Rangkuman Diskusi Natal Desember 2009

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Termin 1

Topik 1. Tanggal 25 Desember

Mengapa peringatan Natal jatuh tanggal 25 Desember?

Penetapan hari yang pasti tentang peringatan Natal yang jatuh pada tanggal 25 Desember masih menuai hal-hal yang kontroversial. Salah satunya adalah bahwa pada hari ini merupakan hari yang bertepatan dengan hari perayaan agama kafir pada saat itu (jawaban dari peserta diskusi). Pada abad kedua dan ketiga gereja di Roma memilih tanggal tersebut sebagai hari kelahiran Yesus dengan maksud untuk mengaburkan suatu hari raya besar dari orang kafir yang biasa dilaksanakan pada tanggal tersebut. Tapi tampaknya tidak pernah ada Ibadah khusus untuk kelahiran Kristus sampai perayaan itu diadakan di Gereja Timur (Gereja Kristen Yunani). Gereja Barat (Latin) mulai merayakannya sekitar satu abad kemudian. Para ahli kronologi tidak sependapat dengan tahun yang pasti dari kelahiran Kristus, tetapi sebagian besar pihak percaya jatuhnya tepat pada tahun 5 SM. Perayaan pertama dilaksanakan 6 Januari, tetapi menjelang akhir abad keempat berubah menjadi 25 Desember.

Bagaimana kalau kita tidak merayakannya tanggal 25 Desember atau bahkan jauh dari tanggal tersebut?

Hampir seluruh peserta diskusi dengan suara bulat menyebutkan bahwa perayaan Natal tidak harus dilaksanakan dan dirayakan pada tanggal 25 Desember. Banyak dari peserta yang setuju jika Natal bukan masalah perayaannya tetapi makna untuk kita senantiasa mengingat dan mensyukuri bahwa kelahiran Yesus Kristus menggenapi rencana-Nya untuk menebus manusia berdosa dan melayakkan kita untuk menghampiri Allah.

Topik 2. Merayakan Natal

Apakah ada perintah dalam Alkitab agar orang Kristen merayakan Natal? Kalau ada, sebutkan dimana ayatnya.

Kalau tidak ada, mengapa orang Kristen merayakan Natal? Secara ekplisit Alkitab tidak memberikan pernyataan yang gamblang tentang perintah langsung untuk merayakan Natal. Tetapi secara implisit kita melihat bahwa Alkitab memberi perintah untuk kita selalu mengingat kasih dan anugerah Allah yang besar yaitu lewat peristiwa kelahiran Kristus (inkarnasi) ke dalam dunia harus di lihat di dalam perspektif rencana keselamatan Allah, di mana Dia merencanakan keselamatan itu sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Tidak ada satu manusia pun yang mampu menjalankan dan memenuhi rencana keselamatan-Nya, selain dari pada Dia sendiri yang harus turun menjadi manusia.

Termin II

Topik 1. Maria

Mengapa Yesus harus dilahirkan dari seorang dara (perawan)? Mengapa Maria dipilih untuk menjadi ibu yang melahirkan Yesus?

Dari beberapa jawaban peserta diskusi telah menunjuk kepada bukti-bukti mengenai kelahiran Kristus melalui anak dara. Dari beberapa bukti yang ada Maria merupakan bagian dari janji Tuhan di dalam PL. Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, Allah menyatakan rencana-Nya untuk menebus manusia dalam dosa Kejadian 3:15 merupakan satu berita pertama tentang kabar baik yang menunjuk kepada kelahiran Yesus melalui anak dara. Selanjutnya, pemberitaan tentang hal ini, juga terdapat di dalam Yesaya 7:14. Teks yang menurut banyak sarjana Alkitab menjadi latar belakang bagi kisah kelahiran Yesus Kristus yang dicatat di dalam Injil Matius 1:18-25, khususnya ayat 23. Peristiwa ini bersifat keharusan karena menyangkut misi Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat orang berdosa (Mat. 1:23) dan merupakan cara Allah yang penuh hikmat, yang ditentukan bagi Kristus untuk menjalankan fungsinya sebagai pengantara antara Allah yang maha suci dengan manusia berdosa. Selain itu kelahiran dari anak dara adalah sarana yang dipakai Allah dalam menyediakan keselamatan bagi manusia berdosa. Kristus yang lahir dari seorang perawan adalah pribadi yang unik, yang melalui diri-Nya kasih karunia pengampunan dosa telah tersedia bagi kita. Peristiwa ini terjadi melalui mujizat (bukan kelahiran normal), di mana Allah bekerja melalui Roh Kudus dan menyebabkan kelahiran Yesus terjadi. Oleh karena itu kita bisa menjadi ciptaan baru yang kembali dapat berelasi dalam persekutuan yang intim dengan Allah maha kudus.

Topik 2. Gembala dan Majus

Apa signifikansi peran para gembala dan Majus dalam peristiwa kelahiran Kristus? Dan apa signifikansinya bagi iman Kristen kita?

Gembala merupakan orang yang tidak diperhitungkan sama sekali waktu itu karena profesi seorang gembala merupakan pekerjaan yang terbelakang. Di tinjau dari keberadaannya gembala memiliki status sosial yang sangat rendah sekali dalam masyarat. Peristiwa besar tentang kelahiran Juru Selamat justru ditujukan kepada orang-orang yang terbuang dan tidak memiliki peran dalam masyarakat. Bukan itu saja orang majus juga merupakan orang-orang yang dipakai Allah untuk menjadi alat pemberita kabar baik sekaligus sebagai saksi dari karya Allah dalam menggenapi rencana-Nya untuk menebus manusia berdosa.

Signifikasinya bagi iman Kristen dari pemaparan di atas adalah kabar Natal merupakan kabar baik yang harus kita beritakan kepada semua orang tanpa memandang status sosialnya atau keadaan orang tersebut. Peristiwa Natal bukan hanya peristiwa sejarah yang setiap tahun kita peringati dan rayakan dalam bentuk perayaan yang besar, melainkan harus kita hidupi melalui kesaksian pribadi, keluarga, bergereja, dan ikut dalam pemberitaan Injil. Hal ini harus kita kerjakan karena kita hidup di tengah-tengah dunia yang gelap dan penuh dosa.

Termin III

Topik 1. Komersialisasi Natal

Kristus dilahirkan dalam kesederhanaan, tapi mengapa justru peringatan kelahirannya jaman sekarang dilakukan dalam kemewahan dan dijadikan barang komoditi sehingga natal malah lebih diidentikkan dengan kartu natal pohon natal, cemara, kado dan pesta-pesta? Bagaimana supaya kita tidak terjebak untuk ikut mengkomersiilkan Natal?

Peringatan Natal sudah merupakan tradisi tahunan yang diselenggarakan oleh berbagai gereja di Indonesia. Tak heran setiap perayaannya selalu dirayakan dengan sangat luar biasa, kalau tidak luar biasa dan spektakuler berarti acara tersebut di nilai kurang sukses dan berhasil. Tidak salah kalau kita merayakan Natal dengan spektakuler dan luar biasa, tetapi kadang-kadang hal seperti itu membuat kita kehilangan makna Natal itu sendiri karena ada banyak yang kita kerjakan dan lakukan sehingga kekayaan makna Natal itu menjadi bias. Natal bukan masalah kemewahan dan kemegahan sehingga kita kehilangan makna Natal itu sendiri. Tetapi hendaknya sukacita sejati yang bisa kita peroleh di hari Natal, bukan sukacita yang bersifat fana. Bukan sukacita beroleh pujian dari manusia. Bukan sukacita karena mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Melainkan sukacita karena mengerti panggilan Tuhan dalam hidup ini untuk menjadi alat dan partner Allah untuk mengabarkan Injil di muka bumi ini. Supaya kita tidak terjebak dalam mengkomersilkan Natal, hendaknya kita mulai refleksi diri dan berbenah apa hakekat dan esensi Natal itu sebenarnya selain hal-hal yang bersifat kemegahan, pesta-pesta dan kemewahan.

Topik 2. Natal dan Kekristenan

Apa tanggapan dunia (non-Kristen) tentang Natal secara umum?

Tanggapan dunia secara umum menyakini bahwa Natal itu sendiri adalah hari kelahiran Yesus kristus ke dalam dunia. Itu merupakan hari yang special bagi orang kristiani di seluruh dunia. Tapi kebanyakan orang-orang non-kristen tidak begitu antusias dalam peristiwa ini, karena mereka mempercayai bahwa peristiwa ini di luar kemampuan berpikir mereka. Hal yang supranatural inilah yang sering kali menjadikan permasalahan sampai hari ini, banyak orang yang memperdebatkan dan mempersoalkan peristiwa kelahiran ini dan menjadikannya perdebatan yang berkepanjangan.

Seberapa banyak Natal dapat menarik mereka pada kekristenan?

Para peserta setuju bahwa Natal sebenarnya tidak banyak menarik orang non-kristen untuk tertarik pada kekristenan (walaupun ada beberapa orang yang ikut Natal lalu bertobat dan percaya kepada Yesus). Ketertarikan orang-orang non-kristen hanya terletak pada pemberian Natal, setelah itu tidak antusias kembali. Sebenarnya gereja harus tanggap dalam hal ini dengan memberikan pembimbingan dan pengarahan sehingga seseorang tersebut dapat mengenal Yesus Kristus dengan benar dan tertarik pada kekristenan bukan hanya pada berkatnya tetapi lebih kepada pengenalan tentang Allah yang hidup.

Topik 3. Gereja dan Natal

Pernahkah gereja Anda secara khusus mengadakan Natal untuk tujuan penginjilan saja (bukan dilakukan bersamaan dengan natal jemaat/umum)? Jika, ya, mohon kesediaannya membagikan pengalaman ini.

Dari beberapa jawaban dari peserta diskusi Natal terlihat bahwa gereja belum secara menyeluruh mengadakan Natal dengan tujuan penginjilan. Namun, ada beberapa gereja yang sudah melakukan penginjilan pada moment Natal melalui berbagi kasih dengan sesama dan ada juga beberapa kegiatan gereja dengan mengadakan kunjungan ke gereja-gereja yang ada dipedalaman maupun yang sedang perintisan untuk berbagi sukacita dan kasih Natal itu bersama saudara seiman.

Umum: 
Jadwal: