Menjaring Angin

Sekilas saya pernah membaca kalimat: "janganlah menyakiti hati Gus Dur karena kita akan berdosa besar" Agak geli sendiri membacanya. Jangankan menyakiti hati Gus Dur, menyakiti hati SBY, Megawati, JK, atau rakyat biasa juga berdosa. Bahkan jika yang kita sakiti pejabat, kita akan menanggung hal lainnya yang lebih tidak enak, yaitu resiko dimasukkan penjara. Hahaha, saya kira satu ini justru yang harus kita perhatikan.

Orang cenderung menjagai perilakunya jika berhadapan dengan orang yang mempunyai kedudukan. Dihadapan bos, kita cenderung bermuka manis atau banyak manisnya meskipun hati sedang tidak manis. Di sekeliling orang-orang terpandang kita juga cenderung untuk bersikap terpandang, sangat sopan dan alert, seakan-akan sedikit saja hal yang memalukan kita lakukan akan berakibat pada rusaknya image diri kita. Kita cenderung membangun image atau citra diri disesuaikan dengan lingkungan dimana kita berada.

Seorang teman baiknya luar biasa bila diantara teman-temannya. Tetapi menjadi berubah setelah di rumah. Sikapnya sangat bertolak belakang. Bukan lagi sebagai seorang yang menyenangkan, tetapi bisa berubah menjadi seorang yang pemarah, egois. Seorang bapak yang kaya raya mempunyai dua orang mantu, satu dari keluarga biasa, satu dari keluarga yang sama kaya rayanya dengan dia. Di dalam berbicara, sikap bapak tersebut bisa berbeda ketika berbicara dengan dua mantunya. Seorang Pendeta luar biasa baik dan aktifnya di saat melayani, tetapi bisa menjadi angin-anginan ketika berhadapan dengan istrinya sendiri. Dia bisa menjadi hamba Tuhan yang luar biasa dalam pelayanannya, tetapi menjadi duri yang menyakitkan bagi isterinya sendiri.

Pangkat, jabatan, kedudukan, kekuasaan, kekayaan dan semua embel-embel tersebut, bisa merubah perilaku seseorang. Kenyataan, fokus kita bukan lagi usaha untuk menghindari dosa, tetapi lebih terfokus pada keberadaan diri sendiri. Keamanan, kenyamanan, image dll, semua itu kita bangun dan upayakan dengan susah payah untuk sesuatu hal yang kelihatannya sangat penting bagi keberadaan kita. Kita tidak sadar bahwa kita sudah melupakan satu hal terpenting yang seharusnya kita hindari, yaitu dosa.

...Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah;
manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1Sa. 16:7)

Tepat sekali apa yang Firman katakan dimana manusia, "melihat apa yang di depan mata". Pangkat, jabatan, kekuasaan, kedudukan dan kekayaan, semuanya adalah hal-hal lahiriah yang nampak, yang dikejar orang, dan untuk mendapatkan semua itu, orang bisa merubah perilakunya, mengabaikan dosa, menjadi sombong dan bergaul akrab dengan kemunafikan.

Kita diciptakan segambar dengan Allah. Inilah hal yang seharusnya kita kejar dan upayakan. Bukan hal-hal lainnya. Allah kita adalah Allah yang kudus. Kekudusan inilah yang harusnya kita perjuangkan mati-matian. Dan janganlah lupa bahwa Allah adalah Roh dan Kerajaan Allah bukan di dunia ini. Bercermin pada Salomo, yang sudah mempunyai segala-galanya. Harta, kekuasaan, kedudukan, bahkan diberi hikmat yang daripada Allah. Tetapi pada akhirnya jatuh ke dalam dosa, karena lebih fokus kepada embel-embelnya daripada fokus kepada Allah.

Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari,
tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.
(Pkh. 1:14)

1st May, 2009