Sering kali mendengar kata pasrah. Tetapi dari satu kata ini, mempunyai beberapa arti. Ada yang pasrah dalam artian benar-benar berserah, ada yang pasrah dalam artian karena sudah tidak ada jalan lagi alias kepepet dan ada pasrah tetapi masih mencari kemungkinan-kemungkinan.
Untuk bisa pasrah, biasanya orang akan melewati hal yang tidak mengenakkan dulu. Jarang-jarang orang bilang pasrah di saat tidak sedang bermasalah. Dan untuk mengambil keputusan pasrah pun, biasanya tidak mudah. Karena kepasrahan itu sudah tidak murni lagi, sudah tercampur aduk dengan rupa-rupa emosi, menyangkut harga diri, dan sebisa mungkin dihindari, karena image pasrah yang terlanjur jelek. Sepertinya kalau sudah pasrah, berarti kita ini lemah, sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
Kepasrahan di dalam Tuhan, akan lain lagi ceritanya. Bukan disebabkan karena berserah, atau kepepet ataupun tidak ada jalan lain. Tetapi memang dihadapan Tuhan kita ini bukan apa-apa dan tidak akan bisa lari kemana-mana. Banyak sudah kesaksian, di saat mereka bisa merasakan kehadiran Tuhan yang maha kudus, di saat itu pula mereka menyadari betapa bobroknya kehidupan mereka.
Di hadapan manusia, kebobrokan itu masih bisa ditutupi, tetapi di hadapan Tuhan, tidak ada yang bisa ditutupi.
Pasrah di dalam Tuhan tidak akan sama dengan pasrah di dalam menghadapi masalah hidup. Di saat seseorang menemui kegagalan, masalah atau sedang kepepet. Pasrah di dalam Tuhan, bukan karena ini dan itu. Kalau pasrahnya manusia memerlukan perjuangan, dalam arti untuk bisa pasrah di saat-saat terakhir, pasrah kepada Tuhan kebalikannya, tidak di saat akhir, tetapi di awal, memerlukan start, dan tidak ada ujungnya atau selesainya.
Jadi, tidak perlu takut atau malu untuk pasrah atau jangan menunggu sesuatu terjadi dulu baru bisa pasrah, karena tidak mudah untuk bisa pasrah, membutuhkan waktu dan tenaga dan keberanian untuk mengakuinya. Dan yang lebih penting dari semua itu, bukan hanya kita yang memerlukan kepasrahan itu, tetapi juga Tuhan. Karena di saat kita pasrah, Dia baru bisa bekerja. Karena itulah Tuhan memerlukan kepasrahan kita mulai dari awalnya, bukan setelah kita diremukkan oleh dunia.
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,
Aku akan memberi kelegaan kepadamu. (Mat.11:28)
Sebab jika aku lemah, maka aku kuat. (2 Kor.12:10)
May 31, 2009