SIM - Referensi 05b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Studi Injil Markus
Nama Pelajaran : Pelayanan Kristus di Yerusalem
Kode Pelajaran : SIM-R05b

Referensi SIM-R05b diambil dari:

Judul Buku : Kehidupan Yesus Kristus
Judul Artikel : Satu Minggu Terakhir Pelayanan Yesus Kristus
Penulis : Isak Suria, D.Th.
Penerbit : YT Leadership Foundation
Halaman : 573 -- 601

REFERENSI PELAJARAN 05b - PELAYANAN KRISTUS DI YERUSALEM

SATU MINGGU TERAKHIR PELAYANAN YESUS KRISTUS

  1. Yesus Kristus Dielu-Elukan di Yerusalem
  2. Keesokan harinya, Yesus dan murid-murid-Nya berangkat ke Yerusalem dan tiba di Betfage yang letaknya di Bukit Zaitun. Yesus menyuruh dua orang murid-Nya untuk pergi ke kampung di depannya untuk mengambil seekor keledai betina dan anaknya yang belum pernah ditunggangi, lalu membawa kepada-Nya. Jikalau ada orang yang menanyakan hal ini, mereka harus mengatakan bahwa Yesus memerlukannya (pemilik keledai ini adalah orang yang sudah merasakan pelayanan Yesus), setelah itu akan dikembalikan ke tempat ini. Dua murid itu pergi, dan betul saja, mereka menemukan keledai yang dimaksud. Lalu, keledai itu dilepaskan talinya dan dibawa kepada Yesus. Jikalau Tuhan memerlukan, apakah akan diberikan? Tuhan adalah yang empunya semua, sedangkan yang kita miliki adalah pemberian Dia. Orang ini memberikan keledainya, walaupun keledai itu masih muda untuk ditunggangi oleh Yesus. Keledai muda yang belum ditunggangi dan Yesuslah yang pertama menungganginya. Dalam hal ini, Yesus tidak naik kuda, sebab keledai adalah binatang yang menanggung beban dan kuat berjalan. Sama seperti keledai yang bangkit dari beban berat yang menindihnya, tetapi ketika melihat negeri yang kekal, ia bangun. Sekarang, pemilik negeri kekal itu ada di atas keledai itu.

    Keledai itu dialasi dengan pakaian dan Yesus naik di atas anak keledai itu, dari Betfage menuju ke Yerusalem, sesuai dengan nubuat Nabi Zakharia (Zak. 9:9). Semua nubuat dalam Perjanjian Lama harus digenapi oleh Yesus sehingga peristiwa ini pun harus dijalani. Ketika orang banyak mendengar Yesus sedang menuju ke Yerusalem sambil menunggang keledai, mereka yang telah menyaksikan kebangkitan Lazarus mulai menceritakan tentang Yesus sebagai Mesias sehingga semakin banyak lagi yang berdatangan. Lalu, mereka menyambut Tuhan dengan memegang daun-daun palem, menyerakkan ranting-ranting hijau di jalan, dan juga menghamparkan pakaian-pakaian mereka supaya Yesus berjalan di atas pakaian mereka, sambil berseru, "Hosana diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan." Nyanyian ini adalah kutipan dari Mazmur l18:26, yaitu nyanyian Haleluyah. Nyanyian ini dinyanyikan ketika bangsa Israel merayakan hari raya Pondok Daun, tetapi sekarang dinyanyikan menjelang Paskah dan ini tidak biasa. Mungkin, hanya sekali ini peristiwa itu terjadi. Semua orang bergembira dan memuji Allah dengan suara nyaring oleh karena segala mukjizat yang telah mereka lihat. Namun, dari mulut mereka jugalah, beberapa hari kemudian mereka berkata, "Salibkan Dia." Hari ini, ia mengatakan Yesus adalah Raja, keesokan harinya ia mengatakan, "Salibkan Dia." Ketika Yesus masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan berkata, "Siapakah orang itu?" Beberapa orang Farisi yang turut orang banyak itu berkata kepada Yesus untuk menegur murid murid-Nya supaya berhenti memuji Tuhan. Namun, Yesus berkata, "Jikalau mereka diam, batu itu akan berteriak.”

    Ketika Yesus melihat kota itu, Ia menangis (mencucurkan air mata), sebab melihat bahwa suatu waktu kota itu akan dikepung musuh dari segala penjuru sehingga semua penduduknya binasa, dan tidak ada satu batu pun yang terletak di atas batu yang lain, artinya kota Yerusalem akan musnah, hancur. Dan, ini terjadi pada tahun 70, ketika Jendral Titus Vespasianus mengepung Yerusalem, negeri itu hancur. Sungguh, sesuatu yang kontras di tengah kegembiraan, Yesus menangis sedih (Luk. 19:41-44).

  3. Pohon Ara yang Tidak Berbuah.
  4. Setelah Yesus naik keledai ke Yerusalem dengan suatu bunyi sorak-sorak dari orang banyak yang mengikuti-Nya, Yesus kembali lagi ke Betania dan bermalam di sana. Ia tidak tidur di Yerusalem, sebab penduduk Yerusalem sedang merencanakan hendak membunuh Yesus sehingga Ia lebih senang tinggal di Betania, sebab di sana ia diterima dengan senang hati.

    Pagi-pagi, Yesus dengan murid-murid-Nya kembali ke Yerusalem. Dalam perjalanan, Ia merasa lapar. Yesus lapar sekali, Ia ingin makan buah-buahan. Ia melihat pohon ara di pinggir jalan, mungkin ada buahnya. Ternyata, pohon itu tidak ada buahnya, lalu Yesus berkata, "Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya." Yesus lapar, apakah Yesus tidak bisa menahan diri untuk tidak makan? Tentu Yesus dapat. Ia sendiri berpuasa 40 hari 40 malam, suatu jangka waktu yang lama. Yesus marah bukannya karena soal perut yang tidak diisi, bagi Yesus itu masalah kecil. Misalnya, waktu murid-murid tidak membawa makanan, Yesus diam saja, bahkan Ia memberitakan Injil kepada perempuan Samaria. Ketika para murid datang membawa makanan, Yesus masih menunggu perempuan itu, sebab makanan Yesus adalah melakukan kehendak Bapa. Jadi, makanan di sini bukan untuk perut, tetapi masalah kepuasan. Yesus ingin dipuaskan, tetapi pohon itu tidak menghasilkan buah yang bisa memuaskan diri-Nya. Sebab, Yesus menginginkan, baik ada musim atau tidak, tetap berbuah. Inilah buah pelayanan.

    Pohon ara melambangkan bangsa Israel (Hos. 9:10; Mat. 24:32). Sudah tiga tahun lebih, Yesus melayani bangsa Israel dan sudah banyak orang melihat pekerjaan-Nya, tetapi apakah mereka sudah berbuah-buah? Demikian juga terhadap kita, Yesus lapar dan ingin buah-buah yang ada di hidup kita, Ia ingin dipuaskan dengan keberadaan kita. Dahulu, Yesus menemukan buah di atas pohon ara, yaitu Zakheus, seorang pemungut cukai. Yesus memetik Zakheus sehingga bertobat. Lalu, ia menyerahkan hidupnya kepada Yesus, dan saat itu juga Zakheus menjadi anak Abraham. Sekarang, pohon ara tidak berbuah. Jadi, tampak sekali semakin hari semakin tidak ada buahnya. Ini tidak dikehendaki Tuhan, ini artinya merosot.

    Sebenarnya, pohon itu hendak ditebang, sebab tidak berbuah, tetapi karena tukang kebun menahannya, maka hal itu ditangguhkan karena masih mengharapkan kemungkinan berbuah (Luk. 13:6-9). Mengapa bangsa Israel tidak menghasilkan buah? Sebab, mereka menolak tinggal dalam naungan dan perlindungan Allah. Yesus melihat mereka sambil menangis, sebab saatnya nanti Yerusalem akan dikepung, lalu Bait Allah dihancurkan dan tidak berdiri lagi sampai sekarang. Yesus bagaikan seseorang yang tahu segala sesuatu dan apa yang harus diperbuat-Nya, tetapi tidak berdaya sebab orang yang hendak ditolong-Nya tidak mau.

    Yesus lapar akan "buah-buah" Israel, sedangkan waktu kematian-Nya sudah dekat. Dia ingin menikmatinya. Namun, pohon itu tidak berbuah, hanya ada daun. Memang bangsa Israel tidak mungkin berbuah tanpa Yesus, sebab Benih itu harus mati dan ditanam barulah menghasilkan buah. Yesus harus ditinggikan lebih dahulu supaya umat-Nya menghasilkan buah. Tuhan tidak memerlukan daun, Tuhan memerlukan buah. Daun memang menutupi ketelanjangan pohon, tetapi tidak bermanfaat.

    Markus menulis karena memang belum musimnya. Peristiwa ini terjadi sekitar bulan Maret dan di Israel mendekati musim semi, ketika Paskah hendak dimulai. Tuhan juga tahu sudah musimnya atau belum, tetapi yang Tuhan pikirkan harus tetap ada buahnya, sebab waktu-Nya sudah hampir tiba, yaitu Golgota. Bagi anak Tuhan, tidak ada musim, sebab air yang mengalirinya juga tidak mengenal musim. Kapan pun, dan dalam kondisi apa pun, umat Tuhan harus berbuah. Akhirnya, Tuhan pun berkata, "Dari padamu tidak akan pernah mengeluarkan buah."

    Ketika Yesus mengatakan seperti ini, suatu keputusan telah dikeluarkan, bahwa Yerusalem dan Bait Allah akan dihancurkan. Betul saja pada tahun 70, Jenderal Titus Vespasianus mengepung Yerusalem dan kota itu hancur sehingga tidak ada satu batu pun yang bertumpuk. Walaupun Yerusalem sekarang masih ada, tetapi Bait Allah sudah tidak ada, tempatnya sudah diganti dengan yang lain. Bait Allah tidak akan berdiri lagi karena bait Allah yang sebenarnya adalah Yesus sendiri dan gereja Tuhan.

  5. Yesus Membersihkan Bait Allah untuk Kedua Kalinya
  6. Yesus bersama rombongan pergi melewati Lembah Kidron di sisi timur kota, mendaki lereng bukit, dan melewati Gerbang Indah. Pintunya yang terbuat dari perunggu mengarah langsung ke Bukit Sion, tempat berdirinya Bait Allah. Sebagian besar orang di Bait Allah adalah pedagang yang menjajakan dagangannya di lapangan orang bukan Yahudi, di sebelah selatan Bait Allah. Begitu Yesus melewati Gerbang Indah menuju Serambi Salomo, Dia bisa mendengar lenguhan binatang dan kicau burung beserta riuh rendah keramaian pasar. Begitu melewati belokan, Dia marah dengan apa yang dilihat sebelumnya. Namun, pada hari itu, Dia meledak penuh kemarahan. Bait Allah tampak seperti sebuah pasar daripada rumah doa. Yesus mengusir mereka dan tidak ada orang yang bisa menghentikan-Nya. Para pedagang tidak mengatakan apa pun. Imam-imam kepala, ahli Taurat, dan anggota Sanhedrin yang berada di sana melihat kemarahan Yesus dan mereka hanya bisa melihat. Namun, mereka semakin terbakar hatinya untuk membunuh Yesus. Dia tidak mengizinkan siapa pun membawa barang melewati Bait Suci. Betapa semangatnya Yesus membela rumah Bapa-Nya. Sambil berbuat demikian, Yesus mengatakan bahwa telah tertulis, "Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa, tetapi kamu telah menjadikannya gua penyamun." Jika yang menghalau para pedagang itu orang lain, bukan Yesus, mereka mungkin telah ditangkap oleh pengawal Bait Allah dan dipukuli. Akan tetapi, Yesus memiliki otoritas rohani dan kemarahan yang benar sehingga Dia tidak dihentikan. Dan, mereka takut akan mukjizat yang dibuat-Nya. Dia juga terlalu populer sehingga takut memicu kekacauan, jumlah pendukung-Nya masih lebih banyak dari petugas dan para pedagang jika terjadi sebuah kerusuhan. Jadi, mereka membiarkan-Nya mengusir para pedagang dari Bait Allah.

    Rumah Tuhan, yang adalah kita, merupakan rumah doa (Ibr. 3:6). Ini menunjukkan bahwa kehidupan gereja adalah kehidupan berdoa. Dalam Kisah Para Rasul 12, di rumah Maria, ada sekelompok orang sedang berdoa, mereka berdoa untuk Petrus yang sedang dipenjara. Ketika kita melihat adanya satu keperluan dalam gereja, jangan mengomentarinya, tetapi harus berdoa dengan beban. Melihat ada seorang saudara menjadi kesulitan, janganlah menggunjingkannya, tetapi berdoalah untuk masalah ini. Ketika membicarakan doa gereja, bukan berarti tidak mementingkan doa pribadi atau memandang remeh doa pribadi, melainkan selain doa pribadi, kita pun memerlukan doa gereja karena ini adalah satu hukum dalam Kerajaan Allah. Ada kalanya terhadap suatu perkara, satu orang tidak mampu menanganinya, kita perlu berkumpul bersama, saling membantu. Dalam hal berdoa, kita perlu mohon Tuhan berbelaskasihan kepada kita. Dan, orang banyak mulai mencari cara bagaimana dapat membunuh-Nya, sebab seluruh orang terkagum-kagum kepada Yesus. Hati Yesus selalu membara jikalau rumah Allah hendak dijadikan gua penyamun. Rumah Allah adalah hidup kita sendiri. Jikalau dijadikan sarang penyamun, Allah sendiri yang akan menjungkirbalikkan segala sesuatu yang menghalangi pekerjaan Tuhan.

  7. Membayar Pajak kepada Kaisar
  8. Orang Farisi, ahli Taurat, dan orang Herodian tidak henti-hentinya ingin menjerat Yesus supaya mereka mempunyai alasan untuk membunuh-Nya, tetapi Yesus selalu lepas dari sasarannya, sebab hikmat-Nya melampaui segala pikiran manusia. Mereka mengepung Yesus dengan banyak pertanyaan yang sulit dan jika Yesus terjebak, dengan mudahnya mereka membawa ke pengadilan, sebab selama ini mereka tidak menemukan kesalahan sedikit pun dalam diri Yesus. Sekarang, orang Farisi menyuruh murid-murid-Nya bergabung dengan orang Herodian yang bertanya tentang masalah upeti atau pajak yang diberikan kepada kaisar. Sebenarnya, orang Farisi membenci orang Herodian karena mereka pengikut Raja Herodes, tetapi karena mereka sama-sama membenci Yesus, maka timbul persekutuan. Ini adalah persekutuan dosa, dan persekutuan ini tidak mungkin kekal. Persekutuan dunia hanya sesaat dan berdasarkan kepentingan pribadi. Jangan percaya dengan persekutuan daging, nanti rugi. Kita ini memiliki persekutuan Tubuh Kristus, dan persekutuan ini sampai ke surga yang kekal. Orang Farisi mengutus murid-murid-Nya yang sedang bersekolah rabi untuk bertanya mengenai pajak tersebut. Baru menjadi murid sudah diajarkan Yang jahat. Kebencian menutupi mata hati orang.

    Ketika menghadap Yesus, mereka memuji-muji Tuhan sebagai seorang yang jujur dan berani, tidak takut kepada siapa pun. Ini taktik yang dunia sering pakai untuk menjebak seseorang, yaitu kata-kata yang manis. Namun, Tuhan tidak akan terjebak, sebab Ia tahu isi hati manusia sehingga tidak semua pujian manusia diterima oleh Yesus, hanya orang yang tulus hatinya. Mereka berkata, "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? (kensos = pajak Romawi yang dikenakan kepada setiap orang Yahudi, sebagai tanda tunduk. Orang Yahudi benci kepada peraturan ini, sebab mereka hanya boleh membayar pajak kepada Allah). Mereka merasa kali ini akan menang, sebab jika Yesus berkata, "Ya," Yesus bukan Mesias, sebab Ia tunduk kepada Kaisar Romawi, dan seluruh orang Farisi akan menangkap Yesus karena Ia Mesias palsu. Jikalau Yesus berkata, "Tidak," Yesus akan berhadapan dengan orang Romawi dan ditangkap oleh golongan Herodian, bahwa Yesus hendak memberontak. Mereka akan melaporkan semua kepada Pilatus. Yesus yang tahu hati mereka yang jahat langsung berkata, "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang munafik?" (Matius menulis mereka itu sebagai yang memiliki hati yang jahat terhadap Yesus, sedangkan Markus menulis sebagai munafik; Lukas menyebutnya licik). Lalu, Yesus menyuruh mereka membawa uang dinar (pajak dibayar dengan mata dinar sama dengan upah seorang tentara atau seorang pekerja untuk satu hari) kepada-Nya. Yesus tidak menunjukkan uang-Nya, sebab Yesus tidak berhubungan dengan uang, hanya manusia yang memiliki hubungan itu. Lalu, Yesus bertanya tentang gambar yang tertera di atas uang itu sambil berkata, "Gambar dan tulisan siapa?" Mereka menjawab bahwa itu adalah gambar dan tulisan kaisar (gambar kaisar Tiberius yang sering menganggap dirinya sebagai dewa). Lalu, Yesus berkata, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Jikalau koin itu bergambar Kaisar, rakyat sudah menggunakan koin itu untuk berbagai keuntungan, jadi bayarlah kepada kaisar apa pun yang dimilikinya. Demikian juga kita adalah gambar Allah, maka persembahkanlah hidup kita kepada Allah karena seluruh hidup kita milik Allah. Bukan sekadar membayar persepuluhan atau persembahan tatangan, tetapi seluruh hidup. Ajaran Yesus ini bukan menunjukkan suatu garis pemisah antara gereja dan pemerintahan, melainkan menggambarkan suatu hubungan dan tanggung jawab sebagai umat, baik kepada pemerintah maupun kepada Allah. Semua yang mendengarkan hal itu sangat takjub (exethaumazon-sangat heran) sehingga tidak dapat berbuat apa pun, sedangkan Lukas menulis, "... semuanya terdiam oleh jawaban itu. Itulah hikmat, jikalau hikmat berbicara, semua orang akan tunduk, sebab hikmat dari Allah tidak ada satu pun yang bisa membantahnya."

  9. Pertanyaan Orang Saduki tentang Kebangkitan
  10. Jika orang Herodian hendak menjebak Yesus dengan masalah tanggung jawab warga terhadap pemerintah, orang Saduki hendak menjebak Yesus tentang doktrin kebangkitan orang mati, sebab mereka tidak percaya adanya kebangkitan orang mati. Mereka hendak menunjukkan suatu pertentangan Alkitab dengan logika mengenai pernikahan levirat yang diajarkan Musa kepada bangsa Israel. Pernikahan "levirat" merupakan istilah dari bahasa Latin. "Levir" artinya “ipar” (Ulg. 25:5) (Kebiasaan semacam itu juga dilakukan bangsa lainnya, tetapi sekarang sudah tidak dipergunakan lagi. Oleh karena itu, kasus yang diajukan oleh orang Saduki tersebut bukan merupakan masalah hangat, melainkan sebuah teka-teki teologis.) Bagaimana di Kerajaan Surga nanti? Hukum Musa mengajarkan, “Jika seseorang menikah, lalu si laki-laki itu mati tanpa meninggalkan keturunan, maka saudaranya harus kawin dengan istrinya untuk mendapatkan keturunan saudaranya." Sekarang jika ada tujuh bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan tidak meninggalkan keturunan, lalu yang kedua mengawininya dan juga tidak mendapat keturunan. Kemudian, saudaranya yang ketiga, dan seterusnya sampai yang ketujuh, dan mereka mati semua. Akhirnya perempuan itu mati juga. Pada hari kebangkitan, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristrikan dia. Pertanyaan orang Saduki ini hanya untuk membenarkan pendapatnya bahwa tidak ada kebangkitan orang mati. Mendengar ucapan itu, Yesus menghardik mereka, "Kamu sesat (mereka menyesatkan diri sendiri dengan pendapatnya), sebab kamu tidak mengerti Kitab suci maupun kuasa Allah." Ada dua hal yang membuat orang Saduki sesat. Pertama, tidak mengerti Firman Allah. Maksudnya mereka tidak memahami apa yang diajarkan dalam Perjanjian Lama dan kedua. Kedua, tidak memahami kuasa Allah. Maksudnya mereka meremehkan kuasa Allah untuk membangkitkan orang mati dan untuk memecahkan semua masalah yang tampak sulit sehubungan dengan doktrin kebangkitan orang mati. Pikirannya membuat Firman Allah tertutup. Sebab, orang yang dibangkitkan dari antara orang mati hidupnya seperti malaikat di Surga dan tidak kawin atau mengawinkan. Dalam tubuh kebangkitan sudah tidak ada laki-laki atau perempuan. Semua sama seperti malaikat. Jadi, perkawinan itu hanya ada di dunia saja, di surga tidak ada kawin- mengawinkan. Ucapan Yesus menghapus kebingungan mereka bahwa ikatan pernikahan berlanjut terus sampai kepada kebangkitan. Pernikahan hanya ada di bumi. Perkawinan di dunia menggambarkan kesatuan yang kuat di antara manusia, yaitu suami istri, selain untuk menambah keturunan di bumi, yaitu benih Ilahi. Di surga hal itu tidak perlu, sebab semua sudah serupa dengan Kristus dan mereka menjadi anak-anak Allah yang tidak meninggal lagi. Jika demikian, apakah di surga suami-isteri saling mengenal satu sama lain. Ya, tetapi tidak dengan nafsu manusiawi, melainkan dengan pikiran Kristus. Tidak ada seksual di surga, semua berkeadaan suci seperti malaikat.

    Sementara itu, mengenai kebangkitan orang mati yang tidak dipercaya oleh orang Saduki, Yesus menjelaskan bahwa dalam hukum Taurat ditulis bahwa Firman Allah datang kepada Musa, "Akulah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub." Bukankah ini menunjukkan bahwa Allah itu hidup dan Abraham, Ishak, Yakub juga hidup, sebab Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Ucapan Allah Abraham, Ishak, dan Yakub telah menjadi bagian doa mereka untuk memberitahukan kepada Allah bahwa mereka satu bagian dalam rencana nenek moyang mereka, yaitu Abraham. Perkataan Yesus tidak bisa dibantah lagi.

Taxonomy upgrade extras: 

Komentar