PPL-Pelajaran 01

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Pentingnya Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-P01

Pelajaran 01 - PENTINGNYA PERJANJIAN LAMA

DAFTAR ISI

  1. Mengapa penting mempelajari Perjanjian Lama?
    1. Perjanjian Lama adalah Bagian dari Rencana Allah
    2. Perjanjian Lama adalah Bukti akan Kedaulatan dan Kesetiaan Allah
    3. Perjanjian Lama adalah Firman Allah
    4. Perjanjian Lama adalah Nubuat bagi Perjanjian Baru
  2. Mengapa sulit mempelajari Perjanjian Lama?
    1. Halangan Bahasa
    2. Halangan Budaya
    3. Halangan Ketekunan
    4. Halangan Praduga yang Salah

Doa

Mempelajari kitab-kitab Perjanjian Lama merupakan pengalaman menarik bagi setiap orang yang ingin mengerti lebih jelas dan gamblang tentang pekerjaan Allah dalam Perjanjian Lama (akan disingkat PL). Mengapa mempelajari PL? Karena PL berperan sebagai latar belakang sejarah bagi Perjanjian Baru sehingga kita dapat mengerti Perjanjian Baru. Perjanjian Lama merupakan dasar yang sangat penting dalam memahami Perjanjian Baru. Karena Perjanjian Baru (akan disingkat PB) terlindung dalam PL dan PL dinyatakan dalam PB. Hal ini terbukti dengan adanya lebih 600 ayat dari PL di dalam Perjanjian Baru baik sebagai petikan langsung atau pun tidak langsung. Dalam pelajaran ini akan dipaparkan mengenai pentingnya mempelajari Perjanjian Lama.

  1. Mengapa Penting Mempelajari Perjanjian Lama?

    Ada beberapa hal tentang pentingnya mempelajari PL. Pertama, PL merupakan dasar dari seluruh pengajaran Yesus, Paulus dan semua murid lainnya. Jadi, sangat wajar bagi kita untuk belajar PL. Kedua, banyak orang percaya tidak bertumbuh dengan baik karena kurangnya pemahaman tentang Alkitab terutama tentang PL. Ada banyak salah pengertian soal peranan PL dalam kehidupan orang percaya, di mana PL dianggap sebagai bayangan saja bagi Perjanjian Baru (akan disingkat PB). Padahal kegenapan PB atas PL justru memperkaya kita membaca kebenaran firman Tuhan, di mana PL bisa menjadi penuntun bagi kehidupan orang percaya. Berkaitan dengan teks, setidaknya kurang lebih ada 4000 referensi pemakaian PL dalam PB. Sedangkan, dalam kaitan teologis banyak konsep dalam PL dan PB yang pada dasarnya memiliki kaitan yang sangat erat (contoh: kurban, penebusan, dan keselamatan).

    Pada umumnya umat Kristen dapat menerima Alkitab PB dengan mudah karena Alkitab Perjanjian Baru adalah dokumen yang memberi kesaksian tentang kehidupan, kematian dan kebangkitan dan pengajaran Kristus yang penuh kuasa serta sejarah pendirian gereja-Nya. Akan Tetapi, bagaimana dengan PL? Sering umat Kristen bertanya, apakah gunanya mempelajari kitab-kitab PL? Bukankah PL lebih banyak berbicara tentang cerita usang dari sejarah bangsa Yahudi (Israel) tentang raja-raja, nabi-nabi dan tokoh-tokoh yang tidak ada hubungan langsung dengan kita sekarang? Dapatkah kita menerima keseluruhan PL sebagai firman Allah yang berotoritas mutlak dalam hidup kita?

    Pertanyan di atas sangat penting untuk dijawab. Pelajaran pertama dari Pengantar Perjanjian Lama (PPL) ini akan menolong kita untuk melihat PL dari sudut pandang keseluruhan kebenaran Alkitab supaya kita dapat melihat dengan jelas relevansinya bagi kehidupan Kristen kita sekarang.

    Marilah kita mulai dengan menjawab pertanyaan, mengapa penting mempelajari PL?

    1. Perjanjian Lama adalah Bagian dari Rencana Allah

      Cara Allah menyatakan Diri-Nya kepada manusia adalah dengan memberikan pernyataan umum dan pernyataan khusus, yaitu melalui alam, sejarah, hati nurani manusia dan juga melalui firman dan Anak-Nya, Yesus Kristus. Di dalam Penyataan-penyataan inilah Allah menyatakan Diri-Nya dan rencana-Nya kepada manusia (Roma 1:19-20; Yesaya 52:10).

      Dalam PL, Allah memakai hamba-hamba-Nya, dengan latar belakang satu bangsa, yaitu bangsa Israel, untuk menjadi sarana dalam menyampaikan Penyataan- penyataan rencana-Nya kepada manusia (Yesaya 49:6). Oleh sebab itu, sejarah lahirnya bangsa Israel dan bagaimana Allah menyertai, menghukum dan memberkati bangsa ini (yang kita pelajari melalui kitab-kitab PL) seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan iman Kristen. Karena melalui sejarah bangsa ini Allah sebenarnya sedang memberitahukan kepada manusia tentang Diri-Nya; siapakah Dia dan apakah rencana-Nya bagi umat manusia, termasuk rencana- Nya bagi kita yang hidup sekarang. Dengan mempelajari PL, maka kita akan melihat bagaimana Allah secara progresif menyatakan Diri-Nya untuk dikenal; pertama melalui bangsa pilihan-Nya (Israel), lalu selanjutnya melalui orang-orang yang dipilih-Nya pada masa PB (Roma 1:16).

    2. Perjanjian Lama adalah Bukti akan Kedaulatan dan Kesetiaan Allah

      Di balik cerita sejarah bangsa Israel, PL juga menjadi bukti penting akan kedaulatan Allah atas seluruh alam semesta yang diciptakan-Nya, termasuk di dalamnya manusia. Dialah yang mengawasi sejarah dan yang akan menyelesaikan rencana-Nya tepat pada waktu yang sudah ditetapkan-Nya (Filipi 1:6). Dia juga yang memilih hamba-hamba-Nya sesuai dengan kedaulatan-Nya untuk melaksanakan rencana kekal-Nya. Di sini sekaligus PL juga menjadi bukti penyataan progresif akan kesetiaan Allah (Yesaya 25:1). Allah turut bekerja dalam sejarah, termasuk ketika Israel tidak taat, tetapi Allah tetap setia pada janji-Nya (Roma 3:3). Oleh karena itu, kitab-kitab PB tidak mungkin dilepaskan dari PL; Allah PB adalah juga Allah PL yang setia melaksanakan rencana kedaulatan-Nya (keselamatan) bagi umat pilihan-Nya.

    3. Perjanjian Lama adalah Firman Allah

      Mengakui bahwa PL adalah Firman Allah adalah bagian yang penting dari iman Kristen, karena apabila kita mengakui otoritasnya maka berarti kita bersedia tunduk pada otoritas. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana kita tahu dan yakin bahwa kitab-kitab PL adalah Firman Allah yang berotoritas? Berikut ini adalah beberapa bukti bahwa PL adalah firman Allah.

      Pertama, bukti dari dalam Alkitab sendiri:

      1. Yesus mengakui otoritas Perjanjian Lama

        Selama Yesus hidup di dunia Ia mengakui otoritas PL secara penuh. Hal ini terbukti jelas dalam kitab-kitab Injil bagaimana Yesus selalu mengutip PL untuk menunjukkan dasar otoritas dan pengajaran-Nya. Misalnya pada waktu Ia dicobai (Matius 4:1-11). Juga ketika Yesus harus mengklaim kedudukan-Nya sebagai Anak Allah (Yohanes 10:31-36). Sikap Yesus yang menjunjung tinggi PL cukup menjadi bukti bahwa PL memiliki otoritas sebagai firman Allah.

      2. Para Rasul mengakui otoritas Perjanjian Lama

        Di antara para Rasul tidak ada bukti satu pun yang memperlihatkan bahwa mereka tidak memercayai PL sebagai inspirasi dari Allah. Di antara para rasul, Paulus adalah yang paling jelas memberikan pengakuan secara penuh akan otoritas PL. Dalam 2 Timotius 3:16, "tulisan" yang dimaksud pada waktu itu adalah tulisan dari kitab-kitab PL.

      3. Para penulis Alkitab mengakui otoritas Perjanjian Lama

        Pola pengakuan otoritas PL juga dijumpai pada penulis-penulis PB lain, seperti Yakobus atau penulis kitab Ibrani. Mereka melihat PL bukan sebagai rangkaian sejarah dan peraturan yang mati, tetapi merupakan kisah yang hidup tentang karya Allah yang menyelamatkan manusia (Yakobus 1:22-23; Ibrani 4:12).

      4. Bukti dari luar Alkitab:

      5. Bapak-bapak gereja secara aklamasi menerima pengakuan akan otoritas PL melalui pengkanonan Alkitab. Dinyatakan bahwa masing-masing Kitab PL menunjukkan sifat yang tidak dapat dipisahkan dari pengilhaman ilahi.

      6. Allahlah yang memberi inspirasi kepada para penulis PL. Itulah sebabnya sekalipun para penulis PL hidup pada zaman dan latar belakang yang berbeda, berita yang mereka sampaikan tidak ada yang saling bertentangan, malah sebaliknya memberikan satu benang merah berita yang menunjuk pada karya keselamatan Allah.

      7. Secara praktis terbukti bahwa kitab-kitab PL telah menjadi standar kebenaran dan memberikan manfaat yang sanggup mengubah kehidupan manusia, karena Allahlah yang ada di balik penulisan itu.

    4. Perjanjian Lama berisi Nubuat bagi Perjanjian Baru

      Kitab-kitab dalam PL banyak menunjuk pada nubuat-nubuat yang akhirnya digenapi pada masa PB (Matius 9:31; Lukas 24:44; Roma 10:4). Keseluruhan dan kelengkapan berita keselamatan harus dimulai dari PL dan diakhiri dengan PB; sehingga jelas keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan. Sebab itu, PL harus dipelajari sebagai sumber dan landasan untuk mengerti penggenapan rencana agung Allah.

      Kitab-kitab dalam PL juga penuh dengan tipologi, kalau dipelajari akan menolong pembaca kitab-kitab PB untuk mengerti lebih jelas keutuhan keseluruhan kebenaran Alkitab.

  2. Mengapa Sulit Mempelajari Perjanjian Lama?

    Salah satu alasan mengapa orang Kristen masa kini kesulitan mempelajari Perjanjian Lama adalah karena jarang membaca. Selain itu, juga minimnya baca dan menggali kitab Perjanjian Lama. Perjanjian Lama adalah firman Tuhan yang benar dan sama berotoritas dengan Perjanjian Baru. Perjanjian Lama memperlihatkan sisi kebutuhan manusia berdosa akan Juru Selamat yang membebaskan. Sedangkan, Perjanjian Baru menunjuk langsung kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juru Selamat. Perjanjian Lama tidak bertentangan dengan Perjanjian Baru. Keduanya, mengajarkan hal yang sama yaitu seseorang diselamatkan karena percaya kepada karya penyelamatan Yesus Kristus. Dari uraian di atas kita melihat bahwa penting sekali kita mempelajari Penyataan Allah yang bersifat progresif itu mulai dari masa PL supaya kita mendapatkan konteks lengkap mengenai Penyataan Allah secara komprehensif. Akan tetapi, mempelajari kitab-kitab PL tidaklah tanpa halangan. Ada faktor-faktor penghambat yang kadang menyulitkan kita mengerti maksud sesungguhnya berita dalam PL. Kesulitan-kesulitan itu mencakup:

    1. Halangan Bahasa

      Kitab PL ditulis dicatat dalam dua bahasa yaitu, bahasa Ibrani dan bahasa Aram (Kejadian 31:47; Yeremia 10:11; Ezra 4:8). Dalam PL terdapat empat jenis sastra dasar yaitu: hukum, kisah sejarah, syair dan nubuat. Bahasa Ibrani PL adalah suatu sistem penulisan abjad dan tergolong sebagai bahasa Semit Barat Laut yang jauh berbeda dengan sistem penulisan suku kata dari bangsa Asyur dan Babel. Sebab itu, kitab-kitab PL sebagian besar disampaikan dalam bahasa Ibrani kuno yang kadang tidak dapat secara jelas diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Rumpun bahasa Semit disebut sesuai dengan nama anak-anak Sem, anak Nuh, yang dianggap nenek moyang bangsa-bangsa Timur Tengah (menurut Kejadian). Dalam rumpun bahasa yang sama terdapat juga bahasa Arab. Semua bahasa Semit ditulis dari kanan ke kiri, sesuai dengan kebiasaan pada zaman kuno.

      Pada awalnya, huruf-huruf Ibrani hanya berupa huruf-huruf mati tanpa adanya huruf vokal. Pada tahun 500 M, kaum Masora/Massoreth menambahkan tanda-tanda vokal dalam Alkitab Ibrani. Kaum Masora adalah kelompok kaum cendekiawan Yahudi yang berhasil menetapkan pengucapan baku bahasa Ibrani dalam Alkitab. Kata-kata dalam bahasa Ibrani, sama seperti bahasa Semit yang lainnya, yaitu setiap akar kata terdiri dari tiga huruf mati.

      Pada abad ke-8 SM, kerajaan Asyur melakukan ekspansi ke daerah Barat. Oleh karena itu, bahasa Aram dipakai secara resmi sebagai bahasa diplomasi dan perdagangan di seluruh wilayah kerajaan Asyur. Bahasa Aram menjadi bahasa kedua di wilayah Timur Tengah pada waktu itu, sehingga tidak mengherankan apabila terdapat beberapa kata dalam Alkitab PL yang ditulis dengan menggunakan bahasa Aram. Para ahli kitab sangat berhati-hati dalam mempelajari dan menyelidiki bagian-bagian tertentu dalam Alkitab Ibrani. Para petugas kerajaan Yehuda juga menggunakan bahasa Aram dalam berdiplomasi, panitera-panitera kerajaan sebelum masa pembuangan menggunakan bahasa Aram sebagai bahasa utama.

    2. Halangan Budaya

      Bangsa Israel adalah sebuah bangsa pengembara yang hidup selalu berpindah-pindah (nomad). Hal ini sesuai dengan nenek moyang mereka, yaitu Abraham yang dipanggil Tuhan dari Ur-Kasdim menuju tanah Kanaan. Dalam menuju tanah perjanjian, Abraham singgah di beberapa tempat seperti di Sikhem dan Mesir, kebiasaan Abraham ini menjadi pola kehidupan bagi keturunannya, yakni Israel. Israel menjadi budak di Mesir dan mengembara selama 40 tahun di padang gurun. Kehidupan masyarakat Israel pada mulanya adalah seorang penggembala, sama seperti Abraham. Namun, setelah memasuki tanah Kanaan, bangsa Israel mulai mengenal sistem pertanian dan perkebunan. Daerah-daerah di sepanjang sungai Yordan diusahakan menjadi tempat pertanian yang subur.

      Bangsa Israel memiliki budaya yang berkaitan erat dengan leluhur mereka dan tanah Kanaan yang mereka diami. Penduduk asli negeri Kanaan adalah orang-orang yang menyembah berhala dan melakukan praktik poligami. Sebab itu, bangsa Israel juga melakukan poligami, dan sering mereka berpaling dari Allah dan menyembah dewa-dewi penduduk Kanaan. Israel juga mengenal sistem sosial dalam kemasyarakatan. Strata sosial tersebut terlihat di penduduk Israel, meskipun bukan dalam sistem kasta. Terdapat perbedaan kelompok orang-orang kaya, orang-orang miskin, budak, imam-imam, raja dan pegawai istana, dan orang-orang non-Yahudi yang masuk menjadi orang Yahudi yang biasanya dikenal dengan nama "Proselit".

    3. Halangan Ketekunan

      Minimnya ketekunan dalam mempelajari firman Tuhan secara mendalam menyebabkan kurangnya pemahaman yang luas dan komprehensif. Tanpa pengetahuan yang cukup, bisa menjadi salah satu faktor kesulitan dalam mempelajari PL. Setiap orang yang ingin belajar kitab-kitab PL harus memiliki ketekunan untuk belajar dan menelaah konteks dan isi kitab-kitab PL. Kurangnya ketekunan dalam mempelajari Alkitab secara menyeluruh dan berkesinambungan menyebabkan kita tidak dapat menggabungkan relasi PL dan PB secara komprehensif.

    4. Halangan Praduga yang Salah

      Sering kita telah memiliki praduga yang salah tentang PL sehingga kita cenderung hanya memilih berita yang kita sukai dan mengerti, tapi kemudian mengabaikan isi berita PL yang lain. Oleh sebab itu, kita perlu melihat keseluruhan teks dan konteks kitab yang sedang kita pelajari, sehingga kita memperoleh pengetahuan yang benar tentang makna berita PL. Cara untuk menghilangkan praduga yang salah adalah dengan berlatih tekun dan memiliki kemauan untuk mempelajari lebih serius kitab-kitab PL.



Akhir Pelajaran (PPL-P01)

DOA

"Ya Allah, saya bersyukur bahwa Engkau berkenan untuk menyatakan Diri-Mu kepada bangsa Israel sedemikian rupa sehingga saya sekarang dapat belajar mengenal tentang Engkau lebih baik. Tapi doronglah saya untuk tidak cepat puas hanya sampai di sini. Ajarkan saya untuk semakin rindu mempelajari Firman-Mu dalam PL sehingga saya bisa menjadi semakin dekat dan mengenal kehendak-Mu lebih baik." Amin

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

Taxonomy upgrade extras: