Artikel

Korintus

Ketika Paulus mengunjungi Korintus pada sekitar tahun 50 atau 51, dia sama sekali tidak tahu bahwa Allah akan memakainya untuk menghasilkan suatu jemaat yang besar dan berpengaruh di kota yang modern ini. Dia juga tidak tahu bahwa kota ini akan menyaksikan lahirnya kesusasteraan Kristen. Dari pandangan manusia hal ini sama sekali tidak mungkin.

Kategori: 

Jemaat-Jemaat Bukan Yahudi yang Pertama

Sebagai hasil dari kunjungan-kunjungan Paulus, baik "orang-orang yang takut kepada Allah" maupun orang-orang yang kafir sama sekali, menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Paulus mulai menyadari betapa penting panggilannya itu. Pengalamannya pada waktu ini juga meyakinkannya bahwa orang-orang bukan-Yahudi yang percaya harus diterima dalam persekutuan Kristen tanpa kewajiban disunat dan memelihara peraturan- peraturan lain dari hukum Taurat. Paulus menyadari setelah pertobatannya, hubungannya yang baru dengan Yesus Kristus juga mengakibatkan suatu hubungan yang baru dengan orang-orang lain termasuk dengan orang-orang yang dibencinya dahulu. Jadi sekarang dia menginsyafi bahwa walaupun dahulu dia tergolong orang Yahudi yang ketat, dia dipersatukan dengan orang-orang bukan-Yahudi dengan cara yang baru dan lebih mendalam, begitu mereka menerima tuntutan Yesus Kristus atas hidup mereka. Setelah pengalamannya di jalan menuju Damsyik, hal itulah yang memang sudah diperkirakan terjadi atas Paulus. Telah diterangkan kepadanya waktu itu bahwa dia akan memainkan peranan yang sangat khusus dalam usaha penyebaran berita Kristen ke seluruh dunia. Ketika Paulus dan Barnabas kembali ke Antiokhia di Siria, mereka menemukan jemaat di sana setuju dengan mereka tentang pokok tersebut, dan menyambut keberhasilan mereka menginjili orang-orang di Asia Kecil bagian selatan (Kisah Para Rasul 14:27-28).

Kategori: 

Gereja Bukan Yahudi dan Misi Paulus

Gerakan pelayanan firman kepada bangsa-bangsa lain seperti yang dilukiskan di dalam Kisah Para Rasul dimulai pada saat didirikannya gereja di Antiokhia di Siria. Pembentukan gereja ini merupakan bagian dari penyebaran tiba-tiba yang terjadi di dalam masa peralihan. Di antara Kisah Para Rasul 8:4 dan 11:19 terdapat suatu hubungan yang jelas, seperti yang dikatakan oleh ayat yang terakhir:

Kategori: 

Siapa Paulus Itu?

Dalam sejarah Perjanjian Baru sesudah kebangkitan Yesus, perhatian beralih dari Petrus dan para murid Yesus lainnya kepada seorang tokoh penting lain dalam kehidupan jemaat mula-mula - yakni Paulus, sang Farisi. Paulus bukan satu-satunya orang Farisi yang menjadi Kristen (Kisah Para Rasul 15:5), tetapi ia memang yang paling terkenal. Berbeda dengan banyak orang Kristen Yahudi lainnya, Paulus tidak lahir di Palestina. Sama seperti banyak orang yang bertobat pada hari Pentakosta, dia seorang Yahudi Helenis. Dia berasal dari kota Tarsus di provinsi Silisia, dan dia juga seorang warga negara Roma (Kisah Para Rasul 22:3,27).

Kategori: 

Kristus Penanggung Taurat

Kristus Penanggung Taurat (Roma 8:1-4)

Bagian firman Tuhan ini menyatakan dengan jelas bahwa orang yang sudah hidup dalam Yesus Kristus mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitan-Nya, dan tidak akan lagi mendapatkan hukuman. Berita semacam ini tentu menjadi berita sukacita bagi orang-orang berdosa, yang tidak lagi memiliki jalan keluar untuk dapat lepas dari hukuman Tuhan. Dan, kitalah orang-orang berdosa yang bersukacita tersebut.

Kategori: 

Shalom/Damai

Shalom/Damai

Pendahuluan

Kata "damai" ada dalam sebagian besar bahasa. Orang bisa bicara tentang perjanjian damai atau masa perdamaian, yang berarti tidak adanya perang. Dalam Alkitab, kata damai bisa berarti tidak adanya konflik, tetapi juga menunjuk kepada hadirnya sesuatu yang lebih baik sebagai gantinya.

Kategori: 

Pages

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA