Ams. 3:5
Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.
Ini adalah satu ajaran yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana seharusnya percaya itu.
Pengalaman, orang mengaku percaya, tetapi tidak bisa melepaskan pikiran dan pengertiannya sendiri.
Memang kita hidup di dunia yang praktis dan nyata, di dunia yang mempunyai banyak cerita, pengalaman hidup, turun menurun. Otomatis di dalam pertumbuhan pendewasaan pikiran kita, banyak dicekoki dengan bermacam-macam peristiwa. Baik itu enak, tidak enak, sampai dengan yang mengerikan dan tidak sepantasnya. Dari situ kita melihat dan mengalami langsung semua kejadian baik disekeliling kita maupun kejadian yang diungkap melalui berbagai macam media, dan otomatis memori kita menyerap semua yang ada, pikiran kita meresponi dan menghubung-hubungkan sehingga menyimpulkan sesuatu jaringan yang sangat rumit, kuat dan berurat akar. Kenyataan inilah yang mendasari kita untuk mencari kebahagiaan.
Belajar dari pengalaman orang lain adalah baik, karena itu juga pelajaran nyata yang benar-benar terjadi tidak hanya kepada 1 orang, tetapi banyak orang dan terjadinya juga berulang-ulang. Jadi logikanya, pengalaman itu bisa dicontoh. Tetapi kadang kita melupakan satu hal, dimana setiap orang mempunyai jalan yang berbeda-beda. Kita cenderung melihat luarnya saja, tetapi yang sesungguhnya pengalaman orang tadi tidaklah sesederhana itu. Secara tidak sadar kita sudah terjebak kepada ilusi yang terlanjur berurat akar di memori. Dan tanpa kita sadari pula, pikiran sudah menjadi penentu langkah kehidupan kita, sebagai dasar pengambilan keputusan.
Setiap pribadi memiliki idealnya sendiri-sendiri, berdasarkan pengalaman hidupnya dan keinginannya. Bahagiaku tentu akan lain dengan bahagiamu. Dalam bersosialisasi, kita cenderung memiliki suatu criteria yang menurut kita baik dan secara tidak sadar kita ingin orang-orang di sekitar kita juga demikian. Demikian pula dengan orang lain di sekeliling kita. Mereka mempunyai standard sendiri-sendiri dan ingin membagikannya ke kita dengan tujuan yang sama, supaya kita juga seperti yang mereka harapkan. Kondisi ini terkadang berjalan mulus, yang berarti ke dua pihak saling menerima, tetapi kadang tidak, sehingga terjadi sengketa.
Semua bersikeras bahwa pahamnyalah yang terbaik, teruji, sudah dialami banyak orang, pengalaman yang terhebat, guru yang benar. Siapa yang salah? Karena semuanya merasa benar, kita mulai mencari siapa yang patut disalahkan, mulailah kita menyalahkan asal mula kita di dalam keluarga, mengapa kog tidak dilahirkan dalam keluarga yang ideal. Kita mulai menyalahkan lingkungan kita, dan siapa saja yang bisa kita pakai sebagai kambing hitam dan yang lebih parah kita mulai mengkais-kais mencari kesalahan Tuhan.
Allah banyak berfirman mengenai bahayanya pikiran manusia yang tidak berdasar pada semestinya. Di dalam kehidupanNya, Yesus banyak menyinggung dan mengajak kita untuk tidak tergantung kepada pikiran sendiri, seperti hal kebahagiaan, kekuatiran, ketakutan, kebimbangan, sampai kematian. semua hal yang pastinya akan menghalangi hubungan kita dengan Allah.
Setelah mengalami berbagai kekecewaan, bahkan menyalahkan Allah pun tidak berhasil, kita mulai mencoba berbaik-baik dengan Allah. Kita mencoba untuk mulai beriman kepadaNya dan berdoa. Tetapi di dalam perjalanannya, iman dan doa kita pun sudah keracunan dengan pikiran kita sendiri. Bagaimana jawaban doa, sudah tersetting rapi di otak. Allah seharusnya menjawab begini, kalau tidak, mungkin Allah akan menjawab begitu, dan kemungkinan terjelek, Allah tidak menjawab. Siapa Allahnya? Siapa sutradaranya? Ya pikiran kita sendiri. Jadi iman dan doa kepada Allah, sesungguhnya hanya untuk mensukseskan kebahagiaan kita pribadi dan apa-apa yang sudah tertanam di pikiran kita.
Bahagia yang benar adalah bahagia karena mengikuti jalan Allah.
Yer. 7:23
hanya yang berikut inilah yang telah Kuperintahkan kepada mereka: Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!
Luk. 11:28
Tetapi Ia berkata: "Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya."
1Ptr. 3:14
Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.
14/06/09