Rangkuman Diskusi MDD Januari/Februari 2016

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Termin I

Topik 1

Subjek: Asal Mula Dosa

Pertanyaan: Allah menciptakan seluruh alam semesta dengan sempurna. Allah yang Mahakudus, Mahabaik, dan Mahakuasa melihat bahwa apa yang diciptakan-Nya semuanya itu baik. Mengapa ada dosa dalam dunia ini? Dari mana dosa itu berasal?

Ada beberapa pendapat dari peserta:

  1. Dosa ada di dalam penetapan Allah, dosa bukan suatu kecelakaan besar yang merusak rencana Allah yang mulia, melainkan dosa ada di dalam sepengetahuan Allah dan ada di dalam pengetahuan Allah. Jikalau dosa tidak dibiarkan dalam dunia ini bagaimanakah manusia dapat menyatakan kesetiaannya kepada Allah? Sebab ada dosa, manusia di dalam dunia ini dapat menyatakan kesetiaannya kepada Allah dan keberaniannya untuk melawan dosa itu. Ini bukan berarti bahwa dosa adalah suatu hal yang baik, melainkan hal yang jahat yang dipakai oleh Allah untuk menguji manusia; dan manusia perlu diuji supaya ia dapat menunjukkan kasih-Nya kepada Allah. Seandainya Saudara memiliki sebuah alat listrik yang dapat diputar sehingga segala dosa dan kesusahan dan penyakit dalam dunia ini dilenyapkan, apakah yang akan Saudara perbuat, apakah Saudara akan memutar alat itu atau tidak? Kalau saya, saya tidak akan memutar alat itu karena Allah tidak memutarnya. Dosa ialah mendurhakai Allah, tetapi dosa yang terbesar ialah tidak percaya (menolak) Yesus Kristus.
  2. Tuhan tidak menetapkan dosa dan dosa tidak ada di dalam perencanaan Allah. Namun, Tuhan tahu adanya dosa karena tidak mungkin Allah yang mulia melakuakan perencanaan adanya dosa. Ia tahu akan adanya dosa kemudian Ia merencanakan penebusan dari awal untuk mengembalikan manusia dalam kemuliaan-Nya.

Ada 2 pendapat dari peserta mengenai darimana datang dosa:

  1. Dosa berasal dari iblis (malaikat pemberontak) yang telah memberontak kepada Allah. Dosa berasal dari Lucifer. Lucifer adalah seorang malaikat Tuhan yang diciptakan oleh Tuhan. Namun, karena berbagai kelebihan yang dimilikinya, ia menjadi sombong dan mulai melawan Tuhan (Yehezkiel 28:15-17; Yesaya 14:13-14). Malaikat yang telah jatuh itulah yang dinamakan Iblis atau Lucifer, dan melaluinya segala jenis dosa dan kejahatan ada di dunia ini. Iblis adalah makhluk yang pertama kali memberontak terhadap Allah. Kemudian ia juga mengajak manusia ciptaan Allah untuk ikut memberontak terhadap Allah. Sehingga seperti yang kita ketahui saat ini, manusia yang memiliki pengetahuan dari Allah telah berdosa menentang Allah. Kini, semua orang di mana saja bertanggung jawab atas dosa mereka.
  2. Dosa berasal dari keinginan manusia (kehendak bebasnya) untuk memilih tidak menaati Allah dan akhirnya membuat mereka jatuh dalam dosa. Dosa ada di dalam dunia ini karena manusia telah melanggar perintah Tuhan, yaitu manusia (dalam kisah kejadian) telah mengambil buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat yang ada di tengah-tengah taman yang di larang oleh Allah.

Topik 2

Subjek: Ketetapan Allah dan Kejatuhan Manusia

Pertanyaan: Apakah Allah sudah tahu sebelumnya bahwa manusia yang diciptakannya akan jatuh dalam dosa? Apakah dosa sudah ada dalam penetapan Allah? Jelaskan!

Allah adalah mahatahu adanya, tidak ada suatu hal sekecil apapun terjadi di luar pengetahuan Allah. Dalam hal penetapan dosa da dua pendapat yang muncul:

  1. Allah tidak menetapkan dosa karena Allah tidak mungkin melakukannya. Ia adalah Allah yang mulia yang tidak tersentuh oleh dosa. Dosa muncul setelah adanya pemberontakan dari ciptaan-Nya. Dalam Kemahatahuan-Nya, Ia telah merencanakan penebusan bagi umat manusia.
  2. Dosa berada dalam ketetapan Allah. Pandangan ini menyatakan dosa memang telah ditetapkan oleh Allah. Jika dosa tidak berada dalam ketetapan Allah berarti dosa adalah kecelakaan yang membuat Allah harus merencanakan penebusan. Allah yang Kudus menetapkan terjadinya dosa untuk tujuan kemuliaan. Konsep ini terlihat jahat karena perspektif kita yang terlalu sempit, rancangan ini berlaku dalam kekekalan dan bagi tujuan yang kekal.

Sebenarnya hal ini dapat kita mengerti secara sederhana. Jika Allah tahu segalanya itu karena ia menetapkan sebelumnya dan jika Allah menetapkan tidak ada kegagalan karena Ia merencanakan segala sesuatu dengan sempurna, tidak ada "plan" A, B, C, dst. rancangannya hanya satu kali dan untuk selamanya.

Termin II

Topik 1

Subjek: Dosa Adam

Pertanyaan: Bagaimana hubungan antara Adam dengan keturunannya? Mengapa pelaku dosa yang adalah 1 orang, dampaknya adalah semua keturunan Adam jatuh dalam dosa? Dengan cara bagaimanakah keberdosaan dan kesalahan Adam diturunkan kepada kita? Jelaskan!

Adam adalah oknum yang jatuh dalam dosa. Akan tetapi, dosa yang diterima Adam tidak ditanggung sendiri olehnya, seluruh keturunan Adam juga menanggung dosanya. Kutuk yang Adam terima, diterima pula oleh keturunannya. Kehancuran dan maut sudah mengintai Adam dan keturunannya. Dari keturunan Adam pun, ada pembunuh pertama yaitu Kain, yang membunuh adiknya sendiri yaitu Habel. Demikian, dosa sudah ada dan menyebar hingga semua keturunan Adam.

Mengapa hanya satu orang saja yang berdosa, tetapi semua orang dari segala zaman akan binasa? Jawabannya karena dosa mengakibatkan kerusakan total. Gambar dan Rupa Allah dalam diri manusia sudah rusak oleh dosa, sejak kejatuhan manusia pertama dalam dosa. Kemuliaan Allah yang kekal tidak lagi tinggal dalam diri manusia. Konsekuensinya adalah manusia harus mengalami kematian kekal. Dosa Adam adalah dosa warisan, konsekuensi tidak bisa dihindari oleh manusia dengan cara apa pun.

Semua orang (keturunan Adam) dilahirkan dalam dosa, natur keberdosaan sudah ada dalam diri manusia. Semua manusia telah berdosa. Itu yang dinyatakan Paulus dalam Roma 3:10, "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak." Inilah penjelasan bahwa tidak ada satu pun dari manusia yang benar, semuanya sudah jatuh dalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Bagaimana semua manusia dinyatakan telah berdosa? Jawabannya adalah di Kejadian 3:1-24, dosa sudah masuk ke dalam hati manusia. Secara otomatis, manusia sudah tinggal di dalam dosa, dan di satu sisi kebenaran Allah yang sejati tidak ada dalam diri manusia. Oleh karena itulah, manusia memiliki potensi untuk memberontak kepada Allah.

Topik 2

Subjek: Kejatuhan Malaikat

Pertanyaan: Siapakah satan itu sebenarnya? Dari mana satan berasal? Mengapa satan ada di dunia ini? Apakah mereka penyebab dan yang bertanggung jawab atas seluruh kejahatan di muka bumi?

Dalam Alkitab terjemahan Bahasa Latin (Vulgata), dituliskan nama seorang tokoh kegelapan yaitu Lucifer. Nama Lucifer berarti "bintang timut yang jatuh." Siapakah Lucifer ini? Lucifer adalah seorang malaikat Tuhan, yang memimpin kelompok malaikat dengan tugas memuji Tuhan. Namun, karena berbagai kelebihan yang dimilikinya, ia menjadi sombong dan mulai melawan/memberontak Yang Maha Tinggi (Yesaya 14:13-14; Yehezkiel 28:15-17). Lucifer hingga akhirnya jatuh, tetapi ia tidak jatuh sendirian. Ia membawa 1/3 malaikat bersamanya. Lucifer dan malaikat yang jatuh itulah yang disebut dengan Setan/Iblis.

Lucifer adalah salah satu penghulu malaikat, tetapi ia angkit dan ia telah memberontak Allah. Hingga akhirnya, ia dibuang dari Surga bersama sejumlah pengikutnya. Setan ada di dunia ini karena Allah mengizinkan mereka untuk mencobai orang-orang percaya. Mereka membawa manusia semakin jauh dari Allah dan tinggal dalam keberdosaan. Setan sangat bersukacita apabila orang-orang percaya mulai jauh dari Allah, tidak setia menyembah Allah, dan hidup dalam dosa. Segala hal yang terjadi di alam raya ini adalah tanggung jawab Tuhan Allah yang Maha Agung. Tuhan Allah tahu apa yang harus Ia kerjakan. Ia memiliki rencana besar dan agung untuk manusia dan alam semesta. Sumber dari kejahatan memanglah berasal dari Setan, tetapi dibalik semua itu ada kedaulatan Allah.

Termin III

Topik 1

Subjek: Hukuman Kekal

Pertanyaan: Alkitab menyatakan jika dosa membawa kita pada kebinasaan selamanya. Apa yang Alkitab katakan mengenai penghakiman dan hukuman Allah(bandingkan konsep PL dan PB)? Siapakah yang akan menikmati hukuman ini? Apakah neraka sebenarnya, samakah dengan Kerajaan Iblis? Jelaskan!

Perjanjian Lama merupakan bayang-bayang dari Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama penghukuman kepada seseorang terjadi pada saat ia hidup dan pengampunan juga terjadi pada saat seorang hidup (konsekuensi langsung). Kendati demikian tetap ada hukuman yang ditimpakan kepada generasi selanjutnya, seperti halnya bangsa Israel. Nenek moyang mereka yang jatuh dalam penyembahan berhala, sehingga generasi yang muda yang harus dibuang ke dalam pembuangan. Ada satu hal yang perlu diingat bahwa Allah adalah Allah yang adil. Ia menimpakan hukuman kepada para pendosa dan Ia mengganjar berkat kepada orang-orang yang mengasihi Dia.

Konsep surga dan neraka dalam Perjanjian Lama juga masih samar-samar. Orang Yahudi hanya mengetahui bahwa surga berada di atas, di langit yang tinggi. Di tempat inilah Allah YHWH bersemayam dalam kemuliaan-Nya. Apabila kita mempelajari dalam Alkitab bahasa Ibrani, kata "Samayim" sering kali diterjemahkan sebagai langit dan sering kali diterjemahkan sebagai surga. Sedangkan konsep neraka yang diketahui dalam masa Perjanjian Lama adalah dunia orang mati. Tempat ini adalah tempat Iblis dan para orang fasik akan berakhir.

Bagaimana dengan iman pada masa Perjanjian Lama? Iman orang-orang pada masa Perjanjian Lama hanyalah sejauh pada pengharapan akan datangnya Mesias. Mereka menanti-nantikan Hari Tuhan, dan Hari Tuhan ini adalah hari di mana Mesias, keturunan Daud akan datang dan membebaskan mereka. Selain itu, iman kepada Tuhan juga dibangun berdasar pada ketaatan kepada Hukum Taurat. Tuhan Allah menghukum umat-Nya ketika mereka melakukan kesalahan yang mendatangkan murka Allah. Kesalahan pasti akan mendatangkan hukuman, dalam masa Perjanjian Lama kesalah satu orang bisa pula ditanggung oleh kelompok. Kendati demikian, apabila umat Israel datang kepada Allah dan memohon pengampunan, Allah akan mendengar mereka dan memberikan pengampunan kepada mereka. Untuk memperoleh pengampunan dari Allah, terlebih dahulu mereka harus mempersembahkan korban bakaran yaitu korban pengampunan dosa atau korban penghapus salah.

Dalam Perjanjian Baru jelas mempunyai perbedaan dalam hal lain, konsep keselamatan yang ada di dalam Perjanjian Baru lebih jelas, Sang Juru selamat telah hadir dan memperbaharui Janji-Nya. Pengertian surga dan neraka sudah sangat jelas karena Kristus sendiri yang memberitakan tentang Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yohanes 14:6). Perjanjian Baru menyampaikan tentang Penghakiman yang akan dilakukan oleh Allah dan Penghukuman Allah yang akan membinasakan segala yang berdosa, akan tetapi ada kabar baik bagi dunia, karena begitu besar kasih Allah maka Ia berkenan memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menggantikan maut yang menimpa manusia, keselamatan bagi segala bangsa dan Injil terbuka untuk siapa saja.

Topik 2

Subjek: Hanya oleh Anugerah Allah

Pertanyaan: Dunia menawarkan banyak jalan supaya orang boleh sampai kepada Sang Pencipta, lewat agama, ritual, pendidikan, budaya, kepercayaan, filsafat, dan lain sebagainya, tapi tak satupun yang akan membawa keberhasilan. Bagaimana konsep keselamatan yang Alkitab nyatakan baik di dalam PL maupun dalam PB? Apakah keselamatan berlaku bagi setiap orang atau hanya sekelompok pilihan Allah? Jelaskan!

Ada satu hal yang perlu dipahami bahwa keselamatan adalah murni karena anugerah Allah. Allah berinisiatif menyelamatkan manusia. Dalam rencana dan ketetapan-Nya yang agung dan mulia, karya keselamatan sudah Allah tetapkan.

Dalam Perjanjian Lama, keselamatan seolah-olah terlihat bahwa keselamatan hanyalah bagi bangsa Israel. Tetapi, nyatanya dalam Perjanjian Lama pun kita melihat beberapa orang non Israel yang bisa menerima anugerah keselamatan. Sebagai contohnya adalah Rahab, ia adalah seorang wanita Kanaan, tetapi karena iman ia menolong Yosua dan memberikan petunjuk kepada Yosua mengenai kota Yerikho. Oleh karena itulah, ia dapat memperolah keselamatan karena imannya kepada Tuhan Allah Israel. Demikian pula dengan Rut, seorang wanita Moab, yang memiliki iman yang besar. Dalam Kitab Rut, ia menyatakan bahwa bangsa Naomi (mertuanya) adalah bangsanya dan Allah yang disembah oleh Naomi akan menjadi Allahnya. Dengan demikian, Rut pun menerima anugerah keselamatan karena kesetiaan iman-Nya.

Dalam Perjanjian Lama, sesungguhnya tidak ada korban keselamatan, yang ada adalah korban penghapus dosa yang dilakukan 1 kali dalam setahun. Korban hanyalah media saja untuk menghapus dosa, tetapi tetap Allah sajalah yang memberikan keselamatan dan menghapus dosa manusia. Bukan karena korban, sehingga seorang bisa selamat. Keselamatan karena iman dan kesetiaan penuh kepada Allah. Selain itu tidak ada cara bagi orang-orang di masa Perjanjian Lama untuk memperoleh keselamatan.

Di masa Perjanjian Baru, keselamatan sudah datang yaitu Yesus Kristus sendiri. Ia adalah Mesias yang dijanjikan, yang menggenapi seluruh janji-janji Allah. Bagaimana orang boleh selamat di masa Perjanjian Baru hingga sekarang? Pertama harus Percaya kepada Yesus atau bisa disebut Lahir Baru. Menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Kedua adalah Hidup baru, memberikan hidup untuk senantiasa dipimpin oleh Roh Kudus. Kendati demikian tetap ada orang yang dipili untuk selamat, dan ada orang-orang yang berada di luar keselamatan. Keselamatan memang universal dalam artian memang keselamatan tak terbatas secara kuantitas seluruh dunia bahkan alam raya turut merasakan, tetapi secara kualitas keselamatan diberikan bagi orang-orang yang beriman kepada Kristus saja. Allah memberikan keselamatan kepada siapa Ia berkenan memberikannya.

Termin IV

Topik 1

Subjek: Jaminan Keselamatan

Pertanyaan: Dalam teologi Kristen ada dua kubu besar dalam Kekristenan yang mencoba mengerti kapasitas keselamatan yang Allah Anugerahkan dan menjadi topik debat yang panjang. Mari kita telisik dan gali kebenaran yang Alkitab nyatakan di dalam menjelaskan kapasitas anugerah yang telah Allah karuniakan bagi kita sekalian. Apakah anugerah keselamatan bisa hilang atau terbuang? mengapa? (Berikan ayat di dalam konteks yang tepat untuk mendukung jawaban Anda!)

Anugerah keselamatan yang diberikan oleh Allah adalah suatu anugerah yang memiliki kualitas dan kapasitas bernilai kekal (Lihat dalam Yohanes 3:16; Efesus 2:8-9). Jika hilang maka dipastikan eksistensi keselamatan tersebut bersifat tidak pasti dan tidak kekal (relatif) karena mampu hilang, Alkitab memberikan informasi jika keselamatan itu mutlak nilainya. Keselamatan yang Allah anugerahkan TIDAK BISA HILANG, kuasa mana yang sanggup memisahkan kita dari kasih Allah yang kekal?

Lalu ada pandangan jika perbuatan baik kita atau ketaatan kita akan menolong keselamatan tersebut tetap bertahan di dalam diri kita. Jelas Alkitab tidak pernah memberikan pernyataan ini, justru karena saya beroleh anugerah maka hal itu akan membuat hidup saya bisa belajar untuk taat. Taat merupakan anugerah, bukan karena taat saya beroleh anugerah. Dan sudah pasti, siapa pun yang sudah menerima anugerah keselematan dari Allah akan belajar untuk hidup berkenan di hadapan Allah dengan pertolongan dari Roh Kudus.

Topik 2

Subjek: Tidak Sanggup Berhenti

Pertanyaan: Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan manusia dari maut. Jika bukan karena kedalaman kasih Allah pada kita maka tak seorangpun akan beroleh selamat dan hidup kekal. Bagaimana dengan kita yang dengan Iman sungguh percaya bahwa "di dalam anugerah Kristus saya beroleh keselamatan", apa yang membuat kita untuk bisa memiliki kerinduan memberitakan Injil pada pribadi lain? Bersediakah kita dipakai Allah, mulai menyediakan diri atau menyediakan diri kembali untuk memberitakan kabar sukacita yang telah Allah titipkan pada "kita" untuk setiap orang yang Ia percayakan?

Kerinduan untuk memberitakan Injil merupakan konsekuensi dari Injil yang kita terima. Allah Roh Kudus turut bekerja dalam diri seseorang mendorong (memberi bujuk) seseorang untuk pergi dan memberitakan kabar sukacita dari surga. Kerinduan yang hanya lahir dari anugerah Allah sendiri, bagian kita adalah merespons panggilan Injil ini secepat mungkin. Setiap orang percaya memiliki tanggung jawab yang sama untuk pergi memberitakan Injil kepada semua orang. Kita akan bersedia di dalam bagian ini, bukan tak bisa menolak, kita bisa menunda pemberitaan Injil karena ketakutan, ketidakmampuan, bahkan kemalasan, akan tetapi ada waktunya di mana kita akan pergi bagi Injil. Banyak orang Kristen terlalu ingin beralasan bahkan menyibukan diri dengan mengisi pengetahuan kekristenan sampai lupa melakukan panggilannya bagi Injil.

Pun demikian pada masa sekarang ini, kebanyakan orang Kristen berpikir bahwa tugas menginjil adalah tugas para misionaris. Padahal kita semua adalah orang-orang yang menerima mandat misi untuk, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 29:19-20) Amanat Agung: Ada tertulis! Catatan Lukas tentang perkataan Yesus di Lukas 24:45-57, jika diteliti dengan konteks Perjanjian Lama yang mirip, menunjukkan bukti yang lebih lanjut tentang keinginan Kristus untuk semua suku bangsa. "Ada tertulis demikian: Kristus harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan bahwa dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada semua bangsa (Panta ta Ethne), mulai dari Yerusalem."

Konteks di sini sangatlah penting untuk tujuan kita. Pertama, Yesus "membuka pikiran mereka untuk mengerti Kitab Suci." Lalu Dia berakta. "Maka ada tertulis" (di Perjanjian Lama), mengikuti (di bahasa asli Yunani) dengan ungkapan infinitif yang berhubungan yang memperjelas apa yang tertulis di Perjanjian Lama:

Pertama, bahwa Kristus harus menderita, keduan, bahwa Dia akan bangkit pada hari ketiga, dan ketiga, bahwa pertobatan dan pengampunan dosa disampaikan di dalam nama-Nya kepada "semua bangsa." Yesus memerintahkan ini dan Dia meyakinkan kita bahwa itu akan diselesaikan sebelum Dia datang kembali. Dia bisa membuat janji itu karena Dia sendiri yang membangun Gereja-Nya dari semua suku bangsa. Segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Nya untuk hal yang sama ini (Matius 28:18).

Komentar