SIM - Referensi 06a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Studi Injil Markus
Nama Pelajaran : Penderitaan dan Kebangkitan Kristus
Kode Pelajaran : SIM-R06a

Referensi SIM-R05b diambil dari:

Judul Buku : Satu Injil Tiga Pekabar
Judul Artikel : Yesus Mati di Kayu Salib
Penulis : B.F. Drewes, MTh.
Penerbit : PT BPK GUNUNG MULIA
Halaman : 148 -- 156

REFERENSI PELAJARAN 06a - PENDERITAAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS

YESUS MATI DI KAYU SALIB

Salib Kristus merupakan pokok utama dalam kabar Markus! Hal ini sangat terang sesudah pengakuan Petrus di Kaisarea Filipi. Sesudah itu, mulailah Yesus mengajar para murid-Nya secara terus terang tentang penderitaan yang akan datang (8:27-31). Pengajaran ini diulangi dalam 9:30-32 dan 10:32-34. Dalam bagian kedua dari Markus, kita juga makin dekat ke kota Yerusalem, tempat penyaliban.

Dalam bagian sebelum pengakuan Petrus, Yesus muncul sebagai Dia yang mengusir setan, yang berkuasa untuk mengampuni dosa, yang menguasai angin dan laut. Orang takjub. Namun, dalam bagian ini pula, kita membaca tentang perlawanan terhadap Yesus dan tentang hal-hal yang menunjuk pada penderitaan yang akan datang. Misalnya, dalam 2:20 dan 3:6. Ada ahli yang berpendapat bahwa Markus menyusun Injilnya untuk mengoreksi keyakinan di sekitarnya, keyakinan yang hanya mengakui kuasa dan mukjizat-mukjizat Yesus, dengan mengabaikan penderitaan-Nya dan penyaliban-Nya. Dalam kalangan ini, Yesus disembah sebagai "manusia ilahi" (bhs. Yunani: "theios aner"), yang menyatakan diri dengan pekerjaan-pekerjaan ajaib. Memang belum ada persetujuan di antara para ahli apakah pernah ada ajaran tentang manusia ilahi yang demikian. Bagaimanapun juga, sangat jelas bahwa Markus menekankan penderitaan dan penyaliban Yesus sebagai hal yang pokok dalam Injilnya. Yesus bukan seorang yang mengerjakan keajaiban-keajaiban saja dalam rangka penyataan Kerajaan Allah, melainkan Yesus adalah Anak Allah yang taat sampai di kayu salib. Hal yang paling ajaib dalam seluruh hidup-Nya ialah bahwa Ia datang "bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani". Sikap pelayanan diteruskan sampai di kayu salib. Dengan perkataan lain, bagian pertama dari Markus harus dibaca dalam terang bagian kedua.

Sekarang, mari kita memperhatikan sifat, sebab, dan makna kematian Yesus.

Sifat hukum penyaliban sangat mengerikan dan memalukan. Bagi orang Kristen sekarang, tanda salib menjadi suatu lambang dengan arti yang sangat agung. Sebab itu, sulit bagi kita untuk membayangkan betapa terhinanya hal salib dalam dunia di sekitar Yesus. Pada abad pertama SM, Cicero, seorang Romawi, menulis: "Hal salib itu. tidak hanya harus dijauhkan dari badan para warga Romawi, tetapi juga dari pikiran, mata, dan telinga mereka". Dengan lain perkataan, orang yang beradab bahkan tidak membicarakan salib! Hukuman ini dilakukan kepada budak, kepada penyamun yang memakai kekerasan, dan sering juga kepada pemberontak; jadi hukuman ini sering kali dilakukan berdasarkan tuduhan politis. Warga Romawi sendiri tidak boleh dihukum dengan cara yang hina ini. Memang dapat dimengerti apa yang ditulis Paulus dalam 1 Korintus 1:23 bahwa Mesias yang disalibkan adalah "untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang yang bukan Yahudi suatu kebodohan".

Apa sebab, menurut Injil Markus, Yesus dibunuh orang lain? Dua segi dapat kita perhatikan.

Yang pertama, permusuhan dari pihak pemimpin-pemimpin agama, yang sekaligus merupakan pemimpin bangsa Israel, bekerja sama dengan penguasa Romawi dan seorang murid Yesus (14:10, 11; 15:1, 15). Pemimpin bangsa Israel menolak ajaran dan sikap Yesus. Yesus dianggap sebagai bahaya bagi cara hidup yang teratur. Mereka menuruti peraturan-peraturan tentang pergaulan dengan orang berdosa, sedangkan Yesus bersikap lain (2:13-17), Yesus menghayati suatu sikap bebas terhadap peraturan tentang hari Sabat, dan tentang makanan yang halal atau tidak (2:23-3:6 dan 7:1-13). Dalam semua hal ini, Yesus mengambil sikap yang bebas berdasarkan kehendak Allah. Para pemimpin agama menolak kebebasan Yesus ini dan mengesampingkan Dia yang mengasihi sesama secara penuh dan yang mendobrak peraturan-peraturan tertentu, sebab Ia begitu mengasihi manusia. Dalam 3:6, sesudah Yesus menyembuhkan seseorang pada hari Sabat, untuk pertama kalinya kita mendengar tentang keinginan orang Farisi untuk membunuh-nya. Namun, keinginan ini tidak hanya muncul pada mereka, melainkan pada semua pemimpin. Para pemimpin bertemu di Mahkamah Agung, yang terdiri dari imam-imam kepala (sebagian besar kaum Saduki), ahli-ahli Taurat (sebagian besar orang Farisi), dan tua-tua (banyak di antara mereka adalah Orang Saduki). Dan, justru ketiga kelompok ini disebut Yesus dalam Markus 8:31: "Kemudian, mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat ...." Mereka bersama-sama menyuruh orang untuk menangkap Yesus (Markus 14:43), mereka semua berkumpul untuk mengadili Yesus (Markus 14:53). "Dengan suara bulat, mereka memutuskan bahwa Dia harus dihukum mati" dan Yesus diserahkan mereka kepada Pilatus (Markus 14:64; 15:1). Di hadapan Pilatus, penguasa Romawi itu, mereka nyatanya mengajukan suatu tuduhan yang berbau pemberontakan sehingga Pilatus bertanya: "Engkaukah raja orang Yahudi?" (15:2). Perhatikanlah juga bahwa di muka Pilatus, secara khusus, para imam kepala aktif, sedangkan tua-tua dan ahli-ahli Taurat di sini tidak disebut. Maklumlah, para imam kepala, sebagai golongan atas masyarakat, agak dekat dengan penguasa Romawi (lih. 15:8, 11).

Segi yang kedua, kehendak Allah dan penggenapan Alkitab perlu disebut dalam rangka sebab kematian Yesus. Melalui dosa manusia dalam pembunuhan Yesus, toh kehendak Allah tidak dikalahkan, melainkan digenapi. Keadaan ini tidak berarti bahwa dosa ini bukan merupakan sungguh-sungguh dosa. Tidak! Manusia tidak "ditakdirkan" untuk berdosa terhadap Yesus. Kabar yang mengherankan kita, yang kita dengar dalam Markus, ialah bahwa lawan Yesus, dalam perlawanan yang bersifat dosa, tidak mengalahkan Yesus. Melalui penderitaan-Nya dan kematian-Nya, Dia menjadi nyata sebagai Anak Allah. Yesus berbicara tentang keharusan penderitaan-Nya, yang tidak lain dari suatu keharusan ilahi: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan" (8:31). Pada waktu menempuh penderitaan dan kematian-Nya, Yesus tahu bahwa demikianlah kehendak Allah, yang kepada-Nya Ia menyerahkan Diri secara penuh. Juga dalam pergumulan di taman Getsemani. Ia berdoa, "tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." Dalam penderitaan-Nya, Ia memercayakan Diri secara menyeluruh kepada rencana Allah atas Dia, seperti terang dari jawaban Yesus kepada Imam Besar (14:61, 62) yang telah kami kutip di atas ini. Bahkan, pada kayu salib, ketika dirasakan ditinggalkan Allah, Yesus berseru kepada Allah dengan perkataan Mazmur 22:2. Dengan demikian, jelas bahwa Yesus adalah Anak yang taat dan percaya kepada Allah. Ia memenuhi kehendak Allah.

Dengan perkataan lain, hal inilah berlaku, bahwa Yesus secara khusus dalam penderitaan-Nya, menggenapi Kitab Suci (yang sekarang kita sebut PL), justru dalam pasal 14 dan 15 hubungan dengan PL sangat nyata. Ada perkataan Yesus seperti: "Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia ..." (14:21). Baca juga sabda Yesus dalam 14:27 dan 49. Bandingkanlah juga 14:18b dengan Mazmur 41:10. Dan, dalam pasal 15, penyaliban dan kematian Yesus dikisahkan dengan beberapa kali memakai PL. Ada kutipan langsung dan ada pemakaian bahasa PL. Kami memuat di sini suatu daftar dari hubungan-hubungan tersebut:

Mrk. 15:24, bnd. Mzm. 22:19: "Mereka membagi-bagi pakaian di antara mereka, dan membuang undi jubah atas jubah-Ku."

Mrk. 15:27, bnd. Yes. 53:12: "... ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak ...."

Mrk. 15:29, bnd. Mzm. 22:8b: "mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya ...."

Mrk. 15:33, bnd. Am. 8:9: "Pada hari itu akan terjadi", demikianlah firman Tuhan ALLAH, "Aku akan membuat matahari terbenam di siang hari dan membuat bumi gelap pada hari cerah."

Mrk. 15:34, bnd. Mzm. 22:2a: "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?"

Mrk. 15:36, bnd Mzm. 69:22b: "... dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam."

Mrk. 15:40, bnd. Mzm. 38:12 "Sahabat-sahabatku dan teman-temanku menyisih karena penyakitku, dan sanak saudaraku menjauh."

(Pada Yes. 53:12, kami memasang tanda tanya, sebab tidak dapat dipastikan apakah hubungan ini dimaksudkan Markus; dan Markus 15:28 tidak kami catat, sebab banyak ahli menganggapnya sebagai tambahan kemudian yang tidak berasal dari penginjil.) Dari hubungan dengan PL terang bahwa Yesus menderita secara penuh penderitaan yang dialami orang-orang benar dalam PL. Dialah orang benar yang sejati, yang dengan demikian mewujudkan kehendak Allah dan apa yang tertulis dalam Kitab Suci.

Kemudian, kita bertanya apa makna kematian Yesus menurut Markus? Tidak ada banyak nas yang secara langsung merumuskan hal ini. Namun, bila kita membaca Markus dengan teliti, kita dapat tentukan beberapa segi dari arti kematian ini. Mudah-mudahan, kami tidak salah menguraikan hal yang begitu penting ini. Segi-segi yang ingin kami kemukakan adalah sebagai berikut:

  1. Seperti yang kita lihat tadi, maka Kitab Suci atau PL digenapi dalam penderitaan Yesus. Jadi, sejarah Allah dengan Israel dibawa pada maksud tujuannya. Dan, sebab Allah Israel adalah sumber pengharapan dan kehidupan manusia, maka maksud tujuan rencana-Nya merupakan kabar yang baik, juga di dalam segala kegelapan yang meliputi kematian Yesus. Kematian Yesus bukan peristiwa yang melulu tanpa arti dan arah, melainkan suatu peristiwa yang dipakai Allah dalam membawa rencana-Nya berkenaan dengan Israel dan umat manusia kepada titik yang menentukan.

  2. Perjanjian Allah dengan manusia diperbarui dalam kematian Yesus. Juga boleh dikatakan bahwa Yesus membawa perjanjian baru asal jelas bahwa perjanjian baru ini merupakan penggenapan eskatologis dari "perjanjian lama" antara Allah dengan umat-Nya. Kita mendengar tentang perjanjian yang diperbarui ini dalam sabda Yesus pada perjamuan malam dalam pasal 14. Tentang cawan dikatakan-Nya kepada para murid: "Inilah darah-Ku, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang" (ay. 24). Dalam nas ini, kita diingatkan pada Keluaran 24, di mana perjanjian antara TUHAN dan bangsa Israel diikat pada Gunung Sinai. Pada upacara itu, lembu-lembu disembelih dan "Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: 'Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.'" (ay.8) Yesus dengan darah-Nya sendiri, jadi dengan kematian-Nya, mengadakan perjanjian baru; atau perjanjian antara TUHAN dan umat-Nya diperbarui.

  3. Sabda Yesus ini juga menunjukkan penebusan yang diadakan dalam rangka pengikatan perjanjian ini. Kematian ini menebus dosa banyak orang. Hal ini juga dikabarkan dalam nas kedua di mana Yesus secara langsung bersabda tentang makna kematian-Nya, yaitu 10:45: "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." Dalam rangka ini, menariklah juga bahwa Keluaran 24:7, 8 oleh orang Yahudi ditafsirkan dengan arti penebusan (bnd. juga Yes. 53:12). Hal perjanjian baru dan pengampunan dosa memang tergabung menurut pengertian Yahudi (bacalah Yer. 31:31-34). Dalam Yesus, Allah menawarkan pengampunan dosa dan penyucian manusia.

    Perjanjian yang baru ini merupakan perjanjian bagi Israel dan orang yang bukan Israel. Inilah arti bagi Markus dari istilah "banyak orang", yang kita dengar baik dalam 10:45 ("menjadi tebusan bagi banyak orang") maupun dalam 14:24 ("yang ditumpahkan bagi banyak orang"). Sebab, istilah "banyak" di sini dekat sekali pada istilah "semua" (sebab bahasa Ibrani dan Aram tidak mempunyai istilah khusus bagi "semua"). Allah mengadakan perjanjian-Nya dengan seluruh umat manusia; dan sebagai wakil pertama dari dunia yang bukan Israel perwira Romawi mengakui "sungguh, orang ini adalah Anak Allah!" (15:39)

    Kiranya jelas bahwa perjanjian ini dan pemerintahan Allah sangat erat hubungannya. Perjanjian ini terarah pada pemerintahan Allah. Perjanjian ini mengarahkan manusia pada pemerintahan Allah, pada Kerajaan Allah. Yesus menyerahkan nyawa-Nya dengan kepercayaan bahwa pemerintahan Allah akan datang secara definitif dan genap. Langsung sesudah sabda-Nya tentang darah perjanjian ini Markus mencatat sabda Yesus: "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, dalam Kerajaan Allah" (14:25).

    Sehubungan dengan perjamuan malam ini, memang perlu diperhatikan bahwa dalam Alkitab (dan juga di luarnya) mengadakan perjamuan bersama berarti menikmati persekutuan bersama. Jadi, dalam perjamuan malam ini, Yesus Mesias mengaruniakan persekutuan-Nya yang meliputi perjanjian dan penebusan, jadi kehidupan yang sejati. Dan, Yesus Mesias membuka persekutuan ini bagi semua orang.

  4. Sebagai aspek ketiga dari makna kematian Yesus dapat dikatakan bahwa dengan mati di kayu salib, Yesus menyatakan pemerintahan Allah secara yang di luar dugaan dan pertimbangan kita. Maksud kami demikian, justru sebagai Dia yang disalibkan dan mati, Dialah Anak Allah; justru dalam kematian-Nya, yaitu dalam kegagalan-Nya menurut ukuran manusia, Yesus menang atas lawan-lawan-Nya; justru sebagai Dia yang kehilangan nyawa-Nya, Yesus beroleh hidup dari Allah dalam kebangkitan-Nya. Dengan demikian, Yesus menyatakan pemerintahan Allah di dunia ini. Nyatanya, pada umumnya, pengertian manusia tentang Mesias dan tentang pemerintahan Allah tidak cocok dengan kenyataan ini. Sebab, manusia cenderung menganggap bahwa pemerintahan Allah datang di dunia ini dengan menang secara gemilang dan secara sangat nyata. Memang Sang Mesias menang, tetapi melalui kematian-Nya. Memang pemerintahan Allah menang di dunia ini, tetapi melalui salib Kristus.

  5. Yesus hidup sesuai dengan kehendak Allah dan Ia menderita sebagai seorang yang benar. PL mengenal penderitaan orang-orang benar, misalnya dalam Mazmur 22 dan 69, mereka berseru kepada Allah. Tidak secara kebetulan dalam Markus 15 sampai tiga kali kita menemui hubungan dengan Mazmur 69 dan satu kali dengan Mazmur 22 (lih. uraian di atas ini). Segala rasa benci terhadap orang benar mengarahkan diri kepada Yesus, yang hidup dan mati sebagai orang benar yang sejati.

  6. Para murid terpanggil untuk mengikuti Yesus ini; mereka terpanggil untuk menderita sebagai pengikut dari Sang Mesias yang menderita. Inilah aspek kelima yang ingin dikemukakan. Sesudah pemberitahuan pertama tentang penderitaan-Nya, Yesus berkata kepada orang banyak dan murid-murid-Nya (8:34,35):

  7. "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya."

    Juga sesudah pemberitahuan ketiga tentang kesengsaraan-Nya dan sesudah Yesus menyebut cawan yang akan Dia minum serta baptisan yang akan Dia terima, maka Ia berkata kepada dua orang murid: "Memang kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima ..." (10:38,39). Cawan dan baptisan di sini menunjukkan penderitaan secara kiasan. Dan, dalam beberapa nas, lebih jauh kita mendengar bahwa para murid harus hidup sebagai hamba "karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (10:45). Jadi, sikap Yesus sampai kematian-Nya merupakan pedoman bagi sikap hidup para murid-Nya.

    Di samping kelima segi tersebut, masih dapat dicatat bahwa beberapa ahli melihat kaitan antara pasal 13, khotbah Yesus tentang hal yang akan datang, dan pasal 14-15 tentang penderitaan dan kematian Yesus. Dapat ditunjuk bahwa dalam kedua bagian tersebut, kata kerja "menyerahkan" sering kali muncul (13:9, 11, 12 tentang penyerahan yang akan dialami para murid; 14:10, 11, 18, 21, 41, 42, 44; 15:1, 10, 15, tentang penyerahan yang dialami Yesus). "Kegelapan" ada dalam 13:24, sebagai peristiwa yang datang pada akhir zaman; dan dalam 15:33 sebagai peristiwa pada kematian Yesus (dalam 13:24 dipakai kata kerja "menjadi gelap"; dalam 15:23 kata benda "kegelapan"; kedua istilah ini hanya di sini dalam Markus). Bandingkanlah juga dari pasal 13 anjuran untuk berjaga-jaga, supaya "jangan kamu didapatinya sedang tidur" (ay. 35-37) dengan peristiwa di taman Getsemani, pasal 14:32-42, di mana kita mendengar perkataan Yesus untuk berjaga-jaga, tetapi para murid tidur. Perspektif pasal 13 adalah pada kedatangan Anak Manusia dalam kemuliaan (13:26), yang juga diucapkan Yesus di hadapan Mahkamah Agama. Apakah kesejajaran-kesejajaran ini dikemukakan Markus dengan maksud tujuan tertentu? Sulit dipastikan. Boleh jadi ini dapat dikatakan demikian: dalam Yesus, tercerminlah pemerintahan Allah yang akan datang serta segala gangguan yang berhubungan dengan kedatangan itu. Seandainya pendapat ini dapat diterima, maka boleh dikatakan bahwa di sini kita menemui aspek yang keenam.

    Demikianlah beberapa segi dari makna kematian Yesus seperti yang dikabarkan Markus. Perhatikanlah juga bahwa Markus menekankan bahwa dalam penderitaan-Nya, Yesus seorang diri. Dia diserahkan, ditinggalkan, dan disangkal oleh murid-murid-Nya (14:44, 50, 66-72), "bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga" (15:32); dan pada akhirnya, Dia merasa ditinggalkan Allah (15:34). Dia sendirian. Namun, justru Dialah yang patut menerima gelar Mesias, Anak Allah, dan Anak Manusia! Memang, Ia tidak ditinggalkan Allah, melainkan dibangkitkan, lalu ditinggikan untuk duduk di sebelah kanan Allah (12:36).

Taxonomy upgrade extras: 

Komentar