PPL-Pelajaran 05

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Pengantar Perjanjian Lama
Nama Pelajaran : Kanon Alkitab Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : Perjanjian Lama-P05

Pelajaran 05 - KANON ALKITAB PERJANJIAN LAMA

DAFTAR ISI

  1. Definisi Kanon
    1. Arti Etimologis
    2. Arti Figuratif
    3. Arti Teologis
  2. Sejarah Kanon Perjanjian Lama
  3. Pembentukan Kanon Perjanjian Lama
    1. Ucapan-Ucapan Yang Berotoritas
    2. Dokumen (Tulisan) Yang Berotoritas
    3. Kumpulan Tulisan Yang Berotoritas
    4. Kanon Yang Ditetapkan
  4. Penerimaan Kanon Perjanjian Lama

Doa

Kanon Alkitab Perjanjian Lama

  1. Definisi Kanon

    Untuk mengerti lebih jelas apa yang dimaksud dengan Kanon Alkitab Perjanjian Lama (selanjutnya akan disingkat PL), marilah terlebih dahulu kita mempelajari pengertian kata "Kanon".

    1. Arti Etimologis

      "Kanon" berasal dari kata Yunani 'kanon', artinya "buluh". Dalam bahasa Ibrani, juga terdapat kata "qaneh" yang artinya adalah "gelagah" atau "batang" papirus, sejenis tanaman serai atau tebu manis. Karena pemakaian buluh dalam kehidupan sehari-hari zaman itu adalah untuk mengukur, maka kata "kanon" dipastikan memiliki arti harafiah sebagai batang tongkat, kayu pengukur atau penggaris. (Yehezkiel 40:3; 42:16 = tongkat pengukur)

    2. Arti Figuratif

      Namun demikian kata "kanon" juga memiliki arti figuratif sebagai peraturan atau standar norma (kaidah) dalam hal etika, sastra, dan sebagainya.

    3. Arti Teologis

      Dalam sejarah gereja abad pertama kata "kanon" dipakai untuk menunjuk pada peraturan atau pengakuan iman (kredo). Tetapi, pada pertengahan abad keempat (dimulai oleh Athanasius), kata ini lebih sering dipakai untuk menunjuk pada Alkitab yang memiliki dua arti, yaitu:

      1. Daftar naskah kitab-kitab, yang berjumlah 66 kitab, yang telah memenuhi standar peraturan-peraturan tertentu, yang diterima oleh gereja sebagai kitab kanonik yang diakui diinspirasikan oleh Allah.

      2. Kumpulan kitab-kitab, yang berjumlah 66 kitab, yang diterima sebagai Firman Tuhan yang tertulis, yang berotoritas penuh (menjadi patokan = Galatia 6:16) bagi iman dan kehidupan manusia.

  2. Sejarah Kanon Perjanjian Lama

    Kitab-kitab PL disampaikan, ditulis dan dihimpun dalam kurun waktu lebih dari 1000 tahun. Semuanya ditulis dalam bahasa Ibrani kecuali sebagai kitab Daniel (Pasal 2:4-7:28) dan sebagian kitab Ezra yang ditulis dengan menggunakan bahasa Aram. Pada mulanya kisah-kisah mengenai Allah dan hubungan-Nya dengan umat Israel disampaikan dari mulut ke mulut. Baru sekitar tahun 1200-1000 sM, kisah-kisah tersebut mulai dituliskan. Sekitar 600 tahun sM, kitab Ulangan dijadikan norma pelaksanaan keagamaan, yaitu dalam rangkaian pembaruan yang diadakan oleh Raja Yosia (2 Raja-raja 22-23). Sekitar tahun 400 sM, Taurat diterima sebagai tulisan suci. Kitab Nabi-nabi diterima sebagai tulisan suci antara tahun 400 sampai 200 sM. Sedangkan, kitab-kitab yang lainnya seperti puisi, pengajaran, nubuat, dan sejarah diterima sebagai tulisan suci menjelang zaman Perjanjian Baru (selanjutnya akan disingkat PB). Walaupun demikian, pada waktu itu masih ada kitab-kitab yang diragukan kewibawaannya untuk masuk menjadi kanon PL. Kitab-kitab itu adalah Pengkhotbah, Yehezkiel, Ester dan Kidung Agung.

    Kanon PL tidak mengalami banyak kesulitan untuk diterima karena pada waktu kitab-kitab PL itu selesai ditulis, saat itu juga langsung diterima sebagai kitab-kitab yang memiliki otoritas yang diinspirasikan oleh Allah. Kitab-kitab (yang berupa gulungan-gulungan) disimpan bersama-sama dengan Tabut Perjanjian yaitu di Kemah Tabernakel Musa dan kemudian dibawa ke Bait Allah. Para imam memelihara kitab-kitab itu dan mereka juga yang membuat salinan-salinannya apabila diperlukan. Salinan teks inilah yang disebut dengan teks Massoreth. Para imam atau orang-orang berhikmat, mengkhususkan diri mereka untuk menyalin satu per satu kitab dalam PL dengan tulisan tangan. Para massorah membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyelesaikan proses penyalinan Alkitab yang semuanya disalin dengan tulisan tangan dalam abjad Ibrani (Ulangan 17:18; 31:9; 24:26; 1 Samuel 10:25; 2 Raja-raja 22:8; 2 Tawarikh 34:14).

    Pada waktu bangsa Yahudi dibuang ke tanah Babel, dan Yerusalem dihancurkan oleh pasukan Babelonia pada tahun 587 sM, kitab-kitab itu dibawa bersama-sama ke tanah pembuangan (Daniel 9:2). Pusat ibadah mereka kini bukan lagi Bait Allah di Yerusalem. Selama masa pembuangan, bangsa Yahudi beribadah di sinagoge. Setelah pembangunan kembali Bait Allah pada masa Zerubabel, Ezra dan Nehemia, kitab-kitab itu pun tetap dipelihara dan dipindahkan ke tempat yang baru. (Ezra 7:6; Nehemia 8:1; Yeremia 27:21-22).

    Penyusunan seluruh kitab-kitab PL selesai pada tahun 430 sM. Menurut tradisi, diakui bahwa imam Ezralah yang memainkan peranan penting dalam proses pengumpulan dan penyusunan kitab-kitab PL ini. Selain kitab-kitab Pentateukh (Kejadian sampai Ulangan) yang sangat dihargai, kitab-kitab para nabi juga biasa dibaca dalam ibadah-ibadah Yahudi (di sinagoge), juga pada waktu zaman PB (Lukas 4:16-19).

    Pada tahun 90 M, guru-guru agama Yahudi di bawah pimpinan Johannan ben Zakkai mengadakan persidangan di Jamnia (Jabneh). Mereka meninjau, menimbang tulisan-tulisan itu dan membakukan daftar kitab-kitab yang dimasukkan dalam kanon Kitab Suci PL. Mereka memutuskan untuk menerima 39 kitab sebagai Kanon PL, serta menolak buku-buku tambahan yang dimuat dalam Septuaginta (LXX). Jadi, penetapan itu sebenarnya hanya memberikan pengakuan akan kitab-kitab yang memang sudah lama dipakai dalam ibadah orang Yahudi.

  3. Pembentukan Kanon Perjanjian Lama

    Seperti sudah disebutkan sebelumnya bahwa pada umumnya kitab-kitab PL langsung diterima sebagai kitab yang berotoritas. Namun demikian bukan berarti tidak ada proses pembentukan sampai akhirnya kitab-kitab itu dikanonkan. Paling tidak ada 4 tahap yang dikenal dalam proses pembentukan kanon kitab PL:

    1. Ucapan-ucapan yang Berotoritas

      Israel mulai mengenal konsep kanon ketika mereka menerima hukum Taurat dengan perantaraan Musa di Gunung Sinai. Allah memberikan firman-Nya, Israel berikrar untuk menaatinya dan Musa mencatatnya dalam bentuk tulisan (Keluaran 24:3-4). Benih-benih kanon telah ada lebih awal daripada itu, yaitu ketika orang-orang Israel semakin menyadari peranan mereka yang khusus dalam rencana keselamatan Allah. Mereka harus menjunjung tinggi perintah-perintah dan janji-janji Tuhan Allah yang dikukuhkan kepada bapak-bapak leluhur Israel sebagai firman Allah yang kudus dan suci, yang dapat memberikan kekuatan dan penghiburan.

      Prinsip pengkanonan kitab dimulai ketika bangsa Israel menerima 10 perintah atau hukum-hukum dari Tuhan melalui Musa di gunung Sinai. Perintah-perintah itu disampaikan kepada Musa sebagai perkataan (ucapan) Tuhan yang memiliki otoritas penuh. Dan, umat Tuhan yang menerima Perintah-perintah itu wajib tunduk kepada wewenangnya, bahkan generasi-generasi berikutnya juga tunduk pada otoritas Perkataan Tuhan itu.

    2. Dokumen (Tertulis) yang Berotoritas

      Agar Perintah atau Perkataan Tuhan itu menjadi warisan yang akan menuntun generasi-generasi berikutnya, maka Musa secara teliti menjabarkannya (memberikan tambahan penjelasan) dalam bentuk tulisan (Keluaran 24:3), lalu umat Lewi diperintahkan untuk menyimpan tulisan atau dokumen itu di samping Tabut Perjanjian Allah (Ulangan 31:24-26). Demikian juga dengan perkataan-perkataan Tuhan yang lainnya yang Tuhan Allah sampaikan sepanjang sejarah bangsa Israel melalui nabi-nabi-Nya, Tuhan seringkali memerintahkan agar apa yang Tuhan ucapkan itu dituliskan untuk menjadi peringatan bagi umat-Nya. (Ulangan 31:19, Yesaya 30:2; Hosea 2:2). Tulisan-tulisan itu menjadi dokumen-dokumen yang sangat berotoritas, karena di sanalah bangsa Israel telah diikat dalam perjanjian (convenant) dengan Allah sebagai bangsa umat pilihan-Nya.

      Menurut Ulangan 31:24-26, Musa "selesai menuliskan perkataan hukum Taurat itu dalam sebuah kitab" dan memerintahkan orang-orang Lewi," letakkanlah di samping tabut perjanjian ... supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau." Otoritas yang mengikat dari kitab itu ditegaskan kembali kepada Yosua, 'Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam ..." (Yosua 1:8). Penemuan kembali kitab Taurat pada tahun ke-18 pemerintahan Yosia (621 sM) merupakan peristiwa penting dalam perkembangan kanon PL (2 Raja-raja 22). Berbeda dengan raja-raja Mesir dan Asyur yang cenderung untuk menyamakan kehendak mereka dengan hukum, Yosia mengakui otoritas gulungan naskah yang ditemukan dan memahami hukum Allah yang tertulis sebagai perintah mutlak yang harus ditaati (2 Raja-raja 23:3). Inti konsep kanon adalah: orang mendengar dan menaati sebuah kitab, serta merasa yakin bahwa Allah berbicara melalui kitab itu.

    3. Kumpulan Tulisan yang Berotoritas

      Menurut tradisi, selama ratusan tahun, tulisan atau dokumen-dokumen yang berotoritas itu dikumpulkan sebagai kitab-kitab Ibrani, yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

      1. Kitab-kitab Taurat (5 Kitab Pentateukh)

        Kelima kitab pertama dalam kanon PL disebut kitab Taurat, yang terdiri dari kitab Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Kitab Taurat disebut juga kitab-kitab Musa atau kitab-kitab hukum. Kemungkinan besar kitab-kitab Taurat terkumpul dan tersusun pada zaman Daud memerintah bangsa Israel sebagai raja (sekitar tahun 1000 SM). Diperkirakan, beberapa bagian kecil dari kitab Taurat diperbaiki yang berlangsung selama berabad-abad hingga zaman Ezra (kira-kira tahun 400 SM). Kitab-kitab Taurat merupakan bagian terpenting dalam kanon Yahudi.

      2. Kitab-kitab Nabi-nabi (Nabi Besar dan Nabi Kecil)

        Dalam kanon Ibrani, kitab Nabi-nabi Besar dan Nabi-nabi kecil biasanya disebut dengan "kitab Nabi-nabi Terdahulu" dan "kitab Nabi-nabi Kemudian". Kitab Nabi-nabi Terdahulu menceritakan sejarah Israel mulai dari pendudukan Kanaan sampai pembuangan ke Babel (tahun 1250 - 550 SM). Kitab Nabi-nabi Terdahulu terdiri dari kitab Yosua, Hakim-hakim, Samuel dan Raja-raja. Kitab Nabi-nabi Kemudian merupakan kitab para pemberita firman Allah, ditulis oleh para nabi sebelum masa pembuangan, seperti Kitab Amos, Hosea, Mikha, Yesaya, Zefanya, Yeremia, Nahum dan Habakuk.

      3. Kitab-kitab Mazmur/Ucapan Bijaksana (Mazmur, Amsal, dll.)

        Golongan kitab-kitab atau "Ketubim" memiliki sifat yang lebih rumit, karena sifatnya setiap kitab beraneka ragam. Kitab-kitab terdiri dari kitab Mazmur, Ayub, Amsal, Kidung Agung, Ratapan, Daniel, Ezra, Nehemia, Tawarikh, dan Ester. Sebagian besar kitab-kitab PL ini ditulis atau dikumpulkan selama dan sesudah masa pembuangan (setelah 550 SM), meskipun beberapa bahan, khususnya dalam kitab Mazmur dan Amsal, berasal dari zaman kerajaan (1000-587 SM). Hampir dapat pastikan, kumpulan itu disatukan sebelum tahun 150 SM, meskipun bukti tentang penggunaan Kitab Ester sangat sedikit. Bangsa Yehuda sangat menyadari masa lampau mereka pada masa setelah pembuangan. Bangsa Yehuda sangat terguncang dengan peristiwa pembuangan tersebut. Oleh karena itu, mereka berupaya membangun kembali bangsa mereka berdasarkan warisan leluhur untuk menghindari penghukuman lainnya yang mendatangkan malapetaka. Tokoh-tokoh pada masa itu seperti, Zerubabel, Ezra dan Nehemia berupaya membangun kembali kota Yerusalem, dan menekankan pentingnya tulisan-tulisan suci dan tulisan-tulisan yang berotoritas.

        Pengelompokan ini mungkin sekaligus menunjukkan bagaimana tahap-tahap pembentukan kanon itu terjadi, sesuai dengan pokok bahasannya. Namun, prosedur penyortiran tulisan-tulisan itu memang tidak jelas. Yang dapat diketahui hanyalah bahwa para pemuka agama Yahudi dengan dipimpin oleh Roh Allah menyepakati pilihan kumpulan tulisan itu sebagai tulisan-tulisan yang berotoritas yang harus diterima oleh seluruh umat.

    4. Kanon yang Diresmikan

      Sebagian besar Tulisan-tulisan yang berotoritas (yang sudah dikelompokkan di atas) telah ditulis dan dikumpulkan sesudah masa Pembuangan yaitu kira-kira tahun 550 SM (sebelum Masehi). Namun Pengesahan pengelompokan "Kanon Ibrani" itu dikenal baru sesudah tahun 150 SM. Kemungkinan besar Kanon inilah yang juga dikenal oleh masyarakat Yahudi pada zaman Yesus, karena Yesus menyebutkan: "dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur" (Lukas 24:44).

      Suatu Konsili di Jamnia pada tahun 90 M, yang dihadiri oleh tokoh-tokoh utama agama Yahudi (rabi), melalui suatu konsensus bersama, akhirnya memberikan penetapan terhadap Kanon PL yang terdiri dari 39 kitab (sama dengan yang dimiliki dalam Alkitab agama Kristen).

  4. Penerimaan Kanon Perjanjian Lama

    Istilah penerimaan Kanon PL lebih disukai dari pada penetapan Kanon PL, karena memang pada dasarnya manusia/gereja hanya menerima kitab-kitab PL tersebut sebagai tulisan-tulisan yang berotoritas. Adapun dasar penerimaan "Kanon PL" adalah sebagai berikut:

    1. Adanya bukti dari dalam Alkitab sendiri.

      Alkitab memberikan kesaksian bahwa perkataan-perkataan yang ditulis bukan berasal dari manusia, seperti dikatakan: "Beginilah Firman Tuhan ..." atau "Tuhan berkata ..."

    2. Ditulis oleh orang-orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Allah.

      Pada umumnya penulis-penulis kitab PL adalah mereka yang ditunjuk oleh Allah dan menduduki jabatan seperti imam, nabi, hakim, dan raja.

    3. Pengaruh kuasa Allah dalam tulisan-tulisannya.

      Perkataan ilahi yang dituliskan mempunyai kuasa untuk memberikan pengajaran kebenaran yang mengubah hidup manusia.

    4. Adanya bukti tentang keaslian naskah dan tulisannya.

      Bukti-bukti arkeologi memberikan dukungan akan keotentikannya.

    5. Secara aklamasi diterima oleh umat Allah secara luas.

      Otoritas tulisan tersebut diakui oleh para pemimpin masyarakat keagamaan Ibrani melalui pimpinan Roh Allah.

      *) Catatan: Susunan kanon kitab PL dapat disimak di referensi.



Akhir Pelajaran (PPL-P05)

DOA

"Firman-Mu adalah harta yang paling berharga bagi jiwaku. Sungguh indah aku boleh melihat bagaimana Firman-Mu itu Engkau turunkan kepada manusia. Sekali lagi aku boleh menyaksikan kesetiaan dan kasih-Mu kepada manusia yang berdosa ini. Hanya dengan firman-Mu maka aku akan dapat belajar untuk hidup lebih dekat kepada-Mu. Aku bersyukur Tuhan karena hanya dekat dengan-Mu, hatiku mendapat kelegaan." Amin

[Catatan: Pertanyaan Latihan ada di lembar lain.]

Taxonomy upgrade extras: