PKB-Referensi 01a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01b

Nama Kursus : Penulis Kristen yang Bertanggung Jawab
Nama Pelajaran : Mencari dan Mengembangkan Ide Tulisan
Kode Pelajaran : PKB-R01a

Referensi PKB-01a diambil dan disunting dari:

Judul buku : Teknik Penulisan Literatur
Judul artikel : Visi dan Misi Literatur
Penulis : Harianto G.P.
Penerbit : Agiamedia, Bandung 2000
Halaman : 51 -- 63

REFERENSI PKB 01a - VISI DAN MISI LITERATUR

Memang ada banyak jalan menuju ke Roma, tetapi untuk melayani Allah tidaklah demikian. Melayani Allah berarti kita menyerahkan diri serta rela dan siap untuk diatur oleh-Nya dalam segala perkara. Kita hanya bisa berjalan pada jalan-Nya. Di luar Allah bukan jalan yang benar. Karena itu, melayani Allah hanya mempunyai satu jalan yaitu hidup dalam jalan kebenaran Allah. Hidup untuk menerima visi Allah dan mengembangkannya dalam misi-misi yang sejalan dengan kehendak Allah. Visi dalam kehidupan Allah adalah inti dari rencana Allah terhadap ciptaan-Nya termasuk manusia.

Agar kita bisa mengenal kondisi literatur, lebih bijak bila kita melihat apa dan bagaimana visi misi Allah dalam kehidupan manusia.

  1. Visi dan Misi
    1. Visi
    2. Perhatikanlah firman Allah berikut ini!

      "Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum." (Amsal 29:18)

      King James Version menerjemahkan Amsal 29:18: "Bila tidak ada visi, orang-orang binasa." Kata Ibrani "khazon" dalam Amsal 29:18 diterjemahkan "visi" (KJV, New American Standard Bible), "nubuat" (Revised Standard Version), dan "wahyu" (New International Version).

      "Akan terjadi pada hari-hari terakhir -- demikianlah firman Allah -- bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi." (Kisah Para Rasul 2:17)

      "Wahyu", "penglihatan", "mimpi", betapa aneh kedengarannya dan seolah-olah begitu tidak realistik, tetapi itulah yang tertulis dalam Alkitab. Dan, apa yang dikatakan dalam Alkitab, itu benar. Barangkali orang-orang masa kini akan lebih mengerti maksudnya, ketimbang ketiga kata itu kita pakai kata "visi". Kata ini lebih kedengaran kontemporer, sedang artinya sama. Di samping kata ini, masih ada kata-kata lain lagi yang lebih umum dan lazim dipakai oleh pakar manajemen, politik, dan kemiliteran, seperti "sasaran", "manifesto", "strategi", tetapi yang dimaksud toh tidak lain daripada "visi".

      Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dikatakan visi adalah: (1) daya lihat: indra penglihatan; penglihatan; segala yang dapat dilihat orang dari suatu tempat tertentu, kemampuan untuk melihat atau mengetahui sampai pada inti atau pokok dari sesuatu hal atau persoalan; (2) daya untuk menangkap atau memahami hakikat dari kebenaran; (3) apa yang terlihat oleh daya khayal; (4) apa yang terlihat dalam mimpi atau keadaan tidak sadar; (5) apa yang terlihat oleh mata.

      Visi itu jelas. Visi itu lebih baik dari keadaan sekarang. Visi itu berpusatkan kepada masa depan. Visi itu dari Allah. Visi adalah karunia bagi para pemimpin yang dikaitkan dengan situasi yang mereka hadapi. Visi menunjukkan pandangan yang realistis. Visi artinya memimpikan mimpi yang paling memungkinkan. Visi dibangun di atas kenyataan. Gembala sidang yang visioner adalah seorang gembala sidang yang berhasil.

      Jadi, visi adalah suatu hal melihat, suatu hal mendapat persepsi tentang sesuatu yang imajinatif, yang memadu pemahaman yang mendasar tentang situasi masa kini dengan pandangan yang menjangkau jauh ke depan.

    3. Misi
    4. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dikatakan "misi" adalah: (1) urusan pekerjaan; penyiaran agama Katolik KR, (2) perutusan suatu negara ke negara lain untuk melakukan suatu tugas, misal perdagangan ke Australia; parlementer ke Tiongkok.

      Misi adalah melaksanakan konsep yang berada dalam visi. Misi adalah hal-hal yang praktis, berkaitan dengan pelaksanaan, bukan konsep-konsep. Jadi, untuk mewujudkan visi yang telah kita punyai, itulah misi. Misi melakukan berbagai tindakan strategi agar apa yang diharapkan dalam visi itu tercapai. Misi apa yang harus dilakukan ketika Allah memberi visi kepada hamba-hambanya baik Abraham, Musa, Yosua, Daud, Yeremia, Nehemia, maupun Yehezkiel? Jawabnya adalah agar bangsa Israel taat kepada Allah. Agar mereka menjalankan visi Allah. Akan tetapi, karena mereka selalu menolak visi Allah, Allah terus-menerus mengutus hamba-hamba-Nya untuk mewujudkan visi-Nya. Kalau saja semua visi Allah untuk Adam dan Hawa tidak dilanggar -- tidak memakan buah terlarang dan mereka mengusahakan atau memelihara apa yang ada di taman Eden, kehidupan "pervisian" mungkin hanya sampai di situ. Namun, karena mereka melanggar, maka Allah harus kembali mengutus hamba-Nya, Nuh, untuk mewujudkan visi-Nya. Ketika air bah itu berhenti dan selama bertahun-tahun manusia menjadi semakin banyak lagi dan mereka melanggar visi Allah, maka Allah kembali mengutus hamba-Nya yang lain misalnya yang kita kenal, Abraham. Lalu, pada zaman nabi-nabi di Perjanjian Lama, Allah terus bergantian mengutus hamba-hamba-Nya karena memang bangsa Israel telah menolak atau memberontak kepada visi Allah.

      Begitu juga dalam Perjanjian Baru. Visi Allah yang menginkarnasikan diri menjadi Yesus pun tidak diterima banyak manusia di bumi, bahkan manusia-manusia itu mencemooh, memaki, menghina, mencambuki Yesus hingga Yesus mati di kayu salib. Setelah itu, visi Allah adalah menurunkan Roh Kudus dan telah mengutus kembali seperti dalam Perjanjian Lama untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia, tetapi tetap saja tidak berhasil diwujudkan manusia. Kita lihat visi Allah yang dimisikan pada Paulus dan Petrus. Bahkan, setelah mereka meninggal pun, tetap saja visi Allah itu masih belum terwujud seluruhnya.

      "Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." (Matius 9:37 bdk. Lukas 10:2)

      Ayat ini menjelaskan bahwa visi Allah akan segera dimisikan kepada hamba-hamba-Nya dari dahulu hingga kehidupan abad ini, bahkan selama-lamanya sebelum Allah mengatakan perlu dituai karena tuaian sudah masak.

      "Maka keluarlah seorang malaikat lain dari Bait Suci; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada Dia yang duduk di atas awan itu: 'Ayunkanlah sabit-Mu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak.'" (Wahyu 14:15).

      Tuaian yang masak ini terus-menerus ditunggu oleh Allah. Visi Allah untuk menuai, tidaklah sia-sia. Hamba-hamba-Nya, siapa pun dia harus menggenapkan misi yang sudah Allah visikan hingga nantinya tuaian pasti akan masak.

  2. Melihat Sisi Literatur
  3. Lalu, problem yang muncul: setelah kita menguasai atau mempunyai visi dan sudah distrategikan dalam berbagai misi, bagaimana cara menyalurkannya? Apa lahan untuk penyaluran itu? Jawabnya: (1) Kita bisa menyalurkan lewat pendidikan dalam gereja; (2) Melalui pengajaran yang bisa dilakukan oleh pendeta, penginjil, komisi-komisi, usaha-usaha khusus; (3) Melalui inspirasi: doa, iman, dan pengabdian, serta kuasa Roh Kudus; (4) Melalui informasi: literatur; (5) Peranan badan-badan misi; (6) Keterlibatan jemaat lokal, doa, personalia, dan dana.

    Banyak lahan yang perlu kita kembangkan dalam melayani Allah. Tidak terbatas tertulis di atas, tetapi masih banyak, karena segala aspek kegiatan bisa menjadi ladang pelayanan Allah. Di sini, kita tidak bisa membatasi diri. Melayani Allah bisa dalam segala bentuk, tetapi yang penting harus mempunyai visi dan misi yang jelas dan terkontrol.

    Hanya saja tawaran yang ada sekarang ini adalah bagaimana kalau kita memisikan visi Allah dalam bentuk literatur?

    Melonjaknya jumlah penduduk secara luar biasa inilah yang menyebabkan para pemimpin Kristen memikirkan pelaksanaan Amanat Agung Tuhan Yesus. Kesimpulan mereka ialah bahwa jikalau seluruh dunia ini harus diinjili, kita harus mengambil suatu tindakan tegas untuk mencapai massa yang besar itu. Karena itu, timbullah pendapat yang sama di antara mereka bahwa cara yang paling berhasil untuk mencapai jumlah itu dengan efektif ialah dengan perantaraan literatur. Oswald J. Smith menyatakan beberapa waktu yang lalu jika satu-satunya jalan untuk mencapai setiap oknum dengan Injil ialah dengan menggunakan media cetak.

    Literatur merupakan kegiatan tulis-menulis, termasuk membuat brosur, selebaran, poster, buku-buku, artikel untuk majalah, menerjemahkan buku-buku dari bahasa lain, membuat buletin, dan membuat warta jemaat. Literatur ini tidak saja memproduksi, tetapi juga mengelolanya, sampai memasarkan produk tersebut ke tangan pembaca. Tidak hanya itu saja, tetapi juga mengelola keseluruhan kegiatan bidang ini, termasuk juga mengelola sumber daya manusia hingga menjadi profesional.

Komentar