PKB-Referensi 02a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b

Nama Kursus : Penulis Kristen yang Bertanggung Jawab
Nama Pelajaran : Pribadi Penulis Kristen
Kode Pelajaran : PKB-R02a

Referensi PKB-R02b diambil dan disunting dari:

Judul Buku : Menerbangi Terowongan Cahaya
Judul artikel : Minat Membaca Alkitab
Penulis : Paul Hidayat
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta: 2002
Halaman : 78-83

REFERENSI PELAJARAN 02a-MINAT MEMBACA ALKITAB

"Merespons kesan umum bahwa kekristenan telah parah kadaluwarsa, kita perlu menegaskan ulang keyakinan dasar kristiani kita bahwa Allah terus-menerus berbicara melalui apa yang telah difirmankan-Nya. Firman-Nya bukan suatu fosil prasejarah, untuk disimpan di peti gelas pajangan, tetapi adalah suatu pesan yang hidup bagi dunia masa kini. Firman Allah diperlukan di pasar-pasar, bukan di museum. Alkitab adalah khotbah-khotbah atau bicara Allah. Firman Allah adalah pelita bagi kaki kita, dan suluh bagi jalan kita." (John Stott)

"Berbahagialah orang yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam." (Mazmur 1:1-2)

Putri kami yang pertama sewaktu kecil menunjukkan minat yang besar pada seni musik. Mungkin minat itu lahir dari bakat musik yang diturunkan dari kami orang tuanya. Kami memang menyenangi musik, dari klasik, pop, instrumental, sampai vokal. Sayang ketika kami masih kecil dulu, keadaan tidak memungkinkan untuk kami memelajari instrumen musik tertentu, hingga kesukaan kami akan musik hanya sampai sebatas mendengarkannya saja. Tetapi, pada putri kami minat itu kami usahakan untuk berkembang. Kami membeli sebuah piano dan mendaftarkannya ke sebuah kursus piano.

Ternyata, bakatnya terbukti cukup baik hingga dalam kursus tersebut ia cepat mengalami kemajuan. Keahliannya memainkan piano makin hari makin meningkat. Lebih-lebih ketika beberapa tahun lalu saya studi di USA, ia tidak saja mengikuti les piano, tetapi juga ikut menjadi pemain orkestra sekolahnya memainkan instrumen lain. Sarana kampus saya di Calvin Theological Seminary mendukung putri kami untuk berlatih piano di gedung teater Calvin College kapan saja ia ingin. Ketika pulang, keterampilannya sangat menggembirakan dan menjanjikan.

Minat saja tidak cukup

Ternyata, tanda-tanda menggembirakan itu tidak berlangsung lama dan menetap. Meskipun sekembalinya ke tanah air, kami membeli lagi piano dan mengirim putri kami ke salah seorang guru piano terkenal lulusan jerman, oleh suatu dan lain alasan, akhirnya keterampilan tersebut tidak berkembang.

Pertama, disebabkan oleh situasi. Sistem pendidikan yang berbeda yang diterimanya selama dua tahun di USA membuat putri kami tertinggal dalam bidang-bidang studi seperti sejarah, bahasa, juga matematika, dan fisika. Akibatnya, ia harus belajar ekstra dan harus mengikuti les tambahan untuk pelajaran-pelajaran tersebut.

Kedua, usianya beranjak remaja dan bersamaan dengan itu minatnya pun berkembang. Ia mulai menyukai lagu-lagu pop, punya banyak sahabat, sering bepergian dengan teman-temannya, atau banyak telepon-menelepon dengan mereka. Akibatnya, tidak ada cukup waktu untuk terus berlatih piano.

Contoh ini mengingatkan saya bahwa dalam segala bidang, minat saja tidak cukup. Bila kita ingin berkembang dalam salah satu hal yang kita minati, kita perlu memiliki motivasi kuat untuk mempertahankan dan mengusahakannya. Kita bahkan perlu mengatur waktu sedemikian rupa sehingga tanpa mengorbankan hal-hal lain yang juga penting, minat itu akan tetap dapat dikembangkan.

Tentang minat terhadap Alkitab

Minat membaca, merenungkan, dan menaati Alkitab sebenarnya tidak boleh didasarkan atas "minat" dalam arti perasaan atau selera. Semua warga gereja patut memiliki minat yang kuat untuk membaca dan menghayati isi Alkitab karena Alkitab adalah satu-satunya sumber kita mendapatkan petunjuk Allah yang dengan bantuan Roh Kudus memungkinkan kita memercayai fakta Yesus Kristus dan beriman intim di dalam Dia. Sebagai firman Allah yang hidup, Alkitab bila dibaca dengan pengertian yang tepat dalam pertolongan Roh Kudus dan ditaati dengan sepenuh hati akan menghasilkan buah-buah pertumbuhan rohani yang luar biasa indah. Kondisi hidup kita akan diperbarui terus-menerus, dari segi etis sampai segi religius, dari aspek individual sampai aspek sosial, tak satu pun yang tak akan mengalami jamahan Tuhan di bawah sorotan dan arahan firman kebenaran-Nya. Bila Alkitab sedemikian penting bagi pertumbuhan rohani baik warga gereja maupun kehidupan gereja sendiri, apakah minat membaca dan merenungkannya mencerminkan kesadaran itu? Saya sering berjumpa dengan banyak pihak, orang Kristen warga gereja biasa, aktivis remaja, pemuda atau dewasa, bahkan majelis gereja. Saya sebenarnya tidak terkejut ketika salah seorang majelis menyatakan keyakinannya bahwa dari seluruh majelis gerejanya, paling banyak 25% saja yang tekun dan teratur merenungkan firman Tuhan. Saya bahkan tidak akan terkejut bila ada orang yang mengatakan bahwa para pendeta pun tidak seluruhnya memiliki kebiasaan studi Alkitab untuk pelayanan firmannya dan merenungkan Alkitab untuk kebutuhan pertumbuhan kerohaniannya sendiri.

Kemerosotan minat

Merosotnya minat membaca Alkitab sudah menjadi keprihatinan banyak lembaga yang bergerak dalam berbagai aspek pelayanan Alkitab. Sementara saya menulis artikel ini, saya sendiri sedang mempersiapkan diri untuk turut serta dalam suatu konsultasi internasional di Belanda yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga seperti Scripture Union (PPA), United Bible Society, Wycliffe Bible Translator, Scripture Gift Mission, dan The Bible to All. Tujuan utama konsultasi tersebut adalah menyelidiki akar-akar penyebab turunnya minat warga gereja terhadap Alkitab dan mencari jalan keluar untuk memperbaiki kondisi buruk ini.

Jika kita berusaha mencari penyebabnya, banyak hal dapat kita ungkapkan. Pertama, sikap warga gereja terhadap Alkitab sedikit banyak dipengaruhi oleh kesan yang didapatnya dari khotbah-khotbah pendeta di gereja. Bila khotbah pendeta lesu, dangkal, tidak relevan, warga gereja akan mengambil kesimpulan bahwa Alkitab pun demikian. Bila pendeta memiliki kitab atau bagian Alkitab tertentu saja yang gemar dikhotbahkannya, warga gereja akan menyimpulkan bahwa bagian-bagian yang tidak dikhotbahkan tidak penting untuk dipahami dan dihayati. Karena itu, semua pemimpin gereja bertanggung jawab untuk studi Alkitab dengan baik, berusaha agar tidak ada kitab dalam Alkitab yang dilupakan, menyampaikan uraian firman yang lugas, segar, dan mengena.

Kedua, Alkitab mengandung unsur-unsur yang sangat diwarnai oleh kebudayaan zaman ketika ia ditulis. Itu berarti ada banyak kisah, kebiasaan, ajaran, upacara agama, dsb. yang sangat asing bagi kita dan sukar untuk dipahami maksud, arti dan maknanya. Dari segi literatur saja, Alkitab terdiri dari beragam jenis tulisan, dari catatan peristiwa, kisah, ajaran, puisi, ucapan hikmat sampai penglihatan apokaliptis yang berisi pemaparan ramalan peristiwa di masa depan penulis. Karena itu, orang yang ingin memahami isi Alkitab dengan tepat agar maknanya dapat dihayati dengan segar memerlukan alat bantuan. Sekarang ini, banyak diterbitkan buku seperti kamus Alkitab dan introduksi Alkitab yang dapat dibeli untuk mengisi kebutuhan itu. PPA sendiri menerbitkan buku seperti Intisari Alkitab yang secara singkat, dalam bahasa segar dan tata letak menarik, memberikan introduksi, garis besar, pesan, penerapan, dan tema-tema kunci tiap kitab. Buku-buku semacam ini khususnya perlu dibeli oleh warga gereja agar Alkitab tidak menjadi semacam kitab kuno penuh rahasia, tetapi kitab yang berbicara juga untuk zaman modern ini.

Ketiga, gaya hidup modern cenderung makin memercayai kemampuan manusia dan tempat bagi kuasa dan campur tangan Allah menjadi makin kabur. Sebenarnya, kemajuan ilmu dan tekonologi modern tidak dengan sendirinya harus mempertipis atau mengikis iman. Sebaliknya, dengan iman yang teguh kita dapat mensyukuri Allah atas modernisasi itu dan mengizinkan-Nya untuk mengisi, dan mengontrol agar tidak salah digunakan dan akhirnya menjadi senjata makan tuan.

Keempat, gaya hidup dan arus modernisasi memengaruhi sikap dan pola belajar orang modern. Dari segi pengaruh terhadap cara belajar, teknologi informasi modern seperti TV, video, komputer, telepon telah hadir, bahkan sekarang ini telah diproduksi alat komunikasi canggih yang disebut high-way media, yaitu penggabungan semua alat tadi: TV, telepon, video, sistem keamanan, dll. Singkatnya, literatur tidak lagi merupakan media komunikasi era modern. Produk-produk teknologi modern itu akan melahirkan generasi yang disebut illiterate among literate people atau "buta huruf" di kalangan terdidik. Tantangan ini mengharuskan lembaga-lembaga Kristen, termasuk gereja yang serius memikirkan pembinaan warga gereja, untuk mengembangkan penyampaian firman melalui media seperti radio, video, komik Alkitab, dsb.

Kelima, masih dalam hubungan dengan gaya hidup modern, sekarang ini menjalar gaya hidup ingin santai, mudah, dan cepat. Ini dilambangkan dengan restoran fast-food yang menjamur di mana-mana. Dampaknya pun terasa dalam bidang kerohanian. Warga gereja tidak lagi memiliki kecintaan dan kesukaan menggali isi Alkitab, mempelajarinya, merenungkannya, sebab itu menuntut banyak waktu dan usaha. Sekarang, banyak tersedia "fast-food' uraian firman yang hanya mengutip satu-dua ayat lepas dari konteksnya dan diiringi dengan uraian-uraian yang intinya penuh hiburan, menyediakan santapan rohani siap hidang, contoh-contoh yang menarik. Kebiasaan makan fast-food bisa menimbulkan masalah bagi kesehatan kita. Demikian juga buku-buku renungan fast-food rohani demikian dapat menciptakan kedangkalan pemahaman dan penghayatan iman warga gereja. Untuk pemahaman yang tepat, demi pengenalan akan Allah yang dalam dan agar kehidupan iman kita sehat kuat, tidak ada jalan pintas pengganti kebiasaan bersaat teduh yang cukup waktu untuk doa dan perenungan firman secara kontekstual, mendalam, dan bersifat studi. Jika tidak demikian, kita akan frustrasi karena fast-food rohani itu ternyata tidak dapat diterapkan ke dalam situasi kita yang unik atau bahwa pemahaman yang merupakan tulang pendukung tubuh pengalaman rohani tidak kita dapatkan. Akhirnya, kita hanya memiliki segundukan pengalaman orang lain tanpa kekokohan pemahaman arti firman yang benar.

Wabah yang harus dilawan

Merosotnya minat mempelajari firman Tuhan tadi harus diperlakukan seolah wabah penyakit yang membahayakan kelangsungan hidup rohani individu dan gereja Kristen masa kini.

Marilah bersama PPA menjadi pelayan-pelayan Tuhan untuk memotivasi, memberi contoh, membina, mengajarkan sesama warga gereja kita tentang perlunya memiliki kebiasaan merenungkan firman Tuhan secara teratur, urut, dan menggalinya mengikuti aturan penyelidikan Alkitab yang benar.

Komentar