OTK-Referensi 02a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b

Nama Kursus : Orangtua Kristen
Nama Pelajaran : Keluarga Kristen
Kode Pelajaran : OTK-R02a

Referensi OTK-R02a diambil dan diterjemahkan dari:

Judul buku : Restoring the Christian Family
Judul bab : Restoring the Biblical Functions of the Family
Judul asli artikel : Restoring the Biblical Functions of the Family
Penulis
: John dan Paula Sandford
Penerbit : Victory House, Inc., Tulsa, 1979
Halaman : 221 -- 234

REFERENSI PELAJARAN 02a - KELUARGA KRISTEN

MENGEMBALIKAN FUNGSI ALKITABIAH KELUARGA

Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat. (Kejadian 12:2-3)

Ketika pola pikir materialistis meyakinkan manusia bahwa hanya hal yang bisa dibuktikanlah yang nyata, sebuah pengikisan mental Alkitabiah menghasilkan hilangnya begitu banyak fungsi vital dari sebuah keluarga. Fungsi Alkitabiah dalam sebuah keluarga tergantung pada kesadaran akan kebutuhan dari roh dan jiwa. Ketika keduanya tidak lagi dianggap utama, semua praktik di dalam keluarga yang dirancang oleh Tuhan untuk memelihara dan menggembalakan roh dan jiwa berhenti bertumbuh dan mati.

Keluarga bukan tempat untuk membangun jiwa; Tuhan yang melakukannya. Tapi Dia memiliki rencana untuk membangun jiwa melalui apa yang terjadi di dalam keluarga. Setan berkeinginan untuk menghancurkan apa pun yang bisa membangun jiwa (Yohanes 10:10); maka dari itu, dia telah menetapkan dirinya untuk menghancurkan apa pun yang Tuhan bentuk untuk pengajaran dan pemeliharaan jiwa (contohnya: gereja, sekolah, dan rumah tangga).

Pada bab-bab sebelumnya kita sudah berusaha untuk memulihkan pemahaman yang tepat atas apa yang terjadi pada kepribadian dan karakter dalam rumah tangga Kristen, dan untuk mengungkap apa yang bisa merusaknya, dan bagaimana salib dan kebangkitan-Nya memulihkannya. Sekarang kita akan memulihkan kepada para orangtua apa saja fungsi-fungsi Alkitabiah yang secara khusus berhubungan dengan pengajaran dan pemeliharaan roh dan jiwa anak-anak.

Mungkin pemberian terpenting yang bisa dilimpahkan oleh seorang ayah adalah berkatnya. Berkat dari seorang ayah mengarahkan aliran dari kemurahan hati Tuhan. Dengan begitu Tuhan telah menempatkan para ayah sehingga doa mereka memberikan jalan, atau menghambat, karunia Tuhan. Prinsipnya sangat sederhana. Tuhan telah memberikan kita kehendak bebas. Dia telah memberikan pemeliharaan anak-anak kita di tangan kita. Dia tidak akan ikut campur atau mengambil alih; Dia adalah Bapa yang baik. Oleh karena itu, pemberkatan anak-anak menunggu undangan dari kita. Tanpanya, meskipun Tuhan ingin untuk membantu anak-anak kita lebih daripada kita sendiri, Dia mengekang tangan-Nya. Akibatnya seorang anak tanpa berkat dari ayahnya mengembara di tanah yang gersang secara rohani dan yang tidak menghasilkan buah. Seorang pria berusia lebih dari dua puluh satu tahun, lahir baru di dalam Kristus, tidak begitu rentan terhadap ayahnya, karena dia telah menemukan relasinya sendiri dengan Tuhannya. Meski begitu, walaupun efek negatif dari kutukan seorang ayah tidak lagi begitu mencegahnya, dia tidak dapat memiliki keutuhan yang bisa saja dia dapatkan jika urapan ayahnya hadir atasnya. Berkat seorang ayah membuka gerbang air surga (Kejadian 12:3). "Maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku" (Kejadian 22:17-18).

Yakub bersekongkol dengan ibunya melawan Esau untuk berkat ayahnya dan menang.

Lalu datanglah Yakub dekat-dekat dan diciumnyalah ayahnya. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: "Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN. Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah. Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia. (Kejadian 27:27-29)

Perhatikan bahwa berkat Ishak atas Yakub bukanlah basa-basi yang umum, tetapi hal-hal khusus yang kuat. Yakub akan menjadi makmur sebagai petani, orang-orang akan melayani dia, termasuk saudara-saudaranya, dan orang-orang yang diberkatinya akan terberkati, dan yang dia kutuk akan terkutuk. Tepatnya hal-hal itu belum sepenuhnya terpenuhi sampai hari ini. Pernyataan berkat seorang ayah adalah perkataan Tuhan kepada anak-Nya untuk anak-anak dari anak-Nya itu, dan firman Tuhan tidak akan sia-sia. Dia akan terlaksana dan berhasil. (Yesaya 55:11).

Setelah itu Yakub mengutuk dan memberkati setiap dari kedua belas anaknya (Kejadian 49). Setiap pernyataan adalah hukuman dan nubuat. Setiap pernyataan itu sangat spesifik dan berkuasa untuk menghancurkan atau mendisiplin atau mengampuni dan memberkati. Dan, setiap pernyataan itu telah dan masih belum terpenuhi dalam setiap detailnya. Tuhan tidak akan melanggar kehendak bebas dari anak-anak-Nya, tidak juga membiarkan firman-Nya melalui mereka jatuh ke tanah.

Esau, karena gagal mendapatkan berkatnya, berseru "dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya":

    ... "Berkatilah aku ini juga, ya bapa!" Jawab ayahnya: "Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu." Kata Esau: "Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku." Lalu katanya: "Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?" Lalu Ishak menjawab Esau, katanya: "Sesungguhnya telah kuangkat dia menjadi tuan atas engkau, dan segala saudaranya telah kuberikan kepadanya menjadi hambanya, dan telah kubekali dia dengan gandum dan anggur; maka kepadamu, apa lagi yang dapat kuperbuat, ya anakku?" Kata Esau kepada ayahnya: "Hanya berkat yang satu itukah ada padamu ya bapa? Berkatilah aku ini juga, ya bapa!" Dan dengan suara keras menangislah Esau. Lalu Ishak, ayahnya, menjawabnya: "Sesungguhnya tempat kediamanmu akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi dan jauh dari embun di langit di atas. Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu." (Kejadian 27:34b-40)

Sekali lagi, berkat Ishak keduanya spesifik dan bersifat nubuatan. Dia bernubuat bahwa pada akhirnya Esau, yang nantinya dikenal sebagai bapa orang Edom, akan terbebas dari kuk Israel, tapi karena berkat itu keliru diberikan, apa yang sudah dikatakan, karena itu adalah firman Tuhan, tidak dapat ditarik kembali. Apa yang terjadi sudah terjadi, dan akan terjadi sebagaimana yang telah dinubuatkan oleh berkat Ishak.

Mereka yang lebih tua bisa mengingat ketika tidak ada yang berpikir untuk menikahi seorang gadis tanpa meminta persetujuan dan berkat ayahnya. Baru-baru ini, beberapa orang mungkin mengingat "Fiddler on the Roof" (Pemain Biola di atas Atap - red), dimana tiga putri Tevye datang satu per satu kepadanya untuk meminta persetujuan dan berkatnya. Kepada yang sulung dengan senang hati dia memberikan persetujuan dan berkatnya. Kepada yang kedua dia memberikan persetujuan dan menambahkan bahwa mereka tidak meminta berkat darinya tapi dia memberikannya walau bagaimanapun. Adegan yang paling sedih dalam film itu muncul ketika Tevye tidak dapat memberikan baik persetujuannya maupun berkatnya. Putrinya yang paling muda, biji matanya, kemudian menjadi bukan-putrinya-sama-sekali baginya. Betapa kita sudah terjatuh begitu jauh dari firman Tuhan sampai kita kehilangan satu dari alat ayah yang terbesar dan paling berkuasa ini?

Saya (John) sedang mengunjungi rumah dari seorang psikiater Kristen ketika putri-putrinya dan putranya memasuki jam tidur dan berlutut di hadapannya dan meminta berkatnya. Saat dia menumpangkan tangannya di atas mereka dan berdoa, jiwa saya melompat kegirangan, dan mata saya penuh haru dan menangis. Tuhan sedang memulihkan kepada saya kemuliaan karunia-Nya. Sejak saat itu Paula atau saya mengucapkan berkat atas anak-anak kami sebelum mereka berangkat sekolah. Putra kami Loren, yang telah mempelajarinya di rumah, menumpangkan tangannya di atas perut istrinya setiap malam untuk berdoa bagi anak mereka yang belum lahir. Loren meminta restuku sebelum menikahi Beth. Dia seringkali menelepon jarak jauh untuk doa berkat bagi pekerjaan di gerejanya di Sacramento, dan Tuhan memakmurkan.

Ketika kami menulis bab-bab awal dalam buku ini, Paula dan saya merasakan seolah-olah dengan tulisan ini sendiri kami sedang menghantam kuasa kegelapan dengan perantaraannya. Pertempuran itu menjadi semakin berat dan berat. Kami terus meminta kepada Tuhan dan menerima Nehemia 4:10: "...Kekuatan para pengangkat sudah merosot dan puing masih sangat banyak. Tak sanggup kami membangun kembali tembok ini." Kemudian ayah saya pindah dari Joplin, Missouri, untuk tinggal bersama dengan kami, dan dalam doa bersama Pdt. David Dengler dan Profesor Bill Johnson terungkap bahwa Tuhan telah mengirimnya untuk berdoa bagi kami dan bagi tulisan ini. Segera kami terurapi penuh, pekerjaan ini menjadi ringan, dan kami disegarkan kembali. Kemudian kami menulis bab, "The Importance of Father's Love"! (Pentingnya Kasih Seorang Ayah - red)

Ayah saya hampir meninggal beberapa tahun yang lalu dan mengalami pengalaman di luar-tubuh dimana Tuhan mengirimnya kembali untuk tiga alasan, alasan yang kedua diingatnya untuk "penulisan buku-buku." Dia mengira bahwa dia harus menulis. Tapi yang sebenarnya karena Tuhan menginginkan buku ini untuk menjadi hasil dari sebuah keluarga, dan Ia tahu bahwa kami akan membutuhkan berkat dari ayah saya.

Para orang tua seharusnya berdoa untuk meminta bimbingan, dan ketika yakin akan arahan Tuhan, menyatakan berkat yang spesifik dan bersifat nubuatan atas anak-anak mereka. Tidak akan ada hilangnya kuasa jika orang tua mau berunding dengan anak-anak mereka terlebih dahulu, menanyakan apakah dan apa yang mereka mau. Persatuan adalah prasyarat dari kuasa. (Mazmur 133)

Di seluruh Perjanjian Lama Tuhan mengatakan tentang turunnya permasalahan dan dosa dari generasi ke generasi (Keluaran 20:5; 34:7; Imamat 26:39; Bilangan 14:18, 33; Ulangan 5:9; Ayub 21:19; Yesaya 14:21; Yeremia 32:18; Ratapan 5:7; dan seterusnya). Tapi firman Tuhan juga mengatakan tentang pewarisan berkat, baik melalui Kristus dan melalui manusia. Melalui Kristus: Roma 8:17; Galatia 3:29; 4:7; Titus 3:7; Ibrani 1:14; 6:17; dan lain-lain. Dan melalui manusia: Kejadian 12:1-3; 15:1-6; 17:1-8; 22:15-18; 26:24; 27:1-40; 49:1-28; Amsal 13:22; Mazmur 103:17; Yehezkiel 37:25; dan lain-lain. Lebih banyak yang diturunkan dari generasi ke generasi daripada yang bisa kita mengerti.

Berkat turun dengan tiga cara melalui pewarisan. Pertama, melalui gen yang kita warisi baik kesehatan jasmani dan kecenderungan pada karakter yang baik. Kedua, kita menerima berkat melalui emulasi dan pembentukan psikologis. Ketiga, melalui hukum tabur dan tuai, karena manusia menabur bukan hanya untuk tuaiannya sendiri, tapi juga untuk anak-anak dari anak-anaknya juga.

Tidak satu orang pun mengerti misteri dari gen dan keutuhan pewarisan, terlepas dari ilmu pengetahuan kita. Firman Tuhan sangat spesifik dan tersembunyi. "Dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (Kejadian 12:3b). Perhatikan kata kecil "olehmu." Lebih mendalam dan misterius di Ibrani 7:9, "Maka dapatlah dikatakan, bahwa dengan perantaraan Abraham dipungut juga persepuluhan dari Lewi, yang berhak menerima persepuluhan." Abraham adalah ayah dari Ishak, yang memperanakkan Yakub, yang adalah ayah dari Lewi. Namun Rasul Paulus mengatakan bahwa perbuatan Abraham adalah perbuatan Lewi dan perbuatan Lewi juga perbuatan Abraham! Dengan perantaraan Abraham? Dia berbicara seolah-olah dalam cara yang misterius, Lewi ada hubungannya dengan atau ikut ambil bagian dalam perbuatan kakek buyutnya Abraham dalam pinggangnya! Mungkinkah ada misteri integrasi dan pewarisan yang jauh melebihi tubuh fana kita?

Saya berbicara tentang sebuah misteri yang jauh melebihi kita semua, tapi biarkan saya (John) menyarankan setidaknya sebaris pikiran melalui sebuah pendapat. Saya dibesarkan di Joplin, Missouri, dan Kansas City, Kansas, di tengah orang-orang dengan prasangka dan ketakutan rasial yang besar. Perasaan itu seharusnya juga bersarang dalam diri saya. Namun, karena beberapa misteri di dalam diri saya, saya tidak bisa menerimanya. Saya tidak berhak mendapat pujian dari hal itu. Hati saya sejahat hati siapa pun juga. Adalah hal yang tidak dapat dijelaskan bagi saya bahwa orang kulit hitam selalu cantik. Dan saya tidak bisa menjelaskan pada diri saya sendiri mengapa saya selalu merasakan, jauh di dalam diri saya, rasa syukur yang aneh dan tidak dapat dijelaskan bagi orang berkulit hitam. Hal itu tidak menutup semua rasa keingintahuan yang dalam untuk mengetahui bahwa kata-kata pertama saya, saya ucapkan dari balik seragam seorang pembantu rumah tangga, yang mereka katakan sangat saya sayangi.

Di seminari saya mengendarai sebuah taksi pada suatu malam di Chicago. Ketika saya memulai, ketakutan yang besar baru saja muncul, dan semua pengemudi berkulit putih sangat takut untuk melalui sisi kota yang menjadi wilayah orang berkulit hitam. Sesuai hukum, mereka harus membawa penumpang mereka menuju wilayah-wilayah ini, jadi mereka menutup jendela mereka dan mengunci pintu dan menerobos rambu berhenti untuk kembali ke lingkungan orang berkulit putih. Hukum penawaran dan permintaan menunjukkan bahwa ada banyak bisnis di area orang berkulit hitam, jadi saya mengemudi ke sana hampir setiap waktu. Saya tidak pernah menolak seorang penumpang. Di sekitar saya, semua rekan sopir taksi saya tertahan. Salah satunya bahkan ditinggalkan berdiri pada kekosongan kecuali celana pendeknya di luar pada cuaca dingin! Tidak hanya saya tidak pernah tertahan, tidak seorang pun bahkan pernah menyusahkan saya. Orang-orang kulit hitam itu ramah dan baik kepada saya, dan seringkali berkunjung dan mengobrol. Saya menikmati saat-saat bersama mereka. Terkadang di tengah-tengah kemelaratan mereka memiliki esensi martabat yang selalu saya rasakan tentang mereka.

Saya bingung seringkali kenapa saya merasa seperti itu dan mengapa saya diperlakukan begitu baik. Saya seperti memiliki semacam berkat atau aura perlindungan dalam diri saya. Kemudian suatu hari setelah ayah saya datang untuk tinggal bersama dengan kami, dia mulai mengenang pengalaman Perang Dunia I-nya yang tidak pernah dia ceritakan sebelumnya. Saat tiba di Perancis, teman-teman angkatan lautnya dipanggil namanya satu per satu dan maju ke garis depan, kecuali ayah saya. Namanya tidak dipanggil. Sang Letnan menjawab, "Nak, kamu hanya perlu berusaha untuk dirimu sendiri. Carilah suatu tempat untuk tinggal dan seseorang untuk memberimu makan dan menunggu sampai perintah datang kepadamu," kemudian dia pergi dan meninggalkannya, seorang laki-laki berusia delapan belas tahun sendirian di negara asing saat perang, tanpa uang dan tempat tinggal. Ada dua orang buruh pelabuhan yang sedang membongkar muatan, satu seorang kru Italia dari jalanan kota New York, penuh dengan perkelahian dan penusukan. Ada seorang kru berkulit hitam dari peternakan di selatan. Ayah menghampiri orang kulit hitam itu, yang membawanya, merawatnya dengan kebaikan yang luar biasa, melindunginya, dan memberinya makan, sampai tiba pada saat ketika perintah untuknya datang. Dia biasa duduk dan mendengarkan berjam-jam sembari mereka bernyanyi dengan suara yang berirama seraya mereka mengayunkan peti-peti dan kotak-kotak dari tangan ke tangan.

Sambil dia berbicara, saya menyadari oleh lompatan pengakuan dalam jiwa saya dan urapan Tuhan, kenapa saya memiliki rasa sayang dan terima kasih yang begitu besar kepada orang berkulit hitam dan salah satu alasan kenapa nyanyian mereka selalu menyentuh saya begitu dalam. Jika Lewi benar-benar membayar persepuluhan dengan perantaraan Abraham, adakah misteri bahwa pengalaman ayah saya menjadi pengalaman saya juga? Apakah saya entah bagaimana mengetahuinya di dalam jiwa saya? ataukah itu hanya semacam "penurunan" berkat melalui pewarisan?

Kemudian saya mulai mengenang kembali dan ayah saya menambahkan banyak hal yang tidak saya ketahui sebelumnya. Ternyata darah Sandfords dalam garis keturunan saya adalah pemilik kebun di Kentucky; mereka memiliki budak. Mereka telah benar-benar baik kepada budak-budak mereka, dan para budak itu sangat mengasihi mereka. Ketika salah satu dari leluhur saya berusaha untuk membebaskan para budak itu dan pindah ke Missouri tanpa mereka, mereka memohon kepadanya untuk tidak melakukannya, dan dia mengalah dan membawa mereka ke suatu tempat di sebelah utara Kansas City. Kemudian sekali lagi dia berusaha membebaskan para budaknya.

Sementara, di lain pihak, adalah John A. Sandford dari negara bagian New York, dari keluarga kami, yang memiliki dan menyiksa orang Negro, Dred Scott, yang dari hal itu muncul kasus pengadilan Dred Scott dan keputusan Mahkamah Agung yang terkenal—yang luar biasa membantu menyelesaikan Perang Saudara!

Dapatkah semua "penurunan" ini hanya sebuah kebetulan? Berapa banyak berkat dan kecenderungan yang kita warisi? Saya tidak percaya kita perlu tahu atau mengerti misteri dari apa yang sebenarnya turun dalam ingatan rasial. Tapi saya percaya, Tuhan menginginkan agar orang tua menjadi peka bahwa perbuatan baik yang mereka lakukan dan temukan, turun sebagai karunia spesifik dan fungsi keorangtuaan mereka kepada anak-anak mereka.

Sekali lagi, saya (John) dibesarkan dalam suasana Protestan yang fanatik, anti-Katolik yang berat. Banyak prasangka, ketakutan, tuduhan, dan kebingungan yang diungkapkan di sekitar saya (tidak terlalu banyak dari keluarga kami sendiri tapi dari teman-teman dan lingkungan kami). Sekali lagi, secara tidak dapat dijelaskan hal itu tidak bersarang di hati saya. Saya tidak berhak mendapat pujian karena hal itu. Saya mencoba untuk berpikir seperti orang lain, tapi tidak bisa membuatnya tertanam. Saya mendapati diri saya tertarik menuju gereja Katolik. Di seminari, saya mempelajari khususnya para imam Jesuit dan Santo Francis Xavier, dan menemukan bahwa studi semacam itu secara tidak-dapat-dijelaskan menyentuh lubuk hati saya yang paling dalam.

Ketika Roh Kudus turun atas saya, dengan segera saya mendapati diri saya banyak melayani di antara orang Katolik Roma. Anehnya, meskipun selama masa muda saya tidak pernah mengikuti sebuah Misa Katolik, saya merasa nyaman dalam pelayanan Katolik. Sepengetahuan saya tidak ada satu pun yang beragama Katolik dalam keluarga saya, namun saya mendapati diri saya sebagai orang yang paling bahagia dan dipenuhi dalam Misa Katolik kharismatik.

Pada tahun 1968 dewan diaken saya memutuskan bahwa saya mulai menjadi terlalu lelah, dan mereka menyarankan saya untuk meminta orang lain untuk menemani saya jika saya ingin pergi ke suatu tempat untuk berceramah. (Pada waktu itu Paula sedang sibuk menjadi ibu untuk anak-anak yang masih kecil). Camp Farthest Out mengundang saya untuk berceramah pada bulan Juli di Tiffin, Ohio. Saya mengajak beberapa teman dari Midwest. Pada akhirnya, hanya Ami, putri kami yang tertua, dan Barbara Shlemon (seorang wanita awam Katolik Roma pada waktu itu dari Chicago, kemudian penulis dari Healing Prayer (Doa Pemulihan - red)) yang bisa datang bersama-sama dengan saya. Saat kami berkendara ke dalam kota, kami melihat sebuah gereja yang menarik. Karena kami datang agak awal, kami memutuskan untuk berhenti. Saat Ami, Berbara, dan Hal Spence, putra dari ketua kamp, dan saya memasuki gereja itu, Roh Kudus turun atas saya dengan cara yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Ami melihat ke arah saya dan berteriak, "Ayah, ada apa denganmu?" Gereja itu disebut St. Mary's Roman Catholic Church (Gereja Katolik Roma Santa Maria - red), dan Roh Kudus mulai memberitahu kami bahwa Dia sedang memanggil kami untuk berdoa atas penyesalan perpecahan historis besar antara Katolik Roma dan Protestan!

Sepanjang minggu itu jikalau kami memiliki waktu antara berceramah dan konseling, kami akan berdoa untuk pemulihan sejarah, menyesali semua penggantungan, pembakaran, tuduh-menuduh, dan peperangan di sepanjang sejarah gereja. Suatu hari kami berdoa untuk mereka, yang entah karena dibujuk, menikah melewati garis dan kemudian dikucilkan. Malam itu ibu saya menelepon saya dengan sambungan jarak jauh —itu adalah hari ulang tahun saya, dan dia telah berburu ke seluruh negara bagian untuk memberi ucapan selamat. Saya menceritakan kepadanya apa yang sedang terjadi. Dia mengatakan, "Oh Jack, aku tidak pernah memberitahumu. Kamu tahu bahwa ibuku adalah seorang Metodis. Tapi dia tumbuh sebagai seorang Katolik yang sangat taat. Semua orang Indian Osage dari keluarga kita adalah Katolik Roma yang kuat, ditobatkan oleh seorang misionaris Jesuit. Ketika nenekmu menikahi kakekmu, mereka "menggerejakan"nya. Pada waktu itu, maksudnya adalah mereka mengucilkannya. Itulah kenapa dia menjadi seorang Methodist yang fanatik."

Tanpa sepengetahuan saya pernah satu hari saya berdoa untuk pemulihan nenek saya yang saya kasihi! Apakah itu hanya kebetulan? Apa yang kita warisi? Mungkinkah itu alasan kenapa saya merasa nyaman mengikuti Misa? Atau mungkin tidak? Tapi jelas bagi saya, bahwa berkat kasih untuk gereja Katolik Roma turun dari warisan saya.

Semua pendapat ini mengarah kepada satu titik. Banyak orang Kristen bertanya kepada kami, "Apa yang terbaik yang bisa kami lakukan untuk anak-anak kami yang sudah bertumbuh?" Kami mengatakan, "Murnikanlah hatimu. Tidak ada satu pun yang bisa terjadi padamu yang tidak memberkati atau mempengaruhi anak-anakmu." Perhatikan bahwa ketika Akhan mencuri batang-barang yang dikhususkan, orang Israel tidak hanya melemparinya dengan batu tetapi juga keluarganya dan ternaknya dan membakar semua yang dia punya (Yosua 7). Lagi dan lagi pembuangan diberikan dalam Perjanjian Lama untuk membunuh seseorang dan anak-anaknya supaya jangan berkurang populasi di Israel (2 Samuel 12:14, 1 Raja-Raja 14:12). Hari ini kita memiliki salib untuk menangani polusi tersebut. Tapi sampai dosa-dosa dalam sebuah keluarga dibawa kepada salib, apa pun yang terjadi kepada orang tua bisa baik memurnikan atau mengeruhkan aliran air Tuhan untuk anak-anak kita. Seolah-olah kita berdiri di atas air, anak-anak kita menjadi hilirnya. Apapun kebersihan milik kita mempermanis perairan mereka. Entah bagaimana baik sebelum dan setelah kelahiran mereka, "dengan perantaraan" kita mereka diberkati. Akankah setiap orang tua, entah bisa atau tidak mereka mengerti semua ini, bisa mengenggam dengan keyakinan bahwa berkat yang besar turun atas anak-anak kita semakin dekat kita menghampiri Tuhan! "Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya" (Amsal 13:22a).

Fungsi Alkitabiah yang kita pulihkan dengan memulihkan rasa pewarisan kita tidak lain adalah kekudusan. Kekudusan adalah sesuatu di dalam dirinya sendiri, "Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah" (2 Korintus 7:1). Tapi perhatikan bahwa di sini terhubung dengan kedua ayat terakhir dari 2 Korintus 6, bahwa akan menjadi anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan. Dan di Ibrani 12 dalam konteks ganjaran Tuhan dan pandangan kita untuk itu bahwa tidak ada akar kepahitan yang tumbuh dan "mencemarkan banyak orang" (ayat 15a). Kekudusan pribadi kita oleh karena itu menjadi fungsi dari kita menyediakan berkat untuk anak-anak kita, khususnya bahwa kita tidak mencemari air dimana anak-anak kita dan anak-anak dari anak-anak kita akan berenang untuk selamanya. Dan, kekudusan pribadi kita secara langsung adalah fungsi pengajaran dan pemeliharaan anak-anak kita.

Tidak ada yang disebut sebagai dosa pribadi, individual, rahasia, atau tersembunyi. Tidak juga berkat atau penyucian yang tidak efektif atau sia-sia. Tidak ada perbuatan baik, bagaimana pun rahasianya hal itu dilakukan, yang akan dilupakan. Anak-anak kita mewarisi dengan hukum yang tetap. Kita berdoa agar umat manusia boleh memulihkan rasa kepemilikan bersama dalam keluarga umat manusia.

Kita sudah berbicara tentang memulihkan kedisiplinan (bab 5), dan untuk memulihkan otoritas (bab 7). Kita hanya menambahkan bahwa setiap orangtua perlu melihat bahwa disiplin dan otoritasnya adalah fungsi pengajaran roh dan jiwa dari anak-anaknya. Yang seperti itu bukanlah tanggung jawab fisik. Tidak ada sesuatu yang terjadi melalui tubuh kita yang bukan merupakan ungkapan dari jiwa kita. Firman Tuhan menjadi daging dalam pukulan, perintah, teguran, hukuman, diskusi, atau bahkan argumen. Kita tidak bisa menghindari inkarnasi. Kita mengenalkan Tuhan kepada anak-anak setiap waktu. Oleh karena itu Rasul Paulus memerintahkan, "Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu--ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan. (Efesus 6:1-4). Tandai kata-kata tersebut, "di dalam Tuhan" dan "ajaran dan nasihat Tuhan." Kepatuhan harus dilakukan "di dalam" Tuhan. Otoritas, kedisiplinan, dan ajaran haruslah dari Tuhan. Tidak satu pun akan terjadi oleh Tuhan di dalam kita kecuali anak-anak dan orangtua dianugerahi kedisiplinan untuk hidup oleh roh-Nya dengan cara Dia akan bertindak. Hanya dengan begitu kita mewujudkan kehidupan Yesus di tengah-tengah kita. Memberikan celah untuk teriakan-teriakan dan tuntutan egois dan kemarahan yang membenarkan diri sendiri tidak di dalam atau dari Tuhan dan tidak memuliakan Dia. Orangtua harus mengambil pimpinan. Entah bagaimana kita berpikir untuk berhati-hati dalam mengungkapkan sopan-santun kepada orang luar, tapi siapa pun di dalam keluarga seringkali menjadi sasaran untuk kemunculan emosi yang tidak disiplin apa pun. Sopan-santun harus dimulai dari rumah tangga. Kita harus menjadi lebih sopan dan sensitif di dalam rumah tangga daripada di mana pun, bukannya sebaliknya. Dan, kita harus melihat bahwa kesopanan semacam itu di dalam Kristus adalah fungsi spesifik dari pengajaran roh dan jiwa Kristen dalam pemeliharaan kita.

Kami juga telah menulis berkaitan dengann seks (bab 7). Kami menambahkan bahwa suami dan istri perlu melihat kehidupan seks mereka sebagai fungsi dari pemeliharaan jiwa dan roh antara satu sama lain dan anak-anak mereka. Kami menemukan melalui konseling bahwa kebanyakan orangtua hampir tidak memiliki kesadaran atas hubungan mereka satu sama lain sebagai fungsi pemeliharaan mereka untuk jiwa dan roh anak-anak mereka. Melalui berkat warisan dan melalui contoh roh anak-anak kita belajar untuk mengalir dan berekspresi kepada orang lain, khususnya nantinya kepada pasangan mereka masing-masing, oleh siapa kita dan apa yang kita lakukan. Apakah itu hanya sebuah kebetulan atau sesuatu yang karenanya saya berhak untuk dipuji, bahwa saya tidak pernah menggunakan tangan saya untuk melakukan kekerasan terhadap Paula, dan hanya sekali dalam kehidupan pernikahan kami, saya meninggikan suara terhadapnya? Mungkinkah itu sebuah kebetulan bahwa saya tidak pernah mengucapkan satu kata pun untuk merendahkan Paula atau mengutuknya atau mencacinya? Atau pun dia kepada saya? Apakah kami berhak mendapat pujian bahwa kedua ayah kami adalah orang yang sangat sopan, baik, yang dengan hati-hati memperlakukan istri-istri mereka dengan rasa hormat yang besar? Hidup mereka adalah ajaran untuk roh dan jiwa kami.


Kami berdua melihat orang tua kami mengungkapkan kehangatan dan kasih sayang, gurauan dan godaan. Kami berdua melihat ketika ada hinaan yang tidak disengaja tidak memicu respons yang meradang. Kami berdua terus melihat salam perpisahan dan salam peluk dan cium. Tidak satu pun dari kami sebagai anak-anak melihat argumen terbuka yang tidak terkontrol antara orangtua kami. Kami berdua melihat kasih sayang diungkapkan secara terus-menerus dalam rumah tangga dalam hubungan orangtua kami satu sama lain.

Apakah hal di atas menyatakan apa yang kita bicarakan tentang kesucian pribadi sebagai sebuah fungsi pengajaran untuk anak-anak? Kekudusan tidak bersifat kaku menurut hukum. Kesucian adalah kehidupan kasih yang dihidupi hari demi hari dalam sebuah keluarga. Kemunafikan tidak akan pernah mengungguli kekudusan; hanya kekudusan yang adalah kasih pribadi, diungkapkan secara pribadi dalam sebuah rumah tangga.

Hubungan seksual tentu saja adalah sesuatu yang pribadi, dan harus dijaga agar tetap seperti itu oleh para orangtua. Anak yang masih bayi tidak boleh berada di ruangan yang sama dengan orangtua yang sedang berhubungan untuk alasan yang sama dengan yang sudah kami tunjukkan, bahwa roh anak-anak sudah cukup peka sebelum pikiran terbentuk. Seks itu kudus dan indah, tapi justru karena itu, dan adalah keingintahuan pribadi, sehingga anak-anak tidak perlu dilihatkan pada pemandangan dan suara-suara sebelum perlindungan dari pemahaman bisa menanganinya. Privasi, dan rasa kerendahan hati yang tepat, adalah juga fungsi-fungsi dari pemeliharaan dan pengajaran untuk jiwa dan roh anak-anak.

Dua anak Nuh, Sem dan Yafet, dengan hati-hati mengangkat dia dan menutupinya ketika dia sedang mabuk dan terlihat, sementara Kanaan dikutuk karena dia merendahkan ketelanjangan ayahnya (Kejadian 9:20-27). Orangtua perlu berhati-hati tentang ketelanjangan dan pemaparan yang berlebihan di sekitar rumah. Bukan karena adanya ketabuan dan ketakutan, tapi karena adanya kekudusan seseorang yang perlu dihormati.

Meskipun hubungan seksual itu pribadi dan tersembunyi, berkat warisan diterapkan pada hal itu sekuat penerapannya pada hal-hal lain. Orangtua perlu mengetahui bahwa pemeliharaan, kehalusan, penghormatan, dan menghargai satu sama lain dalam hubungan seksual juga menyediakan berkat warisan kepada keturunan mereka. Banyak kali kami menemukan dalam konseling bahwa anak-anak perempuan dari para ibu yang dingin juga akan cenderung dingin, dan para ibu yang bebas bersemangat dan ekspresif secara seksual seringkali juga menurunkan anak-anak perempuan seperti mereka, bahwa kita tergoda untuk menyatakan hal itu sebagai sebuah peribahasa. Para ayah yang gagal atau sukses sebagai pecinta hampir selalu menurunkan anak-anak laki-laki yang seperti mereka. Faktor-faktor lain juga mungkin turut campur tangan, tapi jika tidak ada sesuatu pun yang ikut campur tangan, warisan akan berjalan benar. Doa bisa mengubah hal-hal, tapi betapa lebih baiknya jika orang tua menambahkan kepada keinginan sehat mereka sendiri pengetahuan bahwa semakin baik kehidupan seksual mereka sendiri, semakin banyak berkat yang diturunkan, dan semakin sedikit yang harus diatasi dan digantikan oleh Yesus.

Karena semua yang kita turunkan kepada anak-anak kita, setiap ketrampilan dan talenta juga merupakan sebuah pengajaran untuk jiwa dan roh anak-anak kita—cara kita mencintai pekerjaan atau berpura-pura sakit, keramahan kita atau sebaliknya, kedermawanan kita atau kekikiran kita, ketepatan waktu atau keterlambatan kita, dan seterusnya.

Setelah kita menerima Yesus sebagai Juru Selamat, perlu waktu bertahun-tahun sebelum Dia mengubahkan pola demi pola dalam hidup kita "harus ini harus itu, mesti begini mesti begitu, tambah ini, tambah itu" (Yesaya 28:10b). Mari kita mengingat bahwa di mana pun kita masih belum bisa mengekspresikan sifat-sifat-Nya, kasih karunia-Nya berlimpah. Dan menyadari Dia memberikan kita anak-anak kita, mengetahui seberapa kacaunya kita, mari kita terus berjalan kepada-Nya, dan mengenal-Nya, untuk mengasihi-Nya lebih penuh, supaya hidupnya di dalam kita boleh memengaruhi anak-anak kita lebih lagi. Kehidupan doa kita adalah yang utama dan merupakan berkat yang paling berkuasa yang kita turunkan kepada anak-anak kita! (t/Odysius)


Akhir Referensi (OTK-R02a)


Komentar