SIM-Referensi 01b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Studi Injil Markus
Nama Pelajaran : Pengantar Injil Markus
Kode Pelajaran : SIM-R01b

Referensi SIM-R01b diambil dari:

Judul Buku : Pengantar Perjanjian Baru Volume 1
Judul Artikel : Kepenulisan Injil Markus
Penulis : Donald Guthrie
Penerbit : Momentum
Halaman : 61 -- 69

REFERENSI PELAJARAN 01b - PENGANTAR INJIL MARKUS

KEPENULISAN

  1. Bukti Eksternal
  2. Kesaksian pada masa awal kekristenan bahwa Markus menulis Injil ini begitu kuat sehingga kita hanya perlu menyebutkan bukti-bukti ini. Papias, Kanon Muratorian, Irenaeus, Clement dari Alexandria, Origen, Jerome, semua mengatakan bahwa Injil ini ditulis oleh Markus. Selain itu, dalam penulisan Injil Markus, mereka semua mengaitkan Markus dengan Petrus. Beberapa kritik modern melawan kedua asumsi tradisional ini. Mereka menganggap bukti-bukti Papias tidak akurat dan semua bukti eksternal lain diabaikan karena dianggap memakai Papias sebagai sumber. Menurut kritik lain, tradisi mengaburkan Yohanes Markus dengan penulis Injil Markus. Kita akan membahas kritik yang terakhir ini terlebih dahulu.

  3. Siapa Itu Markus?
  4. Samakah penulis Injil Markus dengan Markus di Kisah Para Rasul? Keberatan penting terhadap penyamaan ini adalah latar belakang non-Palestina Injil Markus, yang dianggap tidak mungkin ditulis oleh Markus yang pernah tinggal di Yerusalem. Selain itu, penyamaan ini secara spesifik baru terjadi pada masa Jerome. Namun, kita telah melihat bahwa dugaan latar belakang non-Palestina ini bisa berasal dari kurangnya data dan perbedaan antara Galilea dan Yerusalem. Jika benar demikian, nilai dugaan ini akan berkurang. Namun, pendapat tradisional didasarkan pada apa yang tidak dikatakan. Tradisi tampaknya menyamakan Markus dengan Yohanes Markus. Markus disebut tiga kali dalam Perjanjian Baru (Kis. 12:12, 25; 15:37)dan Markus disebut beberapa kali (Kis. 15:39; Kol. 4:10; 2 Tim. 4:11; Flm. 24; 1 Ptr. 5:13). Di Kolose, ia disebut sebagai keponakan Barnabas, yang jelas sesuai dengan catatan tentang Yohanes Markus di Kisah Para Rasul. Sangat mungkin ibunya cukup penting karena menurut Kisah Para Rasul 12, rumahnya dijadikan tempat pertemuan jemaat mula-mula (bdk. 12:12). Markus menyertai Paulus dan Barnabas pada perjalanan misi mereka yang pertama meskipun ia membuat Paulus marah karena meninggalkan mereka sebelum perjalanan itu usai. Meski Paulus dan Barnabas sempat berselisih karena dirinya, nantinya mereka kembali berdamai, sebab ia bersama dengan Paulus saat Surat Kolose dan Filemon ditulis (Kol. 4:10; Flm. 1:24). Setelah itu, ia dicatat menyertai Petrus (l Ptr. 5:13). Relasinya dengan Petrus dan Paulus ini merupakan ciri terpenting. Hanya mereka yang dipengaruhi antitesis Tubingen antara Petrus dan Paulus, akan menganggap kaitan erat di antara keduanya mustahil. Dapat dibenarkan jika kita mengklaim bahwa semua yang kita ketahui tentang Markus dari Perjanjian Baru akan membuat kita cenderung menganggapnya sebagai kandidat yang mungkin untuk menulis Injil. Sama sekali tidak ada bukti internal yang menunjukkan hal ini tidak mungkin.

  5. Kaitan dengan Petrus

  6. Dalam perkembangan teori dua dokumen, fakta bahwa Petrus diyakini berada di balik Injil Markus merupakan faktor pendukung penting. Jika Injil Markus adalah sumber bagi Injil Sinoptik lain, maka Injil ini harus dipandang otentik, dan keterkaitan dengan Petrus akan sangat berharga bagi hal ini. Dengan bangkitnya kritik bentuk dan kritik redaksi, para teolog semakin ragu untuk menegaskan kaitan antara Petrus dengan penulis Injil Markus. Jika Injil Markus terdiri dari unit-unit tradisi yang diciptakan oleh komunitas, maka mustahil kita menegaskan adanya kaitan dengan Petrus. Karena itu, sebagian besar teolog hari ini tidak menghargai bukti eksternal ini.

    Bukti Papias tidak dapat semudah itu diabaikan. Pernyataannya yang dikutip Eusebius berbunyi seperti berikut: "Karena Markus adalah penafsir (hermeneutes, ermeneutes) Petrus, maka ia menulis secara akurat, meski tidak secara berurutan (ou mentoi taksei, ou mentoi taksei), hal-hal yang ia ingat dikatakan atau dilakukan oleh Tuhan. Ia tidak mendengar Tuhan dan tidak pula mengikuti Dia, tetapi seperti yang telah saya katakan, [mendengar dan mengikuti] Petrus yang menyesuaikan pengajarannya dengan kebutuhan [pendengarnya], tetapi tidak seperti membuat narasi dari ucapan-ucapan Tuhan (kuriakon Iogion, KuriaKov loyiov). Hasilnya, Markus menulis hal-hal yang ia ingat, ia sama sekali tidak membuat kekeliruan; ia berhati-hati dalam satu hal, tidak melewatkan apa pun yang ia dengar atau memalsukan hal itu. "Dari sini, kita dapat mendeduksi beberapa hal: (l) Papias menganggap khotbah Petrus sebagai sumber utama kesaksian Markus. (2) Relasi Markus dan Petrus ditentukan oleh kata 'herméneutes' (ermeneutas). Meski kata ini dapat berarti penerjemah atau penafsir, sebagian besar teolog setuju yang pertama harus dipilih dalam konteks ini. Sulit memastikan maksud Papias saat ia berkata Markus tidak menulis secara berurutan (ou mentoi taksei, ou mentoi taksei), tetapi umumnya hal ini dianggap sebagai urut-urutan kronologis. 4) Pernyataan ini jelas membela Markus yang bisa jadi tidak terlalu dinilai tinggi karena dianggap tidak berasal dari sumber rasuli.

    Sebagian besar teolog menerima bahwa Papias merujuk kepada penulis Injil Markus, tetapi ada pandangan bahwa ia merujuk pada Q, yang dilihat sebagai kumpulan bahan katekisasi Petrus. Namun, pandangan seperti ini bukanlah pemahaman yang paling alamiah terhadap kata-kata Papias, dan para penulis patristik berikutnya tidak memahami kata itu sedemikian.

    Ada ketegangan modern di antara mereka yang sepenuhnya mengabaikan bukti Papias karena tradisi komunitas di antara peristiwa dan catatan atas peristiwa itu dianggap menghilangkan pengaruh dari para saksi mata," dengan mereka yang meski tidak ingin menganggap semua materi berasal dari Petrus, masih ingin menganggap tradisi awal kekristenan cukup penting. Hal ini jelas menunjukkan bahwa tradisi ini belum bisa dibuktikan bersalah, meskipun telah dilawan.

PENANGGALAN

Injil Markus adalah satu-satunya Sinoptik yang penanggalannya dapat dibahas tanpa merujuk kepada problem Sinoptik; setidaknya, jika hipotesis belakangan tentang prioritas Injil Markus diterima. Namun, jika pandangan tradisional bahwa Injil Markus merupakan abstraksi Injil Matius terbukti benar, maka penanggalan Injil Markus akan tergantung pada penanggalan Injil Matius. Mana pun yang benar, kita perlu melihat semua bukti yang ada, terlepas dari kaitan Injil Markus dengan Injil-Injil lain. Bukti eksternal akan dilihat terlebih dahulu.

  1. Bukti Eksternal
  2. Kita telah melihat bahwa tradisi awal saling bertentangan. Tradisi yang satu menegaskan bahwa Markus menulis setelah kematian Petrus (Irenaeus), yang lain berkata bahwa Injil Markus ditulis saat Petrus masih hidup (Clement). Karena kedua tradisi ini sangat awal dan hampir sezaman, maka tampaknya terdapat ketidakjelasan tentang asal usul Injil Markus, kecuali jika salah satunya dapat dipahami secara berbeda. Ada upaya untuk menyatakan Irenaeus tidak bertentangan dengan Clement karena ia tidak bertujuan memberikan informasi kronologis tentang asal usul Injil Markus, tetapi sekadar menyatakan kesinambungan tulisan Markus dengan khotbah Petrus. Meski mungkin, penafsiran seperti ini kabur, dan mayoritas teolog setuju bahwa Irenaeus mau berkata Markus menulis setelah kematian Petrus. Namun, itu berarti kita masih harus memutuskan mana yang benar, Irenaeus atau Clement. Sebagian besar teolog memilih Irenaeus. Namun, harus diingat bahwa Irenaeus juga berkata bahwa Matius sudah ditulis sementara Petrus dan Paulus masih berkhotbah, yang berarti Matius ditulis sebelum Markus. Dalam hal ini, kritik modern menerima satu garis bukti Irenaeus dan menolak yang lain. Setidaknya, ada kemungkinan bahwa cara penilaian seperti ini keliru.

    Bisa dipertanyakan apakah yang Irenaeus maksudkan memang adalah kematian Petrus. Kata "exodus" yang ia pakai dapat berarti pergi meninggalkan. Hal ini didukung oleh komentar Prolog Anti-Marcion atas Injil Markus yang menyatakan bahwa Markus menulis post excessionem Petrus, yang dapat berarti meninggal atau meninggalkan. Itu berarti menurut tradisi, Markus menulis setelah Petrus meninggalkan Roma, dan pertanyaannya, kapan hal ini terjadi. Ada bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Petrus datang ke Roma pada masa Claudius, yang dideduksikan dari ucapan Justin Martir bahwa Simon Magus berada di Roma pada saat itu. Fakta ini, bersama dengan legenda pertemuan Simon dengan Petrus di Roma yang ditegaskan oleh Hippolitus, dianggap cukup untuk menduga Petrus pernah datang ke Roma pada 42 M.

    Jika tradisi ini benar, maka Irenaeus bisa jadi mau berkata bahwa Markus menulis setelah Petrus meninggalkan Roma di zaman Claudius. Hal ini membuat Injil Markus bisa ditulis lebih awal. Dugaan lain, Markus mulai menulis Injil sebelum kematian Petrus dan menyelesaikannya setelah Petrus meninggal dunia.

  3. Bukti Internal
  4. Aspek kunci dan bukti internal adalah rujukan kepada "Pembinasa keji" yang berdiri di tempat yang tidak sepatutnya (Mrk. 13:14), yang dianggap merujuk kepada Bait Allah. Namun, apakah hal ini merujuk kepada penyerangan dan jatuhnya Yerusalem pada tahun 70 M? Secara umum, diasumsikan bahwa inilah artinya sehingga Markus harus menulis tepat sebelum Yerusalem jatuh, atau setidaknya cukup dekat, sehingga ia dapat menduga pencemaran Bait Allah dengan tepat. Penafsiran ini sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan bahwa kalimat itu merupakan nubuat Yesus.

    Kita dapat mengajukan keberatan serius terhadap teori bahwa catatan Markus ditulis setelah peristiwa itu terjadi karena Markus menunjukkan bahwa orang Kristen lari ke bukit-bukit di Yudea, sementara tradisi mencatat mereka lari ke Pella, suatu kota dataran rendah di timur Yordan.

    Menurut sebagian teolog, Markus terutama merujuk usaha Caligula untuk menaruh patungnya di Bait Suci pada tahun 40 M, yang gagal karena ia terlebih dahulu dibunuh. Salah satu teori menganggap Injil Markus baru ditulis setelah peristiwa itu. Namun, teori ini tidak memperoleh dukungan.

    Pertimbangan penting adalah dapatkah Yesus menubuatkan bencana yang mendekat. Jika Yesus sendiri yang menubuatkan peristiwa itu, maka Mrk. 13:14 tidak lagi menjadi inti problem kronologis. Frasa yang dipakai untuk melukiskan peristiwa ini cukup samar dan berasal dari Daniel sehingga lebih masuk akal untuk menduga bahwa frasa itu ditulis sebelum peristiwa yang sebenarnya terjadi. Siapa yang akan menyangkal bahwa Yesus memiliki kuasa untuk melihat hiruk-pikuk situasi politik yang akan terjadi pada masa depan dan yang akan mencemari Bait Allah? Kemungkinan lain bahwa kalimat ini bisa ditafsirkan sebagai kedatangan Antikristus, mengaburkan relevansinya bagi problem penanggalan.

    Bukti internal lain adalah rujukan penganiayaan di Injil Markus, dan perhatian penulis terhadap kebebasan bangsa-bangsa lain. Namun, keduanya tidak banyak menolong di dalam menentukan kapan Injil Markus ditulis karena keduanya terlalu umum untuk dikaitkan dengan periode spesifik tertentu. Misalnya, saat Markus 13:8 menyebut gempa bumi dan kelaparan sebagai "permulaan penderitaan", tidak ada alasan hal ini harus merujuk pada permulaan penyerangan Yerusalem. Selain itu, Markus 13:10, yang menegaskan bahwa Injil harus diberitakan ke segala bangsa, sulit dipakai untuk menetapkan, baik penanggalan 60 -- 70 M ataupun penanggalan yang lebih awal, karena misi kepada bangsa-bangsa lain telah implisit di dalam rencana Tuhan bagi gereja-Nya.

    Meski mayoritas teolog yakin Markus harus ditulis 65 -- 70 M, tidak mustahil untuk memegang penanggalan yang lebih awal. Harnack' memegang penanggalan sebelum 60 M dan Allen sebelum 50 M. Argumentasi Harnack didasarkan pada penanggalan awal atas Kisah Para Rasul (63 M) yang berarti Injil Lukas harus ditulis sebelum itu, dan Injil Markus ditulis sebelum Injil Lukas. Teori Allen dipengaruhi oleh keyakinannya bahwa Injil Markus yang asli ditulis dalam bahasa Aram, dan hipotesis ini menuntut penanggalan yang lebih awal. Penanggalan Harnack umumnya ditolak karena penanggalannya akan Kisah Para Rasul tidak diterima (lihat 1:107 c.k. 103, 1:318 dst.). J.A.T. Robinson juga dengan kuat memegang penanggalan yang lebih awal. Ia menduga Markus membuat catatan konsep (draft) dari khotbah Petrus (45 M), lalu menyusunnya dalam bentuk yang lebih tertata sebagai proto-Markus, sebelum mencapai tahap final bersama Injil-lnjil Sinoptik lain pada akhir 50 M atau awal 60 M.

    Ada pula teori yang menganggap Injil Markus ditulis setelah jatuhnya Yerusalem. Salah satu pendukung teori ini adalah B.W. Bacon, yang mengusulkan setelah 75 M tahun di mana seorang filsuf Cynic dipenggal karena menegur tindakan imoral Titus dengan Bernice, saudari Agrippa II, sebab ia melihat peristiwa ini paralel dengan pembunuhan Yohanes Pembaptis. Argumentasi seperti ini tidak meyakinkan dan hanya sedikit teolog yang mengikuti Bacon dalam hal ini.

    Teori yang lebih kuat dipaparkan oleh Brandon, yang khususnya memakai situasi historis Injil Markus. Menurutnya, penulisan Injil seperti Markus hanya memiliki penyebab efektif, dan ia menemukan hal ini dalam situasi Roma setahun atau lebih setelah prosesi kemenangan Flavianus merebut Yerusalem. Gagasan umumnya adalah kebencian terhadap bangsa Yahudi pada masa itu membuat orang-orang Kristen Roma memerlukan Injil yang memisahkan Yesus dan Yahudi Yerusalem. Brandon menguraikan teorinya dengan sangat cerdas, dengan memperhitungkan pengajaran eskatologi di Markus 13 dan serba-serbi Injil Markus, seperti pengakuan prajurit Romawi atas Yesus (sementara para pengikut Yahudi-Nya gagal mengenali hal ini), catatan tentang robeknya selubung Bait Allah, sikap Yesus terhadap pembayaran pajak terhadap Kekaisaran Roma, dan tidak disebutnya Yudas sebagai "orang Zelot". Namun, sebagian besar rekonstruksi Brandon bersifat dugaan dan bukti-bukti yang ia kutip juga dapat mendukung penanggalan yang lebih awal. Kebencian terhadap bangsa Yahudi bukan baru pertama kali muncul di benak orang Roma setelah tahun 70 M. Keputusan Claudius mengusir orang-orang Yahudi dari Roma telah cukup mempercepat situasi kritis yang mendesak orang Kristen menjelaskan relasinya dengan Yudaisme. Selain itu, rekonstruksi Brandon didasarkan pada presuposisi bahwa setelah jatuhnya Yerusalem, penulis sadar bahwa akan sulit untuk percaya bahwa Yesus tidak menubuatkan peristiwa itu sehingga ia memasukkan prediksi Dominical akan hal ini.

Taxonomy upgrade extras: 

Komentar