MPK - Pelajaran 03

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kelas : Membina Pernikahan Kristen
Nama Pelajaran : Anak-Anak dalam Keluarga Kristen
Kode Pelajaran : MPK-P03

Pelajaran 03 -- Anak-Anak dalam Keluarga Kristen

Daftar Isi

  1. Pengertian Anak dalam Keluarga Kristen
    1. Dasar Alkitab
      1. Anak dalam Perjanjian Lama
      2. Anak dalam Perjanjian Baru
    2. Anak Adalah Karunia Allah
  2. Anak dalam Alkitab
    1. Anak Adalah Bagian dari Rancangan Kreatif Allah
    2. Membesarkan Anak Adalah Hak Istimewa yang Allah Berikan bagi Keluarga
    3. Anak Membutuhkan Pengasuhan dan Bimbingan
    4. Anak Membutuhkan Disiplin
    5. Anak-Anak Diberkati oleh Tuhan
    6. Anak Membutuhkan Perlindungan
    7. Anak yang Membutuhkan Perhatian Khusus
  3. Tanggung Jawab Anak
    1. Anak Harus Menaati Orang Tuanya
    2. Mengasihi Orang Tua dan Allah

Doa

Pelajaran 03 -- Anak-Anak dalam Keluarga Kristen

Pelajaran ketiga akan fokus mempelajari tentang anak dalam keluarga Kristen. Saat ini, konsep anak dalam keluarga banyak terdistorsi oleh nilai-nilai duniawi sehingga sering mengaburkan prinsip-prinsip kekristenan. Karena itu, kita perlu belajar dari Alkitab tentang anak-anak dan bagaimana mereka perlu diarahkan, dididik, dan diajar agar bertumbuh menjadi pribadi yang mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.

  1. Pengertian Orang Tua dalam Keluarga Kristen
  2. Anak yang lahir dalam keluarga Kristen adalah karunia Allah. Mereka adalah "milik" Allah yang harus dikasihi, dipelihara, dan dibina sesuai dengan rencana Allah. Mari kita lihat apa rencana Tuhan bagi anak-anak yang terlahir dalam keluarga Kristen.

    1. Dasar Alkitab
    2. Keluarga adalah persekutuan yang hidup antara ayah, ibu, dan anak. Keberadaan anak dalam keluarga tidaklah terlepas dari sejarah terbentuknya keluarga yang dimulai dari sejarah keluarga Adam dan Hawa yang melahirkan Kain dan Habel (Kej. 2:7; 4:1; 13:2; 21-22).

      Dalam lingkungan bangsa Israel, berdirinya keluarga dimulai dari pengaturan agama Yahudi yang mereka yakini. Oleh sebab itu, kehadiran anak-anak dalam keluarga menjadi tanggung jawab masing-masing keluarga seperti yang diajarkan dalam agama mereka.

      1. Anak dalam Perjanjian Lama
      2. - Keluarga PL (Yahudi) menyukai keluarga besar, sebab anak dipandang sebagai karunia Allah, mempunyai anak banyak artinya diberkati Tuhan (Kej. 22:2; Mzm. 127:3-4; 128:3; Yes. 8:18).
        - Anak laki-laki lebih berharga daripada anak perempuan (Kej. 15:2, 30; 1Sam. 11-20).
        - Anak sulung harus dipersembahkan sebagai milik Allah (Bil. 3:40-51).
        - Kedukaan yang besar dialami oleh keluarga yang tidak punya anak (Kej. 30:1; 1Sam. 1:3-17; 2Sam. 12:14-25; Mzm. 113:9; Luk. 1:24-25).
        - Pengajaran, bimbingan, dan kasih sayang harus diberikan kepada anak-anak melalui kegiatan sehari-hari, makan malam: mendapat guru privat (Ul. 4:9-10; Mzm. 78:4-6; Ams. 4:3-4).
        - Anak-anak Abraham (keturunan) disunat dan diberi nama pada hari ke-8 (Kej. 17:12; 21:4).
        - Sering ada pengertian anak "emas" (Kej. 25:28).
        - Anak-anak ikut hadir dalam upacara-upacara ibadah (Yos. 8:35; 2Taw. 20:13; Ezr. 8:21; Neh. 12:43).

        Jadi, secara prinsip, pengajaran/pendidikan anak didasarkan pada Ulangan 6:4-9 sebagai pusat pengajaran keluarga Yahudi. Kitab-kitab lain yang membahas tentang pendidikan anak bersumber dari kitab Ulangan ini.

      3. Anak dalam Perjanjian Baru
      4. Dalam Perjanjian Baru, anak juga dipandang sebagai jiwa yang sama berharganya di mata Tuhan. Dalam pandangan Yesus, kita bisa melihat bagaimana Dia juga memperhatikan anak-anak.

        - Yesus juga mementingkan pekerjaan anak-anak. Dia mengatakan bahwa jangan meremehkan, dan Dia menyuruh murid-murid-Nya membawa anak-anak kepada-Nya (Mat. 18:3-14; 19:13-15).
        - Yesus melayani anak-anak dengan membangkitkan anak yang mati (Mrk. 5:41-42), menyembuhkan anak prajurit Romawi (Yoh. 4:46-54), dan menyembuhkan anak perempuan Kanaan (Mat. 15:22-28).

        Anak tidak secara khusus menjadi fokus dalam Alkitab, kecuali ketika dikaitkan dengan beberapa kebenaran yang diajarkan oleh Yesus. Jadi, Yesus secara langsung hanya tercatat satu kali berbicara kepada anak-anak, tetapi Yesus beberapa kali memakai anak sebagai ilustrasi saat mengajarkan tentang kebenaran, misalnya kebenaran tentang Kerajaan Allah, tentang Diri-Nya, atau tentang pemuridan (Mat. 11:16-19; Luk. 7:31-35).

    3. Anak Adalah Karunia Allah
    4. Ketika Esau bertanya kepada Yakub tentang orang-orang yang bersama-sama dengan dia, Yakub mengatakan bahwa mereka adalah "Anak-anak yang telah dikaruniakan Allah kepada hambamu ini." (Kej. 33:5) Beberapa tahun kemudian, ketika Yusuf di Mesir, dia menunjukkan dua anaknya kepada Yakub yang sudah tua dan berkata, "Inilah anak-anakku yang telah diberikan Allah kepadaku di sini." (Kej. 48:9) Melalui pernyataan Yakub dan Yusuf ini, sangatlah jelas bahwa anak-anak yang diberikan kepada suami dan istri merupakan karunia Allah.

      Pemazmur juga menulis,"Lihat, anak laki-laki adalah warisan dari TUHAN, buah kandungan adalah suatu upah" (Mzm. 127:3). Dalam Perjanjian Lama, orang-orang umumnya hanya berbicara tentang anak-anak lelaki. Mereka kadang-kadang tidak menunjukkan nilai dari anak-anak perempuan. Puji Tuhan, Kristus datang ke dunia menjadi manusia untuk memulihkan status dan kondisi manusia ke dalam rencana Allah yang mula-mula. Penegasan Paulus tentang hal ini sangat jelas bahwa sesungguhnya dalam Kristus "tidak ada laki-laki atau perempuan" (Gal. 3:28). Demikianlah anak-anak adalah karunia Allah, baik laki-laki maupun perempuan.

      Renungkan kembali tentang rencana Allah yang indah dalam pernikahan, antara seorang laki-laki dan perempuan yang saling mengasihi dan menghormati Tuhan, bahwa pernikahan mereka akan menghasilkan anak-anak yang adalah karunia Tuhan.

      Sekarang, marilah kita mempelajari tanggung jawab dari orang tua terhadap anak-anak sebagai karunia yang indah.

  3. Anak dalam Alkitab
  4. Siapakah anak menurut Alkitab? Bagaimana keadaan mereka? Mengapa Allah memperhatikan mereka? Mari kita melihat fakta-fakta yang diberikan oleh Alkitab.

    1. Anak Adalah Bagian dari Rancangan Kreatif Allah
    2. Alkitab telah menyebutkan tentang anak sejak awal kejadian karena anak adalah buah kasih yang Allah inginkan dari pasangan manusia pertama yang Allah ciptakan (Kej. 1:28). Allah memerintahkan mereka untuk beranak cucu atau memiliki anak. Jadi, anak bukan rancangan susulan, melainkan rancangan asli Allah saat menciptakan manusia agar nantinya mereka membentuk keluarga.

    3. Membesarkan Anak Adalah Hak Istimewa yang Allah Berikan bagi Keluarga
    4. Merupakan suatu kehormatan sekaligus menjadi tanggung jawab yang besar yang Allah percayakan kepada manusia untuk membesarkan anak, menggembalakan, dan mendampingi perkembangan anak (Mzm. 127:3). Manusia diberi kesempatan yang luar biasa untuk menyediakan seluruh kebutuhan anak sampai bertumbuh menjadi manusia dewasa.

    5. Anak Membutuhkan Pengasuhan dan Bimbingan
    6. Sebagaimana tanaman rambat membutuhkan tiang atau kayu untuk merambatkan diri dengan baik supaya tidak menyebar dengan liar, demikian juga anak membutuhkan panduan yang kokoh untuk menjaga pertumbuhan fisik, emosi, sosial, dan spiritualnya agar terjaga dengan baik (Ams. 22:6). Ini berarti anak membutuhkan kehadiran orang dewasa untuk mendampinginya bertumbuh.

    7. Anak Membutuhkan Disiplin
    8. Tidak diragukan lagi dibutuhkan kerja keras untuk mendisiplin anak bertumbuh (Ams. 29:17). Orang tua yang benar-benar mencintai anak-anaknya akan menolong mereka dengan disiplin yang dilakukan dengan lemah lembut, tetapi tegas (Ibr. 12:7) agar mereka dapat berjalan dalam jalan Tuhan sebagaimana yang Tuhan inginkan.

    9. Anak-Anak Diberkati oleh Tuhan
    10. Yesus yang pernah lahir sebagai bayi yang lemah dan tergantung kepada manusia lain merasakan menjadi anak. Untuk anak-anak jugalah, Yesus datang ke dunia untuk menjadi Juru Selamat bagi mereka. Karena itu, hati-Nya berbelas kasihan kepada anak-anak, terkhusus ketika orang dewasa menolak mereka, maka Yesus secara khusus memberkati anak-anak (Mrk. 10:16).

    11. Anak Membutuhkan Perlindungan
    12. Kita hidup di dunia yang semakin rusak oleh kejahatan sehingga banyak anak yang dilahirkan dan dibesarkan dalam situasi yang kurang beruntung. Ada banyak penganiayaan anak, eksploitasi anak, dll. sehingga anak terpapar dengan narkoba, alkohol, intimidasi, kekerasan geng dll.. Tuhan memperhatikan mereka dan memanggil orang-orang untuk menjadi perpanjangan kasih Allah (Bil. 32:17).

    13. Anak Membutuhkan Perhatian Khusus
    14. Anak-anak sangat rentan ketika dihadapkan pada situasi yang penuh dengan kemiskinan, kekerasan, dan ketidakadilan. Oleh karena itu, jika ada anak-anak yang dilahirkan tanpa orang tua atau orang dewasa yang mendampingi mereka, serta dibesarkan dalam keadaan yang tidak normal, misalnya sebagai pengungsi akibat perang atau konflik atau kemiskinan, Allah menjadi Pembela mereka dengan memanggil orang-orang untuk melayani dan memperhatikan mereka secara khusus (Zak. 7:10).

  5. Tanggung Jawab Anak
  6. Ada dua tanggung jawab utama anak yang Alkitab sebutkan dan ini menjadi perintah yang tidak saja penting, tetapi menjadi inti kehidupan kerohanian anak pada kemudian hari.

    1. Anak Harus Menaati Orang Tuanya
    2. "Hormatilah ayahmu dan ibumu supaya umurmu panjang di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu." Inilah perintah yang Alkitab berikan kepada anak untuk dijalankan, dan untuk itu Allah menjanjikan berkat (Kel. 20:12). Ayat ini juga ditegaskan lagi oleh Paulus di Kol. 3:20; Ef. 6:1-3.

      "Anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal karena hal ini menyenangkan Tuhan." (Kol. 3:20).

      "Anak-anak, taatilah orang tuamu dalam Tuhan karena ini adalah hal yang benar. 'Hormatilah ayah dan ibumu,' ini adalah perintah pertama yang disertai dengan janji 'supaya hidupmu baik dan kamu akan berumur panjang di bumi.'"(Ef. 6:1-3)

      Allah menghendaki anak-anak untuk menaati orang tua mereka. Perintah ini sebenarnya tidak dibatasi hanya kepada orang tua yang sudah percaya, tetapi juga kepada yang tidak/belum percaya. Perintah ketaatan ini adalah dalam "segala hal", artinya bukan hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan Kristen (rohani). Perintah ini sedemikian pentingnya karena menurut Paulus menaati orang tua akan mengajarkan anak untuk menaati Tuhan. Kristus memberi contoh yang sempurna atas ketaatan yang Ia lakukan kepada Bapa sekalipun untuk itu, Ia harus membayar dengan kematian-Nya (Flp. 2:6-8).

      Mengapa penting mengajarkan anak untuk taat kepada orang tua? Supaya anak-anak belajar bagaimana menaati Allah. Anak yang tidak belajar menaati orang tuanya, yang merupakan wakil Tuhan dalam keluarga, tidak akan belajar menaati Tuhan.

    3. Mengasihi Orang Tua dan Allah
    4. Selain taat kepada orang tua dan Allah, anak juga harus mengasihi orang tua dan Allah. Allah harus menjadi pusat dari kehidupan dari anak yang masih dalam bimbingan orang tua maupun anak yang sudah menikah. Seorang anak haruslah mengasihi Allah karena pada prinsipnya, Allah sudah mengasihi anak terlebih dahulu. Jadi, anak perlu menempatkan Allah menjadi sumber prioritas sesuai dengan Alkitab, dan orang tua di tempat kedua setelah Allah. Bahkan, sangat perlu untuk mengasihi orang tua dengan kasih yang dari Allah yang diberikan kepada anak.

    Kasih Allah kepada anak-anak merupakan salah satu alasan mengapa Ia datang ke dunia. Bukan hanya orang dewasa yang Tuhan Yesus perhatikan, tetapi juga anak-anak. Yesus berinkarnasi menjadi manusia dan merasakan kelemahan manusia supaya Ia dapat mengasihi dan menyelamatkan mereka dari dunia yang jahat ini. Anak-anak tidak bisa secara alamiah mengetahui untuk "menolak yang jahat dan memilih yang baik" karena itu Allah menyediakan orang tua untuk menolong mereka. Anak-anak perlu bukan hanya untuk bertumbuh, tetapi juga untuk mengenal Hikmat Allah dan menerima keselamatan melalui orang tua mereka.

Akhir Pelajaran (MPK-P03)

Doa

"Tuhan, terima kasih untuk anak-anak yang Engkau karuniakan kepada kami. Berilah kami hikmat supaya dapat menjadi orang tua yang baik bagi mereka sesuai dengan kehendak Allah. Amin."