SHA-Referensi 01a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA)
Nama Pelajaran : Sepuluh Perintah yang Diberikan
Kode Pelajaran : SHA-R01a

Referensi SHA-01a diambil dari:

Judul Buku : Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 2 M-Z
Judul Artikel : Taurat
Penyunting : J.D Douglas, Penyunting Umum Christianity Today
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1995
Halaman : 451 - 452: 453 - 454

TAURAT

  1. Asal usul Kata Tora (Taurat)

    Alkitab bahasa Indonesia menerjemahkan tora (bahasa Ibrani) dan nomos (bahasa Yunani), yang masing-masing muncul kr 200 kali, dengan 'hukum Taurat', 'hukum' saja, atau 'Taurat' saja.

    Ada perbedaan pendapat yang luas tentang asal usul kata tora, tapi dapat dipastikan ada kaitannya dengan kata kerja hora yang berarti memimpin, mengajar, mendidik dan dibanyak tempat dapat diterjemahkan dengan 'pengajaran', misal dalam Yes. 1:10 dan Hag 2:11-13.

  2. Asal usul Tora

    Ajaran seperti itu diberikan oleh para bapak, atau orang bijaksana yang menyapa murid-muridnya dengan sebutan 'anak' (Ams 3:1; 6:23; 7:2; 13:14), atau oleh para ibu (Ams 1:8; 6:20; 31:26). Kata-kata yang sejajar adalah mutsar, 'petunjuk'; khokhma, 'kebijaksanaan'; dan khususnya mitswa, 'perintah'. Tapi kebanyakan pengajaran itu berasal bukan dari manusia, melainkan dari Allah. Tora tidak pernah digunakan bila menggambarkan komunikasi langsung antara Allah dan manusia. Sebab itu dalam cerita Kejadian tidak banyak dijumpai (kecuali Kej 26:5 saja). Tora diberikan oleh Allah, tapi melalui perantara-perantara manusia seperti Musa, para imam, para nabi atau hamba Tuhan (Yes 42:4).

    Sejak permulaan istilah tora digunakan untuk menggambarkan ajaran mengenai suatu hal, keputusan-keputusan yang diambil untuk memecahkan soal yang musykil. Contoh yang baik ditemukan dalam Hag 2:11-13, dimana ditanyakan keputusan para imam mengenai soal ketahiran. Keputusan para imam, petunjuk mereka bagi tingkah laku umat disebut tora, 'ajaran'.

    Tugas untuk memberi petunjuk-petunjuk macam itu dipercayakan kepada para imam oleh Allah (Mal 2:6-7), dan oleh sebab itu keputusan- keputusan mereka mempunyai kekuatan ilahi. Keputusan-keputusan yang penting berlaku lebih lama daripada peristiwa yang menjadi sebab lahirnya keputusan itu. Keputusan-keputusan itu dipelihara oleh umat yang hidupnya dikuasai oleh keputusan tersebut. Tradisi lisan pada akhirnya mengumpulkan keputusan-keputusan tersebut menjadi kesimpulan ajaran yang diperkenalkan oleh para imam, yang bukan hanya menjadi perantara dari keputusan-keputusan ilahi itu, tapi mereka juga menjadi penerus keputusan-keputusan tersebut kepada angkatan berikutnya.

    Pada waktunya kumpulan-kumpulan torot itu dituliskan. Himpunan petunjuk untuk upacara-upacara keagamaan atau hal-hal lain, juga disebut sebuah tora, sering dalam bentuk tunggal, walaupun bentuk jamak juga dijumpai. Tora yang tertulis seperti itu dijaga oleh para imam di tempat kudus (Ul 31:24-26). Pada akhir perkembangan ini segenap Pentateukh (lima Kitab Musa) atau bahkan seluruh PL dikutip sebagai 'tora itu'. Jadi ajaran ilahi adalah bagian dari tugas imam-imam, tapi sementara memberikan ajaran ilahi para imam juga menunaikan tugas nabi, karena kekuasaan dari tora mereka bersandar pada wahyu. Jadi para nabi sering juga memberikan tora (Yes 1:10; 8:16, 20; 30:9-10). Ini tidak berarti bahwa sebelum nabi-nabi abad 8 sM bersuara, tidak ada tora; Hos. 8:12 secara jelas menyebut himpunan torot yang tertulis.

    Pada umumnya kita dapat mengatakan bahwa teguran-teguran para nabi bagi pendengarnya yang mula-mula, tiada nilainya bila sebelumnya tidak ada tora yang diketahui dengan baik maupun diterima umum kekuatannya. Sama seperti nabi-nabi menyampaikan pemberitaan mereka dalam bentuk puitis berirama, ajaran ilahi nampaknya sering mempunyai kerangka puitis yang tetap, yang pasti dianjurkan untuk lebih mudah diingat orang. Dalam Kel 21:12 dab sebagai contoh, ada sederetan ayat yang masing-masing terdiri atas 3-2 tekanan metris, dan semuanya berakhir dengan 'pastilah ia dihukum mati'. Dengan cara yang sama kita baca dalam Ul 27:15 dan ayat berikutnya dua belas baris, masing-masing dengan empat tekanan, dan semua dimulai dengan 'Terkutuklah orang yang ...' Dasa Titah dan pasangan- pasangannya di bagian kitab lainnya (Kel 20:l-17; Ul 5:6-21; Kel 34:1-26) menunjukkan bentuk yang lebih berkembang, di mana pertimbangan-pertimbangan metris tidak lagi memainkan peranan penting.

  3. Tora dalam Kehidupan Israel

    Pengaruh tora dalam hidup bangsa Israel banyak sekali, kendati penulis-penulis pada waktu itu mengeluh bahwa tora diabaikan. Telah disinggung bahwa nubuat di Israel mengandaikan adanya tora dalam bentuk lisan atau tertulis (bnd. Mi 6:8; Hos 4:2; Yer 7:9). Kitab- kitab seperti Hakim-hakim, Samuel dan Raja-raja menyajikan sejarah Israel dari sudut pandang tora, sambil menunjukkan bahwa waktu- waktu ketaatan kepada Allah adalah waktu-waktu kelimpahan kebendaan maupun kerohanian, sementara bila tora diabaikan maka tibalah bencana menimpa Israel. Mazmur 1, 19 dan 119 memuliakan tora sebagai anugerah Allah yang terbesar. Bahkan dalam Amsal, seperti telah kita lihat tora sering diberi arti pengajaran manusia, hukum ilahi dipuji sebagai permulaan segala hikmat dan kebahagiaan (lih. Amsal 28:4,7, 9; 28:18). Penetapan Pentateukh pada akhirnya sebagai buku pegangan dasar dari semua tora, bertepatan dengan hilangnya semangat kenabian, menyebabkan bangkitnya kelompok pimpinan kerohanian baru. yaitu 'ahli-ahli Taurat', dan Ezra merupakan teladan pertama (Ezr 7:6; Neh 8:1-8). Bersamaan dengan pekerjaan mereka, pusat-pusat kerohanian Israel bergeser dari Bait Allah ke tempat-tempat ibadah. Bagi bangsa yang terserak-serak di kemudian hari, tora terbukti lebih penting dari ibadah korban di Yerusalem. Tora diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa di wilayah-wilayah dan negara-negara di mana orang Yahudi tinggal. Penerjemahan istilah tora ke dalam Yunani nomos sering dikritik, dan kritik ini sering cukup kuat alasannya, sebabnya ialah karena tora itu mempunyai makna yang lebih luas dan lebih dalam. Khususnya tora mencakupi (nomos tidak) Allah yang hidup dan maha kasih sebagai Pemberi pengajaran ini. Tapi orang tidak boleh lupa, bahwa Septuaginta dalam hubungan ini didahului bagian-bagian dari Kitab Ezra yang berbahasa Aram, dimana tora diterjemahkan dengan kata Aram (aslinya bahasa Persia) dan seterusnya; dalam Ezr. 7:26 dan seterusnya digunakan baik dengan arti hukum negara Persia dan juga dengan arti tora ilahi. Namun, benarlah bahwa dengan cara demikian langkah- langkah permulaan telah diambil, yang pada akhirnya bertumbuh ke arah konsepsi tora yang legalistik saja, seperti yang kemudian dijumpai di lingkungan kelompok-kelompok Yahudi pada zaman PB. Dalam konsepsi ini Tuhan yang hidup dan penuh kasih telah menghilang di belakang pasal-pasal hukum ataupun tafsiran-tafsiran mengenai hukum itu. Mengenai nomos (Hukum, Taurat) dalam PB.

Taxonomy upgrade extras: