih mudah bersukacita dengan orang yang bersukacita.
Kenyataan banyak orang suka membandingkan apa yang mereka punya
dengan apa yang mereka tidak punya. Boro-boro bersukacita...
tetapi kita sering bersungut-sungut di tengah kesukaan orang lain.
Jika temen kita naik pangkat, kita bingung mencari tahu mengapa kita tidak...
Bila orang lain bisa bekerja mapan,
kita sering bertanya-tanya mengapa itu tidak terjadi padaku saja...
Bila sedang sakit, kita sering bertanya kenapa kog kita yang sakit...
Sebaliknya...
Jika ada orang yang kesulitan kita akan dengan mudahnya bersyukur...
ooohhh... ternyata ada orang lain yang lebih menderita dibanding dengan aku...
Bersyukur...ada orang yang lebih parah sakitnya dari aku...
Sigh...
Firman yang kelihatan begitu mudah dilakukan ternyata tidak bisa kita lakukan.
Dan celakanya tanpa kita sadari kita sudah memutar balikkan konsep tersebut
dan kita sesuaikan dengan keinginan kita sendiri.
Jadi... bukannya bersukacita dengan orang yang bersukacita...tetapi
bersuka cita karena ada yang menderita dan
menangis karena ada yang bersukacita...??
Terbalik..!!
Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan,
tetapi supaya ada keseimbangan.
Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka,
agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu,
supaya ada keseimbangan.
2Kor. 8:13-14