OTK-Pelajaran 06

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Pertanyaan 06 | Referensi 06a | Referensi 06b

Nama Kursus : Orangtua Kristen
Nama Pelajaran : Efektivitas Pendampingan Orangtua terhadap Anak
Kode Pelajaran : OTK-P06

Pelajaran 06 - Efektivitas Pendampingan Orangtua terhadap Anak

Daftar Isi

  1. Arti Penting Pendampingan
    1. Arti Pendampingan
    2. Jiwa Orangtua yang Mendampingi
  2. Peran Orangtua dalam Mendampingi Anak yang Bermasalah
    1. Anak dengan Masalah Belajar
    2. Anak dengan Masalah Rokok dan Narkoba
    3. Anak dengan Masalah Pornografi
    4. Anak dengan Masalah Games dan Internet
    5. Anak dengan Masalah Cacat Mental
  3. Kesimpulan

Doa

EFEKTIVITAS PENDAMPINGAN ORANGTUA TERHADAP ANAK

Kita sudah belajar bahwa tugas dan tanggung jawab utama orangtua Kristen adalah mengenalkan Allah kepada anak. Hal ini menuntut peran aktif orangtua dalam memberikan teladan hidup saleh kepada anak. Selain memberikan teladan hidup, orangtua juga perlu berperan aktif dalam mendampingi anak-anaknya melewati berbagai fase kehidupan. Dengan pendampingan yang efektif, diharapkan anak dapat bertumbuh dan berkembang dalam jalur yang benar, serta memiliki keadaan rohani maupun psikologis yang baik. Dalam Pelajaran 06, kita akan belajar arti penting pendampingan orangtua terhadap anak dan secara khusus belajar tentang pendampingan orangtua terhadap anak yang bermasalah.

  1. Arti Penting Pendampingan
    1. Arti Pendampingan
    2. Arti kata pendampingan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suatu proses atau perbuatan mendampingi. Kata mendampingi sendiri memiliki arti menemani atau menyertai dekat-dekat. Mendampingi di sini bukan sekadar menyertai secara kehadiran fisik, tetapi juga pendampingan secara mental (psikis/psikologis). Agar peran pendampingan berjalan dengan efektif, orangtua harus mengenal anaknya secara mendalam, baik dari segi kepribadian, kehidupan rohani anak, masalah-masalah yang sedang dihadapi anak, pergaulannya, maupun hal-hal penting lainnya sehubungan dengan kehidupan anak-anaknya. Orangtua yang mengenal anaknya dengan baik dapat menentukan pendekatan yang tepat dalam menjalankan peran pendampingan terhadap anak.

    3. Jiwa Orangtua yang Mendampingi
    4. Stephen Tong mengatakan dalam buku "Seni Membentuk Karakter Kristen", "Terkadang guru dan orangtua dirugikan dengan apa yang dilihat secara fisik dan materi. Hal fisik dan materi hanya hal kecil karena ada tujuan yang jauh lebih tinggi. Anak-anak harus didampingi dengan memberikan ajaran yang sifatnya spiritual" (1995:48). Tidak jarang orangtua hanya melihat anak sebagai pribadi yang bertambah usianya, bertambah tinggi, bertambah berat, bertambah tingkat sekolahnya, dan hal-hal yang hanya dilihat oleh mata. Orangtua wajib memerhatikan hal-hal di luar perkembangan fisik, yaitu kondisi rohani dan mental anak. Pendampingan yang utama orangtua Kristen terhadap anak-anaknya dengan memberikan perhatian khusus terhadap kondisi rohani anak. Orangtua harus membimbing anak-anaknya untuk bertumbuh dalam ajaran yang sehat sesuai kebenaran firman Tuhan sehingga anak bertumbuh kuat dalam iman, memiliki karakter Kristus, dan anak dapat menjadi terang di mana pun mereka berada. Selain itu, orangtua juga perlu memerhatikan kondisi mental/psikis anak seperti karakter-karakter yang dominan dalam diri anak, bagaimana cara anak menghadapi masalahnya, bagaimana anak-anak berelasi dengan teman-temannya, pengenalan anak akan dirinya, dsb..

      Selain mengenal anak secara fisik, mental, dan spiritual, peran pendampingan akan berjalan dengan efektif jika orangtua memiliki jiwa pendampingan seperti yang diungkapkan oleh Pdt. Stephen Tong dalam bukunya "Seni Membentuk Karakter Kristen" berikut ini.

      1. Jiwa yang luas.
      2. Jiwa yang luas adalah jiwa yang dimiliki orangtua agar orangtua dapat memandang anak yang satu dengan anak yang lain sebagai pribadi yang berbeda. Orangtua harus memiliki jiwa yang luas dan lebar untuk mengerti sifat masing-masing anak, rela menampung keberagaman sifat anak, dan terus mendidik mereka dalam ajaran maupun didikan yang benar.

        Dalam hal ini, kita dapat belajar dari Tuhan Yesus yang memahami karakter dua belas murid-Nya. Para murid memiliki karakter yang khas dan berbeda satu sama lain. Petrus seorang yang spontanitas dan berapi-api, sedangkan Yohanes dan Yakobus adalah seorang yang emosional dan menyala-nyala. Demikian pula dengan Yudas yang berpikir keuangan dan menjadi bendahara bagi para murid, atau Filipus, seorang yang tenang dan suka berpikir. Masing-masing murid Yesus memiliki karakter yang berlainan, tetapi Yesus mampu memahami mereka satu per satu, dan Yesus mampu menerima mereka dengan berbagai karakter yang mereka miliki. Yesus rela mengajar dan mendampingi para murid kurang lebih selama 3,5 tahun, kendati seorang murid yang bernama Yudas harus gagal dan justru menyerahkan Yesus untuk diadili hingga mati di kayu salib. Namun, di sisi lain, Yesus mampu mengubah sebelas murid dan para murid yang lainnya untuk mengenal Allah Bapa, mengenal karya Anak dan Roh Kudus, dan menjadikan mereka pribadi yang siap melayani pekerjaan Allah.

      3. Jiwa yang berkorban.
      4. Sebagai seorang pendamping, orangtua juga harus memiliki jiwa yang rela berkorban bagi anak-anak mereka. Sama seperti Kristus yang sudah memberikan Diri-Nya disalib dan menjadi tebusan bagi semua orang, orangtua juga harus dan siap berkorban untuk anak.

        Pada masa postmodern ini, orangtua berpikir bahwa mereka harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan fisik/materi anaknya. Jika kebutuhan anak sudah terpenuhi, bahkan berlebih, itu berarti tugas orangtua sudah dilaksanakan dengan baik. Kasih sayang orangtua hanya diukur materi. Orangtua yang berpikir seperti ini harus introspeksi diri, apakah anak-anaknya sudah benar-benar terpenuhi seluruh kebutuhannya? Tidak jarang, uang justru akan menjauhkan anak dari orangtuanya. Hal negatif lainnya pun bisa timbul, mulai dari orangtua tidak lagi peka terhadap kebutuhan mental dan rohani anaknya, sampai anak-anak yang mengalami berbagai masalah pergaulan, masalah rohani, dan masalah kejiwaan. Oleh karena itu, sebagai orangtua Kristen, marilah kita berkorban dan mendampingi anak-anak dengan sebaik mungkin. Marilah kita meneladani Kristus untuk mau berkorban bagi anak-anak kita agar mereka dapat kita bawa untuk memuliakan Tuhan.

  2. Peran Orangtua dalam Mendampingi Anak yang Bermasalah
  3. Peradaban kian maju. Masalah kehidupan pun makin kompleks. Hal ini dialami juga oleh anak-anak kita. Pada masa sekarang ini, masalah anak banyak berkaitan dengan belajar, rokok dan narkoba, pornografi, games, internet, dan masalah khusus apabila anak kita mengalami cacat mental. Berikut ini adalah peran orangtua dalam mendampingi anak yang bermasalah.

    1. Anak dengan Masalah Belajar
    2. Apabila kita memiliki anak yang suka belajar dan mengikuti sekolah dengan baik, mungkin beban di pundak orangtua rasanya lebih ringan. Namun, terkadang ada beberapa anak yang memiliki masalah berkaitan dengan hal belajar. Sebagai contoh, anak sudah berusia tujuh tahun, tetapi belum bisa membaca dan berhitung karena sulit mengikuti pelajaran di sekolah.

      Bagaimana orangtua dapat mendampingi anak yang mengalami masalah ini?

      1. Pahami kondisi anak dengan sebaik mungkin. Dengan memahami kondisi anak, orangtua perlu bersikap bijaksana dengan mencari tahu akar masalahnya dan pelan-pelan membimbing anak untuk menemukan solusi dari masalah belajarnya tersebut.
      2. Dorong anak untuk belajar dengan metode belajar yang berbeda-beda sampai kita dapat menemukan satu metode yang tepat. Mungkin anak hanya perlu dibantu untuk menemukan metode belajar yang sesuai dengannya. Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda. Orangtua bisa mengomunikasikan hal ini pula dengan gurunya.
      3. Letakkan buku dan alat belajar yang mudah digapai anak. Anak yang masih kecil pasti akan kesulitan untuk mengambil barang yang ditaruh di tempat yang tinggi. Karena itu, orangtua dapat meletakkan buku-buku, pulpen, pewarna, dan alat belajar di tempat yang mudah dijangkau oleh anak.
    3. Anak dengan Masalah Rokok dan Narkoba
    4. Ingatkah Anda dengan seorang anak kecil di Jawa Timur yang sudah lihai merokok dan mampu menghabiskan berbatang-batang rokok dalam sehari? Rokok menjadi barang yang ingin dirasakan oleh anak. Lebih-lebih, anak yang sudah remaja. Pada masa sekarang ini, rokok dan narkoba menjadi barang yang ingin dicoba oleh anak-anak. Untuk itu, orangtua perlu menekankan kepada anak-anak bahwa tubuh mereka adalah Bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19). Buka pikiran mereka bahwa tidak semua hal di dunia ini berguna dan bermanfaat bagi mereka. Justru, banyak hal yang akan merusak diri mereka sendiri. Orangtua dapat memberitahukan kepada anak dampak negatif dari rokok dan narkoba. Jika anak Anda memerlukan rehabilitasi, dampingilah mereka sampai mereka benar-benar merdeka dari keterikatan tersebut.

    5. Anak dengan Masalah Pornografi
    6. Hasrat seksual tidak hanya dimiliki oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Bagi anak-anak dan remaja, pornografi adalah sesuatu yang dipikir dapat memuaskan hasrat seksual mereka melalui games, kartu, gambar, maupun video yang seronok. Pornografi dapat mengakibatkan perilaku menyimpang anak, misalnya anak yang melakukan pemerkosaan, pelecehan, dan kekerasan seksual. Pornografi dapat memicu terjadinya penyakit kelamin, kehamilan di luar nikah, dan kecanduan seksual. Pornografi mengganggu perkembangan dan identitas anak. Lalu, bagaimana cara orangtua menolong dan mendampingi anak yang kecanduan pornografi?

      1. Buang dan jauhkan barang-barang yang mengandung nilai sensual di rumah. Apabila ada poster, koran, kartu, dan video yang mengandung nilai sensual, segera buang semua itu.
      2. Cek Smartphone dan laptop yang dipakai oleh anak. Orangtua sering menyangka anaknya baik-baik saja, tetapi ternyata anak yang dilihat baik-baik saja justru menyimpan video atau gambar porno dalam direktorinya. Karena itu, lakukanlah pengecekan terhadap Smartphone dan laptop yang digunakan anak. Bila Anda menemukannya, lebih baik segeralah hapus direktori tersebut.
      3. Ajarkan pendidikan seks sejak dini. Orangtua Kristen harus mengajar anak-anak bahwa seks harus dilakukan dalam cara yang benar. Orangtua juga menekankan bahwa jangan sampai anak-anak jatuh dalam dosa karena mata mereka.
    7. Anak dengan Masalah Games dan Internet
    8. Pada era digital seperti sekarang ini, games dan internet menjadi candu bagi anak-anak. Games online menjadi favorit bagi anak-anak karena 'games' ini memiliki jaringan yang mampu mengakses jaringan internet yang ada di seluruh dunia. Tidak jarang, anak-anak mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain games online dan bermain internet. Anak-anak yang sudah kecanduan games akan kehilangan waktu belajar mereka, suka hidup di dunia virtual, berteman dengan sesama penyuka games, menurunnya prestasi di sekolah, dan tidak menggunakan uang sakunya dengan bertanggung jawab.

      Lalu, bagaimana cara orangtua mendampingi dan menolong anak-anak yang kecanduan games dan internet?

      1. Didik anak untuk menggunakan internet dengan bijak. Contohnya, 'browsing' untuk hal-hal yang edukatif.
      2. Beri anak "games" tradisional. Apabila orangtua ingin memberikan games digital, unduhkan games Alkitab untuk anak, seperti Teka-Teki Alkitab, Tebak Tokoh Alkitab, dll..
      3. Kenalkan anak pada aplikasi Alkitab yang dapat menolong anak untuk menggunakan internet dengan bijak. Orangtua dapat mengunduhkan Alkitab Anak-Anak, Cerita Alkitab Terbuka, Komik Alkitab, dan Cerita Injil Audio untuk anak. Semua aplikasi yang ada di gawai anak harus diketahui orangtua. Arahkan anak melalui teladan Anda untuk mengunduh apps yang menolong anak bertumbuh dalam iman.
    9. Anak yang Cacat Mental
    10. Orangtua tidak dapat memilih untuk memiliki anak yang sehat dan normal atau seorang anak dengan cacat mental. Semua anak adalah anugerah dari Allah. Karena itu, orangtua harus menerima anak yang berkebutuhan khusus secara mental dan mengasihi mereka dengan sepenuh hati.

        Bagaimana cara orangtua mendampingi anak yang mengalami cacat mental?
      1. Menerima kondisi anak. Jangan menyalahkan siapa pun atas kondisi anak, melainkan terimalah anak Anda dengan kasih karena Kristus pun mengasihinya. Apabila kita mengetahui bahwa anak kita mengalami keterbelakangan mental, tindakan terbaik adalah memberikan cinta kasih yang penuh dan terapi untuknya sehingga anak dapat mengalami pemulihan.
      2. Harus siap hidup dengan anak dalam waktu yang panjang. Jiwa seorang pendamping adalah jiwa yang berkorban. Karena itu, orangtua harus siap hidup dengan anak yang memiliki keterbelakangan mental dalam waktu yang panjang. Tunjukkan kasih kepada anak dan korbankan diri Anda untuk mengasuh dan mendampingi anak, seperti Kristus sudah mengasihi Anda dan anak Anda.
  4. Kesimpulan
  5. Melalui seluruh pelajaran yang sudah disajikan, dapat disimpulkan bahwa menjadi orangtua adalah suatu berkat dari Tuhan. Tuhan menitipkan anak-anak milik-Nya kepada Anda, dan Anda berkewajiban untuk mendidik, mengajar, mengasuh dan mendampingi anak-anak dengan bertanggung jawab. Dalam melakukan tugas sebagai orangtua, jangan lupakan bahwa anak adalah pribadi yang berharga di mata Allah. Oleh karena itu, jangan menyia-nyiakan anak kita. Bawalah anak-anak mengenal Tuhan, berkarakter Kristus, dan menjadi pribadi yang tangguh melalui keberadaan Anda, yang adalah orangtua mereka.


Akhir Pelajaran (OTK-P06)


Doa

"Bapa, aku bersyukur karena hari ini aku belajar bahwa orangtua mengemban tugas yang tidak mudah. Ajari aku untuk menjadi pendamping dan penolong bagi anak-anakku. Ajar aku untuk menjadi cermin, sehingga anak-anakku boleh mengenal Tuhan melalui keberadaanku. Amin."

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]