SIM - Referensi 05a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Studi Injil Markus
Nama Pelajaran : Pelayanan Kristus di Yerusalem
Kode Pelajaran : SIM-R05a

Referensi SIM-R05a diambil dari:

Judul Buku : Tafsiran Alkitab Wycliffe, Volume 3 Perjanjian Baru
Judul Artikel : Memasuki Yerusalem dan Bait Suci
Penulis : Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison
Penerbit : Gandum Mas
Halaman : 183 -- 195

REFERENSI PELAJARAN 05a - PELAYANAN KRISTUS DI YERUSALEM

  1. MEMASUKI YERUSALEM DAN BAIT SUCI (Markus 11:1-26)

  2. Sejak saat ini, Kristus meninggalkan semua sikap hati-hati yang telah membuat diri-Nya menyingkir dari berbagai wilayah yang rawan dan yang berkemungkinan menimbulkan krisis. Sekarang, Dia menentang para pemimpin Yahudi. Ketika masuk ke Yerusalem, secara terang-terangan, Ia memancing ketidaksenangan dan permusuhan. "Masuk Yerusalem dengan dielu-elukan" ini jangan dilihat sebagai kedatangan seorang raja dalam kemuliaan, melainkan sebagai gambaran seorang Juru Selamat yang sebentar lagi akan menderita.

    Ayat 1. Pembandingan dengan Yohanes 12:1 menunjukkan bahwa Yesus sebelumnya pergi ke Betania tempat Dia bermalam. Kemudian, pada hari sesudah hari Sabat, Dia masuk ke Yerusalem. Betania terletak 2 mil kurang sedikit di sebelah tenggara Yerusalem, tidak jauh dari lereng timur Bukit Zaitun. Letak Betfage lebih sulit ditentukan, tetapi bukti yang terbaik tampaknya menunjuk ke sebuah tempat di bagian lereng di sebelah timur. Urutan Markus adalah kebalikan dari arah yang diambil oleh Yesus, tetapi Markus memandang tempat-tempat tersebut dari arah Yerusalem yang disebut lebih dahulu. Yohanes memberi alasan untuk beranggapan bahwa Yesus tiba di Betania pada hari Jumat (12:1). Karena perjalanan ke Yerusalem makan waktu lebih daripada perjalanan satu hari Sabat, diperkirakan bahwa Kristus berada di Betania sepanjang hari Sabtu dan bahwa peristiwa "masuk Yerusalem dengan dielu-elukan" terjadi pada hari Minggu.

    Ayat 2. Kampung yang dimaksud adalah Betfage, sebagaimana dijelaskan Matius 21:1. Yang di depanmu itu. Maksudnya, "di seberangmu". Apakah Yesus mengetahui adanya keledai itu karena pengamatan sebelumnya atau melalui penglihatan adikodrati, hal itu tidak dijelaskan.

    Ayat 3. Tampaknya Yesus sudah mengetahui bahwa pemilik keledai itu akan mengenal siapa Tuhan dan akan dengan rela meminjamkan hewan itu. Naskah Yunani yang lebih baik berbunyi dan Dia akan secepat mungkin mengirim hewan itu kembali, sebuah janji dari Yesus untuk mengembalikan hewan itu. Matius mengatakan ada dua hewan, seekor keledai betina dan anaknya (21:2).

    Ayat 7. Pakaian mereka yang diletakkan di atas punggung keledai itu adalah jubah bagian luar sehingga warna-warninya membuat penampilan keledai itu seperti memakai pakaian kerajaan.

    Ayat 8. Banyak orang menghamparkan pakaian mereka di jalan, menjadikan-Nya seperti permadani kerajaan untuk dilalui arak-arakan itu. Yang lain menyebarkan ranting-ranting hijau di jalan yang dilalui. Yohanes menggambarkan ranting-ranting itu sebagai daun-daun palem (12:13).

    Ayat 9. Orang banyak itu mengelilingi Tuhan; ada yang berjalan di depan dan yang lainnya mengikuti dari belakang. Mereka terus berseru (bentuk waktu imperfect Yunani), Hosana. Istilah ini merupakan peralihan dari ungkapan Ibrani yang berarti: "Berilah kiranya keselamatan", yang diambil dari Mazmur 118:25. Ungkapan ini telah menjadi ucapan syukur dan seruan kemenangan maupun seruan meminta tolong. "Diberkatilah Dia yang datang" ... merupakan kutipan yang persis dari Mazmur 118:26 (LXX). Mazmur ini merupakan salah satu Mazmur Halel yang dinyanyikan di dalam kaitan dengan perayaan Paskah sehingga sangat cocok untuk kesempatan itu. Bahwa orang banyak mempergunakan kata-kata itu dalam pengertian Mesianis menjadi jelas dalam ayat berikutnya.

    Ayat 10. Orang-orang itu merasa bahwa Kerajaan Daud yang berkaitan dengan Mesias akan segera didirikan. "Hosana di tempat yang mahatinggi," tidak diragukan lagi berarti, "Selamatkan kami sekarang, wahai Dikau yang ada di tempat yang mahatinggi". Seruan ini dialamatkan kepada Allah sendiri.

    Ayat 11. Ia masuk ke Bait Allah. Kata "hieron" mengacu kepada seluruh daerah tempat ibadah itu, termasuk serambi dan halaman dalam. Pada saat Ia meninjau semuanya, pasti mata-Nya telah melihat meja-meja para penukar uang dan penjual burung merpati, hal-hal yang membuat-Nya tidak senang ketika Ia datang keesokan harinya.

    Ayat 12. Keesokan harinya. Maksudnya Senin, setelah menginap semalam di Betania, Tuhan kembali menuju Yerusalem.

    Ayat 13. Wajar jika pohon ara di sekitar Yerusalem mengeluarkan daun-daun yang hijau pada akhir Maret atau awal April, saat perayaan Paskah. Pohon ini tampaknya penuh daun sehingga seharusnya ada buah ara matang, sekalipun saat matangnya buah ara adalah bulan Juni. Bahwa daun-daun itu yang membuat Yesus mengira ada buahnya kelihatan dari kata Yunani yang diterjemahkan sebagai kalau-kalau. Inilah kata penghubung ara yang artinya "karena itu". Dari jauh, Yesus melihat pohon ara yang sudah berdaun dan Dia mendekatinya untuk melihat "kalau-kalau karena itu Dia bisa menemukan buah".

    Ayat 15. Ini merupakan pembersihan kedua atas Bait Suci, yang bagaimanapun juga tidak sama dengan pembersihan pertama yang terjadi pada awal pelayanan Kristus (Yoh. 2:13-17). Mereka yang berjual-beli, para penukar uang, dan para pedagang merpati semuanya bekerja untuk anak dan keluarga imam besar. Hewan-hewan itu dijual sebagai binatang untuk dikurbankan, dan para penukar uang menukarkan mata uang umum dengan 0,5 syikal untuk membayar iuran Bait Suci. Akan tetapi, diberlakukan nilai tukar yang tinggi melebihi biasa.

    Ayat 17. Kutipan Yesus berasal dari Yesaya 56:7, ketika sang nabi menyatakan rumah Allah sebagai rumah doa, sebuah tempat yang dikhususkan untuk hal-hal yang suci. Tuhan bukan hanya menuduh mereka menajiskan Bait Suci dengan menggunakannya untuk maksud-maksud dagang, tetapi Dia juga menunjukkan bahwa mereka memperoleh keuntungan haram melalui harga-harga yang sangat berlebihan. Sarang penyamun. Diambil dari Yeremia 7:11.

    Ayat 20. Pagi-pagi. Yang dimaksud adalah Selasa pagi, dan Kristus pada hari itu kembali ke Yerusalem.

    Ayat 22. Satu-satunya makna pengutukan pohon ara yang dinyatakan dalam kitab-kitab Injil terdapat dalam ayat-ayat ini. Yesus menggunakannya sebagai contoh tentang percaya kepada Allah. Makna simbolis lainnya tidak memiliki pembenaran dalam Alkitab.

    Ayat 24. Percayalah. Bentuk waktu kini imperatif. Memerlukan iman yang teguh dan berkesinambungan. Menerima fakta-fakta dari naskah yang lebih bagus menyukai bentuk waktu aoris "kamu sudah menerima". Dengan kata lain, kita diharuskan tetap percaya bahwa Allah telah mengabulkan permohonan kita.

    Ayat 25. Ampunilah ... supaya juga Bapamu ... mengampuni kesalahan-kesalahanmu semacam ini. Pernyataan-pernyataan semacam ini, yaitu yang menjadikan pengampunan Allah tergantung pada pengampunan kita telah disalahartikan sebagai bersifat resmi. Akan tetapi, Kristus di sini tidak berbicara kepada orang yang belum diselamatkan, melainkan kepada murid-murid-Nya, yaitu mereka yang sudah memiliki hubungan yang menyelamatkan dengan diri-Nya. Pengampunan yang Ia maksudkan bukan tindakan pengampunan secara hukum yang menghapuskan kesalahan dosa. Yang dimaksudkan justru adalah pengampunan seorang ayah yang memulihkan hubungan. Inti yang dikemukakan di sini ialah bahwa seorang murid tidak dapat berdoa dengan efektif apabila sikap tidak mau mengampuni telah merusak persekutuannya dengan Allah.

  3. ANEKA KONTROVERSI TERAKHIR DENGAN PARA PEMIMPIN YAHUDI (Markus 11:27-12:44)

  4. Perdebatan-perdebatan yang tercatat di dalam bagian ini semuanya terjadi pada satu hari yang sibuk, hari Selasa dalam minggu sengsara. Pokok-pokok yang dipersoalkan adalah sumber kuasa Yesus (11:27-33), perumpamaan tentang para penggarap kebun anggur dan (12:1-12), soal membayar pajak (12:13-17), kebangkitan (12:18-27), hukum paling utama (12:28-34), dan hubungan antara Mesias dengan Daud (12:35-40). Bagian ini diakhiri dengan kisah mengenai janda yang mempersembahkan 2 peser (12:41-44).

    Ayat 27. Tiba pula di Yerusalem. Ini terjadi pada hari Selasa pagi. Berbagai tanggapan mengenai pohon ara yang mengering (ay. 20-25) dibahas dalam perjalanan menuju Yerusalem. Imam-imam kepala, secara teknis hanya ada satu Imam Besar, tetapi istilah jadinya berarti semua mantan imam besar yang masih hidup. Dalam hal ini, paling tidak Hanas, bapak mertua Imam Besar Kayafas, tentu ikut terlibat.

    Ayat 28. Pertanyaan mereka ada dua jenis: Jenis (poid) kuasa apakah yang Engkau miliki? Dari manakah kuasa itu diperoleh? Yang dimaksudkan oleh para pejabat dengan hal-hal itu ialah tindakan Kristus membersihkan Bait Suci (bdg. Yoh. 2:18). Dikatakan bahwa Bait Suci hanya dapat dibersihkan oleh Sanhedrin, oleh seorang nabi, atau oleh Mesias.

    Ayat 30. Dari surga. Dalam usaha mereka untuk menghindari penggunaan nama Ilahi, orang Yahudi sering kali memakai istilah "surga" ketika berbicara tentang Allah.

    Ayat 31, 32. Melalui pertanyaan ini, Yesus memberikan kepada para pemuka agama ini buah simalakama. Apabila pelayanan Yohanes bersumber dari Tuhan, maka seharusnya, selaku pemimpin rohani, merekalah yang pertama-tama percaya kepadanya. Namun, apabila mereka menyatakan bahwa pelayanan Yohanes itu berasal dari manusia, itu berarti mereka merendahkan Yohanes menjadi seorang penipu, dan pandangan ini akan memancing ketidaksenangan orang banyak terhadap mereka.

  5. APOKALIPS BUKIT ZAITUN (13:1-37

  6. Khotbah di Bukit Zaitun terjadi pada Selasa sesudah percekcokan di halaman Bait Suci dengan para pemimpin Yahudi berakhir. Khotbah ini dibagi-bagi menjadi bagian-bagian seperti berikut: pertanyaan para murid (13:1-4), kondisi-kondisi yang merupakan ciri khas zaman ini (13:5-13), krisis yang akan datang (13:14-23). Kedatangan Kristus yang kedua kali (13:24-27), pengajaran untuk berjaga-jaga (13:28-37).

    Ayat 1. Mengingat penggambaran Bait Suci oleh Yosefus, tidak mengejutkan kalau salah seorang murid mengungkapkan kekagumannya atas kukuhnya batu-batu dan megahnya gedung-gedung itu. Yosefus melukiskan batu-batu itu sebagai berukuran 37 x 12 x 18 kaki. Dia selanjutnya mengatakan bahwa, "Bagian depan seluruhnya terbuat dari batu yang digosok sedemikian rupa sehingga keserasiannya, bagi yang belum menyaksikan, tidak masuk akal, dan bagi mereka yang sudah menyaksikan, sangat menakjubkan" (Antiquities. XV.xi.3-5).

    Ayat 2. Yesus memakai bentuk negatif ganda yang kuat dari bahasa Yunani (ou me) sebanyak dua kali di dalam ayat ini untuk menyatakan bahwa tidak satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Adalah sangat pasti bahwa Bait Suci itu akan dimusnahkan sama sekali, suatu kenyataan yang dibenarkan oleh sejarah ketika pada tahun 70 M di bawah pemerintahan Titus, Bait Suci itu, bersama dengan kota Yerusalem, dihancurkan.

    Ayat 4. Itu jelas mengacu kepada nubuat dalam 13:2. Namun, ada alasan untuk beranggapan bahwa para murid juga memaksudkan rangkaian peristiwa pada akhir zaman. Pertanyaan mereka yang kedua memperjelas pertanyaan yang pertama karena menanyakan tanda yang akan menunjukkan bahwa penggenapan akan segera terjadi. Dari Matius, kita mengetahui bahwa para murid juga menanyakan tanda kedatangan Kristus dan tanda akhir Zaman (24:3).

    Ayat 5. Yesus mulai menjawab dengan melukiskan keadaan yang merupakan ciri khas zaman ini (ay. 5-13). Yang pertama adalah adanya para penyesat yang harus senantiasa diwaspadai oleh para murid (bentuk waktu sekarang imperatif Yunani).

    Ayat 6. Memakai nama-Ku. Kata-kata ini mengacu kepada kedatangan mesias-mesias palsu, yang akan mengklaim kedudukan dan kekuasaan yang hanya dimiliki oleh Kristus. Nubuat ini telah digenapi berkali-kali. Mungkin tokoh paling menyolok yang mengucapkan klaim semacam itu ialah Bar Kokhba (132 M).

    Ayat 8. Perang merupakan ciri khas dari semua zaman, seperti halnya gempa bumi dan kelaparan. Semua keadaan ini dilukiskan sebagai permulaan penderitaan. Dengan demikian, semua ini diperhadapkan dengan kesudahan segala sesuatu (ay. 7). Kata "penderitaan" sesungguhnya berarti kesakitan waktu melahirkan, sebuah istilah yang dipakai orang Yahudi untuk melukiskan berbagai penderitaan dan bencana yang akan mengantarkan kedatangan Mesias.

    Ayat 9-14. Ciri lain dari zaman ini ialah pemberitaan Injil ke seluruh dunia. Akhir zaman (ay. 7) tidak akan datang bila tugas penginjilan tidak diselesaikan dahulu. Matius 24:14 mengakhiri pernyataan ini dengan mengatakan, sesudah itu barulah tiba kesudahannya, yang mengacu pada akhir zaman. Di tengah-tengah semua gangguan, kemerosotan moral, dan penganiayaan, daya tahan menjadi tanda kesungguhan rohani. Kesudahannya, sebab keadaan-keadaan yang dilukiskan dalam Markus 13:5-13 berlangsung berabad-abad, maka "kesudahan" yang dimaksudkan di sini bukanlah akhir zaman, melainkan akhir hidup di dunia atau akhir kesusahan tersebut. Selamat. Di dalam konteks ini, tidak mungkin yang dimaksudkan adalah keselamatan jasmaniah. Yang dijanjikan di sini ialah orang yang bertahan akan diselamatkan secara rohani. Namun, daya tahan ini bukan dasar bagi seseorang untuk diselamatkan. Selaras dengan ajaran Perjanjian Baru, daya tahan ini harus dilihat sebagai hasil dari kelahiran baru (bdg. Rm. 8:29-39; 1 Yoh. 2:19). Orang yang telah dilahirkan baru, dan karena itu juga tetap bertahan, pasti akan mengalami keselamatan sempurna.

    Ayat 15-24. Kebutuhan untuk bergegas akan demikian mendesak sehingga tidak ada waktu untuk mengambil pakaiannya ketika melarikan diri. Waktu itu akan merupakan saat yang sangat sulit bagi ibu-ibu yang sedang hamil dan yang sedang mempunyai bayi. Apabila terjadi pada musim dingin keadaan tersebut akan makin mempersulit situasi yang sudah sulit. Gambaran yang singkat tentang siksaan pada masa itu memang berkaitan dengan berbagai peristiwa mengerikan pada tahun 70 M sebagaimana ditunjukkan dalam karya Josefus, "Wars of the Jews" (Pendahuluan. 4:V. VI). Sekalipun demikian, terdapat alasan untuk beranggapan bahwa Kristus melihat lebih jauh melampaui zaman Romawi pada masa siksaan terakhir yang akan mendahului kedatangan-Nya yang kedua. Ayat 20, tidak mungkin membatasi ayat ini hanya pada situasi tahun 70 M. Tidak ada penjelasan berlandaskan pada pembatasan semacam itu yang bisa memuaskan. Di dalam ayat ini terdapat unsur-unsur yang jauh melebihi zaman tersebut dan lebih tepat apabila dikaitkan dengan akhir zaman. Sebutan "orang-orang pilihan" tampaknya menunjuk pada orang-orang yang selamat melewati Masa Siksaan Besar, sesaat sebelum Kristus datang kembali. Bagi mereka inilah, Allah telah mempersingkat waktu dari masa siksaan yang mengerikan itu. Ayat 22, para penyesat itu akan demikian berani sehingga mereka akan berusaha untuk menyesatkan orang-orang pilihan. Sekalipun demikian, anak kalimat, sekiranya mungkin, menunjukkan bahwa mereka tidak mungkin berhasil. Mengenai apa yang dimaksudkan dengan orang-orang pilihan, lihat Lukas 18:7; Roma 8:33; Kolose 3:12; I Petrus 1:2.

    Ayat 25-30. Nubuat sekarang berpindah kepada kedatangan kedua (ay. 24-27). Kristus secara khusus menempatkan peristiwa besar ini sesudah siksaan itu, yang jelas mengacu kepada waktu yang dilukiskan dalam Markus 13:14.23. Hal ini memerlukan salah satu dari dua penjelasan. Entah itu berarti Kristus akan datang tidak lama sesudah tahun 70 M atau, semua penganiayaan dalam ayat 14-23 memiliki acuan ganda, yaitu mengacu pada penghancuran Yerusalem oleh Titus dan pada masa penganiayaan besar pada akhir zaman. Ayat 27. Pada titik kebangkitan orang benar yang sudah mati dan transformasi orang kudus yang masih hidup akan terjadi (bdg. I Kor. 15:51-53; I Tes 4:13-18). Ayat 28, 29, setelah selesai melukiskan rangkaian peristiwa masa depan, Tuhan beralih ke pembahasan tentang perlunya berjaga-jaga (ay. 28-37). Tidak ada petunjuk bahwa yang dilambangkan dengan pohon ara di sini adalah Israel. Justru, perumpamaan ini merupakan peragaan sederhana tentang kebenaran bahwa rangkaian peristiwa itu akan terjadi membayangi mereka. Apabila semua ini mulai terjadi, kita akan mengetahui bahwa kesudahan sudah dekat. Hal-hal itu yang dimaksudkan oleh Kristus adalah peristiwa-peristiwa yang dilukiskan dalam ayat 14-25. Penjelasan yang paling masuk akal dari ungkapan, angkatan ini, ialah bahwa ungkapan tersebut mengacu kepada orang-orang yang hidup ketika Kristus berbicara. Dalam masa hidup mereka, semua hal ini akan terjadi pada saat penghancuran Yerusalem dalam tahun 70 M. Peristiwa ini dipergunakan oleh Kristus sebagai lukisan pendahuluan yang memberikan gambaran pendahuluan tentang akhir zaman dengan segala ciri hakikinya (bdg. Mrk. 9:1).

    Ayat 32-36. Hari dan saat dari kedatangan kembali Kristus tidak dapat diketahui oleh manusia. Sesungguhnya, waktu itu hanya diketahui oleh Allah Bapa. Pernyataan bahwa Anak juga tidak mengetahui saat itu harus dipahami dengan mengingat pembatasan diri yang dilakukan oleh-Nya selama masa Dia direndahkan (bdg. Flp. 2:5-8). Dia telah mengambil kedudukan tunduk sepenuhnya kepada Bapa, dengan mempergunakan sifat-sifat ilahi-Nya hanya apabila diminta oleh Bapa (bdg. Yoh. 8:26, 28, 29). Ayat 33, "hati-hatilah". Bentuk waktu sekarang imperatif ini mengharuskan kewaspadaan yang terus-menerus. Hal yang sama berlaku bagi kata kerja "berjaga-jagalah", yang artinya ialah menjaga agar tetap terjaga. Keadaan berjaga-jaga semacam itu diperlukan, sebab kita tidak mengetahui kapan rangkaian peristiwa akhir zaman ini akan melanda kita. Ayat 35, "seorang murid harus terus berjaga-jaga (bentuk waktu sekarang Yunani). Kata kerja ini, sebagaimana yang terdapat dalam ayat 33, berarti terjaga atau terjaga terus. Orang harus waspada terus sebagai lawan dari tertidur atau mengantuk (Arndt, hlm. 166; bdg. ay. 36). Keadaan berjaga-jaga ini diperlukan kalau-kalau Tuhan datang ketika kita tidak menduganya. Inilah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan kedapatan sedang tidur. Bagi orang yang sedang tidak berjaga-jaga, kedatangan Kristus akan terasa mendadak. Orang yang berjaga-jaga akan melihat tanda-tanda kedatangan kembali Kristus (ay. 28, 29) dan tidak akan terperanjat.

Taxonomy upgrade extras: