Rangkuman Diskusi PKB Mei/Juni 2015

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Termin I

TOPIK 1

Subjek: Kriteria Penulis Kristen

Pertanyaan: Apakah ada kriteria khusus untuk menjadi seorang penulis Kristen? Jika ada, apa saja kriterianya? Jelaskan!

Menjadi seorang penulis Kristen dapat dikatakan adalah sebuah panggilan pelayanan yang sangat berharga. Tentu setiap kita mengetahui bahwa, ada misi khusus yang diemban oleh para penulis Kristen. Mereka tidak sekadar untuk menuliskan hasil ide mereka dalam sebuah buku, tetapi mereka juga harus mampu membawa pembaca untuk semakin mengenal Allah dan menghasilkan hidup berbuah dalam Kritus.

Ada beberapa kriteria untuk menjadi seorang penulis Kristen, yaitu:

  1. Ia mengenal Tuhan dan membangun kehidupan rohani yang benar.
  • Ia adalah seorang yang sudah lahir baru.
  • Ia adalah pelaku firman.
  • Ia mengenal pengajaran Alkitab.
  • Ia adalah seorang yang memiliki kehidupan yang berbuah, dan lain sebagainya.
  • Syarat mutlak seorang penulis Kristen adalah seorang yang percaya Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Perlu sekali bagi seorang penulis Kristen untuk mengenal Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Seorang yang mengenal Kristus, akan memiliki paradigma yang sudah diubahkan dan memiliki visi bahwa menjadi penulis tidak sekadar menulis, tetapi menulis untuk mewarnai dunia literatur dengan kebenaran firman Tuhan.

    Seorang penulis Kristen juga harus membangun kualitas rohani yang sehat. Allah berinisiatif membentuk dan memakai setiap hal dalam hidup kita untuk semakin sesuai dengan rencananya. Untuk mengusahakan kerohanian yang sehat, kita perlu melakukan disiplin rohani, seperti berdoa, membaca Alkitab, ikut dalam persekutuan pendalaman Alkitab, dan lain sebagainya, kita juga harus melangkah keluar untuk menghasilkan buah. Ada banyak tambahan kegiatan positif yang dapat menolong kita menghasilkan buah. Kita dapat membaca buku-buku pengetahuan dan keterampilan, membuka diri bagi orang lain, dan ambil bagian dalam aksi-aksi sosial. Dengan demikian, hati kita telah dipenuhi kasih dan kebenaran Allah menemukan salurannya untuk menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

    TOPIK 2

    Subjek: Menulis "Keterampilan" atau "Passion"

    Pertanyaan: Beberapa orang berpendapat bahwa menulis adalah sebuah keterampilan, sementara orang lain menilai bahwa menulis adalah sebuah "passion". Menurut Anda, menulis adalah sebuah keterampilan atau "passion"? Apakah yang dibutuhkan hanya keterampilan saja? Atau "passion" atau kedua-keduanya?

    Dalam dunia kepenulisan, keterampilan dan "passion" dapat dikatakan berjalan beriringan. Ibarat kata seperti dua sisi keping mata uang, sisi satu adalah keterampilan, sementara sisi yang lain adalah "passion." Berkaitan dengan hal ini memang ada kontra, ada beberapa orang yang setuju dan mengemukakan pendapat bahwa menjadi penulis yang dibutuhkan adalah "passion", sementara beberapa orang yang lain berpendapat yang sebaliknya. Akan tetapi, dalam dunia tulis menulis dua hal ini berjalan beriringan, dan keduanya memiliki nilai yang sama.

    Orang yang menulis hanya berdasarkan "passion" harus pula ditingkatkan keterampilan menulisnya. Sebab, dari "passion" yang besar akan lebih baik apabila karya tulis yang dihasilkan sesuai dengan tata bahasa, logis susunan kalimatnya, dan mudah dipahami serta sistematis setiap uraiannya. Dengan demikian penulis akan mampu menghasilkan karya yang secara tersirat terlihat "passion" mereka dan secara tersurat keterampilan yang dimiliki juga terlihat. Hal inilah yang dikemukakan oleh Gary Provost bahwa "passion" dalam kepenulisan diperlukan 10%, sementara yang 90%nya adalah latihan dalam menulis. Dalam latihan inilah, keterampilan akan diasah.

    Oleh karena itu, setiap kita yang sudah memiliki "passion" dalam menulis, marilah kita mengembangkan keterampilan kita dalam menulis. Sehingga hasil karya kita akan menjadi sebuah karya yang tidak hanya menggugah hati para pembaca, tetapi secara tata bahasa, karya kita baik dan benar. Teruslah menulis untuk kemuliaan nama Tuhan.

    Termin II

    TOPIK 1

    Subjek: Menjadi Penulis Pemula

    Pertanyaan: Apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menjadi seorang penulis pemula?

    Menjadi seorang penulis, terlebih seorang penulis pemula memang harus mempersiapkan beberapa hal. Salah satunya "passion", mengapa "passion"? Sebab, seorang penulis harus mengetahui di mana "passion" mereka. Jangan sampai kita menghasilkan karya tulis yang tidak sesuai dengan "passion" atau pun minat kita. Sebab, dari tulisan, hati seorang penulis akan dapat dibaca oleh para pembaca. Sebagai contoh, penulis yang memiliki kepedulian terhadap kaum wanita, tulisan yang akan ia hasilkan tentang wanita tentu akan lebih berbicara dan mengena ke hati pembaca, daripada penulis tersebut menghasilkan karya tentang olah raga dan sebagainya.

    Selain itu, ada juga beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk menjadi seorang penulis pemula. Berikut adalah persiapan yang harus dilakukan:

    1. Mengumpulkan ide penulisan
    2. Melakukan observasi untuk penulisan. (Karya jenis apa yang ingin ditulis, tujuan pembaca, mangsa pasar (untuk penulis buku), data yang dibutuhkan, dll.)
    3. Membuat outline atau kerangka pemikiran
    4. Membaca buku atau referensi yang terkait dengan ide yang sudah kita siapkan
    5. Pengetahuan menulis dengan kaidah kebahasaan (Untuk Indonesia sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) sementara untuk negara lain dapat mengikuti kaidah bahasa masing-masing negara)
    6. Mulai menulis
    7. Karya yang ingin diterbitkan menjadi buku, maka penulis harus mulai membuat perencanaan penerbit mana yang ingin dikunjungi dan menyiapkan proposal pra penerbitan.
    8. Untuk karya yang ingin diterbitkan versi digital, kita dapat membuat blog untuk memasang hasil tulisan kita. Sementara untuk penulis yang ingin menjadi kontributor di media online, bisa mengirimkan karya tulis kepada admin media online.

    Setelah semuanya itu dirasakan sudah cukup, maka dengan segera kita harus berani untuk menulis. Jangan menunggu-nunggu lagi, tetapi mulailah dan selesaikanlah. Juga perlu diingat, bahwa kita harus terus menjaga semangat dan konsistensi kita dalam menulis. Sehingga dalam keseharian menulis, kita bisa terus semangat dan konsisten. Jangan hanya semangat di awal dan mulai meredup di pertengah. Seorang penulis perlu konsisten untuk menulis dan berakhir hingga tulisannya dapat dibaca oleh orang lain.

    TOPIK 2

    Subjek: Hambatan dalam Menulis

    Pertanyaan: Hambatan apa saja yang sering terjadi dalam menulis? Cara apa saja yang dapat dilakukan untuk mengalahkan semua hambatan tersebut?

    Tiap-tiap penulis tentu memiliki hambatannya masing-masing. Mengapa demikian? Karena hanya penulis sendirilah yang memahami hambatan atau kesulitan yang tengah ia hadapi dan rasakan. Dengan demikian, seorang penulis harus paham dengan baik hambatan apa saja yang sedang ia hadapi, dan bagaimana dapat keluar dari kesulitan yang sedang ia hadapi. Akan tetapi, dalam beberapa hal ada beberapa hambatan yang pada umumnya dialami oleh para penulis, yaitu:

    1. Kehabisan ide
    2. Beberapa kali seorang penulis mengatakan bahwa dirinya sedang kehabisan ide, sehingga tulisannya harus macet di tengah jalan. Dengan demikian, penulis akan membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk menemukan ide baru dan melanjutkan tulisannya.

    3. Waktu
    4. Penulis juga sering kali mengeluhkan kurangnya waktu untuk menulis. Apalagi menjadi penulis seirng kali bukanlah pekerjaan primer. Ada ibu rumah tangga yang menjadi penulis, secara otomatis, ia harus mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak, dan barulah ia menulis. Ada pula seorang guru yang menjadi penulis, ia harus mengajar terlebih dahulu di sekolah, barulah di sela-sela waktunya, ia pergunakan untuk menulis. Hal-hal demikianlah yang dirasakan bahwa seorang penulis membutuhkan waktu lebih banyak untuk menulis.

    5. Referensi
    6. Membaca dan mencari referensi sangat dibutuhkan oleh seorang penulis. Akan tetapi, untuk mendapatkan referensi itu sering kali tidak mudah. Semisalnya, ada penulis pemula yang ingin menulis sebuah novel remaja, maka ia akan terlebih dahulu membaca buku-buku Teenlit atau pun chicklit.

    7. Memikirkan target pembaca
    8. Beberapa penulis untuk mengalami kesulitan untuk memikirkan target pembacanya. Untuk penulis di majalah anak-anak, pasti ia sudah akan berusaha menghasilkan tulisan dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami oleh anak-anak. Sementara untuk penulis buku keilmuan, akan berusaha supaya hasil tulisannya sesuai dengan yang diharapkan oleh pembacanya.

    Hambatan-hambatan di atas adalah hambatan yang seing kali
    dialami oleh penulis. Akan tetapi, hambata itu akan segera berlalu jika kita mau
    memeranginya dan terus menjaga semangat dan konsistensi dalam menulis. Langkah
    demi langkah dapat kita lakukan untuk memerangi semua hambatan yang ada, dan terus menulis, menulis dan menulis.

    Termin III

    TOPIK 1

    Subjek: Menulis dan Membaca

    Pertanyaan: Dikatakan bahwa menjadi seorang penulis harus terlebih dahulu suka membaca. Setujukah Anda pernyataan tersebut? Menurut Anda, apakah ada hubungan antara membaca dan menulis?

    Seorang penulis haruslah memiliki kegemaran untuk membaca, bahkan membaca adalah gaya hidup dari seorang penulis. Bermula dari membaca, setiap orang akan dimotivasi untuk bisa belajar dan berani untuk menulis. Seorang yang dulu hanya mengonsumsi buku, dapat berubah menjadi penulis buku setelah membaca, membaca dan membaca. Buku bacaan yang kita baca juga akan memengaruhi kesukaan dan idealisasi kita dalam menulis. Seorang yang menyukai humor dan suka membaca buku-buku humor, akan didorong pula untuk membuat buku kumpulan humor. Demikian pula dengan seorang yang menyukai kisah inspiratif, akan didorong pula untuk menuliskan kisah-kisah inspiratif menjadi sebuah buku.

    Sebuah pepatah mengatakan, "Membaca adalah Jendela Dunia." Memang banyak sekali informasi, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang kita dapatkan jika kita mau untuk membaca. Akan tetapi, perlu untuk kita sadari bahwa kita harus mendorong diri kita sendiri untuk mau membaca. Luangkan sedikit waktu dalam kegiatan rutin harian Anda untuk membaca. Dimulai dengan waktu 10 atau 15 menit untuk membaca, selanjutkan waktu tersebut dapat ditambah, hingga akhirnya Anda dapat terus dan mau untuk membaca. Selain mendapat informasi, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan saat membaca, kita pun dapat pula mendapat ide-ide baru dari kisah atau artikel yang sedang kita baca. Membaca secara kristis juga menolong kita untuk mengetahui gaya setiap penulis dan belajar menyusun kalimat yang logis dan sistematis.

    Ada hubungan antara membaca dengan menulis, berikut beberapa hubungan membaca dan menulis, yaitu:

    1. Menemukan ide penulisan
    2. Mengembangkan tema
    3. Melatih kepekaan terhadap gaya penulisan
    4. Meningkatkan keterampilan menulis

    Masih ada beberapa hal yang berhubungan dengan membaca dan menulis, tetapi yang perlu disadari bahwa seorang penulis harus mau untuk membaca. Sehingga banyak ide, banyak referensi dan banyak tema yang dapat diangkat menjadi sebuah tulisan.

    TOPIK 2

    Subjek: Kaidah Bahasa

    Pertanyaan: Apa yang dimaksud dengan kaidah bahasa? Apakah ada kaidah khusus untuk menulis "Tulisan Akademik" dan "Tulisan Kreatif"? Apabila ada di manakah letak perbedaan dan persamaannya?

    Kaidah adalah patokan atau ukuran sebagai pedoman bagi manusia dalam bertindak. Kaidah bahasa adalah aturan/rumusan asas/patokan yang dimiliki bahasa Indonesia, yang membedakannya dengan bahasa lain. Kaidah bahasa Indonesia menjadi jati dir bahasa Indonesia. Kaidah-kaidah tersebut antara lain:

    1. Bahasa Indonesia tidak memiliki perubahan bentuk kata yang menyatakan jenis kelamin.
    2. Bahasa Indonesia tidak memiliki perubahan bentuk kata yang menyatakan waktu.
    3. Bahasa Indonesia tidak mengenal perubahan bentuk kata yang menyatakan jamak.
    4. Bahasa Indonesia mengenal lafal baku.
    5. Susunan kelompok kata D-M (Diterangkan Menerangkan).

    Penerapan untuk kaidah-kaidah ini bisa dilihat dari cara penulisan, pemakaian ejaan,penulisan kata serapan, dll..

    Untuk menulis Tulisan Akademik dan Tulisan Kreatif tentu memiliki perbedaan dalam kaidah bahasanya. Tulisan akademik biasanya akan menerapkan penulisan yang formal/sistematis, ejaan sesuai dengan EYD (baku), pemakaian tanda baca harus tepat, (mungkin) ada format yang sudah disetujui bersama, dan sebagainya. Sementara untuk Tulisan kreatif tidak harus sesuai dengan EYD, penyusunan kalimat juga dapat tidak terlalu kaku dan tujuannya adalah supaya dapat enak dibaca dan dipahami. Berbicara mengenai tulisan akademik atau kreatif bukanlah untuk membandingkan masalah selera atau tulisan mana yang lebih baik, tetapi lebih kepada kebutuhan dan tujuan dari sebuah tulisan dibuat, serta sasaran pembaca yang akan dituju.

    Kalimat efektif menjadi perlu, dalam konteks jika tujuan penulisan adalah agar pembaca dapat menangkap maksud, ide, gagasan, dan penjelasan dari penulis. Untuk tujan itu, diperlukan pola kalimat Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan, yang akan mendukung tercapainya kalimat efektif dalam sebuah tulisan. Kalimat yang tidak mengandung pola SPOK cenderung
    akan menjadi sebuah kalimat tidak logis, yang akan membiaskan makna kalimat
    sebenarnya sehingga diterima secara berbeda oleh pembaca.

    Termin IV

    TOPIK 1

    Subjek: Jurnalistik dan Penulisan

    Pertanyaan: Apa itu jurnalistik? Dapatkan menghasilkan sebuah tulisan dengan menggunakan metode jurnalistik? Adakah teknik-teknik khusus dalam menulis dengan menggunakan metode jurnalistik?

    Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan bahwa jurnalistik adalah kegiatan yang berhubungan dengan kewartaan dan pengsuratkabaran. Jurnalistik adalah upaya atau kegiatan untuk mengkomunikasikan/menyampaikan suatu informasi/berita/pesan kepada masyarakat melalui media tertentu.Teknik-teknik khusus dalam menulis dengan menggunakan metode jurnalistik, yaitu dengan memasukkan unsur 4W+1H, yaitu: Who, Where, When, Why, dan How. Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai kepada penyebarannya kepada masyarakat. Sebelumnya, jurnalistik dalam pengertian sempit disebut juga dengan publikasi secara cetak. Dewasa ini pengertian tersebut tidak hanya sebatas melalui media cetak seperti surat kabar, majalah, dsb., namun meluas menjadi media elektronik seperti radio atau televisi. Berdasarkan media yang digunakan meliputi jurnalistik cetak (print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism).

    Ciri-ciri jurnalistik:

    1. Skeptis
    2. Skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah tertipu. Inti dari skeptis adalah keraguan. Media janganlah puas dengan permukaan sebuah peristiwa serta enggan untuk mengingatkan kekurangan yang ada di dalam masyarakat. Wartawan haruslah terjun ke lapangan, berjuang, serta menggali hal-hal yang eksklusif.

    3. Bertindak (action)
    4. Wartawan tidak menunggu sampai peristiwa itu muncul, tetapi ia akan mencari dan mengamati dengan ketajaman naluri seorang wartawan.

    5. Berubah
    6. Perubahan merupakan hukum utama jurnalisme. Media bukan lagi sebagai penyalur informasi, tapi fasilitator, penyaring dan pemberi makna dari sebuah informasi.

    7. Seni dan Profesi
    8. Wartawan melihat dengan mata yang segar pada setiap peristiwa untuk menangkap aspek-aspek yang unik.

    9. Peran Pers
    10. Pers sebagai pelapor, bertindak sebagai mata dan telinga publik, melaporkan peristiwa-peristiwa di luar pengetahuan masyarakat dengan netral dan tanpa prasangka. Selain itu, pers juga harus berperan sebagai interpreter, wakil publik, peran jaga, dan pembuat kebijaksanaan serta advokasi.

    Hal penting lain yang dibutuhkan dalam sebuah proses jurnalistik adalah pada sumber berita. Ada beberapa petunjuk yang dapat membantu pengumpulan informasi, sebagaimana diungkapkan oleh Eugene J. Webb dan Jerry R. Salancik berikut ini:

    1. Observasi langsung dan tidak langsung dari situasi berita.
    2. Proses wawancara.
    3. Pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik.
    4. Partisipasi dalam peristiwa.

    Kiranya tulisan singkat tentang dasar-dasar jurnalistik di atas akan lebih membantu kita saat mengerjakan proses kreatif kita dalam penulisan jurnalistik.

    TOPIK 2

    Subjek: Menjadi Terang dalam Dunia Literatur

    Pertanyaan: Bagaimana seorang penulis Kristen bisa menjadi terang melalui tulisannya? Hal-hal apa saja yang akan Anda lakukan untuk mewarnai dunia literatur? Sampaikan pula ide, tantangan dan masukan untuk literatur Kristen masa kini.

    Sebagai seorang Kristen, kita harus yakin bahwa pelayanan literatur adalah alat yang bisa Tuhan pakai untuk membawa banyak orang mengenal firman Tuhan sehingga kebenaran-Nya memberi makna hidup yang bernilai kekal. Dengan menulis, kita dapat menginjili, menguatkan iman dan membawa lebih banyak orang untuk mengetahui ajaran-ajaran Kristen.

    Ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjadi terang di dunia kepenulisan. Contoh kecil, kita bisa membuat status yang membangun dan berguna bagi banyak orang di akun sosial media kita. Bisa pula menulis renungan atau catatan kecil dan kita bagikan di fitur Catatan di Facebook. Apalagi kita menggunakan BBM, kita dapat membuat broadcast renungan dan ayat-ayat dalam Alkitab, tujuannya tidak sekadar menyampaikan pesan, tetapi sekaligus kita dapat berdoa banyak setiap orang yang menerima pesan kita dapat dikuatkan imannya dalam mengikut Yesus.

    Tantangan dalam pelayanan literatur Kristen masa kini, antara lain:

    1. Sedikit sekali orang yang tertarik melakukan penginjilan melalui media on line karena mereka menganggap akan lebih baik kalau itu dilakukan di dunia nyata.
    2. Beberapa orang Kristen harus ragu untuk menulis dan menghasilkan karya tulis. Perlu dimaksimalkan potensi dan talenta yang ada untuk menulis dan mewarnai dunia literatur dengan kebenaran Kristus.
    3. Setia kepada firman Tuhan. Nampaknya lebih banyak penulis Kristen yang mulai tidak berpegang pada Alkitab. Dasar pelayanan literatur adalah firman Tuhan, maka sangat penting bagi seorang penulis untuk setia kepada firman Tuhan.

    Komentar