Rangkuman Diskusi Paskah Maret 2011

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Termin I

Topik 1

Subjek: Perayaan Paskah

Pertanyaan: Ada dua macam perayaan Paskah yang disebutkan dalam Alkitab, di Perjanjian Lama dan Perjanjian baru, apa perbedaannya? Dan apa bedanya dengan perayaan Paskah gereja kita sekarang ini? (Dari pertanyaan diatas berikan ayatnya dalam PL dan PB)

Perayaan Paskah menurut PL dalam Kel. 11 dan 12:29 berbicara tentang Tuhan melewatkan (pass over) rumah-rumah bangsa Israel dari pembinasaan anak sulung karena adanya tanda pada palang pintu rumah masing-masing. Dalam Kel. 12:1-28, kemudian dipertegas dengan hal apa yang harus mereka lakukan sebagai perayaan paskah. Secara umum, Paskah dalam PL adalah pemberian korban oleh masing-masing keluarga menurut kesanggupan mereka sebagai korban pendamaian dan korban pengampunan dosa. Pemahaman perayaan Paskah dalam PL merupakan peringatan bangsa Israel akan keselamatan yang diberikan Tuhan Allah atas tulah yang diderita oleh bangsa Mesir, yaitu tulah kematian terhadap anak sulung dengan cara percikan darah domba.

Hal ini jelas dalam Kel. 12:13, "Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir. Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah." Dalam sejarah Yahudi perayaan ini dimulai pada bulan pertama yaitu bulan Abib yang kemudian disebut bulan Nisan yang adalah bulan musim menuai dan pada masa inilah terjadinya Paskah Pertama bagi orang yahudi.

Paskah dalam PB adalah peringatan akan kebangkitan Kristus sebagai Anak Domba Allah yang merupakan simbol dari pelepasan umat manusia dari Dosa. Tuhan Yesus sebagai Anak Domba Allah rela menyerahkan diri dan mati disalib untuk menebus dosa manusia yang percaya dan beriman kepada-Nya. Dia telah bangkit dari kematian dan menang terhadap kuasa kegelapan. Pada zaman Yesus Kristus, perayaan Paskah menjadi semakin berarti bagi gereja mula-mula, sebab menurut catatan Alkitab, sebelum dihukum mati Yesus menyempatkan diri untuk mengadakan perjamuan Paskah bersama murid-murid-Nya. Dalam PB sebenarnya Yesus pada masa itu terlibat secara langsung dengan perayaan Paskah orang-orang Israel. Namun mereka belum memahami sebenarnya bahwa Yesus Kristus sebagai lambang Anak Domba sembelihan yang disalibkan dan dibangkitkan.

Paskah yang dirayakan oleh gereja hari-hari ini adalah hanya untuk memeringati pengorbanan Anak Domba Allah yang memberikan nyawa-Nya untuk umat manusia sebagai korban penebusan dosa. Sehingga dalam PB tidak dibutuhkan lagi pencurahan darah domba atau hewan korban lainnya. Inilah perbedaan dengan perayaan gereja masa kini. Paskah yang dirayakan oleh orang-orang Israel sebagai peringatan akan penyelamatan dari Allah kepada orang-orang Israel dari perbudakan di Mesir adalah gambaran/tipologi dari penyelamatan yang dilakukan oleh Allah, yaitu Yesus Kristus yang menyelamatkan manusia dari perbudakan dosa.

Topik 2

Subjek: Gereja mula-mula

Pertanyaan: Apakah gereja mula-mula sudah merayakan Paskah? Sejak kapan (tahun berapa) gereja merayakan Paskah? Bagaimana gereja-gereja jaman dulu merayakan Paskah?

Gereja mula-mula juga sudah merayakan Paskah. Kalau dipelajari cara hidup jemaat mula-mula dalam Kisah Rasul 2:41-47, khususnya ayat 42 dicatat; mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Kata memecahkan roti diterjemahkan dari: "to the breaking of bread". Hal ini mengacu kepada makan malam terakhir di upper room yang dilakukan oleh Tuhan Yesus beserta murid-murid. Dan ini juga menggambarkan pengorbanan Yesus Kristus.

Jika diperkirakan tahun berapa gereja mula-mula mengadakan Paskah, berdasarkan dalam Kisah Para Rasul yaitu selepas kenaikan Yesus Kristus ke surga adalah dalam lingkungan tahun 34-35 M. Mereka merayakan Paskah dengan cara bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan serta melakukan Perjamuan Kudus. Gereja mula-mula memeringati peristiwa kebangkitan Yesus dengan perjamuan sederhana dan berdoa. Kemudian dalam perjalanan misinya, Paulus terus mengingatkan jemaat gereja mula-mula akan pentingnya peristiwa kebangkitan Yesus dan perkataan Yesus pada waktu perjamuan malam terakhir.

Cara gereja jaman dahulu merayakan Paskah adalah: untuk mengingat hari pembebasan bangsa Yahudi dari perbudakan di Mesir. Sejak keluarnya bangsa Israel dari Mesir sekitar tahun 1445 SM, orang Ibrani (kemudian disebut orang Yahudi) telah merayakan Paskah setiap tahun di musim semi (umumnya dekat 'hari Jumat Agung'). Orang Kristen Yahudi terus merayakan Paskah Yahudi, namun mereka tidak lagi mengorbankan domba Paskah karena Kristus dianggap sebagai korban Paskah yang sejati. Perayaan ini diawali dengan berpuasa hingga Jumat jam 3 sore (ada yang melanjutkan hingga pagi Paskah). Perbedaan timbul di seputar tanggal Paskah. Orang Kristen Yahudi dan jemaat provinsi Asia merayakannya pada hari yang bersamaan dengan Paskah Yahudi, yaitu sehari setelah tanggal 14 Nisan (bulan pertama) menurut kalender mereka - kematian Yesus pada 15 Nisan dan kebangkitan Yesus pada 17 Nisan - tanpa memedulikan harinya; namun orang Kristen non-Yahudi yang tinggal di Kekaisaran Romawi dan juga gereja di Roma dan Aleksandria merayakannya pada hari pertama, yaitu hari Minggu - hari kebangkitan Yesus, tanpa memedulikan tanggalnya. Metode yang kedua inilah yang akhirnya lebih banyak digunakan di gereja dan penganut metode yang pertama perlahan- lahan mulai tergusur.

Termin II

Topik 1

Subjek: KeTuhanan Yesus

Pertanyaan: Yesus adalah 100% manusia dan 100% Allah. Ketika manusia Yesus wafat bagaimana dengan keTuhanan-Nya?

Tuhan Yesus adalah 100% Allah, karena Allah sendiri menyebut-Nya sebagai Anak-Nya yang dikasihi (Mrk 1:9-10). Keilahian-Nya digenapi pada saat kebangkitan-Nya. Tuhan Yesus merupakan satu-satunya manusia yang bangkit dari kematian mengalahkan kuasa maut. Yesus juga 100% manusia, karena Dia lahir dari anak dara Maria dan hidup sebagaimana manusia biasa selama kurang lebih 33 tahun. Keilahiannya nampak ketika dia hadir berdialog di depan pemuka-pemuka agama untuk memulai karya penyelamatan-Nya. Selain itu, Yohanes Pembaptis awalnya menolak membaptis Yesus karena dia tahu bahwa yang dibaptis adalah Allah Sang Mesias yang ditunggu-tunggu kedatangan-Nya. Yesus juga melakukan banyak mukjizat yang membuat iblis dan pengikutnya takut kepada-Nya.

Secara manusia Yesus Kristus memang mati ketika disalib, sedangkan sifat keTuhanan-Nya turun ke alam maut untuk mengalahkan dan menguasai maut. Tiga hari kemudian setelah Yesus mati dan maut ditaklukan, Dia bangkit. Ketuhanan Yesuslah yang memampukan-Nya menguasai maut dan mengalahkannya. Kebangkitan Kristus dari kematian menjadi bukti bahwa maut takluk dan tunduk di hadapan Anak Domba Allah. Dia wafat sama seperti manusia lainnya. Setelah maut dikalahkan, kebangkitan Kristus menjadi pengharapan bagi setiap umat yang menerima-Nya, bahwa ada kemenangan dan kehidupan kekal yang disediakan oleh Kristus bagi umat-Nya. Karena pengorbanan-Nya, siapapun yang percaya dan menerima Kristus sebagai juru selamat pribadi-Nya, tidak lagi mengalami ketakutan dan kekuatiran akan maut/kematian yang menjemput. Bagi orang percaya kematian adalah pintu menuju kehidupan yang kekal yang dijanjikan Allah lewat Kristus.

Kemanusiaan dan keilahian Kristus tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Yesus selamanya adalah Allah yang sempurna dan manusia yang sempurna -- dua natur yang berbeda dalam satu Pribadi.

Topik 2

Subjek: Komersialisasi Paskah

Pertanyaan: Bagaimana pendapat Anda tentang paskah yang dimanfaatkan oleh orang-orang Kristen untuk tujuan komersialisasi? (Cnth: Kartu paskah, telur paskah, konser paskah)

Motivasi dari tindakan lebih penting daripada tindakan itu sendiri. Jika motivasi memperjualbelikan pernak-pernik Paskah dengan tujuan untuk mendekatkan orang, menambah kehangatan suasana paskah dan berbagi makna dari perayaan Paskah ini, kegiatan ini tidak ada masalah. Keuntungan adalah sebagai bonus, tidak mendapat untung banyak pun tidak menjadi masalah, namun motivasi sebenarnya dapat tercapai dengan baik. Siapa tahu gara-gara komersialisasi itu, ada orang yang "dijamah" Tuhan. Penjual mendapat untung dari hasil penjualannya, sedangkan pembeli mendapat berkat rohani dan pengenalan akan Kristus sebagai juruselamat. Dan juga jika yang melakukan komersialisasi adalah individu dan organisasi hal itu tidak ada masalah. Akan tetapi kalau yang melakukan hal itu adalah Gereja, maka hal itu tidak pada tempatnya, apapun alasannya. Karena hal tersebut bisa menjadi batu sandungan bukan hanya bagi gereja, namun dapat menjadikan hal tersebut sebagai bahan perbincangan yang negatif oleh orang-orang yang diluar gereja/memiliki kepercayaan lain. Dan tentunya berbeda pula jika memang motivasi daripada mengkomersilkan momen Paskah ini adalah mencari untung sebanyak-banyaknya dan untuk kepentingan diri sendiri. Mereka membuat pernak-pernik dengan bahan seadanya, bahan termurah dan menjualnya dengan harga yang kurang masuk akal. Tentu ini penipuan, konsumen tidak mendapat keuntungan sesuai dengan harga yang dibayarkan.

Tuhan memang memiiki banyak cara untuk menyentuh pribadi seseorang. Peringatan akan kematian Tuhan Yesus melalui perayaan Paskah memang penting untuk diberitakan kepada semua orang. Tuhan Yesus sendiri yang memberi perintah untuk mewartakan Kabar Baik, tentang kedatanganNya dan karya keselamatan yang telah dilakukan-Nya. Demikian juga Paskah juga harus diberitakan dengan benar. Kalau ditanya tentang persamaan kualitas nilai komersialisasi dan perenungan, maka jawabannya akan jauh berbeda. Apalagi secara general atau kepentingan khalayak ramai, nilai yang ditimbulkan perenungan akan lebih besar. Akan tetapi, melalui komersialisasi juga sebagian orang bisa merenungkannya. Karena, sekali lagi cara Tuhan untuk menyentuh hati setiap manusia berbeda-beda. Bagi orang Kristen, berdagang pernak-pernik Paskah perlu disertai dengan visi dan motivasi yang benar. Visi dan motivasi untuk terus mewartakan Kabar Baik karya keselamatan ini harus tetap menjadi intinya.

Termin III

Topik 1

Subjek: Natal dan Paskah

Pertanyaan: Manakah lebih penting bagi orang Kristen, perayaan Natal atau Paskah? Mengapa Natal dirayakan lebih meriah daripada Paskah?

Dari beberapa jawaban yang diberikan dalam diskusi ini para peserta menitikberatkan kesimpulan bahwa kedua perayaan ini sama-sama penting dan tidak ada yang lebih penting dan dominan diantara keduanya. Natal dan Paskah merupakan dua pernyataan karya keselamatan yang dikerjakan oleh Allah kepada manusia sebagai bentuk perwujudan kasih Allah kepada umat-Nya.

Natal berbicara mengenai kelahiran Yesus Kristus, Ia bertumbuh dan memulai pelayanan di dunia ini. Pada waktu Ia berumur 33 tahun, Ia ditangkap dan disalibkan. Mengapa Dia disalib? Apakah Ia melakukan suatu kesalahan yang serius? Dengan ini 2 Korintus 5:21 mengatakan: Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Selama Yesus hidup, Ia tidak pernah berbuat satu kesalahanpun. Jika Ia disalib, karena Ia dijadikan dosa karena kita. Setelah Ia mati, pada hari ketiga Ia bangkit kembali, dan setelah diangkat ke sorga, Ia mengutus Roh Kudus ke dunia untuk menerapkan keselamatan yang telah dikerjakan oleh Kristus ke dalam hati orang-orang percaya. Maka, barangsiapa yang percaya kepada Kristus, Allah akan mengutus Roh Kudus tinggal dalam hidup orang itu dan memberikan kuasa-Nya untuk menghancurkan kuasa dosa yang membelenggu manusia, sehingga kita dapat merdeka.

Jadi dapat disimpulkan bahwa momentum Natal dan Paskah merupakan satu paket karya Agung Allah yang tidak ternilai sebagai wujud konkret bahwa Allah mengasihi manusia. Momen Natal dan paskah sama pentingnya karena kedua peristiwa ini adalah penggenapan rencana Allah. Meskpun tidak dapat kita pungkiri bahwa perayaan Natal lebih meriah dibandingkan Paskah. Namun, yang terpenting bukan masalah perayaannya melainkan masalah bagaimana kita menyikapi supaya Natal dan Paskah itu menjadi bermakna untuk menumbuhkan dan mempertebal pengenalan kita kepada-Nya.

Topik 2

Subjek: Yohanes 3:16

Pertanyaan: Injil Yohanes 3:16 mengatakan bahwa Allah mengasihi dunia ini, apakah berarti Kristus mati untuk menyelamatkan semua orang di dunia ini? Atau apakah Kristus hanya mati untuk sebagian orang saja?

Berdasarkan Yohanes 3:16 penebusan Kristus sebenarnya bernilai tanpa batas dan dapat menyelamatkan setiap orang jika hal itu memang adalah rencana Allah. Kenyataannya Allah tidak merencanakan untuk menyelamatkan semua orang, sehingga penebusan itu tidak berlaku untuk semua orang. Jadi "sebagian orang" disini dalam arti cakupan tujuan atau penerapan dari penebusan tersebut, yaitu dibatasi pada orang-orang yang sudah dipilih. Istilah populer yang dipakai untuk menjelaskan istilah ini adalah "penebusan Kristus cukup untuk semua orang tetapi efektif hanya bagi orang-orang pilihan. Mereka yang dipilih-Nya sebelum mereka dilahirkan ibu duniawi pasti akan dipimpin-Nya untuk menerima anugerah khusus agar mereka yang berdosa percaya kepada Yesus Kristus oleh pekerjaan Roh Kudus.

Yesus mengatakan bahwa Dia mati bagi domba-dombanya (Yohanes 10:15), ini menunjukkan bahwa Dia hanya mati bagi umat yang dipilih-Nya. Selain itu Yesus juga menyatakan bahwa Dia datang untuk memelihara orang-orang yang sudah diberikan Bapa kepada-Nya, sehingga tidak ada satu pun yang binasa. Yohanes 17:9 Yesus secara khusus menyatakan bahwa Dia tidak berdoa bagi dunia, melainkan bagi milik-Nya. Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman (2 Timotius 1:9).

Termin IV

Topik 1

Subjek: Mati Disalib

Pertanyaan: Mengapa Yesus harus mati dengan cara disalib? Apakah tidak ada cara mati lain yang dikehendaki Tuhan?

Hukuman salib menurut masyarakat Yahudi merupakan hukuman yang harus diterima oleh orang yang melakukan kejahatan paling berat. Bahkan mereka menganggap bahwa hukuman salib adalah kutuk yang harus diterima oleh orang yang berbuat jahat. Dan hukuman ini yang berlaku pada saat itu. Tuhan Yesus bukan hanya di salib saja, namun Ia juga menjalani siksaan, bahkan menanggung salibnya sendiri.

Hal ini memberikan gambaran akan hukuman terhadap dosa yang telah dilakukan manusia. Sehingga apa yang Tuhan Yesus lakukan merupakan penggenapan dari nubuatan yang telah dituliskan oleh para nabi. Jadi, tidak dengan kematian yang mudah dan tanpa rasa sakit. Tuhan Yesus menyamakan diri-Nya dengan kedua penjahat yang disalibkan bersama Dia. Ini merupakan suatu penggambaran mengenai tanggung jawab terhadap dosa yang telah dilakukan, yaitu mendapat malu, hinaan, siksaan, didera sampai titik darah penghabisan, bahkan teman-teman, murid-murid-Nya pun menyangkal mengenal Dia. Hukuman salib terhadap Tuhan Yesus menjadi momen terpenting dalam kehidupan manusia. Jika Ia hanya mati karena sakit, maka hal itu wajar, tetapi peristiwa ini lain. Tuhan Yesus mati untuk menebus dosa. Hal ini penting bagi orang percaya untuk direnungkan.

Kita tidak pernah tahu mengapa Allah memilih jalan salib, padahal Allah bisa saja dengan mudah dapat memilih jalan yang lain. Sebagai manusia kita tidak akan bisa menyelami pekerjaan Allah yang agung ini. Yang terpenting kita dapat melihat kenyataan bahwa dasar pemilihan jalan salib merupakan keinginan Allah untuk memberikan teladan dan pelajaran hidup yang berharga untuk kita mengenai perwujudan kasih Allah bagi manusia.

Topik 2

Subjek: Kebangkitan Kristus

Pertanyaan: Banyak orang hingga saat ini masih meragukan kebangkitan Kristus. Apa yang meyakinkan Anda untuk percaya bahwa Yesus benar-benar bangkit dari antara orang mati?

Kebangkitan Tuhan Yesus menjadi persoalan yang hangat bagi banyak orang. Sebagai orang percaya kita harus memiliki landasan yang kuat dalam hal ini. Landasan yang kuat itu dapat kita dapatkan dari kebenaran firman Tuhan yang terdapat di dalam Alkitab. Alkitab menjelaskan peristiwa dan bukti-bukti kebangkitan Tuhan Yesus dengan jelas. Firman Tuhan mengatakan, apabila kebangkitan Tuhan Yesus ini bukan merupakan suatu kebenaran, maka sia-sialah apa yang menjadi iman kepercayaan kita.

Selain itu kebangkitan Tuhan Yesus memiliki saksi-saksi mata, yaitu murid-murid Tuhan Yesus sendiri. Sebagai orang yang memiliki iman kepada Tuhan Yesus, kita harus percaya akan perkataan-Nya sebelum disalib. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Dia akan mati dan bangkit pada hari yang ketiga. Kepercayaan akan kebangkitan Tuhan Yesus ini diperkuat oleh Roh Kudus yang terus berkarya dalam hidup kita.

Umum: 

Komentar