PPL-Referensi 01a

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01b | Referensi 01c


Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN LAMA
Nama Pelajaran : Pentingnya Mempelajari Perjanjian Lama
Kode Pelajaran : PPL-R01a

Referensi PPL-R01a diambil dari:


Judul Buku : TEMA-TEMA DALAM TEOLOGI PERJANJIAN LAMA
Judul Bagian : Pendahuluan
Pengarang : William Dyrness
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1979
Halaman : 3-5


REFERENSI 01a - PENTINGNYA MEMPELAJARI PERJANJIAN LAMA

PENDAHULUAN

Sebuah buku mengenai Perjanjian Lama sekarang ini tidak akan menjadi buku yang laris. Bahkan di antara mereka yang berhasrat besar mempelajari Alkitab dan terus-menerus menjadikannya buku terlaris sepanjang zaman, konferensi-konferensi tentang Perjanjian lama tidak akan menarik perhatian. Sebabnya sederhana saja. Sering kali orang- orang Kristen memberikan waktu terbanyak untuk mempelajari Perjanjian Baru, dan hanya sekali-sekali menyelidiki kitab Mazmur dan Amsal, atau kadang-kadang ditambah dengan kitab nabi-nabi. Akibatnya ialah bahwa banyak orang Kristen gagal untuk memahami keseluruhan wawasan pengungkapan Allah tentang diri-Nya sendiri -- gambaran mereka tentang maksud-maksud Allah tidak sempurna. Bahkan Perjanjan Lama tidak diterjemahkan ke dalam semua bahasa di dunia. Tentu saja dapat dipahami mengapa Perjanjian Baru merupakan bagian pertama yang diterjemahkan kalau dana yang tersedia terbatas, tetapi kalau para misionaris dan pendeta mendasarkan seluruh pengajaran mereka pada Perjanjian Baru saja maka mereka tidak akan dapat mengajarkan Firman Allah seutuhnya. Hal ini sangat penting dalam situasi- situasi penginjilan, di mana sering kali terdapat jembatan alamiah di antara Perjanjian Lama dengan kebanyakan orang, terutama yang berasal dari kebudayaan bukan Barat. Ajaran Perjanjian Lama berlatarkan rumah tangga dan pasar, kasih setia Allah disampaikan dalam bentuk konkret. Jelaslah sudah bahwa Perjanjian Baru tidak dapat berdiri sendiri.

Tidaklah sulit untuk mendaftarkan contoh-contoh keadaan ini dalam kepustakaan misionaris. Di Cina, misalnya, para misionaris zaman dahulu sering kali hanya memakai Perjanjian Baru dalam khotbah-khotbah mereka. Ketika membahas kelemahan misi-misi di Cina, Arthur Glasser mencatat:

Kekurangan yang nyata dalam pergerakan misionaris adalah penggunaan Firman Allah yang tidak memadai. Ia hanya menitikberatkan ajarannya pada sebagian dari Alkitab, yaitu Perjanjian Baru dan Mazmur.... Alkitab tidak hanya berisi mandat pekabaran Injil dari Perjanjian Baru, tetapi juga mengandung panggilan Allah kepada tanggung jawab kebudayaan: suatu alur kewajiban yang mengalir sepanjang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kalau Perjanjian Baru terutama berfokus pada seorang pribadi di hadapan Allah, maka Perjanjian Lama menekankan hubungan yang bersifat umum (keluarga, masyarakat, dan negara). Di Sinai Allah memberikan kepada umatNya suatu gaya hidup yang egalitarian (sederajat) dan manusiawi.... Pendek kata, Perjanjian Lama mengajarkan suatu cara hidup di mana hak-hak setiap orang dilindungi. (New Forces in Missions, ed. David Cho, Seoul 1976, hal. 194-95)

Maksud penulisan buku ini ialah memberikan penerangan tentang Perjanjian Lama bagi orang Kristen. Buku ini pantas disebut sebagai buku teologi Perjanjian Lama, dan penting sekali untuk memahami arti istilah tersebut. Semua teologi yang benar, pastilah lebih kurang bersifat alkitabiah, tetapi teologi alkitabiah (Biblika) ialah mata pelajaran khusus yang berusaha mempelajari pokok-pokok Alkitab berdasarkan warna-warninya sendiri. Berbeda dengan teologia sistematika yang berusaha memahami hubungan timbal balik antara pokok- pokok Alkitab dengan implikasi-implikasi historis dan filosofisnya, teologi Biblika mempelajari tema pokok Alkitab menurut perkembangannya selama Allah berurusan dengan manusia dalam periode alkitabiah. Teologi Biblika bersifat historis dan berkesinambungan atau progresif. Teologi Biblika berpusat pada penyingkapan diri Allah Penyelamat, yang terwujud dalam kejadian-kejadian tertentu, di mana Allah memanggil bagi diri-Nya sendiri suatu bangsa yang akan mencerminkan sifat-Nya serta melanjutkan maksud-maksud-Nya yang penuh kasih. Teologi Biblika melihat perkembangan-perkembanga ini dengan latar belakang dunia yang diciptakan Allah sebagai wahana bagi maksud tujuan serta nlai-nilai- Nya. Akhirnya, teologi Biblika melihat bagaimana Allah menolak meninggalkan maksud tujuan-Nya, sekalipun umat-Nya tidak setia sehingga allah bekerja terus untuk menciptakan umat yang lebih sempurna dan utuh sebagai umat kepunyaan-Nya sendiri.

Jika kita dapat senantiasa mengingat pemikiran ini dan membaca Perjanjian Baru (dan sebenarnya juga keseluruhan sejarah) dari sudut pemikiran tersebut, kita telah engambil langkah awal yang penting dalam berpikir secara teologis - dan dengan agak nekad dengan cara Allah sendiri memandang dunia ini. Yan gpasti ialah bahwa pokok-pokok pikiran ini diungkapkan secara khusus dalam Perjanjian Lama.

Hal ini bukan berarti tidak mengakui adanya perbedaaan di antara keduanya. Maksud-maksud Allah terlihat lebih nyata di dalam Perjanjian Baru. Perjanjian ini telah dimeteraikan sekali untuk selamanya dengan kematian Kristus, dan bukan lagi berkali-kali seperti hanya dalam upacara kurban Perjanjian Lama. Perjanjian Lama lebih berurusan dengan bangsa Israel sedangkan Perjanjian Baru menaruh perhatian yang lebih besar kepada seluruh dunia. Akan Tetapi, kesamaan di antara kedua perjanjian itu lebih penting daripada perbedaannya. Kedua perjanjian secara serempak mencatat sejarah tindakan-tindakan Allah terhadap umat manusia secara tahap demi tahap. Pekerjaan Kristus lebih merupakan puncak daripada sanggahan atas kebenaran Perjanjian Lama. Meskipun Perjanjian Baru menyajikan sesuatu yang baru, sebenarnya itu bukanlah sesuatu yang samasekali baru. Ada kesinambungan penting yang menghubungkan kedua perjanjian tersebut, baik dalam cara maupun hakikat dari ungkapan Allah dan di dalam cara manusia menanggapi ungkapan tsb. Seperti dikatakan Yohanes Calvin, "Saya mengakui adanya perbedaan- perbedaan dalam Alkitab... namun sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi keutuhannya yang telah ditetapkan.... Semua ini berkenaan dengan cara penyalurannya dan bukan isi pokok" (Institusio II, II, I).

Pendekatan pada studi Alkitab yang telah terbukti berhasil dalam menggambarkan kesatuan yang menyeluruh ini ialah tipologi atau ajaran tentang lambang-lambang, suatu studi persesuaian di antara unsur-unsur tertentu dari kedua perjanjian. Meski cara ini sering kali menjadi bahan olok-olok dan mengakibatkan penafsiran yang berlebihan terhadap hal-hal kecil, tetapi kalau dapat dipahami dengan benar maka pendekatan ini akan menolong dalam menggarisbawahi perkembangan dari ungkapan Allah yang konsisten dan historis. Suatu tipe atau lambang ialah "suatu peristiwa, seorang tokoh, atau suatu lembaga dalam Alkitab yang berlaku sebagai contoh atau pola untuk peristiwa- peristiwa, tokoh-tokoh atau lembaga-lembaga lainnya", dan didasarkan pada konsistensi sifat dan aktivitas Allah (Baker 1977, 267). Artinya, peristiwa atau objek dalam Perjanjian Lama meskipun tetap memiliki makna yang utuh dalam keseluruhan konteks Alkitab, namun artinya diperluas melalui tampilnya padanan (dan penggenapan) dalam Perjanjian Baru, yang boleh kita sebut sebagai konteks Perjanjian Baru. Jalan pemikiran ini melatarbelakangi banyak diskusi dalam buku ini, apabila saya mengacu kepada Perjanjian baru.