Rangkuman Diskusi PRK Juli/Agustus 2015

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Termin I

Topik 1

Subjek: Hubungan Keselamatan dan Pertumbuhan Rohani

Pertanyaan: Mengapa pembentukan rohani Kristen berdasar pada keselamatan dalam Kristus? Mungkinkah kerohanian seseorang terbentuk sebelum dia menerima karya keselamatan?

Hidup rohani seorang Kristen dimulai dari anugerah keselamatan yang diberikan oleh Allah melalui kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus (Roma 6:3-11; 2 Korintus 5:17). Pada diskusi di topik pertama yaitu mengenai hubungan keselamatan dan pertumbuhan rohani, terdapat dua pendapat yaitu:

  1. Untuk dapat memperoleh keselamatan adalah dengan percaya kepada Tuhan Yesus dengan karya keselamatannya yaitu Tuhan Yesus yang disalib, mati, dan bangkit pada hari yang ketiga. Maka keselamatan disebut sebagai anugerah, karena bukan manusia yang mengusahakannya, tetapi Allah sendiri yang berkarya bagi keselamatan seluruh umat manusia.
  2. Kehidupan rohani yang sejati bukan lahir dari usaha manusia, namun dimulai dari panggilan ilahi, kelahiran baru dan pertobatan. Manusia rohani yang sesungguhnya adalah dilahirkan dalam Roh, sehingga manusia lama kita, yaitu manusia kedagingan, mati dan dikubur, untuk kemudian bersama-sama dengan Kristus dibangkitkan menjadi manusia baru di dalam Kristus.

    Manusia kehilangan natur dalam hubungan dengan Allah. Manusia tidak otomatis bisa mencari dan bersekutu dengan Allah. Tanpa Allah memanggil, manusia tidak bisa bersekutu dengan Allah. Contohnya hamba Abraham yang bernama Eliezer, dia berdoa untuk mendapat petunjuk ketika ia harus mengemban tugas untuk mencarikan pasangan bagi Ishak. (Baca Kejadian 24) Berbeda dengan Abraham, Abraham dapat berkomunikasi langsung dengan Allah, maka Abraham akan berdoa dan bertanya langsung kepada Allah, sementara Eliezer hanya berdoa dan meminta kiranya Tuhan memberikan petunjuk.

    Sementara setelah Kristus, semua manusia dimampukan untuk bersekutu, apabila manusia mendisiplikan diri, Tuhan yang telah menganugerahkan keselamatan dan karunia lainnya, manusia bisa memahami kehendak Tuhan. Kristus telah memberi anugerah keselamatan bagi manusia untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.

    Karena keselamatan dalam Kristus menjadi dasar awal seseorang mulai dalam pertumbuhan rohani (lahir baru) mengenal Kristus. Ibarat bayi yang baru lahir kemudian terus bertumbuh menjadi anak sampai dewasa. Sebab jika tanpa didasarkan pada keselamatan dalam Kristus, maka pertumbuhan rohani seseorang hanyalah bersifat religius semata dengan aturan manusia yang dibuat-buat dan bisa jadi akan menjadi kemunafikan.

  3. Pertumbuhan rohani tidak tentu dimulai dari keselamatan dalam Kristus.
  4. Jika seseorang sudah menerima Kristus sebagai Juru Selamat secara pribadi, pertumbuhan rohaninya akan dikoreksi ke arah yang benar. Bukan berarti baru mulai bertumbuh. Tidak ada iman yang tidak berkembang. Jika kelihatannya tidak berkembang, berarti dari awal dia belum menerima Kristus secara pribadi sebagai Juru Selamat. Tidak ada hubungan apakah dia ke gereja tiap hari pun berarti itu pimpinan Tuhan. Dia tetap bertumbuh secara rohani, hanya arahnya yang masih salah, meleset dari sasaran.

    Tokoh-tokoh di Perjanjian Lama bertumbuh tanpa mengenal keselamatan Kristus. Mereka mendapatkan nubuatan tentang keselamatan Kristus. Digenapi pada waktu Kristus datang di Perjanjian baru.

    Kerohanian seseorang bisa terbentuk sebelum menerima karya keselamatan. Contohnya Saulus sebelum berganti nama jadi Paulus. Saulus bertumbuh dalam pengajaran Yahudi. Dia menentang Kristus. Setelah mengenal Kristus, Saulus berganti nama menjadi Paulus. Paulus mentransformasikan ajaran yang selama ini dia tekuni menjadi sesuai dengan apa yang Kristus harapkan.

    Pertumbuhan rohani dalam Kristus adalah transformasi rohani. Yaitu dari apa yang sudah dialami seseorang dari lahir dan belum menerima Kristus, sampai saat Kristus hadir dalam hatinya secara pribadi. Dengan dia menerima Kristus sebagai Juru Selamat secara pribadi, dia mulai menyadari bahwa semua hal yang pernah terjadi sebelumnya, adalah dalam pimpinan Tuhan. Cara berpikirnya berubah. Transformasi rohani, arah pertumbuhannya dikoreksi. Dia mulai menyadari kitab Taurat yang sudah "ditanam" dalam hatinya oleh Roh Kudus. Maka dia akan berusaha hidup lebih baik.

Topik 2

Subjek: Kemacetan Rohani

Pertanyaan: Apa yang terjadi dengan pembentukan rohani seseorang yang katanya sudah lahir baru dan juga sudah mengetahui pentingnya hubungan dan persekutuan dengan Kristus, namun hidupnya tidak jauh beda dengan orang yang belum lahir baru?

Ada 2 hal kemungkinan terjadi:

  1. Orang tersebut belum lahir baru, karena masih hidup dengan cara hidup yang lama dan belum menanggalkan hidup lamanya dan masih dikuasai oleh kedagingan. Karena untuk hidup lahir baru, seseorang memerlukan pertolongan Roh Kudus untuk mengalahkan sifat sifat atau cara-cara kedagingan yang tidak berkenan kepada Tuhan. Karena belum berserah sepenuhnya kepada Tuhan dan masih mengikuti keinginan sendiri otomatis pembentukan rohani menjadi terhambat.
  2. Karena sesudah lahir baru, tidak disertai dengan langkah pemuridan baik untuk mendukung pertumbuhan rohaninya. Karena pendisiplinan rohani tidak terbentuk dalam hidup seseorang dalam mengenal Juru Selamat-Nya lewat sarana-sarana pertumbuhan rohani yang ada disekitarnya akibat dari mungkin ketidaktahuan, rasa malas, dan faktor lainnya. Pada dasarnya orang itu sudah bertumbuh rohaninya, kalau dia melakukan hal-hal yang baik. Hanya arahnya atau motivasinya yang tidak jelas.

Apakah bisa seorang yang melakukan semua kegiatan dan disiplin rohani justru merasa bahwa rohani kering dan tidak bertumbuh?

Karena apa yang dilakukan menjadi suatu rutinitas belaka, maka hal demikian akan menjadi rutinitas dengan satu tujuan supaya hidup berjalan normal, sehingga tidak bertumbuh dan tidak terjadi perubahan.

Orang Kristen pada umunya mengalami hal ini, karena kita cenderung melakukan hal-hal yang rutin dilakukan. Oleh sebab itu, setiap hari kita perlu meminta tuntunan dan pertolongan Roh Kudus, supaya disiplin rohani yang kita lakukan membawa kita kepada pertumbuhan rohani. Merendahkan hati di hadapan Tuhan dan menyadari bahwa saya adalah orang yang berdosa dan meminta pengampunan dari Tuhan dan menyadari bahwa saya adalah orang yang haus akan Firman-Nya.

Termin II

Topik 1

Subjek: Disiplin atau Rutinitas

Pertanyaan: Bagaimana Anda membedakan disiplin rohani dan rutinitas rohani? Mengapa sering kali orang Kristen terjebak hanya dalam rutinitas rohani?

Disiplin rohani:

  • Melakukan kegiatan kegiatan rohani yang membantu kita untuk memperoleh kekuatan untuk menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab, disiplin rohani mengarah kepada perubahan yang lebih baik.
  • Mawas diri dan bergantung pada Tuhan, selalu belajar merendahkan hati seperti Kristus. Untuk melakukan disiplin-disiplin tersebut kita harus mengorbankan aktivitas-aktivitas lain.
  • Rutinitas rohani:

  • Setiap kegiatan rohani yang kita lakukan terus menerus. Namun, tidak mengubah hidup kita.
  • Sesuatu yang kita lakukan untuk menjaga agar kita tetap berada pada tingkat tertentu, sehingga menolong semua sistem hidup kita berfungsi dengan normal.
  • Bisa saja kita terjebak dengan rutinitas rohani karena kejenuhan kita. Sehingga kita melakukan ibadah hanya sebagai kegiatan yang memang harus dikerjakan dan tidak dalam nama Tuhan, hanya sebatas kewajiban saja. Bisa saja juga karena kurangnya kesadaran bahwa manusia diselamatkan hanya oleh kasih karunia. "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri".(Efesus 2:8-9).

    Disiplin rohani akan menjadi rutinitas pada titik tertentu apalagi ketika memasuki masa "burn out" yang kemudian membawa rutinitas rohani menjadikan pertumbuhan semu. Tidak membawa lagi kasih mula-mula, sehingga disiplin rohani hanya membawa seseorang untuk tetap melakukan sesuatu, tetapi tanpa hati yang merindukan Tuhan.

    Allah memberikan kita anugerah disiplin (disiplin rohani) sebagai cara untuk menolong kita bertumbuh dalam kasih kepada-Nya dan kepada sesama kita. Sarana-sarana yang berharga ini -- doa, firman Tuhan, penyembahan, waktu sendiri bersama Tuhan (solitude), memberi persembahan, berpuasa, diam di hadirat Tuhan, dan lain-lain -- membawa kita masuk ke dalam hadirat-Nya, dengan cara yang tidak bisa didapatkan hanya dari kegiatan sehari-hari. Disiplin-disiplin ini akan memampukan kita untuk melihat sekilas kemuliaan-Nya dan masuk ke dalam kuasa-Nya yang dapat memberi pembaharuan hidup setiap hari dalam Yesus Kristus. Namun, ketika praktik disiplin rohani diizinkan berubah menjadi aktivitas-aktivitas rutin saja -- maka disiplin rohani itu kehilangan kuasanya untuk membawa kita bertatap muka dengan Tuhan dalam cara-cara yang mentransformasi hidup.

    Bagaimana Pertumbuhan Rohani Kristen yang ideal itu?

    Ada dua pendapat mengenai pertumbuhan rohani kristen yang ideal, yaitu:

    1. Tidak ada pertumbuhan rohani yang ideal, karena setiap kehidupan manusia itu unik. Kalaupun mau disebut ideal adalah berserah kepada Tuhan, mau menundukkan diri pada perintah Tuhan dengan kerelaan hati, bukan dengan terpaksa.
    2. Pertumbuhan ideal yakni pertumbuhan yang berbuah dan dapat menjadi terang dan garam bagi kehidupan orang lain. Pertumbuhan yang berdampak baik dalam kehidupan orang lain.

    Pertumbuhan rohani selalu dalam penyertaan dan pembentukan Tuhan.

    Topik 2

    Subjek: Otoritas Alkitab

    Pertanyaan: Mengapa kita menempatkan Alkitab sebagai otoritas tertinggi dan satu-satunya dalam kehidupan orang Kristen?

    Alkitab adalah Firman Allah yang diilhamkam dan dianugerahkan kepada manusia untuk menuntun dan memimpin manusia di jalan yang benar. Semua hal berasal dari Firman Allah. Oleh karena itu, Alkitab merupakan otoritas tertinggi karena Firman Allah itu adalah Allah sendiri. Alkitab juga merupakan wahyu Allah yang diberikan kepada manusia yang berisi pernyataan-pernyataan tentang Allah dalam relasinya dengan manusia.

    Alkitab yang merupakan Firman Allah, seperti yang terdapat pada kitab:

  • Yohanes 1:1 mengatakan bahwa :
    "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah"
  • 1 Timotius 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.
  • Dalam kitab Roma di katakan bahwa Injil itu adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya (Roma 1:16 "... karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya").

    Alkitab adalah Firman Allah yang benar dan hidup. Jika orang percaya mengabaikan otoritas Alkitab. Maka, elemen-elemen dosa, kejahatan, dan kenajisan akan masuk dalam kehidupan kita. Karena Alkitab merupakan firman Allah atau penyataan Allah, apabila seseorang mengabaikan otoritas Alkitab, berarti orang tersebut mengabaikan firman Allah.

    Termin III

    Topik 1

    Subjek: Kehidupan Doa

    Pertanyaan: Mengapa kehidupan doa orang Kristen seringkali akhirnya menjadi sekadar rutinitas saja? Bagaimana mengatasinya? Dan bagaimana membuat kehidupan doa menjadi sesuatu yang menggairahkan?

    Tuhan menghendaki setiap umat-Nya untuk berdoa. Doa adalah alat komunikasi setiap orang percaya dengan Allah. Tidak ada hal yang lebih menyukakan hati Bapa daripada mendengarkan suara anak-anak-Nya berbicara dan berbagi hidup. Namun, berdoa bukanlah komunikasi satu arah, karena itu dalam berdoa diharapkan anak-anak-Nya juga memiliki antusias untuk mendengar suara Bapa dan bersekutu dengan-Nya. Dengan berdoa maka jeritan hati kita yang paling dalam dapat didengar oleh Tuhan. Selain itu, kita belajar untuk mendengar suara Tuhan dan melakukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan. Oleh karena itu, doa sangat penting apabila dibarengi dengan mendekatkan diri pada Firman-Nya, karena doa membuat Firman-Nya menjadi lebih jelas (Kolose 4:2; 1 Tesalonika 5:17). Jika murid-murid Yesus bertanya, "Tuhan, ajarlah kami berdoa.", maka kita tahu bahwa doa adalah sesuatu yang perlu dipelajari dan perlu dilakukan secara disiplin. Alkitab memberikan tiga alasan khusus, mengapa kita harus berdoa, yaitu:

    1. Tuhan memerintahkan kita untuk berdoa (Kolose 4:2; 1 Timotius 5:17).
    2. Kristus memberi kita contoh sebuah doa (Markus 1:35; Lukas 6:12). Apabila Ia yang sempurna tanpa dosa saja berdoa, berapa banyak lagi kita seharusnya berdoa?
    3. Kristus mengajar kita supaya berdoa, kita dapat berasumsi bahwa Ia menginginkan kita berdoa. Doa adalah tindakan yang menunjukan ketaatan serta penyembahan kita kepada Tuhan (Matius 6:5-9). Janganlah kita sampai tidak punya waktu untuk tidak berdoa. Jika kita menerima Allah secara serius, kita akan serius juga dalam berdoa.

    Doa yang tidak membawa kerinduan hanya akan membawa manusia berdoa secara sekadarnya, alih-alih membangun hubungan dengan Tuhan. Mereka hanya berdoa karena kebiasaan dan arti dari doa menjadi pudar. Sehingga bukannya dapat mencari persekutuan dengan Allah, mereka malah melakukannya sekadarnya karena "harus" dilakukan dan otomatis dilakukan karena "terprogram" dengan baik dalam sepanjang aktifitas mereka.

    Untuk membuat kehidupan doa menjadi sesuatu yang menggairahkan, maka kita perlu kembali pada kehidupan membaca Firman Tuhan. Firman Allah mampu membangkitkan kerinduan dan merasakan betapa baik dan cinta kasih Allah yang besar dalam kehidupan kita. Tidak hanya dalam kelimpahan berkat, tetapi dalam perkara dan persoalan kita. Dari Alkitab, kita juga dapat mempelajari begitu banyak teladan yang telah Tuhan Yesus terlebih dahulu lakukan, sehingga dengan meminta hikmat kekuatan-Nya, kita dimampukan untuk bisa belajar menjadi serupa dengannya. Iman tidak hanya percaya, tetapi juga melakukan apa yang sudah dikehendaki oleh Tuhan (Yakobus 1:22). Jadi, agar kita memiliki kehidupan doa yang menyenangkan, kita harus menyempatkan diri untuk membaca Firman Allah, agar kita dapat terus bergairah.

    Seperti makanan, doa juga bagian dari makanan rohani kita, jika kita bosan maka kita akan kelaparan rohani.

    Mengatasi Kejenuhan Rohani (Spiritual Burn Out) :

    1. Tidak melarikan diri tetapi menghadapi dengan berani. Semua orang bisa mengalami keadaan ini dan tidak perlu berpura-pura atau sebaliknya menjadi tenggelam dalam rasa penyesalan. Akan tetapi, ketika kita mengalami 'burn out', sebaiknya tidak tidak menutup diri dan berpura-pura bahwa kita baik-baik saja. Kita perlu berani mengakui keadaan kita dan berusaha lepas dari keadaan ini.
    2. Menerima keadaan, jangan melawannya (Filipi 4:6; 1 Petrus 5:7). Penyangkalan akan mempersulit pemulihan. Pengampunan dan belas kasih Tuhan merupakan kunci untuk bangkit dari keadaan ini.
    3. Belajar untuk "mengapung" (Filipi 2:5, 8, 9). Belajar untuk lebih rileks, lakukan aktivitas yang dapat mengganti pikiran-pikiran negatif dan jangan melawan arus, karena akan membuat kita lebih mencapai tujuan kita.
    4. Biarkan waktu ikut menyembuhkan (Matius 11:28, 30). Jangan terpancang dengan target waktu tertentu, yakinlah bahwa Tuhan akan menolong dan keadaan akan menjadi lebih baik. Jadi, berikan waktu untuk Tuhan bekerja dalam waktu-Nya.

    Berdoa merupakan suatu sarana komunikasi yang penting antara kita dengan Allah, dengan mempererat hubungan kita dengan Allah. Maka kita akan mendapatkan kekuatan untuk menopang hidup sepanjang hari lepas hari. Tanpa berdoa, kita akan kehilangan kekuatan dalam hidup yang sanggup menopang kehidupan kita menghadapi segala tantangan. Doa dilakukan dengan kerelaan hati, kesukaan berbicara kepada Tuhan. Tuhan sudah mengajarkan kepada kita bagaimana sebaiknya berdoa, apa-apa yang sebaiknya kita hindari dalam berdoa. Karena kira sebenarnya tidak tahu bagaimana seharusnya berdoa.

    Topik 2

    Subjek: Penyakit Rohani

    Pertanyaan: Apa itu penyakit rohani? Bagaimana cara kita untuk keluar/sembuh dari penyakit rohani yang sedang kita hadapi?

    Penyakit rohani merupakan suatu keadaan di mana seorang yang percaya tidak lagi teguh dalam imannya. Sering mengabaikan doa, meninggalkan Alkitab, tidak menghasilkan buah Roh, bahkan ingkar terhadap perintah Tuhan. Akibatnya, seseorang tersebut kehilangan visi di dalam iman. Bisa saja seluruh jasmaninya ikut lemah karena tidak ada kekuatan yang mampu mengangkat semangat jati diri. Penyakit ini timbul saat seseorang merasa bosan, malas, dan tidak bergairah lagi dalam membaca firman atau pun bersekutu dengan Tuhan.

    Berikut beberapa penyebab penyakit rohani:

  • Tekanan yang terlalu besar yang tidak dapat diatasi dengan seketika.
  • Terlalu keras bekerja, tapi kurang istirahat yang cukup.
  • Kehilangan perspektif antara harapan rohani dan kelemahan manusiawi.
  • Terlalu banyak menanggung masalah orang lain.
  • Tanggungjawab yang tidak sesuai dengan kemampuan.
  • Kurang rileks dan memiliki sikap negatif dalam menghadapi tugas-tugas.
  • Frustrasi dan konflik pribadi yang berlarut-larut sehingga melelahkan emosi.
  • Kelemahan tubuh (penyakit, trauma emosi, ketidakseimbangan cairan kimia)
  • Cara mengatasi penyakit rohani:

  • Tidak melarikan diri, tetapi menghadapi dengan berani. Semua orang bisa mengalami keadaan ini dan tidak perlu berpura-pura atau sebaliknya menjadi tenggelam dalam rasa penyesalan. Akan tetapi, ketika kita mengalami 'burn out', sebaiknya tidak tidak menutup diri dan berpura-pura bahwa kita baik-baik saja. Kita perlu berani mengakui keadaan kita dan berusaha lepas dari keadaan ini.
  • Menerima keadaan, jangan melawannya (Filipi 4:6; 1 Petrus 5:7). Penyangkalan akan mempersulit pemulihan. Pengampunan dan belas kasih Tuhan merupakan kunci untuk Belajar untuk "mengapung" (Filipi 2:5, 8, 9). Belajar untuk lebih rileks, lakukan aktivitas yang dapat mengganti pikiran-pikiran negatif dan jangan melawan arus, karena akan membuat kita lebih mencapai tujuan kita.
  • Biarkan waktu ikut menyembuhkan (Matius 11:28, 30). Jangan terpancang dengan target waktu tertentu, yakinlah bahwa Tuhan akan menolong dan keadaan akan menjadi lebih baik. Jadi, berikan waktu untuk Tuhan bekerja dalam waktu-Nya.
  • Secara sederhana atau praktisnya cara kita untuk keluar/sembuh dari penyakit rohani yang sedang kita hadapi adalah dengan banyak ikut kegiatan yang diadakan dalam gereja atau pun persekutuan, baik itu persekutuan doa, persekutuan rumah tangga, ikut kegiatan pelayanan lagi sebagai aktivis gereja. Sehingga, kita akan banyak berkomunikasi dengan saudara seiman bercerita dan membagi pengalaman hidup, dengan demikian akan tumbuh semangat untuk bangkit kembali dan meninggalkan penyakit rohani yang tidak baik itu.

    Termin IV

    Topik 1

    Subjek: Kekeringan Rohani

    Pertanyaan: Kadar atau tolok ukur rohani dalam hidup orang Kristen apakah dapat berubah-ubah? Pernahkah kita merasa bahwa kita sudah menjalankan disiplin rohani dan melayani, tetapi hati kita merasakan bahwa kehidupan rohani kita kering?

    Kadar atau tolok ukur rohani dalam hidup orang Kristen adalah firman Tuhan. Kadar atau tolok ukur rohani kita seharusnya berpandukan perspektif dari firman Tuhan yang tetap sama dulu, sekarang, dan selamanya. Namun, dalam stabilitas pertumbuhan iman rohani orang kristen tidak akan sama seumur hidupnya. Karena dalam proses pertumbuhan pasti ada hambatan.

    Mengenai pertumbuhan kerohanian, kita perlu mengingat kembali "kedudukan" dan "keadaan" kita sebagai orang percaya. "Kedudukan" kita adalah cara pandang Allah, ketika kita menerima Tuhan Yesus dan mengalami kelahiran baru, maka kita sudah disucikan/dikuduskan oleh Allah. Sedangkan "keadaan" kita, sebagai manusia berdosa, natur kita adalah manusia berdosa. Ketika kita sudah menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita dan kita mengalami lahir baru, meskipun pertumbuhan rohani kita berubah-ubah (naik -- turun), tetapi tetap pada jalurnya Tuhan, dalam arti tidak membawa kita kepada kebinasaan. Hambatan atau hal-hal yang perlu diatasi agar pertumbuhan dapat terus berlanjut, seperti :

    1. Nafsu daging (Galatia 5:19-21 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu -- seperti yang telah kubuat dahulu -- bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah).
    2. Jalan dunia (1 Yohanes 2:15-16 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.)
    3. Kuasa gelap (1Petrus 5:8-9 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.)

    Kita sudah menjalankan disiplin rohani dan melayani, namun hati kita merasakan bahwa kehidupan rohani kita kering. Kita harus memahami bahwa hubungan kita dengan Tuhan, pertumbuhan rohani kita, dan efektivitas pelayanan kita mendapat perlawanan. Sejak mengikut Kristus, sadar atau tidak disadari, kita masuk dalam medan peperangan rohani. Apabila hidup rohani kita membuka peluang/kompromi atau lalai terhadap hambatan-hambatan diatas maka kadar rohani kitapun ikut berubah. Kekeringan rohani terjadi jika tidak segera ditangani kembali bisa saja pertumbuhan kerohanian terhambat. Apabila dibiarkan, lama-kelamaan akan berakibat dosa menguasai hidup kita. Ketika kehidupan rohani kering, karena mulai kendor dan berkompromi dengan beberapa hambatan diatas. Akibat dari kekeringan rohani jika kita tidak sadar jelas itu akan menghambat pertumbuhan kerohanian kita. Jadi setelah ada tanda bahwa kita mengalami kejenuhan/kekeringan rohani, kita secepatnya mengambil langkah yang benar, yaitu mengoreksi diri dan datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur, menyadari keberdosaan, memohon pengampunan, dan bergantung sepenuhnya kepada Dia sumber kehidupan kita. Mari melakukan disiplin rohani dan melayani Tuhan dengan benar menurut kehendak-Nya.

    Topik 2

    Subjek: Tanda Kedewasaan dan Pemuridan

    Pertanyaan: Apa saja tanda-tanda dari seorang yang dewasa rohani? Dari satu sisi kedewasaan rohani dapat dilihat dari pertumbuhannya pada keserupaan dengan Kristus, tapi dari sisi yang lain kedewasaan rohani juga dapat dilihat dari kesiapan untuk mereproduksi diri, yaitu memuridkan orang lain. Apakah berarti setiap orang Kristen yang dewasa harus memiliki murid-murid dan memuridkan?

    Dari satu sisi kedewasaan rohani dapat dilihat dari pertumbuhannya pada keserupaan dengan Kristus, tidak terombang-ambing oleh angin pengajaran, memiliki hikmat dan bijaksana dari Allah Bapa, terlihat dari buah Roh yang dihasilkannya, melakukan tugas dan perintah Allah Bapa dan Yesus Kristus dengan penuh tanggung jawab.

    Cara berpikir, cara bertindak, cara berkata menjadi teladan bagi orang lain (keluarga, teman, dan org lain) baik saat tidak dilihat orang maupun ketika dilihat orang, dengan demikian kita menghidupi Kristus dalam diri kita terlebih dahulu. (Filipi 2:15 Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.)

    Hidup melayani sebagai bagian dari tubuh Kristus dalam Pekerjaan Tuhan. (Efesus 4:12 Untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus).

    Menjangkau dan memuridkan setiap orang (Matius 28:19-20 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman). Memuridkan adalah sebuah proses dimana seseorang didorong, diperlengkapi, dan diajarkan Firman Tuhan agar bisa bertumbuh dewasa di dalam Kristus. Selanjutnya, ia juga diajar untuk melakukan hal yang sama (memuridkan) kepada orang lain. Pemuridan yang kita lakukan juga pada dasarnya adalah untuk menjadikan seseorang murid Kristus (bukan murid kita sendiri). Maka kita harus selalu menyertakan Tuhan dalam hal ini. Memuridkan merupakan antara tugas yang patut dilaksanakan oleh orang Kristen. Bisa dimulai dari keluarga sendiri. Memuridkan ahli-ahli keluarga lalu ke luar (memuridkan) selain lingkungan keluarga.

    Komentar