SHA-Referensi 06b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA)
Nama Pelajaran : Hukum yang Terutama
Kode Pelajaran : SHA-R06b

Referensi SHA-06b diambil dari:

Judul Buku : Pandangan Agama Kristen Tentang New Morality
Pengarang : Dorothy I. Marx
Penerbit : Kalam Hidup, Bandung, 1983
Halaman : 52 - 63

PENJELASAN SINGKAT TENTANG KASIH

Kita harus sungguh-sungguh memahami istilah kasih, yang sering disalahgunakan. Pada umumnya arti kasih agak kabur bagi kita dan kita kurang mampu membedakan antara perjuangan New Morality yang berdasarkan kasih dengan ajaran Kitab Suci yang diringkaskan dengan kasih dan diutamakan dalam seluruh Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" dan "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Matius 22:37,39).

Menurut Rasul Paulus orang yang bertindak dalam kasih menggenapkan hukum. "Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat" (Roma 13:10). "Tujuan nasihat itu ialah kasih" (1 Timotius 1:5). Tuhan Yesus pun telah memberikan hukum baru kepada kita, yaitu hukum kasih yang tersurat dalam Injil Yohanes 13:34.

Dalam hal ini perlu kita perhatikan, bahwa Kristus tidak menyatakan kehendak Allah yang baru, sebab kehendak-Nya tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Tetapi Tuhan Yesus menyatakan cara pelaksanaan yang baru.

New Morality berdiri atas dasar kasih dan menuntut kebebasan kasih. Dengan kekuatan kita sendiri tidak mungkin kita mengasihi dalam arti Kristen, walaupun kita ingin mengasihi dan kita mengerti bahwa kita harus saling mengasihi. Tetapi orang yang hidupnya diikat dengan Kristus, yang dipersatukan dengan Dia dalam kasih, menggali dari sumber kasih yang sejati, sehingga dapat mencurahkan kasih Allah yang terlebih dahulu dicurahkan ke dalam hatinya oleh Roh Kudus (Roma 5:5).

Tetapi apakah perbedaan antara kasih dalam Kitab Suci dengan kasih dalam New Morality?

Sebelum menelaah kasih yang diajarkan dalam Kitab Suci, baiklah kita membandingkan kasih Allah dengan kasih manusia. Perbedaan ini pernah dikemukakan oleh Dr. Toyotome, walaupun dalam bentuk lain, ketika memimpin kursus penginjilan di kota Bandung beberapa tahun yang lalu. Ia membandingkan kasih Allah dengan kasih manusia seperti berikut:

KASIH ALLAH

Kasih Kendati Pun (KK) Kasih Meskipun(KM) Kasih Biarpun (KB) Kasih Sekalipun (KS)

KASIH MANUSIA

Kasih Manusia (KK) Kasih Karena(KK)

Dengan huruf-huruf ini perbedaan pokok antara kedua kasih tersebut dapat kita lihat dengan jelas.

Kasih manusia, kasih kalau, senantiasa mengharapkan sesuatu, menantikan sesuatu. Tidak pernah terlepas dari tanggapan serta reaksi obyek yang dikasihi. Kasih manusia senantiasa bersifat materialistis dan menuntut beberapa syarat yang harus dipenuhi dahulu. "Kalau engkau mengikuti kehendakku ... kalau engkau meminta maaf . . . kalau engkau ... maka aku ..."

Begitu juga kasih karena sikap itu pun "berechnend" (sikap yang mempertimbangkan untung rugi atau memperhitungkan segala sesuatu). Kasih karena bukan kasih yang murni dan spontan, melainkan kasih yang egois yang keluar dari hati yang materialistis, yang hanya memikirkan keuntungan pribadi dalam segala hal. Sama dengan sikap "kalau", sikap "karena" juga tidak terlepas dari tanggapan serta reaksi obyeknya. "Kalau saya lulus, baru saya mau mengikuti Kristus." "Kalau anak saya selamat dalam operasi, saya bersedia dibaptis." Karena si A sering mentraktir dan berfoya-foya, maka si B mau bergaul dengan dia serta menjadi pacarnya.

Kasih Allah tidak pernah memperhitungkan sesuatu, tidak pernah menuntut sesuatu dari kita. Kasih Allah dicurahkan kepada kita kendati pun, walaupun ... sekalipun kita lemah, kendati pun kita ditaklukkan oleh dosa dan masih berseteru dengan Dia, namun demikian Tuhan Yesus mati ganti kita (Roma 5:6-10). Meskipun Kristus tidak bersalah dan walaupun tidak berdosa, kendati pun umat manusia menyalibkan Dia, namun Anak Allah yang tunggal itu menyerahkan nyawa-Nya ganti kita, dan karena kasih-Nya, menanggung dosa isi dunia ini. Maka kita melihat dengan nyata bahwa kasih Allah itu terlepas dari reaksi kita; hati Kristus terdorong oleh kasih yang murni. Walaupun kita jahat, durhaka serta keras kepala, tidak layak diperhatikan atau dikasihi, namun tetap Tuhan menyatakan isi hati-Nya terhadap kita sekalian. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16).

Dalam 1 Yohanes 3:12-16 Rasul Yohanes melukiskan ciri-ciri khas dari kasih Allah, yaitu pelayanan dan pengorbanan. Sebagai contoh Yohanes membedakan antara Kain dan Kristus. Kain mengorbankan saudaranya Habel demi kepentingan diri sendiri, sedangkan Tuhan Yesus mengorbankan diri-Nya untuk serta demi keselamatan kita. Kain membenci Habel, sebab Allah membenarkan hidup Habel melalui persembahannya, sedangkan dosa Kain dinyatakan ketika persembahannya ditolak oleh Allah. Kita dapat membayangkan perkembangan dalam hubungan antara kedua saudara tersebut. Tiap kali Kain bertemu dengan adiknya, Habel, ia teringat kembali akan peristiwa persembahan, sehingga makin lama makin meadalam rasa dendam, iri dan benci terhadap saudaranya dan pada akhirnya Kain mengambil keputusan membunuh adiknya, Habel, Habel harus mati; tidak mungkin kedua saudara itu hidup bersama. Seorang harus dikorbankan, supaya yang seorang lagi dapat hidup dengan senang dan tidak terganggu pikirannya karena terkenang akan peristiwa yang memalukan itu. Sudah barang tentu bukan Kain yang dikorbankan, "Kain tidak akan mengorbankan nyawanya." Kain senantiasa harus hidup. Kain tidak akan mengalah. Kain senantiasa harus menang bagaimana pun nasib saudaranya. Kain akan senantiasa mengorbankan bukan dirinya sendiri, melainkan hidup saudaranya.

Betapa indahnya kasih Kristus yang tidak memikirkan diri-Nya, yang rela mengorbankan bahkan nyawa-Nya untuk kita. Memang SATU HARUS MATI, tetapi yang dikorbankan bukan Anda, bukan siapa-siapa, bukan seorang manusia pun, melainkan hanya diri Tuhan Yesus Kristus. Kain membunuh supaya ia boleh hidup. Kristus mati supaya kita boleh hidup dalam Tuhan. Betapa besar kontras antara kasih Allah dengan kasih manusia. Kita mengasihi asal hal itu menguntungkan. Allah mengasihi, walaupun Anak-Nya harus mati tersalib untuk pengampunan dosa kita. Walaupun manusia tidak mengucapkan syukur dan terima kasih, walaupun manusia sama sekali kurang insaf, namun Allah tidak menahan Anak-Nya yang tunggal sekalipun, melainkan menyerahkan-Nya supaya kita memperoleh hidup yang kekal di dalam Dia.

Manusia bertitik tolak dari segi keuntungan diri sendiri, Allah bertitik tolak dari segi kepentingan obyek-Nya, meskipun obyek itu penuh dengan dosa dan kenajisan, penuh dengan keakuan dan keangkuhan.

Kasih Allah itu bebas, spontan, murni, penuh pengampunan dan rahmat serta penuh pengorbanan. Segi pengorbanan diistimewakan dalam istilah:

1. AGAPE (Yunani - kasih).

C.H. Dodd pernah mendefinisikan Agape seperti berikut: "Agape is not primarily an emotion or affection, it is primarily an active determination of the will." Pada hakekatnya Agape bukan suatu emosi, bukan rasa cinta, melainkan suatu sikap yang bertekad akan bertindak. Kemauan manusia diaktifkan lebih dari perasaannya. Definisi lain berbunyi sebagai berikut: "Agape itu kehendak dan usaha seseorang untuk mencari serta mengusahakan Summum Bonum bagi sesamanya (highest good - kebahagiaan yang tertinggi)." Definisi lain juga diajukan, misalnya "Disinterested Agape love can only mean impartial love, inclusive love, indiscriminate love, love for Tony, Dick and Harry. Agape is possible as love wills the neighbour's good whether we like him or not" (kasih agape tidak memilih bulu, mengasihi semua, tidak membedakan antara satu dengan yang lain. Agape itu ditujukan kepada sekalian termasuk juga orang- orang kecil dan orang biasa). Kita hanya dapat mengasihi begitu rupa, kalau kita menghendaki kebahagiaan sesama kita, meskipun barangkali kita kurang menyukainya.

2. FILIA: Kasih saudara, kasih persaudaraan.

Filia merupakan kasih yang wajar dalam lingkungan kekeluargaan serta persahabatan. Pernah Filia serta Agape diringkaskan demikian: "Filia cannot be commanded, turned on at will, Agape can." Seakan- akan kita dapat memasang Agape pada setiap waktu terhadap segala orang tanpa memilih bulu. Sedangkan Filia tak dapat "dipasang" demikian, Filia tak dapat diperintahkan, Filia tak dapat disuruh!

"Friendship, romance, selfrealization are reciprocal loves; Agape is not so. It seeks the good in anybody, everybody." Dalam kasih persahabatan dan romance (Filia) kita merealisasikan diri; kedua belah pihak saling mengasihi, sedang Agape merupakan sikap seseorang, bukan perasaan, merupakan good will terhadap sesamanya.

Tuhan Yesus mewujudkan Agape dengan "Not an inner feeling, a full heart or what not, but the work of love, which was His life". (Bukan perasaan hati, melainkan pekerjaan kasih, yakni hidup-Nya sendiri.) Selain dari Agape dan Filia manusia juga mengenal Eros atau Romantic Love.

3. EROS atau ROMANTIC LOVE

Istilah Eros tidak disebut dalam Alkitab, walaupun Eros sering dibahas. Tetapi justru Eroslah yang menjadi persoalan dalam pembahasan New Morality, sebab kasih yang dialami dalam pergaulan muda-mudi, pria-wanita dan dalam kehidupan seksual itu Eros.

Menurut Morgan Derham, Romantic Love sering dijelaskan dan sering dipandang sebagai "an overwhelming all-conquering passion uniting a man and a woman in a bond of complete abandonment o each other with an almost sacred intensity" Eros diartikan sebagai suatu perasaan yang sangat kuat, yang mempersatukan pria dengan wanita dalam ikatan yang demikian erat, sehingga saling menyerahkan diri secara total; maka ikatan mereka seolah-olah bagaikan sakramen.

Sudah kita utarakan bahwa New Morality menuntut kebebasan dalam pengalaman kasih dan dalam hal ini justru Eros yang dimaksudkan. Maka "saling menyerahkan diri" merangkap juga penyerahan fisik sebelum atau di luar pernikahan yang sah.

Apakah sikap orang Kristen terhadap Romantic Love? Apakah Romantic Love itu dosa? Bukan. Sama sekali tidak. Kasih Eros pun berasal dari Allah, sama seperti Agape dan Filia, dan merupakan karunia yang dianugerahkan kepada manusia untuk memperkaya kehidupan kita. Namun seperti anugerah-anugerah lain, Eros dapat disalahgunakan dan bila disalahgunakan, maka Eros mendatangkan banyak kesusahan dan penderitaan, bukan kebahagiaan. Kalau Eros tidak dikontrol di bidang fisik, maka kasih spiritual dapat dilukai serta dirusak, bahkan dipadamkan dan dimatikan oleh seks. Eros harus dipelajari serta dikontrol. Oleh karena itulah Allah menjaga dan melindungi kasih dengan membatasi seks pada hubungan nikah yang sah. Kasih tidak terbit dari seks; seks tidak mendahului kasih. Sebaliknya, kasih memuncak ke arah seks.

W. Trobisch menceritakan sebuah film yang diperlihatkan di negara Jerman pada zaman Hitler sekitar tahun 1940. Dalam film itu seorang dokter membunuh isterinya yang sangat menderita karena penyakit yang ganas. Isterinya tidak dapat ditolong lagi dengan obat apa pun, sehingga akhirnya sang suami membunuh isteri yang dikasihinya dengan memberikan obat yang jauh melebihi dosis yang patut. Dalam pengadilan kemudian sang suami hanya menjelaskan sebagai berikut: "Aku mengasihi isteriku." Dokter tersebut berani membunuh isteri atas nama kasih, berani mengabaikan hukum Allah yang berbunyi, "Jangan kamu membunuh." Dengan menyingkirkan hukum Allah dokter itu jatuh ke dalam tangan Iblis tanpa disadarinya.

Kalau kita berani membuang hukum Allah tentang perzinahan, atas nama kasih (maksudnya Eros - Romantic Love), maka kita pun jatuh ke dalam tangan Iblis tanpa kita sadari. Seks di luar nikah atau sebelum nikah selalu merugikan, sebab kasih yang dilindungi oleh hukum Allah menjadi mati. Hal ini akan kita bahas dalam pasal yang berikut.

Romantic Love sebagai karunia Allah tidak mulai dengan seks. Kasih Eros yang dialami dalam bidang emosi yang kuat sekali, menyebabkan penyerahan total dari dua orang, akan tetapi bukan penyerahan langsung dalam bidang fisik, sebab Eros berkembang dalam beberapa tahap.

Menurut C.S. Lewis, dalam tahap pertama ketika dua orang mulai tertarik, mereka saling menghormati dan menjunjung tinggi tabiat dan kepribadian masing-masing, sehingga mereka sangat bergemar pada setiap pertemuan. Sukacita dan rasa bahagia yang dialami mempengaruhi seluruh kehidupan mereka, termasuk juga hubungan dengan orang lain. Misalnya seseorang yang pada umumnya bersifat keras, kurang ramah dan acuh tak acuh, melalui pengalaman Eros tahap pertama ini dapat berubah 180 derajat; sikap angkuh menjadi rendah, sikap yang keras menjadi lembut. Segala sesuatu yang negatif mengalami perubahan yang sangat menggembirakan. Bahkan seorang egois, seorang introvert, akan berubah menjadi ekstrovert yang penuh perhatian terhadap sesamanya. Memang perubahan yang mendadak positif ini tidak dapat disaksikan secara mutlak dalam setiap orang yang mengalami Romantic Love. Perubahan ini belum tentu merupakan pembaharuan sifat yang tetap - sebagaimana Eros pun merupakan pengalaman sementara.

Dalam tahap pertama ini kedua belah pihak mengkonsentrasikan segala usaha pada pengenalan watak dan akhlak masing-masing. Karena begitu tertarik, maka dalam pandangan mereka tidak ada orang yang dapat menandingi kekasihnya. Pada tahap pertama pikiran mereka belum menjurus kepada seks, sebab mereka masih mengutamakan "the true worth of human personality" (nilai-nilai hakiki daripada kepribadian). Komunikasi mereka terbatas pada percakapan, diskusi dan pertukaran pikiran.

Dalam tahap kedua komunikasi mulai mendalam, perhatian mereka dicurahkan kepada kchidupan masing-masing, pada tanggapan serta reaksi. Kini mereka berkomunikasi melalui observasi terhadap gerak- gerik kekasihnya, baik di hadapan umum, maupun di rumah atau di ruang kuliah. Bagaimana sikapnya kalau tak sadar ada yang memperhatikan? Bagaimana tingkah laku dalam menghadiri pesta atau perayaan? Bagaimana sikapnya terhadap - uang kalau baru menerima wesel dari orang-tuanya atau bagaimana kalau "lagi kosong dompetnya"? Apakah kekasih itu sering berfoya-foya, senang mentraktir teman-teman atau apakah dia kikir serta kecil jiwanya? Apa hobinya? Bagaimana sikapnya terhadap masalah sosial? Bagaimana sikapnya terhadap agama? Dan terutama terhadap Tuhan Yesus sendiri? Dalam tahap kedua ini persahabatan semakin mendalam. Kedua belah pihak hormat-menghormati. Perkenalan pada tahap ini sangat penting justru sebelum mereka mendirikan rumah tangga dan sebelun mereka memasuki "Two in Oneship".

Dalam tahap ketiga Romantic Love mulai berkembang ke arah komunikasi fisik, mata, suara, nada pembicaraan, juga tangan, semuanya menjadi aktif sebagai alat komunikasi. Mereka harus waspada dalam tahap ketiga ini, sebab kalau kontak fisik sudah dimulai, dorongan untuk komunikasi fisik bertambah kuat, bahkan menjadi dominan atau master passion (dorongan keras yang dikuasai oleh emosi dan bukan oleh intelek). Bilamana kontak fisik diutamakan dalam pergaulan, maka pengenalan akan karakter kurang diperhatikan dan akhirnya berhenti sama sekali. Demikian pula halnya dengan "intelligent discernment of personal qualities" (pengertian mendalam tentang sifat-sifat pribadi). Lama- kelamaan pergaulan itu mundur serta nafsu mengambil alih peranan. Betapa pentingnya kita berdisiplin, justru pada tahap ketiga ini agar pengenalan jangan terganggu serta jangan berhenti. Di sini kita harus menyampaikan suatu peringatan. Romantic Love kita terima dari Allah melalui seorang kekasih dan bukan daripada kekasih itu sendiri.

Dengan kata lain kekasih itu merupakan saluran kasih, bukan sumbernya. Satu-satunya sumber kasih ialah Allah sendiri.

Kadang-kadang karena kurang menyadari hal itu dan karena merasa berbahagia dalam pergaulannya, seorang pemuda ingin memiliki kekasihnya dengan secepat mungkin. Si pemuda yakin ia akan membahagiakan temannya dan sebaliknya ia senantiasa akan berbahagia dengan dia. Tetapi si pemuda lupa, bahwa dia atau kekasihnya bukan sumber kasih, bukan sumber kebahagiaan, melainkan salurannya. Pengalaman sehari-hari dalam rumah tangga sangat berlainan dari pengalaman kita dalam masa Eros. Bahkan si dia yang dijunjung tinggi demikian rupa mempunyai kelemahan-kelemahan sama saja seperti manusia yang lain. Si dia yang mempunyai adat dan sifat-sifat yang mengecewakan. Suaranya sering terdengar kasar, kadang-kadang malas dan masakannya terlalu royal. Reaksinya acap kali lambat, si dia suka gosip dan sebagainya. Memang kalau kita mengharapkan kasih dari dia, kita pasti mengalami kekecewaan. Jika kita tidak memandang Tuhan sendiri, yang menjadi sumber hidup dan sumber kasih, maka hubungan nikah akan mundur, malah pernikahart itu mulai terancam dan bahkan dapat menuju kehancuran. Satu pihak mulai merasa bosan serta kecewa dan pada akhirnya berusaha mencari sumber kasih baru, yang dapat memenuhi kebutuhan dirinya.

Selaku orang yang beriman bagaimana sikap kita terhadap kasih Eros? Baiklah kita perhatikan beberapa fakta.

  1. 1. Eros tidak akan selalu berakhir dengan pernikahan. Sewaktu-waktu Tuhan mengaruniakan pengalaman Romantic Love dengan maksud tertentu. Tuhan dan rencana Allah dalam hal ini pun sesuai dengan Roma 8:28 yang isinya sebagai berikut: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalarn segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." Segala sesuatu mendatangkan kebaikan, bahkan kekecewaan kita dalam pergaulan, bahkan Eros yang tidak berakhir dengan pernikahan. Dalam hal ini orang Kristen yakin betul, walaupun sewaktu-waktu kita menderita lahir batin, kita tidak ragu-ragu akan pimpinan Allah atau kebijaksanaan-Nya ataupun kasih-Nya.

  2. 2. Eros harus dikontrol dan diberi disiplin. Untuk memperoleh dan mengembangkan disiplin, lebih dahulu harus kita ketahui istilahnya yang berasal dari bahasa Latin: Discipulus (murid). Kita menjadi seorang murid yang digembleng, khususnya secara mental. Watak kita dilatih ke arah self-control supaya dapat menguasai diri. Disiplin merupakan instruksi, latihan yang memberi arah kepada pikiran kita dan membentuk, memperkokoh, serta menyempurnakan karakter. Disiplin akan diperoleh dengan mentaati peraturan-peraturan tertentu. Disiplin berhasil dengan perkembangan mental dan fisik dalam diri kita. Disiplin harus dipelajari dan dipraktekkan dalam self-control melalui instruksi-instruksi yang kita taati dengan saksama. Mengapa kita sering lemah menghadapi tantangan hidup, mengapa usaha kita sering gagal, sehingga kita merasa kecewa dengan diri kita sendiri dan merasa rendah, walaupun kita mempunyai cita-cita yang cukup mulia serta merindukan suatu mutu kehidupan yang tinggi? Mengapa kita sering gagal dalam kehidupan sehari-hari, walaupun kita mengidam-idamkan standard yang sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus yang terkandung dalarn Perjanjian Baru? Mengapa pengalaman kita begitu memalukan? Soalnya ialah kita kurang memahami dan kurang mempraktekkan disiplin. Memang definisi tentang self-control dan latihan mental cukup jelas, namun kita kurang menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Disiplin mulai dalam alam pikiran. Dalam Roma 8:1-7 Rasul Paulus menjelaskan bahwa tindak tanduk kita terbit dari pada pikiran kita. Pikiran duniawi akan menghasilkan perbuatan-perbuatan duniawi. Sebaliknya orang yang memikirkan hal- hal rohani akan melakukannya juga dengan apa-apa yang dipelajarinya dalam hal-hal tersebut. Demikian juga halnya dengan dosa yang mengikat kita dengan belenggu yang hanya dapat dipatahkan oleh Kristus. Dosa juga mulai dalam alam pikiran kita. Mustahil kita berdosa, kalau tidak melalui suatu proses tertentu lebih dahulu: mula-mula kita memikirkan hal terlarang, lalu kita membayangkan, kemudian merindukan, baru kita melaksanakan hal tersebut. Disiplin seharusnya mulai pada tahap pertama, yaitu tahap pikiran dan bukan pada tahap terakhir.

    Jika pada tahap ketiga baru kita mulai berdisiplin, maka pasti kita sudah terlambat, sebab keinginan dan kerinduan akan menguasai tindakan kita karena merupakan "overmastering passion". Tidak mungkin kita stop kalau sudah memasuki tahap ketiga, yaitu tahap keinginan. Keinginan akan mengatasi intelek. Kita harus stop pada tahap pikiran. Disiplin dapat dipelajari dan dikembangkan kalau dengan tegas kita mengkonsentrasikan pikiran kita pada hal-hal yang positif, hal-hal yang benar, yang suci, yang manis dan hal-hal yang akan membangun mental (Filipi 4:8).

    Paulus menyuruh orang-orang Kristen memusatkan pikiran pada "perkara yang di atas, bukan yang di bumi" (Kolose 3:2). Dalam hal ini kita harus tegas. Eros tanpa disiplin akan ambruk, akan merugikan, malahan dapat membahayakan seluruh masa depan kita.

    Sewaktu-waktu disiplin terwujud dalant keputusan untuk menolak Romantic Love. Keputusan semacam itu tidak dapat diambil secara emosional, melainkan dengan kemauan yang bulat dan teguh. Kita harus bertidak dengan penuh konsekwensinya.

  3. 3. Eros harus dipelajari dan diketahui secara matang dan mendalam. Sudah kita kemukakan bahwa Eros ditentukan untuk membahayakan dan bukan untuk membahayakan. Dalam pembahasan Romantic Love, C.S. Lewis pernah mengatakan bahwa adakalanya Eros berkata-kata dalam hati kita dengan suara yang manis dan merdu, seperti suara Tuhan sendiri. Tetapi pada ketika yang lain Eros mendorong kita untuk berbuat jahat. Kecenderungan yang terkandung dalam lubuk hati manusia dapat digerakkan oleh Eros, haik ke arah kebajikan maupun ke arah kejahatan. Eros sering mendorong seseorang mengambil tindakan frustrasi dan keputusasaan, sehingga terjadi pembunuhan atau bunuh diri. Eros tidak mengenal batas kalau emosi sudah meluap-luap; Eros tidak tertahan lagi dan kerap kali berakhir dalam kecelakaan.

    Menurut C.S. Lewis, "Eros is heart-breakingly sincere and ready for any sacrifice except renunciation, ready for any sacrifice except acknowledgement that Romantic Love is not supreme as if it owned no higher law than its own."

    Eros itu tulus ikhlas, sungguh-sungguh dan bersedia untuk pengorbanan. Hanya satu hal yang tidak mungkin dikorbankan oleh Eros, yakni dirinya sendiri. Eros tidak akan menyangkali dirinya dan Eros tidak akan mengakui instansi hukum yang lebih tinggi daripada hukum Eros.

  4. 4. Eros harus tunduk kepada Allah. Sudah barang tentu dalam hati manusia ada yang bertakhta; seharusnya Tuhanlah yang bertakhta, tetapi kerap kali Eros menggeser Tuhan dan menjadi ilah yang disembah lebih dari segala sesuatu. Manusia diciptakan agar sujud menyembah Allah, dan kalau kita durhaka dan berbalik dari Tuhan, maka kita mengabdikan diri bukan kepada Allah, melainkan kepada diri sendiri, nafsu kita, kemauan kita, kepada kasih Eros, atau kepada ideal kasih. Manusia senantiasa akan mencari kepuasan dan kebahagiaan, akan tetapi jika kita tidak mencarinya dalam Tuhan, maka kepuasan sejati tidak akan kita peroleh atau nikmati. Orang yang mencari kepuasan dalam Eros, hanya menemui dukacita serta kesusahan.

    Kita akan mengakhiri pembahasan Eros dengan suatu peringatan: sama dengan karunia-karunia umum yang lain, Eros pun harus tunduk pada hukum Allah. Eros tidak akan terlepas dari kehendak serta tujuan Allah, walaupun Alkitab tidak mengandung petunjuk tentang karunia- karunia umum yang kita terima dari Allah. Percuma kita mencari pedoman atau penjelasan dalam Alkitab tentang karunia-karunia umum, untuk boleh memanfaatkannya. Kita hanya membuang-buang waktu dan tenaga, sebab Tuhan telah mengaruniakan kepada kita Common Sense, akal budi, maka akal budi itulah memimpin kita supaya jangan menyalahgunakan karunia Allah itu, melainkan supaya menggunakannya demi kemuliaan nama-Nya. Kita harus berdoa dan bersandar kepada Tuhan agar Tuhan sendiri sudi membimbing kita, sebab dalam hal ini pun Tuhan ingin memperkaya dan memperluas kehidupan umat-Nya. Di luar pimpinan Tuhan, kita mudah dijerat dan masuk ke dalam kerajaan Iblis, di mana His mencari kejayaannya untuk membinasakan dan menghancurkan kita. Jika kita tidak waspada, kita akan diperdayakan olehnya dengan Eros.

Taxonomy upgrade extras: