Bagaimana Sebenarnya Alkitab Ditulis?

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Kita mengetahui Alkitab masa kini dari kaca spion. Kita bisa berpaling pada sejarah dan melihat proses terjadinya. Namun, agar semakin memahami Alkitab, kita harus mampu melihat dari sudut pandang penulis karena merekalah yang mengalaminya.

Orang-orang yang menulis Alkitab tidak tahu kalau karya mereka kelak disusun menjadi Kitab Suci. Mereka tidak berpikir bahwa mereka masuk dalam daftar penulis terlaris.

Mereka sama seperti kita, digerakkan oleh masalah yang ingin mereka pecahkan dan ideologi yang mereka junjung.

  1. Musa menulis karena ia tidak ingin sejarah tentang ketetapan Tuhan dilupakan. Ia menulis dengan gaya yang disukainya -- naratif. Ia hanya mengatakan fakta sebagaimana itu terjadi, atau sebagaimana difirmankan Tuhan. Dialah satu-satunya orang yang mengambil tulisan tangan Tuhan, setidaknya saat ia menulis Sepuluh Perintah Allah.

  2. Daud tidak diperintahkan untuk menulis Mazmur yang dapat diterjemahkan menjadi pujian saat ini. Ia hanya menulis perjalanan hidupnya (bahkan yang kelam) dan semuanya menjadi bagian Kitab Mazmur.

  3. Yeremia tidak berencana menulis kitab yang menurunkan tiga kitab setelah Pengkhotbah. Hati Yeremia sakit karena rakyatnya terus-menerus menjauh dari Tuhan. Yeremia tahu bahwa hal itu akan membawa mereka pada kehancuran. Maka, saat Tuhan memanggil Yeremia untuk menjadi nabi, ia berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan agar mereka berbalik. Ia memakai perumpamaan. Ia memakai bahasa yang dramatis. Ia menubuatkan akibat perilaku mereka. Gaya penulisannya menggambarkan jati dirinya dan caranya berkomunikasi.

Setiap orang yang menulis satu bagian dalam Alkitab dipengaruhi asal usulnya dan zaman. Hal yang membuat tulisan mereka unik adalah Tuhan mengilhami kebenaran-Nya melalui mereka. Dia memakai mereka sebagaimana adanya. Dia memimpin mereka untuk menulis apa yang Dia kehendaki. Saat ini kita berpikir kalau hal ini adalah perintah, prosesnya bukanlah demikian (kecuali suatu saat bersama Musa). Tuhan tidak berfirman, lalu dicatat oleh penulis. Bahkan lebih ajaib daripada hal itu! Dia mengilhami firman-Nya dalam kehidupan mereka sehingga saat mereka menuliskannya dari hati mereka, Tuhan ada di dalamnya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Bible from A to Z
Judul bab : Asal Usul Alkitab
Penulis : Carol Smith
Penerbit : ANDI Yogyakarta, 2009
Halaman : 59 -- 60
Umum: