Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b | Referensi 04c
| Nama Kursus | : | SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA) | |
| Nama Pelajaran | : | Hukum Kelima, Keenam dan Ketujuh | |
| Kode Pelajaran | : | SHA-R04a |
Referensi SHA-04a diambil dari:
| Judul Buku | : | Pemahaman Alkitab Setiap Hari; Surat Filipi, Kolose, 1 dan 2 Tesalonika |
| Judul Artikel | : | Kewajiban Bersama |
| Pengarang | : | William Barclay |
| Penerbit | : | BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2002 |
| Halaman | : | 247 - 248 |
REFERENSI PELAJARAN 04a - KEWAJIBAN BERSAMA
Etika Kristen menyebutkan tugas anak adalah menghormati orang-tuanya. Namun, selalu ada persoalan di dalam hubungan antara orang tua dan anak. Bila orang tua terlalu longgar dalam disiplin (easy-going), si anak akan bertumbuh menjadi tidak disiplin dan tidak cocok untuk menghadapi kehidupan. Namun, yang sebaliknya juga bukannya tanpa bahaya. Semakin ketat orang tua, semakin mungkin ia selalu mengoreksi dan memarahi anaknya. Karena ia ingin anaknya melakukan yang baik, maka ia selalu berada di atas anaknya.
Kita ingat, contohnya, pertanyaan tragis dari Mary Lamb, "Mengapa saya tampaknya tidak mampu melakukan apa pun yang menyenangkan ibuku?" Kita ingat pernyataan yang pedas dari John Newton, "Saya tahu bahwa ayahku mengasihiku - tetapi tampaknya ia tak ingin saya melihat hal itu." Kritik terus-menerus adalah akibat dari kasih yang keliru.
Bahaya dari semua ini yaitu bahwa si anak dapat patah semangat. Bengel berkata tentang "bahaya untuk kawula muda adalah semangat yang patah" (Fractus animus pestis iuventutis). Merupakan salah satu fakta yang tragis bahwa Luther pada masa hidupnya pernah mendapati dirinya sukar berdoa "Bapa Kami". Kata bapa dalam benaknya tidak berarti apa-apa kecuali ketegasan yang kaku. Tugas orang tua adalah menegakkan disiplin, tetapi juga memberi dorongan semangat. Luther sendiri berkata, "Simpanlah rotan, dan engkau akan merusak si anak. Ini sungguh benar. Namun, di samping rotan berilah apel kepadanya ketika ia melakukan yang baik."
Sir Arnold Lunn, dalam bukunya Memory to Memory, mengutip suatu peristiwa tentang Marsekal Montgomery dari sebuah buku karya M.E. Clifton James. Montgomery terkenal sebagai seorang yang amat berdisiplin - tetapi ada segi lain dalam dirinya. Clifton James adalah "duplikat"-nya yang resmi dan sedang mengamatinya selama latihan untuk hari H. "Dalam jarak beberapa meter dari tempat saya berdiri, seorang serdadu yang sangat muda, tampaknya masih mabuk laut setelah menempuh perjalanannya, berusaha keras untuk menyusul rekan-rekannya yang ada di depan. Saya dapat membayangkan bahwa, sambil ikut menghayati perasaannya, senapan dan perlengkapannya pastilah beratnya sama seperti satu ton. Sepatu botnya yang berat menariknya ke dalam pasir, tetapi saya dapat melihat bahwa ia sedang berjuang keras untuk menutupi keletihannya. Persis ketika ia berhasil menyusul kami, ia tersandung dan jatuh tersungkur. Setengah menangis, ia bangkit dan mulai berjalan ke arah yang salah. Monty cepat menghampirinya dan dengan senyum yang bersahabat ia membalikkan tubuhnya. 'Ke arah ini, Nak. Engkau berbuat yang baik - sangat baik. Namun, jangan kehilangan kontak dengan teman-teman di depanmu.' Ketika anak muda itu sadar siapa orang yang telah memberinya bantuan dengan cara bersahabat, terlihat jelas wajahnya memancarkan kekaguman yang lugu." Itu disebabkan karena Montgomery memadukan antara disiplin dan pemberian semangat sehingga seorang tentara kroco di Armada ke-Delapan merasa setara dengan seorang kolonel di armada mana pun.
Semakin baik orang tua, ia harus semakin menghindari bahaya yang dapat mematahkan semangat anak-anaknya dan untuk itu ia harus menerapkan disiplin dan memberi dorongan semangat secara seimbang.
sabda.org