SIM - Referensi 06b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Studi Injil Markus
Nama Pelajaran : Penderitaan dan Kebangkitan Kristus
Kode Pelajaran : SIM-R06b

Referensi SIM-R06b diambil dari:

Judul Buku : Teologi Perjanjian Baru
Judul Artikel : Makna Salib
Penulis : Leon Morris
Penerbit : Gandum Mas
Halaman : 150 -- 154

REFERENSI PELAJARAN 06b - PENDERITAAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS

MAKNA SALIB

Sudah kita lihat, salib merupakan inti Injil ini. Di sini, pertama-tama kita lihat kebenaran di balik pernyataan Martin Kahler yang sering dikutip orang bahwa kitab-kitab Injil merupakan "kisah sengsara dengan pengantar yang panjang". Dari cara Markus menyusun Injilnya, tak perlu diragukan bahwa salib merupakan pusat Injilnya. Ia memberi banyak tempat untuk soal wajib dan seluruh kitabnya mencapai puncaknya pada kisah ini. Dalam pandangan Markus, kehendak Allah terlaksana dalam kematian Yesus (bnd. 14:36 dan pemakaian "dei" yang menunjukkan bahwa kematian-Nya itu perlu [Markus 8:31; 14:31]). Hal ini benar, biarpun dari sudut pandang lain, kematian itu terjadi karena kejatuhan manusia.

Dalam menyusun bahannya, Markus menempatkan kisah tentang pengharapan pada awal sengsara (l4:3-9); Yesus menghadapi kematian-Nya sebagai Orang Yang Diurapi. Markus juga menempatkan nubuat tentang kegagalan para murid (14:26-31), langsung sebelum kisah di Taman Getsemani (14:32, dst.). Ia membedakan ketidaksetiaan manusia dengan kesetiaan Yesus, ketidaksetiaan yang menuntut harga yang luar biasa.

Sepanjang kisah ini, tema raja mendapat penekanan (15:2, 9, 12, 17-18, 26, 32) yang lebih kuat daripada penekanan pada Injil Matius atau Lukas dan mengingatkan kita pada ide pokok dalam Injil Yohanes. Bagi Markus, boleh saja Yesus ditolak dan dibunuh, tetapi dalam semua peristiwa itu, Ia tetap seorang Raja; para pembaca harus melihat Dia sebagai Raja. Kemudian, ketika Dia tergantung di kayu salib, terjadilah beberapa peristiwa yang luar biasa: kegelapan (15:33), dua seruan Yesus yang lantang (15:34, 37), terbelahnya tirai Bait Allah (15:38), pernyataan sang perwira bahwa Yesus adalah benar-benar Anak Allah (15:39). Markus menjelaskan bahwa hal ini bukanlah suatu kematian biasa, bahkan bukan suatu eksekusi biasa. Di Kalvari, sesuatu yang sangat hebat dan sangat penting terjadi. Dalam sebagian besar dari Injilnya itu Markus puas dengan sekadar mencatat apa yang terjadi; ia tidak berusaha untuk menerangkan maknanya. Akan tetapi, ada beberapa pernyataan yang perlu disediliki lebih lanjut.

Salah satunya adalah pernyataan tentang "tebusan", "Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (10:45). Pernyataan ini, di tempat-tempat lain, kiranya cukup kalau kita mengacu pada diskusi-diskusi berikut ini. Yesus bermaksud mengatakan bahwa Ia akan membayar harga itu demi membebaskan banyak orang. "Tebusan" dipakai untuk menyebut harga yang dibayar untuk membebaskan tawanan perang atau budak atau orang yang sudah dijatuhi hukuman mati. Yesus tidak mengatakan dari hal apa Ia membebaskan manusia, tetapi dalam konteks Injil ini yang dimaksud jelas kebebasan dari dosa dan dari cara hidup yang penuh dosa. Kebebasan semacam itu tidak datang dengan mudah atau secara otomatis. Kebebasan itu menuntut suatu harga dan harga itu telah dibayar oleh Yesus. Tebusannya telah dibayar "bagi ['anti']" banyak orang. Di sini, "anti" mempunyai makna substitutif (menggantikan tempat orang lain).

Selanjutnya, terdapat juga doa yang mengungkapkan bagaimana Yesus menerima kehendak Sang Bapa supaya Ia minum "cawan" itu (14:36). Ia tidak menerangkan apa maksudnya itu; tetapi dalam nas-nas PL tampak bahwa piala merupakan "suatu kiasan untuk hukuman yang pantas diterima orang, tetapi di sini jelas terkandung makna penderitaan dan kematian" (Anderson). Cawan itu adalah "piala murka Allah (best)". Menarik bahwa Markus (dalam 14:27) mengutip Zakaria 13:7, terutama karena Markus menyatakan, "Aku akan memukul gembala," yang menjadikannya suatu tindakan Allah sendiri, padahal dalam PL kata kerjanya berbentuk perintah ("Bunuhlah gembala"). Yang ditekankan adalah tercerai berainya para murid, tetapi tindakan Allah itu juga berbicara mengenai penghukuman. Mungkin kita harus melihat ungkapan lain mengenai substitusi: kaum berdosa patut menerima hukuman, tetapi Allah menimpakannya kepada Gembala Yang Baik.

Markus menceritakan kepada kita tentang perjamuan terakhir yang diadakan Yesus dengan murid-murid-Nya. Ia mengisahkan bagaimana Yesus mengambil roti, memecah-mecahkannya, lalu memberikannya kepada mereka, seraya berkata, "Ambillah, inilah Tubuh-Ku." Lalu, Ia mengucap syukur atas cawan dan memberikannya kepada mereka. Mereka semua minum dari cawan itu, lalu Yesus berkata, "Inilah darah-Ku, darah perjanjian (baru) yang ditumpahkan bagi banyak orang" (14:22-24). Tidak diragukan lagi, Perjamuan Tuhan sudah dikenal baik oleh orang-orang Kristen yang membaca Injil Markus ini, dan ia mengisahkan permulaannya sedemikian rupa sehingga menunjukkan bahwa peristiwa itu memperingati pembuatan perjanjian yang menggenapi nubuat Yeremia 31:3l, dst.. Tidak begitu penting apakah kita membaca kata "baru" atau tidak; setiap perjanjian yang diadakan oleh Yesus dengan sendirinya baru. Perjanjian ini diadakan oleh darah Yesus. Penumpahan darah-Nya merupakan sarana yang membawa orang masuk ke dalam hubungan yang benar dengan Allah dan merupakan sarana yang melahirkan umat Allah yang baru.

Ada juga seruan yang menyedihkan karena ditinggalkan, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku" (15:34). Berhubung ini merupakan satu-satunya ucapan dari atas salib yang dicatat oleh Markus, jelas bahwa dalam pandangannya, ucapan itu penting. Pada zaman modern, kata-kata tersebut tampak begitu mengejutkan sehingga banyak orang mencoba memperlunaknya dengan satu atau lain cara. Misalnya, ada yang menunjukkan bahwa Yesus mengutip Mazmur 22 (yakni, ayat pembukaan Mazmur ini), suatu mazmur yang berakhir dengan nada kepercayaan. Menurut pandangan ini, Yesus hanya sedang menyerahkan diri-Nya kepada Bapa. Sementara itu, ahli-ahli lain sependapat bahwa kata-kata itu menunjuk pada putusnya hubungan dengan Allah. Namun, mereka memandang hal ini sebagai benar-benar tak masuk akal sehingga mereka mengoreksi atau bahkan sama sekali menolak teks tersebut. Namun, kalau kita mau sungguh-sungguh memahami Injil Markus, kita harus memperhitungkan pernyataan ini. Juergen Moltmann memikirkan hal ini. Menurut dia, "Teologi tentang salib harus membahas dan memikirkan dimensi ketiga dari kematian Yesus dalam keadaan ditinggalkan oleh Allah ini sampai menemukan suatu kesimpulan."

Saya kira, kita tidak akan pernah dapat menduga arti sepenuhnya dari pernyataan ini. Namun, paling tidak kita dapat mengatakan bahwa kematian Yesus itu suatu kejadian yang mengerikan, suatu kejadian mengerikan ketika hubungan yang erat dengan Bapa, yang telah menyokong-Nya sepanjang hidup-Nya di dunia ini, telah putus. Saya tidak bisa menemukan keterangan lain yang paling mendekati kebenaran makna kata-kata ini, selain penjelasan yang menekankan bahwa dalam kematian-Nya Yesus menanggung dosa-dosa dunia. Ia menyatu dengan orang-orang berdosa. Ia menghapuskan dosa mereka. Ia mengalami perpisahan dengan Allah yang merupakan akibat dosa. Dan, karena Ia menanggungnya, kita yang percaya kepada-Nya tidak pernah akan ditinggalkan oleh Allah.

Patut kita perhatikan lebih lanjut bagaimana cara Markus mengawali kisah sengsaranya dan cara dia menutup kisah tersebut. Bila orang membicarakan bab 13, kebanyakan memandangnya sebagai suatu kesatuan yang kurang lebih berdiri sendiri ("apokalips mini"); di situ Markus mengungkapkan ajaran eskatologis yang penting. Namun, harus kita ingat bahwa ia menempatkan pasal ini tepat sebelum kisahnya tentang kesengsaraan Kristus. Pasal ini bukanlah tulisan yang khas apokaliptik Yahudi sebagaimana yang sering dikemukakan orang. Memang benar, pasal itu mengandung bahasa apokaliptik dan bahasa ini penting. Bahasa ini menjelaskan bahwa Yesus, yang penyaliban-Nya akan diceritakan oleh Markus, adalah Oknum yang akan datang pada waktunya untuk mengawali kesudahan segala sesuatu. Namun, pasal itu mengandung banyak nasihat dan tema utamanya menyangkut soal kemuridan. Seperti yang dikatakan oleh Cranfield, "Tujuan pasal itu bukanlah untuk memberikan informasi yang dikhususkan untuk orang dalam, melainkan untuk menunjang iman dan ketaatan." Banyak unsur yang menjadi ciri literatur apokaliptik tidak terdapat dalam tulisan ini: sebaliknya, ada banyak hal di dalamnya yang tidak terdapat dalam literatur khas apokaliptik.

Tampaknya, Markus menempatkan pasal ini di sini untuk menunjukkan bahwa Oknum yang sengsara-Nya akan dikisahkannya adalah Oknum yang mahaagung, bukan orang kecil yang tidak dikenal. R.H. Lightfoot mengatakan, "Jelas pasal 13 ini dirancang oleh sang penginjil sebagai pengantar langsung menuju kisah Kesengsaraan Kristus, dalam arti bahwa kalau kita membaca kisah Kesengsaraan tersebut dalam Injil ini dengan realismenya yang begitu besar dan tragedi yang tidak diperlunak sedikit pun, kita harus ingat pada Pribadi dan jabatan dari Dia yang kita baca kisah-Nya itu. Dia yang dicaci maki, ditolak, dan dikutuk ini, tidak lain adalah Anak Manusia yang adikodrati." Orang-orang Yahudi tidak mengerti siapakah yang mereka tuntut agar dihukum mati itu; Markus tidak mau bahwa para pembacanya membuat kesalahan semacam itu.

Sudah banyak dibicarakan, apakah Injil ini aslinya berakhir pada 16:8. Ada yang berpendapat bahwa Markus menulis lebih panjang, tetapi bahwa bagian penutup Injilnya yang asli sudah hilang. Meskipun ayat 8 merupakan penutup yang bersifat agak mendadak untuk suatu Injil, kebanyakan ahli rupanya sepakat bahwa Injil ini berakhir pada 16:8 (sedangkan penulis-penulis yang belakangan telah menambahkan bagian penutup untuk lebih memperjelas penampakan-penampakan Yesus yang telah bangkit). Menurut William R. Farmer, ayat 9-20 termasuk bagian asli dari Injil meskipun ayat-ayat itu mencerminkan hasil penyuntingan Markus atas tulisan-tulisan yang lebih tua. Apa pun kebenarannya, Markus membuat para pembacanya yakin bahwa Tuhan yang telah disalibkan telah bangkit dengan kemenangan. Bagi Markus, penutup Injilnya bukanlah suatu tragedi yang suram, melainkan kemenangan yang luar biasa.

Taxonomy upgrade extras: 

Komentar