SHA-Pelajaran 05

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Sepuluh Hukum Allah Untuk Kehidupan Manusia (SHA)
Nama Pelajaran : Perintah Kedelapan, Kesembilan dan Kesepuluh
Kode Pelajaran : SHA-P05

Pelajaran 05 - PERINTAH KEDELAPAN, KESEMBILAN DAN KESEPULUH

Daftar Isi

  1. Perintah Kedelapan
    1. Siapakah Pengambil Milik Orang Lain?
    2. Mengapa Manusia Mencuri?
    3. Apa Lagi yang Termasuk dalam Perintah Ini?
    4. Yudas adalah Seorang Pencuri
    5. Tuhan Yesus Mengatakan
  2. Perintah Kesembilan
    1. Sumber dari Segala Dusta
    2. Mengapa Orang Berkata Dusta?
    3. Ada Banyak Cara untuk Berkata Dusta
    4. Berdusta adalah Merupakan Hal yang Serius
  3. Perintah Kesepuluh
    1. Kata "Tamak atau Serakah"
    2. Apa yang Salah dengan Ketamakan?
    3. Bagaimana Kita Bisa Mengalahkan Ketamakan atau Keserakahan?
    4. Apa yang Dikatakan Tuhan Yesus Tentang Ketamakan atau Keserakahan?
    5. Pendapat Terakhir Mengenai Perintah Ini

DOA

  1. Perintah Kedelapan

    Perintah kedelapan untuk kehidupan manusia yang diberikan Allah adalah "Jangan mencuri." (Keluaran 20:15). Perintah ini berhubungan dengan penghormatan akan hak milik orang lain dan juga berhubungan dengan kejujuran, kejujuran terhadap diri sendiri dan kepada sesama.

    1. Siapakah Pengambil Milik Orang Lain?

      Seorang pengambil barang milik orang lain mungkin seorang pencuri, pencopet, penjambret atau seorang pencuri mobil. Dia selalu berpikir bahwa dia pandai karena uang bisa didapatkan tanpa bekerja. Seorang pencuri adalah seseorang yang membuat orang lain miskin untuk memperkaya dirinya sendiri. Para pencuri selalu mementingkan diri sendiri, tamak dan boros, dan mencuri selalu membawa kepada kebohongan, penipuan dan kekerasan.

    2. Mengapa Manusia Mencuri?

      Manusia mencuri karena banyak alasan. Kadang-kadang manusia belajar mencuri karena dia lapar dan tidak ada seorang pun yang dia tahu dapat menolongnya. Kadang-kadang seseorang belajar mencuri karena dipengaruhi orang lain. Beberapa orang mencuri karena iri hati. Mereka tidak rela melihat orang lain berhasil atau lebih kaya dari mereka. Namun, alasan yang paling umum untuk mencuri adalah hanya karena kemalasan saja. Mencuri kelihatannya sangat mudah karena mereka mendapatkan kesenangan tanpa sedikitpun kerja keras. Namun, tetap ada resiko yang akan ditanggung.

    3. Apa Lagi Yang Termasuk dalam Perintah Ini?

      Ada banyak cara untuk melanggar perintah ke delapan: upah yang tidak sesuai, pelayanan yang tidak memuaskan, pendapatan yang tidak jujur, kekejaman, pemerasan, dan masih banyak lagi. Hal-hal tersebut merupakan bentuk-bentuk pencurian yang sangat membahayakan masyarakat. Pada zaman dahulu, hukuman untuk mencuri adalah mati, karena semua hak milik adalah merupakan karunia Tuhan sehingga dikuduskan.

      Mencuri berarti mengambil milik orang lain dan memberikannya kepada orang lain atau kepada diri sendiri. Mencuri adalah perbuatan dosa, dan menuju ketamakan atau keserakahan, penghinaan dan ketidakhormatan kita kepada orang lain. Mencuri adalah suatu keegoisan kita, kurangnya cinta kasih dan perhatian kita pada sesama. Bahkan menyontek di kelas adalah suatu bentuk pencurian. Beberapa orang mencuri dalam berbagai permainan atau pertandingan. Kita melukai seseorang jika kita mencuri atau merusak nama baiknya. Jika kita berkata yang tidak benar tentang nama baik dan sifatnya, berarti kita melakukan sesuatu yang salah terhadapnya. Hal ini juga berarti mencuri di pandangan mata Allah. Jika kita tidak berhati-hati, kita bisa merampok semangat orang lain, seperti nama baiknya, yang akhirnya membuat hidupnya hancur.

    4. Yudas Adalah Seorang Pencuri (Yohanes 12:6)

      Pencuri yang paling banyak dikenal dalam sejarah Kekristenan adalah Yudas Iskariot. Dia adalah salah seorang dari dua belas murid yang dipercaya Yesus sebagai bendahara. Yudas Iskariot menyimpan uang untuk keperluan pribadinya, yang sebenarnya harus dijaganya untuk Tuhan. Yudas tidak mengerti bahwa ukuran seorang manusia bukanlah dari apa yang dia miliki melainkan dari apa yang dilakukannya.

    5. Tuhan Yesus Mengatakan

      Apa yang Anda miliki di kantong mungkin akan habis, tapi apa yang Anda miliki di hati dan pikiranmu akan tetap tinggal di sana. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengatakan bahwa lebih berguna untuk menyimpan harta kita di surga (Matius 6:20). Jika kita adalah seorang Kristen, tak ada seorang pun yang dapat mencuri keselamatan kita, bahkan setan pun tidak bisa melakukannya. Anda harus mempunyai hubungan pribadi dengan Kristus dalam hati Anda untuk bisa menjadi seorang Kristen yang sejati. Rasul Paulus mengatakan, "Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri..." (Efesus 4:28). Jika kita bijaksana, kita akan mentaati perintah Allah ini. Jujur kepada diri sendiri dan kepada orang lain adalah jalan menuju kebahagiaan yang sejati.

  2. Perintah Kesembilan

    Ayat Hafalan: "Jangan mengucapkan saksi dusta" (Keluaran 20:16).

    Dengan bahasa yang sederhana perintah ini mengatakan, berkatalah jujur kapan pun dan di mana pun Anda berada. Ini adalah perintah yang harus dilakukan dengan mengendalikan lidah kita. Perintah ini melindungi nama baik, sedangkan perintah kedelapan melindungi hak milik pribadi. Kenyataanya kebohongan cenderung melukai seseorang lebih dari perampokan. Memberikan kesaksian palsu adalah kejahatan bila kita berkata bohong di bawah sumpah di pengadilan hukum, termasuk juga berbisik-bisik untuk sesuatu yang jahat, memberikan cerita burung, rayuan gombal, kebenaran yang disembunyikan sebagian, pernyataan yang dilebih-lebihkan dan kepura-puraan, menghakimi atau menuduh orang lain, serta motivasi yang jahat dan kebohongan. Kita juga melanggar hukum ini jika kita menahan kebenaran yang membuat seseorang kehilangan hak milik atau nama baik.

    1. Sumber Dari Segala Dusta

      Alkitab menceritakan kepada kita bahwa untuk mengetahui cerita mengenai kebohongan kita harus melihat kembali ke Taman Eden (Kejadian 3). Allah mengatakan supaya jangan makan buah yang dilarang-Nya, sebab pada waktu memakannya, "Pastilah engkau mati" (Kejadian 2:17). Tetapi Setan, dalam bentuk ular, berkata kepada Hawa, "Engkau tidak akan mati" (Kejadian 3:4). Setan telah memutarbalikkan kebenaran firman Allah,dan dia adalah pendusta besar. Ketika Hawa percaya pada kebohongan Setan lebih daripada kebenaran Allah, maka dosa yang pertama telah masuk ke dalam dunia. Sejak saat itu akibat-akibat dusta yang mengerikan ada bersama dengan kita.

      Setan adalah sumber dari semua dusta dan karena itulah maka dia disebut "Bapa segala pendusta" (Yohanes 8:44). Nama-nama yang diberikan dalam Alkitab untuk setan menggambarkan sifatnya sebagai seorang pembohong. Dia adalah pemimpin dari semua pembohong. Memercayai kebohongan Setan dari pada kebenaran Allah adalah hal utama yang membawa seseorang menuju penghancuran dan hukuman yang kekal di neraka. Manusia mati dan menghadapi hukuman yang kekal di neraka karena mereka telah percaya kepada orang yang salah, yaitu Setan. Allah mengatakan "Sebab upah dosa adalah maut ...." (Roma 6:23). Manusia telah memilih untuk percaya Setan daripada percaya kepada Allah. Bagi manusia tidak ada harapan kecuali mengakui bahwa hal itu adalah dusta dan berbalik kepada Kristus yang dapat mengubah hatinya yang dusta.

    2. Mengapa Orang Berkata Dusta?

      Ada banyak alasan mengapa orang berkata dusta. Beberapa orang berkata dusta untuk melarikan diri dari kebenaran, karena bentuk yang salah dari mengasihi diri sendiri. Mereka berusaha untuk menempatkan diri mereka dalam posisi sebaik mungkin sementara meletakkan orang lain dalam posisi seburuk mungkin. Beberapa orang berbohong karena sombong, supaya kelihatan berbeda, mendapat perhatian, mendapat simpati atau bergurau, karena tidak tahu bagaimana mengatakan kebenaran. Jika seandainya mereka pernah tahu bagaimana mengatakan kebenaran, mereka telah lupa hal itu. Dan seseorang berdusta hanya untuk melarikan diri dari hukuman manusia.

    3. Ada Banyak Cara Untuk Berkata Dusta

      Banyak orang berbohong dengan hanya mengatakan sebagian kebenaran. Beberapa orang berdusta dengan pernyataan yang berlebihan, dengan mengatakan kebenaran lebih dari yang sebenarnya. Kebenaran yang setengah-setengah adalah kebenaran yang disembunyikan, sementara pernyataan yang berlebihan adalah kebenaran yang dilebih-lebihkan. Cara lain untuk berdusta adalah memberikan kesaksian palsu di pengadilan, gosip yang merugikan, memberikan cerita burung dan berbisik-bisik untuk niat yang tidak baik, mengatakan satu hal tetapi melakukan yang lain. Dan yang paling berbahaya adalah menunjuk pada sesuatu yang tidak benar, meskipun orang itu tidak secara langsung menyatakannya. Kita bisa berbohong dengan tidak mengatakan apa pun juga sementara kita sebenarnya dapat mengatakannya.

    4. Berdusta Adalah Merupakan Hal yang Serius

      Berdusta adalah merupakan hal yang serius karena hal ini memengaruhi hubungan kita dengan sesama. Berbohong itu seperti memukul seseorang dari belakang (mengatakan sesuatu tentang seseorang tanpa diketahui oleh orang tersebut karena tidak berani berhadapan muka) dan juga seperti memfitnah. Berdusta menuju pada ketamakan atau keserakahan roh yang tidak memiliki kasih sama sekali. Kasih tidak memberikan tempat untuk kejahatan. Seseorang pernah berkata, "Satu-satunya pengobatan untuk roh yang sudah kritis adalah kasih dalam dosis yang besar." Dusta juga menimbulkan masalah, kepahitan, dan sakit hati. Kita kehilangan hormat terhadap orang yang melakukan dusta. Dusta adalah suatu hal yang serius karena menghancurkan dasar dari kehidupan yang sehat dan bahagia. Dusta juga menghancurkan rumah tangga dan nilai-nilai kerohanian. Dan yang paling penting, dusta ialah suatu hal yang serius karena memengaruhi hubungan kita, tidak hanya dengan manusia, tetapi juga dengan Tuhan. Allah mengecam dusta. Dia menggolongkan para pendusta dengan para pembunuh, pezinah, tukang sihir dan bahkan penyembah berhala (Wahyu 21:8).

      Dusta membawa manusia jauh dari Allah dan menuju neraka dan penghukuman yang kekal. Hal utama yang dihasilkan oleh dusta adalah memisahkan kita dari Allah.

      Jadi perintah ini secara positif mengatakan, "Katakanlah kebenaran setiap waktu jika kamu ingin bahagia dan menolong sesama." Kita akan mengatakan kebenaran dengan roh yang mengasihi. Orang-orang Kristen harus mengatakan kebenaran karena Yesus mengatakan "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup...." (Yohanes 14:6). Seorang Kristen seharusnya menjadi seperti Kristus. Allah tertarik pada sifat dan dasar yang paling utama yaitu kebenaran.

  3. Perintah Kesepuluh

    Perintah yang kesepuluh ini merupakan kesimpulan dari kesembilan perintah sebelumnya. Walaupun demikian, perintah terakhir ini berbeda dengan perintah-perintah yang lain. Perintah-perintah yang lain dihubungkan dengan tindakan-tindakan yang nampak. Perintah yang kesepuluh berhubungan dengan keinginan. Perintah yang lain melarang tindakan dosa. Perintah ini melarang keinginan dosa. Jika kita bisa memegang perintah ini dengan sempurna, dan jika kita bisa menjaga keinginan kita supaya murni dan baik, maka tidak akan terlalu sulit untuk memegang perintah-perintah yang lainnya. Mementingkan diri sendiri adalah akar dari segala dosa. Ketamakan adalah keengganan untuk percaya kepada Tuhan. Ketamakan adalah juga tindakan tanpa iman. Kesombongan diungkapkan melalui ketamakan dan kedengkian, yang ada dalam sikap hati manusia. Perintah ini menunjuk pada sifat dan kedengkian manusia. Di samping perintah yang pertama, perintah yang kesepuluh adalah perintah yang paling penting dari semuanya. Perintah yang pertama berhubungan dengan ilah-ilah yang lain. Perintah Kesepuluh berhubungan dengan keinginan akan hal-hal yang bertentangan dengan hukum yang dapat menghilangkan posisi Allah dalam kehidupan seseorang. Paulus mengatakan bahwa keserakahan adalah sama dengan penyembahan berhala.

    1. Kata "Tamak Atau Serakah"

      Kata "Tamak atau Serakah" berarti menghendaki atau menginginkan sesuatu. Tamak atau serakah juga berarti memiliki keinginan yang bertentangan dengan hukum untuk memiliki sesuatu.

      1. Keinginan berarti menginginkan sesuatu yang kita tidak berhak memilikinya saat itu. Hukum ini meliputi segala macam keinginan untuk memiliki hal-hal yang menjadi milik orang lain. Alkitab mengatakan, "Janganlah kamu mengingini milik tetanggamu."

      2. Lebih pada itu, ketamakan atau keserakahan lebih dalam dari hanya sekadar mengingini. Seseorang yang menginginkan lebih dari apa yang dia perlukan atau yang mungkin bisa dipakainya adalah serakah.

      3. Tamak atau serakah berarti menempatkan hal-hal duniawi di atas hal-hal yang bernilai rohani. Hal ini berarti menempatkan keuntungan di atas Allah.

    2. Apa Yang Salah Dengan Ketamakan?

      Pelajarilah contoh-contoh berikut mengapa Allah berfirman kepada kita supaya tidak tamak atau serakah.

      1. Keserakahan atau ketamakan menghancurkan kepuasan karena membawa mata kita kepada apa yang tidak kita punyai daripada apa yang kita punyai. Ketamakan menyebabkan tidak bahagia.

      2. Ketamakan atau keserakahan menyebabkan perbuatan-perbuatan yang tidak benar. Seseorang yang melanggar perintah ini akan sangat mungkin melanggar perintah yang lain.

      3. Ketamakan atau keserakahan sering membawa pada dusta dan memberikan kesaksian palsu. Menginginkan istri orang lain membawa pada perzinaan. Tamak akan barang-barang yang menjadi milik orang lain, sering kali, akan mengubah seseorang menjadi pencuri. Tamak atau serakah yang begitu dalam sama dengan mencuri secara terang-terangan. Seringkali seseorang yang serakah juga menjadi pembunuh.

    3. Bagaimana Kita Bisa Mengalahkan Ketamakan Atau Keserakahan?

      Kita dapat menolong diri kita sendiri untuk mengalahkan ketamakan atau keserakahan dengan menolak untuk memerhatikan hal-hal yang dilarang Allah. Dengan pertolongan Tuhan, hal ini sangatlah mungkin. Alihkan perhatian Anda dari apa yang sudah dilarang Allah, dan perhatikanlah apa yang Dia izinkan.

      Ingatlah bahwa ketamakan atau keserakahan adalah suatu hal yang berasal dari dalam hati. Kita perlu untuk benar dihadapan Allah mulai dari dalam hati. Kita harus menyerahkan diri kita kepada Yesus Kristus. Kita harus tiba di tempat dalam hati kita yang mengatakan, "Bukan kehendak ketamakan atau keserakahan melainkan kehendak-Mu (Tuhan) yang terjadi." Puas dengan apa yang kita miliki adalah kebalikan dari ketamakan atau keserakahan.

    4. Apa Yang Dikatakan Tuhan Yesus Tentang Ketamakan Atau Keserakahan

      Mengenai ketamakan atau keserakahan, Tuhan Yesus mengatakan, "Berjaga-jagalah dan waspadalah ..." (Lukas 12:15). Dua kali Rasul Paulus mengatakan pada kita bahwa ketamakan atau keserakahan adalah suatu bentuk dari penyembahan berhala. Yakobus menyatakan bahwa orang yang tamak, yang menempatkan dunia menjadi nomor satu adalah merupakan kebencian bagi Tuhan (Yakobus 4:4). Paulus mengatakan, "tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah" (Efesus 5:5).

    5. Pendapat Terakhir Mengenai Perintah Ini

      Rahasia hidup adalah bukan mendapatkan melainkan memberi. Bukan apa yang kita dapatkan melainkan apa yang kita berikan itulah yang akan diperhitungkan. Seseorang dengan roh yang puas atau dengan apa yang ada padanya adalah seorang yang sungguh beruntung. Inilah jawaban dari masalah ketamakan atau keserakahan. Jika seseorang memiliki roh yang puas, ada suatu kekuatan dari dalam yang lebih besar daripada segala materi yang ada di luar tubuh.



Akhir Pelajaran (SHA-P05)

DOA

"Bapa berikan aku kemampuan untuk dapat selalu mengatakan yang benar kepada siapa pun, kapan pun, dan di mana pun aku berada. Serta ajarku untuk memiliki sikap hidup yang selalu merasa cukup dengan apa yang ada padaku, sehingga aku tidak mengingini atau bahkan mengambil milik orang lain. Amin."

[Catatan: Tugas pertanyaan ada di lembar terpisah.]

Taxonomy upgrade extras: