SHA-Referensi 04b

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04a | Referensi 05c

Nama Kursus : SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA)
Nama Pelajaran : Hukum Kelima, Keenam dan Ketujuh
Kode Pelajaran : SHA-R04b

Referensi SHA-04b diambil dari:

Judul Buku : Pemahaman Alkitab Setiap Hari; Matius Ps. 1-10
Judul Artikel : Kemarahan yang Dilarang
Pengarang : William Barclay
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995
Halaman : 232 - 239

REFERENSI PELAJARAN 04b - KEMARAHAN YANG DILARANG

Matius 5:21-22

Di sini kita temukan satu contoh norma baru yang diberlakukan oleh Yesus. Hukum yang lama mengatakan: "Jangan engkau membunuh" (Kel 20:13). Tetapi Yesus mengatakan, bahwa marah kepada saudara kandung pun dilarang. Jadi tidaklah cukup kalau seseorang tidak memukul orang lain. Yang dianggap cukup bagi orang tersebut ialah kalau ia sama sekali tidak mempunyai perasaan kasar atau jahat kepada sesamanya. Di dalam perikop ini Yesus berargumentasi seperti yang dilakukan oleh para rabi. Yesus menunjukkan, bahwa Ia pun cakap untuk memakai cara perdebatan seperti yang dipakai oleh para bijak waktu itu. Di dalam perikop ini ada pentahapan kemarahan dan pentahapan hukuman yang bisa diterima sesuai dengan tahap-tahap kemarahan tersebut.

  1. Di dalam perikop ini dikatakan adanya orang yang marah terhadap saudaranya. Kata bahasa Yunani yang dipakai di sini ialah orgizesthai. Di dalam bahasa Yunani ada dua kata untuk marah. Kata itu adalah thumos, yang melukiskan kemarahan seperti nyala api yang keluar dari bahan yang mudah terbakar. Kemarahan seperti itu akan cepat membesar, tetapi juga cepat padam. Kemarahan seperti itu cepat muncul, tetapi juga cepat hilang.

    Kata yang kedua adalah orge yang melukiskan kemarahan sebagai sesuatu yang berurat dan berakar dan sulit dihilangkan. Orge adalah kemarahan yang berjangka panjang. Kemarahan itu yang tetap hangat di dalam diri seseorang; dan akan demikian terus dalam jangka waktu yang panjang, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa padam. Kemarahan seperti itu patut mendapatkan hukuman. Kemarahan seperti itu sudah cukup menjadi alasan bagi orang yang bersangkutan untuk diperhadapkan kepada pengadilan setempat. Pengadilan setempat adalah suatu dewan yang mempunyai wewenang untuk menyatakan keadilan. Pengadilan setempat itu terdiri dari para tua-tua desa yang jumlahnya berbeda-beda, sesuai dengan penduduk desa tersebut. Jadi di sini Yesus mengutuk kemarahan seperti itu. Alkitab pun secara jelas melarang kemarahan. "Amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah" (Yak 1:20). Paulus juga meminta agar para pengikutnya membuang semua "marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor (Kol 3 :8). Para pemikir bukan Kristen pun menganggap kemarahan itu sebagai ketololan. Cicero mengatakan, bahwa kalau kemarahan itu masuk ke dalam percaturan, maka "tak ada suatu pun yang dapat dikerjakan secara benar dan bermakna". Seneca secara jelas mengatakan, bahwa kemarahan adalah "suatu sakit jiwa ringan".

    Jadi Yesus sama sekali melarang kemarahan yang mendendam, kemarahan yang tak bila dilupakan, tak bisa didamaikan, dan kemarahan yang berusaha membalas dendam. Kalau kita mentaati Yesus, maka semua kemarahan harus hilang dari hidup kita, khususnya kemarahan yang selalu hendak muncul setiap waktu. Kita semua diperingatkan, bahwa tidak ada seorang Kristen pun yang boleh kehilangan kesabaran karena adanya kesalahan pribadi yang harus ditanggungnya. Orang Kristen tidak boleh kehilangan kesabaran, meskipun ia menanggung beban kesalahan pribadi.

  2. Selanjutnya Yesus berbicara tentang dua peristiwa di mana kemarahan berubah menjadi kata-kata fitnah dan penghinaan. Para pemimpin Yahudi pun melarang kemarahan dan kata-kata seperti itu. Para guru Yahudi itu mengajarkan agar setiap orang Yahudi tidak melakukan "kata-kata keras" dan "dosa penghinaan". Mereka mengatakan: "Ada tiga kelompok orang yang akan jatuh ke dalam neraka dan tak akan pernah kembali, yaitu para pelacur, orang-orang yang secara terang-terangan mempermalukan sesamanya, dan mereka yang menghina tetangganya". Baik kemarahan yang terpendam dalam hati maupun kemarahan yang terucapkan, sama-sama dilarang.

  3. KATA-KATA PENGHINAAN

    Matius 5:21,22 (lanjutan)

    Pertama-tama setiap orang yang menyebut saudaranya dengan sebutan Rhaka (bahasa Yunani) haruslah dikutuk. Kata bahasa Yunani rhaka agak sulit untuk diterjemahkan, karena kata itu lebih bermakna dalam nada suaranya ketimbang dalam artinya. Nada suara yang keluar dari kata itu mengandung makna kesombongan. Orang yang disebut rhaka berarti orang yang dianggap tolol, tak berotak, dan berkepala kosong. Kata rhaka itu hanya dipakai oleh orang-orang yang sombong dan berhati tinggi, yang selalu menghina serta merendahkan sesamanya. Kata rhaka itu dipakai di dalam ayat 22 dari perikop Matius yang sedang kita pelajari ini.

    Dahulu ada sebuah cerita tentang seorang Rabi Yahudi yang bernama Simon bin Eliezer. Cerita itu menuturkan, bahwa rabi Simon sedang berjalan pulang dari rumah gurunya, dan sangat merasa bangga akan buah pikirannya yang baik, keterpelajarannya serta kebaikan dirinya sendiri. Tiba-tiba ia berpapasan dengan seorang biasa yang kurang tahu sopan santun. Orang tersebut memberi salam kepada rabi Simon. Tetapi rabi Simon dengan sombong menjawab: "Eh, kamu rhaka! Kamu jelek! Apakah semua orang di desamu jelek seperti kamu?" Orang tersebut menjawab: "Mengenai hal itu, saya kurang tahu. Tapi silakanlah Anda memberitahu Sang Pencipta yang telah menciptakan aku, bahwa aku jelek dan ciptaan-Nya pun jelek!" Jawaban orang tersebut telah menempelak dosa kesombongan rabi Simon itu.

    Dosa kesombongan dapat memperoleh hukuman yang lebih berat. Dosa kesombongan itu dapat dihukum oleh Sanhedrin, yaitu pengadilan tinggi Yahudi. Memang hal itu tidak harus kita fahami secara harafiah. Yang hendak dikatakan oleh Yesus sebenarnya adalah, bahwa "Dosa yang terkandung dalam kemarahan yang berkepanjangan itu buruk; dan dosa yang terkandung dalam kesombongan itu lebih buruk lagi".

    Tidak ada dosa lain seperti dosa kesombongan. Ada kesombongan yang berasal dari kebanggaan asal-usul diri pribadi; sedangkan gengsi adalah suatu hal yang menjijikkan dan tercela. Ada juga kesombongan yang muncul karena kedudukan dan uang; demikian juga kebanggaan karena kekayaan dan uang adalah hal yang menjijikkan dan hina. Ada juga kesombongan yang berasal dari ilmu pengetahuan; dan dari antara semua gengsi, maka gengsi intelektual adalah yang paling sulit dipahami, karena yang paling mengesankan setiap orang bijak adalah keacuh- acuhannya sendiri. Kita tidak boleh memandang orang lain dengan kesombongan dan gengsi kita; lebih-lebih orang lain yang baginya Kristus telah mati di kayu salib.

  4. Selanjutnya Yesus berbicara tentang orang yang menyebut sesamanya dengan sebutan moros. Kata bahasa Yunani moros juga berarti tolol. Tetapi orang yang moros adalah orang yang tolol secara moral. Ia adalah orang yang bertingkah laku secara tolol. Sang juru mazmur pernah berkata-kata tentang seorang tolol yang di dalam hatinya mengatakan, bahwa Allah itu tidak ada (Mzm 14:1). Orang yang demikian itu adalah orang yang bertingkah laku secara tolol, yang hidupnya tak bermoral, dan yang dengan angan-angannya mengatakan bahwa Allah tidak ada. Untuk menyebut seseorang itu moros bukan berarti untuk mengkritik kemampuan mental orang tersebut, melainkan untuk melontarkan umpatan- umpatan pada karakter moral orang tersebut. Dengan kata-kata lain, menyebut seseorang dengan moros berarti menghilangkan nama dan reputasi orang tersebut serta mencapnya sebagai pribadi yang tak kenal aturan serta tak bermoral.

    Jadi Yesus mengatakan, bahwa barangsiapa merusak nama dan reputasi saudaranya, ia patut mendapatkan hukuman yang terberat, yaitu hukuman api neraka.

    Kata bahasa Yunani yang diterjemahkan dengan 'neraka' adalah gehena. Kata ini mempunyai sejarah. Kata ini secara umum sering dipakai oleh orang-orang Yahudi (Mat 5:22, 29, 30; 10: 28; 18:9 ; 23:5, 33; Mrk 9:43, 45, 47; Luk 12:5; Yak 3:6). Arti sebenarnya adalah Lembah Hinnom. Lembah Hinnom adalah sebuah lembah di sebelah barat laut Yerusalem. Lembah itu terkenal sebagai tempat di mana raja Ahaz memperkenalkan penyembahan kepada dewa kafir Molokh. Dalam penyembahan itu dipersembahkan juga bayi-bayi dengan cara membakar mereka. Kitab 2 Tawarikh menceritakan, bahwa raja Ahaz "membakar juga korban di Lebak Ben-Hinnom dan membakar anak-araknya sebagai korban dalam api" (2 Taw 28:3). Kemudian raja Yosia, yaitu raja Israel yang mengadakan pembaharuan agama pada pertengahan abad ke-7 SM, menghapuskan penyembahan atau ibadah itu, dan memerintahkan agar lembah itu disebut sebagai tempat yang terkutuk untuk selama-lamanya. Penulis kitab 2 Raja-raja menceritakan, bahwa raja Yosia "menajiskan juga Tofet yang ada di lembah Ben-Hinnom, supaya jangan orang mempersembahkan anak- anaknya sebagai korban dalam api untuk dewa Molokh" (2 Raj 23:10). Sebagai akibat dari semuanya itu maka Lembah Hinnom menjadi tempat pembuangan bagi orang-orang yang tidak disukai di Yerusalem. Di situlah mereka itu dibuang dan dibinasakan. Tempat itu menjadi tempat yang sangat mengerikan, di mana orang-orang jahat yang terhukum dibuang dan dibakar. Di situ selalu ada api membara, asap tebal dan hitam yang membubung, dan banyak cacing yang kelaparan serta menunggu mangsa (Mrk 9:44-48). Jadi gehenna, yaitu Lembah Hinnom, di dalam pikiran setiap orang merupakan tempat orang-orang yang terkutuk dan menjijikkan, di mana semua hal yang jahat dan tak berguna, termasuk manusia, dibuang dan dibinasakan. Itulah sebabnya maka nama itu dipersamakan dengan nama tempat di mana terdapat kuasa Allah yang menghancurkan, yaitu neraka.

    Jadi Yesus menekankan, bahwa merusak reputasi dan nama baik seseorang merupakan hal yang paling jahat. Yesus sama sekali tidak suka kepada orang yang senang memfitnah, menuturkan cerita palsu serta mempergunjingkan orang lain. Perbuatan seperti itu akan merusak, bahkan mematikan reputasi dan nama baik orang lain tersebut. Dan perbuatan seperti itu patut mendapatkan hukuman yang terberat. Perbuatan seperti itu adalah dosa yang patut membawa pelakunya masuk ke neraka.

  5. Di atas telah kita katakan, bahwa adanya tingkat-tingkat hukuman itu tidak harus kita pahami secara hurufiah. Yang sebenarnya hendak dikatakan oleh Yesus adalah sebagai berikut: "Pada zaman dahulu semua orang mengutuk pembunuhan; dan pembunuhan memang merupakan perbuatan yang salah. Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa bukan hanya tindakan lahiriah seseorang saja yang mendapat hukuman, tetapi pikiran dan angan-angan yang ada di dalam hatinya pun tak luput dari pandangan dan hukuman Allah. Kemarahan yang mendarah daging adalah jelek; percakapan yang penuh kesombongan lebih jelek lagi; dan pembicaraan yang sembrono dan keliru tentang orang lain sehingga mematikan nama baik orang tersebut merupakan hal yang paling jelek". Orang yang selalu marah, berbicara sombong dan merusak nama baik orang lain, barangkali tidak pernah melakukan tindakan pembunuhan. Tetapi orang yang demikian itu sebenarnya adalah pembunuh di dalam hatinya.

    Salah satu hal aneh yang terdapat dalam Kotbah Di Bukit ialah adanya beberapa kesempatan di mana Yesus mengingatkan orang-orang Yahudi terhadap beberapa hal yang mereka telah tahu. Para guru Yahudi telah selalu menekankan pentingnya kewajiban utama, yaitu mengatakan kebenaran. "Dunia ini berdiri teguh di atas tiga hal, yaitu keadilan, kebenaran dan damai." "Empat macam orang yang pasti akan tersingkir dari hadirat Allah, yaitu pengejek, munafik, penipu dan pemfitnah." "Orang yang plintat-plintut sama jahatnya dengan penyembah berhala." Para pengikut mazab Shammai bersikap begitu taat dan keras kepada kebenaran, sehingga mereka melarang adanya sopan-santun dan basabasi sosial, seperti umpamanya, memuji-muji kecantikan wajah pengantin wanita padahal sebenarnya hanya biasa saja, atau mengatakan bahwa makanan ini lezat padahal sebenarnya biasa saja.

    Para guru Yahudi tersebut akan lebih lagi menekankan kebenaran tersebut apabila kebenaran itu dijamin dan dikukuhkan dengan sumpah. Perjanjian Baru berulang kali menyatakan hal ini. Alkitab pun menyatakan: "Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan." (Kel 20:7). Perintah ini tidak ada hubungannya dengan sumpah dalam arti pemakaian bahasa yang jelek. Perintah itu bermaksud untuk mengutuk setiap orang yang menyampaikan sumpah atau janji dalam nama Allah, bahwa sesuatu itu benar, tetapi sumpahnya itu sebenarnya palsu. "Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu" (Bil 30:2). "Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu" (UI 23:21).

    Tetapi pada zaman Yesus ada dua hal yang tidak memuaskan mengenai sumpah itu.

    Yang pertama adalah yang kita sebut sumpah percuma, yaitu suatu pernyataan sumpah yang sebenarnya tidak perlu dan tidak pada tempatnya. Pada waktu itu orang sudah merasa biasa untuk memulai ucapan-ucapannya dengan mengatakan: "Demi hidup" atau "Demi kepalaku" atau "Biarlah aku tak melihat kejayaan Israel lagi, jika ...." Para rabi Yahudi menandaskan, bahwa mereka yang mengucapkan sumpah serapah adalah berdosa dan salah. Mereka mengatakan: "Ya dari orang benar adalah ya, dan tidak mereka adalah tidak."

    Ada satu peringatan penting di sini. Banyak orang yang terlalu sering memakai kata-kata atau bahasa yang suci secara ngawur dan tanpa makna. Mereka menyebut nama-nama yang suci dengan bibir mereka dengan cara yang tidak hormat dan tanpa pikir. Nama-nama yang suci hendaklah tetap dipakai untuk hal-hal yang suci saja.

    Yang kedua adalah kebiasaan Yahudi yang lebih buruk dari yang pertama tadi, yang boleh kita sebut sumpah pengelakan, atau sumpah cuci tangan. Orang-orang Yahudi membagi sumpah ke dalam dua kelompok, yaitu sumpah yang mengikat dan sumpah yang tidak mengikat. Setiap sumpah yang memakai nama Allah adalah sumpah yang mengikat secara mutlak. Dan setiap sumpah yang diucapkan tanpa nama Allah masuk dalam kelompok sumpah yang tidak mengikat. Konsekwensinya ialah, bahwa setiap orang yang bersumpah dengan nama Allah dalam bentuk dan ucapan yang bagaimana pun, ia harus secara mutlak menepatinya. Tetapi kalau ia bersumpah demi langit, bumi, Yerusalem, atau kepalanya sendiri, ia boleh merasa bebas untuk melanggarnya. Akibat dari semuanya ini ialah bahwa sumpah-sumpah pengelakan atau sumpah-sumpah yang dilakukan tanpa nama Allah berhamburan, dan semua orang berusaha untuk cuci-tangan dari kewajiban dan tanggung-jawabnya.

    Di balik sumpah itu terdapat satu hal yang penting. Jika nama Allah dipakai, maka Allah menjadi pihak yang terlibat di dalam sumpah itu. Sedangkan kalau nama Allah tidak dipakai, maka Allah tidak mempunyai sangkut-paut dengan ikatan yang ada. Soal pokok yang hendak disampaikan oleh Yesus sangatlah jelas. Yesus hendak mengatakan, bahwa meskipun ada usaha manusia untuk tidak melibatkan Allah di dalam ikatan sumpah itu, sebenarnya tidak ada seorang pun yang dapat menyingkirkan Allah dari dalam ikatan itu. Allah selalu ada di sana. Langit adalah takhta-Nya; bumi adalah alas kaki-Nya. Yerusalem adalah kota Allah; kepala manusia bukanlah milik manusia itu sendiri; tak ada sesuatu pun di dunia ini yang bukan milik Allah. Dan karena itu, tidaklah jadi soal, apakah nama Allah disebut dengan kata atau tidak, sebab Allah sendiri telah berada di sana.

    Selanjutnya Yesus memberitahukan kebenaran kekal yang besar. Hidup ini tidak bisa dibagi-bagi ke dalam beberapa bagian, di mana Allah terlibat dan di mana Allah tidak terlibat. Orang tidak bisa membagi hidupnya, lalu mengatakan, bahwa di bagian ini Allah terlibat, sedang di bagian lain Allah tidak terlibat. Orang tidak bisa mengatakan, bahwa di Gereja berlaku bahasa yang satu, sedangkan di pelabuhan, kantor dan pabrik berlaku bahasa yang lain. Kita juga tidak bisa mengatakan, bahwa di Gereja berlaku norma tingkah-laku yang satu, sedangkan di dunia perdagangan berlaku norma yang lain. Kenyataan yang benar ialah, bahwa Allah tidak butuh kita undang untuk masuk ke dalam bagian-bagian tertentu dari hidup kita, serta kita keluarkan dari bagianbagian hidup kita yang lainnya. Allah berada di mana-mana, di sepanjang hidup dan kegiatan kita sepanjang waktu. Ia ada di mana saja menurut kehendak-Nya sendiri. la tidak hanya mendengar kata-kata yang diucapkan dengan nama-Nya. Ia mendengar semua perkataan yang kita ucapkan. Dan tidak ada ucapan sumpah dan yang semacamnya, yang bisa mengelakkan keterlibatan Allah di dalam ikatan yang terbentuk, meskipun nama-Nya tidak disebutkan. Oleh karena itu kita perlu menganggap semua sumpah atau janji sebagai sesuatu yang suci, apalagi kalau kita ingat bahwa sumpah atau janji itu kita lakukan di hadirat Allah.

AKHIR DARI SUMPAH ATAU JANJI

Matius 5:33-37 (lanjutan)

Perikop kita diakhiri dengan perintah agar apabila seseorang mengatakan "ya" maka ia harus mengatakan "ya", dan tidak lebih dari itu. Demikian pula apabila ia harus mengatakan "tidak" maka ia harus mengatakan "tidak", dan tidak lebih dari itu.

Makna yang hendak diungkapkan adalah bahwa setiap orang tidak usah lagi memerlukan sumpah atau janji untuk menopang atau menjamin kebenaran dari segala sesuatu yang diucapkannya. Jaminan dan saksinya haruslah terletak pada dirinya sendiri. Seorang guru dan ahli pidato Yunani yang besar, yang bernama Isokrates, mengatakan: "Orang harus berusaha menjalani kehidupan yang lebih banyak mendatangkan kepercayaan pada dirinya sendiri, ketimbang kepercayaan yang diperolehnya dengan sumpah." Clement dari Alexandria juga menekankan, agar orang-orang Kristen menghayati dan mnenjalani hidup serta menampakkan sifat-sifat kristianinya sedemikian rupa, sehingga orang lain tidak perlu minta sumpahnya untuk mempercayainya. Masyarakat yang kita cita-citakan ialah masyarakat, di mana kebenaran perkataan setiap warganya dapat dipercaya, dan janji setiap orang benar-benar dipenuhi tanpa jaminan sumpah.

Apakah perkataan Yesus itu kemudian berarti larangan bagi kita untuk mengucapkan sumpah, seperti umpamanya di ruang pengadilan? Ada dua kelompok orang yang dengan tegas menolak mengucapkan sumpah. Kelompok pertama adalah orang-orang Esseni, yaitu anggota salah satu sekte agama Yahudi kuno. Mengenai mereka itu Yosephus pernah menulis: "mereka sangat menonjol dalam hal saling mempercayai, dan mereka adalah pelayan-pelayan perdamaian. Segala yang mereka katakan dapat dipercaya melebihi sebuah sumpah atau janji. Mereka tidak pernah melakukan sumpah. Sumpah mereka anggap lebih buruk dari perkataan palsu. Karena mereka mengatakan, bahwa orang yang tak dapat dipercaya tanpa sumpah adalah orang yang sudah terkutuk."

Kelompok kedua yang sekarang masih ada dalam jumlah yang besar, terutama di Inggris, adalah kelompok Quakers atau kelompok Persekutuan Persaudaraan. Dalam keadaan yang bagaimanapun orang-orang Quakers itu tidak akan pernah mengangkat sumpah. Paling jauh, atau maksimal, yang akan dilakukan oleh George Fox, pemimpin Quakers, adalah memakai kata "Sesungguhnya". Ia menulis: "Saya tidak pernah menyebabkan orang lain berbuat salah selama saya bekerja. Selama saya melakukan pekerjaan saya, saya hanya memakai kata "Sesungguhnya". Dan waktu itu muncul ungkapan yang mengatakan: "Kalau George Fox mengatakan 'Sesungguhnya', maka tak ada seorang pun yang meragukannya." Pada zaman dahulu kelompok Essenilah yang tidak mengangkat sumpah, maka pada zaman kini kelompok Quakers.

Benarkah garis pikiran yang mereka ambil dalam hat ini? Kalau kita lihat di dalam Alkitab, kita temukan, bahwa dalam beberapa kesempatan dan kejadian Paulus sendiri melakukan sumpah itu. Dalam suratnya ke Jemaah Korintus ia menulis: "Tetapi aku memanggil Allah sebagai saksiku . . . bahwa sebabnya aku tidak datang ke Korintus ialah untuk menyayangkan kamu" (2 Kor 1:23). Juga dalam suratnya ke Jemaah Galatia dia menulis: "Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutulis kepadamu ini benar, aku tidak berdusta" (Gal 1:20). Dengan tulisannya yang demikian itu maka Paulus sudah mengangkat sumpah. Yesus sendiri tidak menolak ketika diri-Nya diminta untuk menyatakan sesuatu di atas sumpah. Ketika Yesus diadili, maka sang Imam Besar berkata kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak" (Mat 26:63). Jadi bagaimanakah jawaban terhadap pertanyaan kita di atas?

Untuk itu marilah kita lihat bagian akhir dari perikop yang kita pelajari ini (Mat 5:37). Di situ dikatakan agar orang mengatakan "ya" jika "ya" dan "tidak" jika "tidak". Lalu akhirnya dikatakan "Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat". Bagian akhir ayat ini bisa mengandung salah satu dari dua arti yang berikut.

  1. Kalau memang dianggap perlu untuk mengambil sumpah dari seseorang, maka keperluan itu muncul dari adanya kejahatan di dalam diri manusia. Kalau di dalam diri manusia tidak ada yang jahat, maka sumpah pun tidak akan diperlukan. Dengan kata-kata lain, kenyataan bahwa kadang-kadang dirasa perlu untuk mengambil sumpah dari seseorang, menjadi bukti akan kejahatan hakekat manusia yang tanpa Kristus.
  2. Kenyataan menyatakan bahwa di dalam hal-hal tertentu dirasa perlu untuk mengambil sumpah dari seseorang. Kenyataan itu muncul dari kenyataan lain, yaitu bahwa dunia ini adalah dunia yang jahat. Di dalam dunia yang sempurna, yaitu di dalam Kerajaan Allah, pengambilan sumpah itu sama sekali tidak diperlukan. Pengambilan sumpah itu diperlukan hanya karena kejahatan dunia ini.

Yang hendak dikatakan oleh Yesus sebenarnya adalah yang berikut: orang yang memang benar, tidak perlu mengangkat sumpah; kebenaran perkataannya dan pemenuhan janjinya tidak memerlukan jaminan seperti itu. Tetapi kenyataan bahwa sumpah kadang-kadang masih diperlukan menjadi bukti, bahwa manusia bukanlah manusia yang baik dan bahwa dunia ini bukan dunia yang baik.

Dengan demikian kita memperoleh dua macam kewajiban dari perkataan Yesus itu. Pertama, kita wajib berusaha agar orang lain melihat kebaikan kita sehingga mereka tidak perlu meminta kita mengangkat sumpah. Kedua, kita wajib berusaha dengan giat agar kepalsuan dan ketidak benaran di dunia berkurang-kurang sedemikian rupa sehingga perlunya sumpah itu bisa dihapuskan.