Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Pertama dan Kedua |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R02a |
Referensi SHA-02a diambil dari:
| Judul Buku | : | Agama Israel Kuno |
| Judul Artikel | : | Mono-Yahwisme |
| Pengarang | : | Dr. I.J. Cairns |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2001) |
| Halaman | : | 75 - 76 |
REFERENSI PELAJARAN 02a - "MON0-YAHWISME"
-
Umat dan Tanah Sebagai "Warisan Yahweh"
Semuanya ini memperlihatkan bahwa Yahweh adalah Allah orang Israel, sehingga Israel harus selalu berurusan dengan Dia. Dialah dasar segala pengharapan Israel. Oleh karena itu, Israel sebagai bangsa, disebut warisan atau bahkan milik Yahweh (1 Sam 26:15; 2 Sam 14:16; 20:19; 21:3). Istilah "warisari" ini, di bagian lain dalam Perjanjian Lama, dikenakan pada tanah (negeri) Israel. Jadi, istilah tersebut mengandung implikasi bahwa baik sebagai negeri maupun sebagai bangsa, Israel adalah milik Yahweh pribadi. Di sini berlangsung suatu hubungan yang sah dan tak dapat dipecahkan antara Israel dengan Yahweh, Allah Israel, sehingga konsep hubungan itu menguasai seluruh hidup keagamaan Israel, baik sebagai bangsa maupun sebagai individu.
Sifat kemutlakan hubungan itu meniadakan segala ilah asing dan segala wadah keagamaan kecuali yang diberikan Yahweh sendiri. Tentunya hal itu belum berarti bahwa Yahweh sudah diakui sebagai Allah yang satu-satunya dalam arti mutlak dan universal.
-
Pengakuan Terhadap Adanya Ilah-ilah
Sudah cukup jelas dalam karangan ini bahwa adanya ilah-ilah di luar Israel masih diakui. Misalnya, waktu Daud lari dari Saul (1 Sam 26:19), Daud mengeluh bahwa dia sedang diusir dari masyarakat warisan Yahweh serta disuruh pergi beribadah kepada allah lain. Ucapan ini membuktikan adanya anggapan pada waktu itu bahwa Yahweh terikat pada wilayah-Nya sendiri sehingga ada asumsi bahwa di luar batas-batas tanah Israel ada ilah-ilah selain Yahweh yang berwibawa itu. Konsep tentang adanya hubungan antara ilah dengan negeri atau tanah masih terbukti juga dari periode kemudian (2 Raj 5:17). Naaman, orang Siria itu, membawa sedikit tanah dari Israel ketika kembali ke Siria karena anggapannya bahwa hanya di atas tanah itulah orang dapat beribadah kepada Yahweh.
-
Monoteisme yang Praktis
Jadi, cukup jelas bahwa pada masa kerajaan Daud-Salomo belum ada monoteisme dalam arti universal. Agama Israel pada waktu itu dapat disebut suatu mono-Yahwisme. Jadi, Yahweh dijunjung tinggi sebagai Sang Utama dan diakui sebagai Yang Berdaulat bukan hanya di Sinai, melainkan juga di Mesir dan di Kanaan, bahkan menguasai bintang- bintang dan planet-planet (bnd. Hak 5 dan Mzm 68). Akan tetapi, eksistensi ilah-ilah di luar Israel juga diakui. Mungkin dibandingkan dengan Yahweh, ilah-ilah tersebut dianggap kurang berdaya (bnd. cerita tentang Yahweh dan Dagon dalam 1 Sam 4 dyb.). Namun, eksistensi mereka tidak disangkal dan kadang-kadang kuasanya dapat dirasakan juga (bnd. 2 Raj 3:27).
Bahwa pada waktu itu pemikiran tentang ilah-ilah belum sepenuhnya konsisten, merupakan bukti bahwa kepercayaan Israel terhadap Yahweh belum dipikirkan secara teoritis atau teologis. Agaknya masih dialami suatu ketegangan apabila kita memikirkan hubungan antara Allah dan ilah-ilah itu. Adanya ketegangan itu tidak mengurangi rasa khusyuk Israel di hadapan Allah atau mempengaruhi hubungan antara Allah dan Israel, tetapi merupakan suatu kekurangan dalam hal konseptualisasi. Memang, sejak dulu Yahweh digambarkan sebagai Allah segala ilah yang tak bertara dan yang tak ada bandingannya di antara oknum-oknum sorgawi, namun barulah kemudian manusia mengakui Dia sebagai Oknum satu-satunya yang berhak disebut ilahi.
Ketidakkonsistenan antara praktik agama dan teologi ini mengandung suatu kelemahan yang dapat menghasilkan sinkretisme dan memang kadang-kadang justru sinkretisme itulah yang muncul. Kekurangan dalam bidang teologi itulah yang merupakan faktor penting mengapa Israel sering tertarik pada praktik keagamaan yang berlaku di kalangan orang Kanaan di sekitar mereka. Namun, justru ketegangan- ketegangan dan pergumulan-pergumulan yang timbul karena daya tarik agama Kanaan itu membuka jalan sehingga akhirnya Israel menyadari juga bahwa kemutlakan Yahweh berlaku secara universal. Namun, proses mencapai kesadaran yang demikian itu memerlukan waktu ratusan tahun.
sabda.org