SHA-Referensi 03b

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 04c

Nama Kursus : SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA)
Nama Pelajaran : Hukum Ketiga dan Keempat
Kode Pelajaran : SHA-R03b

Referensi SHA-03b diambil dari:

335 - 336

Judul Buku : Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 2 M-Z
Judul Artikel : Sabat
Penyunting : J.D Douglas, Penyunting Umum Christianity Today
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1995
Halaman :

REFERENSI PELAJARAN 03b - SABAT

(Ibrani syabbat, dari akar kata syavat, 'berhenti', 'melepaskan'). Alkitab menetapkan bahwa satu dari 7 hari harus diindahkan sebagai hari suci bagi Allah. Dari alasan yang dikemukakan untuk mengindahkan sabat dalam Kesepuluh Hukum, kita ketahui bahwa istirahat sabat itu ditetapkan sendiri oleh Allah saat penciptaan. Karena itu sabat adalah tata tertib penciptaan (Kel 20:8-11).

Dalam peristiwa penciptaan kata sabat tidak muncul. Tapi akar kata dari mana perkataan itu dijabarkan, ada (Kej 2:2). Karya penciptaan berlangsung 6 hari; pada hari ketujuh Allah istirahat (harfiah 'berhenti') dari pekerjaan-Nya. Dengan demikian timbul perbedaan antara 6 hari kerja dan 1 hari istirahat. Ini benar, walaupun 6 hari kerja itu dimengerti sebagai jangka waktu yang lebih panjang dari 24 jam. Bahasanya adalah bahasa manusiawi, karena Allah bukanlah Pekerja yang lelah, yang memerlukan istirahat. Namun pola itu ditetapkan di sini untuk diikuti oleh manusia.

Kel 20:11 menyatakan bahwa Allah 'beristirahat' (Ibrani wayyanakh) pada hari ketujuh, dan Kel 31:17 mengemukakan bahwa Ia berhenti dari pekerjaan-Nya dan 'disegarkan' (wayyinnafasy). Bahasanya sengaja bernada keras, agar manusia mengerti kepentingan memandang sabat sebagai hari di mana ia sendiri harus beristirahat dari pekerjaannya sehari-hari.

Bertentangan dengan uraian di atas, pendapat lain mengatakan bahwa sabat berasal dari Babel. Benar, kata Babel sabbatum berhubungan dengan kata Ibrani yang serupa, namun arti kedua kata itu sangat berbeda. Pertama, bagi orang Babel satu minggu adalah 5 hari. Penelitian atas tulisan-tulisan pada lempeng-lempeng batu mengungkapkan, bahwa hari-hari yang dinyatakan sebagai sabbatum bukanlah hari-hari berhenti kerja. Data-data perjanjian dari Mari (Tell el-Hariri) menunjukkan bahwa pekerjaan dilaksanakan kadang- kadang dalam jangka waktu beberapa hari lamanya, tanpa berhenti pada setiap hari ketujuh. Alkitab jelas mengaitkan asal mula sabat dengan contoh yang dilakukan Allah sendiri.

Hukum ke-4 memerintahkan untuk mengindahkan sabat. Kejadian tidak pernah menyebut sabat terpisah dari penciptaan. Namun ada singgungan tentang jangka waktu 7 hari (lih. Kej 7:4, 10; 8:10, 12; 29:27 dab). Dapat dicatat kisah Ayub yang menceritakan 7 putranya mengadakan pesta masing-masing pada harinya sendiri-sendiri. Ini diiringi doa-doa dan korban-korban oleh Ayub demi anak-anak itu (Ayb 1:4, 5). Kegiatan ini bukan hanya satu kali dan tidak pernah terulang lagi, melainkan kegiatan yang dilakukan secara teratur. Hal ini mungkin merupakan petunjuk ibadah pada hari pertama dalam putaran suatu kurun hari. Setidak-tidaknya prinsip bahwa 1 hari dari 7 hari dikuduskan bagi Tuhan, nampaknya sudah diakui di sini.

Dalam Kel 16:21-30 disebut secara langsung tentang sabat yang dikaitkan dengan pemberian 'manna'. Sabat di sini dinyatakan sebagai anugerah Tuhan (ay 29), yang diperuntukkan bagi istirahat dan kepentingan umat (ay 30). Orang tidak usah bekerja pada hari sabat (yaitu untuk mengumpulkan manna) karena jatah ganda sudah disediakan pada hari ke-6.

Dengan demikian sabat dikenal oleh Israel, dan perintah untuk mengindahkannya wajib dimengerti. Dalam Kesepuluh Hukum dijelaskan bahwa sabat adalah milik Tuhan. Sebab itu pertama-tama sabat adalah hari-Nya, dan alasan dasar untuk mengindahkan sabat ialah bahwa hari itu adalah kepunyaan-Nya. Sabat adalah hari yang telah diberkati-Nya dan dikhususkan-Nya untuk peringatan. Ini tidak bertentangan dengan Kesepuluh Hukum yang dinyatakan dalam Ul 5:12 dab. Dalam bagian Alkitab ini umat diperintahkan untuk mengindahkan sabat dengan cara sebagaimana telah diperintahkan Tuhan (acuannya adalah Kel 20:8-11), dan bahwa sabat milik Tuhan dinyatakan lagi (ay 14). Namun suatu alasan tambahan bersifat imbuhan diberikan dalam pelaksanaan perintah itu. Israel diperintahkan mengindahkan sabat juga agar "hambamu laki- laki dan hambamu perempuan dapat beristirahat sama seperti engkau". Di sini kemanusiaan ditekankan; tapi di sini juga ditekankan bahwa sabat diadakan untuk manusia. Israel pernah menjadi budak di Mesir dan sudah dibebaskan; Israel harus menerapkan belas kasihan sabat terhadap orang-orang yang berada di bawah kekuasaan mereka, karena orang-orang itu adalah budak.

Dalam Kitab-kitab Pentateukh lainnya peraturan mengenai sabat dicatat. Menarik sekali bahwa acuan mengenai sabat ada dalam setiap kitab dari ke-4 kitab terakhir Pentateukh. Kejadian menyajikan tentang istirahat ilahi; ke-4 kitab lainnya menekankan tentang penetapan hari sabat. Hal ini menunjukkan pentingnya lembaga sabat itu. Peraturan mengenai sabat dapat dikatakan integral dan esensial bagi dasar hukum PL, yaitu Pentateukh (lih. Kel 31:13-16; 34:21; 35:2 dab; Im 19:3, 30; 23:3, 38).

Terkait dengan ini muncullah pentingnya peraturan sabat berupa hukuman berat yang dikenakan terhadap orang yang mengingkari sabat. Ada seorang laki-laki mengumpulkan ranting-ranting kayu pada hari sabat. Untuk perbuatan ini pernyataan khusus dari Tuhan diundangkan, bahwa laki-laki itu harus dibunuh. (Lih. J. Weingreen, From Bible to Mishna, 1976, hlm. 83 dst.) Dia menyangkal prinsip dasar sabat, yakni bahwa hari itu adalah milik Tuhan dan karenanya harus diindahkan sesuai perintah Tuhan (Bil 15:32-36).

Rumusan-rumusan para nabi didasarkan pada Pentateukh. 'Sabat' sering dihubungkan dengan 'bulan baru' (2 Raj 4:23; Am 8:5; Hos 2:11; Yes 1: 13; Yeh 46:3). Apabila nabi-nabi seperti Hosea (2:11) menyebut hukuman ilahi terhadap bulan baru, sabat dan pesta lain, para nabi bukannya mengutuk begitu saja; mereka mengutuk penyalahgunaan sabat dan peraturan-peraturan Pentateukh lainnya.

Namun para nabi memang menunjuk kepada berkat-berkat yang menyertai perlakuan yang benar terhadap sabat. Ada orang yang mengotori sabat dan berbuat jahat pada hari itu (Yes 56:2-4), dan adalah keharusan menjauhi hal-hal demikian. Menurut suatu bagian yang dianggap klasik (Yes 58:13), Yesaya mengemukakan berkat-berkat yang menyertai perlakuan yang benar terhadap sabat. Hari itu bukanlah hari pada saat mana orang boleh berbuat apa saja menurut kemauannya, melainkan hari di mana ia harus melakukan kehendak Tuhan. Bukannya manusia, melainkan Tuhan-lah yang boleh menentukan bagaimana hari sabat harus diperlakukan. Mengakui bahwa hari itu suci bagi Tuhan akan membawa pengalaman yang sungguh-sungguh akan janji-janji-Nya.

Selama zaman Persia, mengindahkan sabat diberi penekanan lagi. Larangan kegiatan dagang pada hari Sabat (Am 8:5) dan mengangkut barang-barang pada hari Sabat (Yer 17:21 dab) yang telah diketahui sebelum Pembuangan, ditetapkan lagi oleh Nehemia (10:31; 13:15-22). Tapi selama masa antar Perjanjian, suatu perubahan terjadi perlahan- lahan terhadap pengertian mengenai maksud sabat. Di sinagoge-sinagoge hukum Taurat dipelajari pada hari sabat. Lama-kelamaan tradisi lisan berkembang di lingkungan masyarakat Yahudi, dan perhatian lebih dipusatkan kepada hal-hal kecil dalam memperingati hari itu.

Dua traktat dari Misyna, Shabbath dan Erubim, menyajikan ajaran tentang bagaimana sabat harus diperingati secara rinci. Rincian tata cara dan tradisi manusia yang menjadi beban atas perintah-perintah Allah -- itulah yang dikecam Tuhan Yesus. Kecaman-kecaman-Nya bukan ditujukan kepada lembaga sabat itu sendiri maupun ajaran PL. Tapi Ia menentang golongan Farisi yang telah menjadikan Firman Tuhan tidak berpengaruh akibat tradisi lisan yang membebani Firman itu. Kristus menyebut diri-Nya adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:28). Dengan penyataan itu Ia bukannya meremehkan makna dan pentingnya sabat, dan sama sekali tidak menentang peraturan PL. Ia semata-mata menunjukkan arti sabat yang sesungguhnya bagi manusia, dan menyatakan hak-Nya untuk berbicara karena Ia sendiri adalah Tuhan dari sabat.

Sebagai Tuhan dari sabat, Yesus Kristus pergi ke sinagoge pada hari Sabat, sesuai kebiasaan-Nya (Luk 4:16). Cara-Nya memperingati sabat sesuai peraturan PL guna mengindahkan hari itu suci bagi Tuhan.

Dalam ketidaksetujuan-Nya dengan orang Farisi (Mat 12:1-14; Mrk 2:23- 28; Luk 6:1-11) Tuhan Yesus menunjukkan kepada masyarakat Yahudi kesalahpahaman mereka mengenai perintah-perintah PL. Mereka telah membuat pengudusan sabat lebih keras daripada yang diperintahkan Allah sendiri. Tidak salah makan pada hari Sabat, sekalipun makanan itu harus didapat dengan memetik gandum di ladang. Juga tidak salah berbuat baik pada hari Sabat. Menyembuhkan adalah perbuatan belas kasihan, dan Tuhan dari hari Sabat itu penuh belas kasihan (lih. juga Yoh 5:1-18; Luk 13:10-17; 14:1-6).

Pada hari pertama Tuhan bangkit dari kematian, justru orang Kristen berkumpul pada hari itu untuk beribadah kepada Kristus yang bangkit (Why 1:10). Hari ini adalah hari Tuhan, dan dengan demikian adalah sabat yang telah ditetapkan pada penciptaan.