Sunday, July 12, 2009
Kata orang, yang namanya musibah, itu tidak ada yang tahu dan bisa datang sewaktu-waktu.
Jadi setiap orang, sepertinya mempunyai kans untuk mendapat musibah.
Hari ini masih seger buger, besok paginya, tiba-tiba bisa celaka.
Dan jika ditanya mengapa bisa celaka?
Jawabannya karena musibah.
Jadinya musibah dapat dikatakan sebagai jawaban yang pas jika ada orang celaka.
Yang namanya musibah, sehati-hatinya orang dia pasti akan celaka juga.
Sama halnya juga dengan nasib buruk, bisa hadir dimana saja.
Orang bangkrut dikatakan sudah nasibnya, orang miskin dikatakan sudah nasib.
Yang namanya nasib, mau lari kemanapun kalau sudah nasibnya begitu ya bagaimana lagi.
Masalah musibah dan nasib nampaknya sudah mendarah daging dan menjadi hal yang biasa.
Jadi, setiap ada orang celaka jawabnya sudah pasti karena musibah atau karena nasib buruk.
Bagaimana dengan jawaban Allah?
Benarkah Allah merencanakan celaka kepada ciptaanNya?
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu,
demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan,
untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Yer. 29:11
Kepada siapa manusia beriman? Kepada Allah? Kepada manusia? atau kepada allah2 lainnya?
Setiap orang pasti akan mengatakan hanya percaya kepada Allah.
Tetapi jika dia juga percaya kepada musibah dan nasib, siapakah Allahnya?
Difirmankan dengan jelas bahwa Allah tidak merencanakan kecelakaan.
Lalu jika masih ada kecelakaan, salah siapakah?
Apakah dengan mempercayai nasib buruk dan musibah sebenarnya hanya untuk tujuan
supaya tidak menghujat Allah. Karena di saat manusia celaka, dengan catatan dia sudah
menjaga dirinya dengan sangat hati-hati tetapi tetap celaka, siapakah yang bertanggung jawab?
Untuk menuntut Allah pastilah tidak mungkin, jalan satu-satunya adalah mempercayainya
sebagai musibah atau nasib buruk.
Jika orang yang sudah berhati-hati bisa celaka itu dinamakan musibah,
bagaimana dengan orang yang seenaknya tetapi selamat?
Apakah ini berarti orang yang asal-asalan tersebut nasibnya baik sekali?
Sudah kebut-kebutan tetapi selalu selamat. Mabuk-mabukan juga selamat.
Ibrani 4:12
Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun;
ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum;
ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.
Jikalau orang beriman kepada Allah tetapi mengimani juga akan nasib buruk dan musibah,
pastikan baik-baik, allah yang mana yang bertahta di hatinya.
Firman Allah menyingkapkan kepada kita, siapa diri kita yang sesungguhnya.
Apakah kita sungguh-sungguh ataukah berkompromi dengan hal-hal duniawi.
Apakah kita sudah hidup di dalamNya, ataukah hidup dalam bayang-bayang saja.
Dan yang terutama adalah Allah yang mana yang bertahta di hati,
dan sudahkan kita mengenalNya...
Yakobus 1:13
Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!"
Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.
ayat 18
Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran,
supaya kita pada tingkat yang tertentu
menjadi anak sulung diantara semua ciptaan-Nya.
GB!