Referensi 05b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Pelajaran 05 | Pertanyaan 05 | Referensi 05a

Nama Kursus : Dasar Pengajaran Alkitab
Nama Pelajaran : Pembaptisan dan Perjamuan Tuhan
Kode Pelajaran : DPA-R05b

Referensi DPA-R05b diambil dari:

Judul Buku : Teologi Sistematika (5)
Penulis : Louis Berkhof
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1997
Halaman : 144 - 150

REFERENSI PELAJARAN 05b - PEMBAPTISAN DAN PERJAMUAN TUHAN

CARA BAPTISAN YANG TEPAT

Orang-orang Baptis berbeda dari orang Kristen lainnya di dunia dalam pendapat mereka bahwa selam yang diikuti oleh munculnya kembali seseorang dari dalam air merupakan cara pembaptisan yang paling tepat. Cara seperti ini menurut mereka sebagai cara yang mutlak perlu dalam baptisan, sebab ritual ini dimaksudkan menjadi lambang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus dan juga kematian dan kebangkitan orang yang dibaptiskan itu bersama Kristus. Sekarang timbul dua pertanyaan dan yang terbaik jika pertanyaan itu dipikirkan sesuai dengan urutan ini: (1) Hal penting apakah yang dilambangkan dalam baptisan? dan (2) Apakah selam adalah cara baptisan yang paling tepat? Urutan pertanyaan ini sesuai, sebab pertanyaan pertama lebih penting dari pertanyaan ke dua dan jawaban bagi pertanyaan ke dua tergantung pada jawaban yang diberikan pada pertanyaan pertama.

  1. HAL PENTING APAKAH YANG DILAMBANGKAN DALAM BAPTISAN?

  2. Menurut orang Baptis, selam yang kemudian diikuti keluarnya seseorang dari dalam air adalah hal penting dalam simbolisme baptisan. Jika seseorang tidak menerima hal ini sama artinya dengan menolak baptisan itu sendiri. Menurut mereka pengertian baptisan yang sesungguhnya ditunjukkan dalam hal seseorang masuk ke dalam air dan keluar dari dalamnya. Kalau toh penyelaman seperti itu secara natural menyangkut suatu pembasuhan atau pemurnian, sebenarnya hanya kebetulan saja. Baptisan akan tetap merupakan baptisan bahkan juga seandainya kita dicelupkan kepada sesuatu yang tidak berfungsi membersihkan. Mereka mendasarkan pendapatnya atas Mrk 10:38,39; Luk 12:50; Rm 6:3,4; Kol 2:12. Tetapi sesungguhnya kedua ayat yang pertama hanyalah sekedar menunjukkan pengertian bahwa Kristus akan mengalami penderitaan dan sama sekali tidak membicarakan tentang sakramen baptisan. Kedua ayat yang lain sajalah yang sesungguhnya membicarakan persoalan ini. Tetapi pokok pembahasan yang sesungguhnya juga bukan persoalan yang kita bicarakan, sebab kedua ayat itu tidak secara langsung membicarakan baptisan dengan air. Yang dibicarakan dalam kedua ayat itu adalah baptisan rohaniah. Ayat itu membicarakan kelahiran kembali dengan penggambaran tentang mati dan bangkit kembali. Jelas bahwa ayat-ayat itu tidak bermaksud menggambarkan bahwa baptisan adalah lambang dari kematian dan kebangkitan Kristus. Jika seandainya baptisan di sini dianggap sebagai lambang, maka baptisan itu akan melambangkan kematian dan kebangkitan dari orang percaya. Tetapi karena hal ini hanyalah sebuah kiasan mengenai kelahiran kembali orang tersebut, maka perkataan ini menjadikan baptisan sebagai gambaran dari sebuah gambaran.

    Teologi Reformed memiliki konsep yang sepenuhnya. berbeda tentang hal yang esensial dalam simbolisme baptisan. Teologi Reformed mengemukakan hal ini dalam pengertian pemurnian. Heidelberg Catechism menanyakan dalam pertanyaan ke-69, "Bagaimana Anda dalam baptisan kudus melambangkan dan memeteraikan bahwa Anda memiliki bagian dalam korban Kristus di salib?" Jawabnya adalah: "Jadi, karena Kristus telah menetapkan pembasuhan secara fisik dengan air dan menambahkan janji bahwa saya telah dibasuh dengan darah-Nya dan Roh-Nya dari kecemaran jiwa saya, yaitu dari dosa-dosa saya, maka sepantasnyalah saya dibasuh dengan air secara fisik, yang olehnya kekotoran tubuh pada umumnya terbasuh." Pengertian tentang pembersihan atau pemurnian merupakan hal yang jelas sekali dalam semua tindakan pembasuhan yang ada dalam Perjanjian Lama dan juga dalam baptisan Yohanes (Mzm 51:7; Yeh 36:25; Yoh 3:25,26). Kita dapat menganggap bahwa dalam kaitan ini baptisan Yesus sepenuhnya sejalan dengan baptisan sebelumnya. Jika Yesus bermaksud menyatakan bahwa baptisan-Nya adalah sesuatu yang baru dan sama sekali berbeda dengan baptisan masa sebelumnya, tentunya Ia sudah menunjukkan maksud-Nya dengan jelas supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Alkitab berulang-ulang menjelaskan bahwa baptisan melambangkan pembersihan spiritual atau pemurnian spiritual (Kis 2:38; 22:16; Rm 6:4 dst; 1 Kor 6: 11; Tit 3:5; Ibr 10:22; 1 Ptr 3:21; Why 1:5). Inilah hal yang sebenarnya yang ditekankan oleh Alkitab, dan Alkitab tidak pernah menyebutkan mengenai masuk ke bawah lalu muncul kembali sebagai sesuatu yang penting.

  3. APAKAH SELAM CARA BAPTISAN YANG PALING TEPAT?

  4. Pendapat yang masih tetap dipegang oleh orang-orang di luar kalangan Baptis adalah, selama pengertian dasar baptisan (yaitu pengertian mengenai pemurnian) dinyatakan dalam upacara baptisan, cara pembaptisan tidak menjadi persoalan. Baptisan boleh dilakukan dengan cara selam, percik, atau pencurahan air. Alkitab memakai istilah generik untuk menunjukkan tindakan yang dirancang untuk menghasilkan satu akibat tertentu, yaitu pembersihan atau pemurnian. Tetapi Alkitab tidak pernah menyebutkan penetapkan cara tertentu yang bisa menghasilkan akibat yang diharapkan. Yesus tidak memberikan resep untuk melakukan cara baptisan tertentu. Yesus jelas tidak memberikan kepentingan baptisan seperti yang dilakukan oleh orang Baptis. Juga contoh-contoh baptisan dalam Alkitab tidak memberikan cara baptisan tertentu. Tidak pernah terjadi satu peristiwa pun yang di dalamnya kita diberi tahu secara jelas bagaimana baptisan harus dilakukan. Tetapi orang Baptis menekankan bahwa sesungguhnya Tuhan memerintahkan baptisan selam dan mereka yang melakukan baptisan selain dengan cara selam berarti tidak taat kepada otoritas Tuhan. Untuk membuktikan penekanan ini, orang Baptis menerjemahkan kata bapto dan baptizo yang dipakai oleh Alkitab sebagai "membaptiskan". Kata baptizo merupakan bentuk yang lebih intensif atau frekuentatif dari kata bapto, walaupun dalam pemakaian umum perbedaan itu tidak menjadi masalah. Bapto sering dipakai dalam Perjanjian Lama, tetapi dalam Perjanjian Baru hanya muncul empat kali yaitu dalam Luk 16:24; Yoh 13:26; Why 19:13 dan dalam ke empat pemakaian itu sama sekali tidak menunjuk pada baptisan Kristen. Orang Baptis terlalu percaya diri dan pernah mengatakan bahwa kata kerja ini hanya mungkin berarti "mencelup". Tetapi sejak Carson (salah seorang yang sangat berpengaruh dari kalangan Baptis) menyimpulkan bahwa kata itu juga mempunyai arti lain yaitu "mewarnai", sehingga bisa saja diterjemahkan "mewarnai dengan cara mencelup" atau bahkan juga berarti "mewarnai dengan cara apa pun". Akibatnya kata itu tidak menunjukkan tentang cara membaptiskan.' Kemudian timbul pertanyaan lain, yaitu apakah baptizo, yang dipakai 76 kali, dan kata yang dipakai oleh Tuhan berasal dari kata bapto dalam arti utama atau arti sekunder. Dr. Carson menjawab bahwa kata baptizo berasal dari kata bapto dalam arti "mencelup". Carson berkata, "Saya telah tunjukkan bahwa kata bapto sebagai akar kata ini mempunyai dua arti, yaitu "mencelup" dan "mewarnai". Saya tegaskan bahwa baptizo hanya mempunyai satu arti penting saja. Arti kata baptizo ini didasarkan atas anti utama kata bapto dan bukan arti keduanya...Pendapat saya adalah, kata itu selalu menunjuk arti mencelup; dan tidak mungkin berarti lain selain cara baptisan itu. Orang Baptis harus memegang pendapat ini jika mereka hendak membuktikan bahwa Tuhan memerintahkan baptisan selam.

    Tetapi kenyataannya, sebagaimana dapat kita lihat dalam bahasa Yunani klasik maupun bahasa Yunani Perjanjian Baru pendapat seperti itu tidak ada dasarnya. Bahkan juga Dr. Gale yang mungkin merupakan penulis paling terpelajar yang berusaha mempertahankan pendapat itu, merasa sulit untuk mengubah pendapat itu. Wilson dalam karyanya yang menakjubkan Infant Baptism yang sebagian merupakan jawaban terhadap pendapat Dr. Carson mengutip Dr. Gale dengan mengatakan: "Kata baptizo barangkali tidak sedemikian mengungkapkan tindakan menaruh seseorang berada di bawah air sebagaimana keadaan sesuatu pada kondisi itu, tidak perduli bagaimana bisa terjadi seperti itu, apakah dimasukkan dalam air, atau air itu yang dibawa pada benda tersebut. Walaupun sesungguhnya cara yang paling umum adalah membawa benda itu ke dalam air, tetapi sesungguhnya tidak harus begitu maksudnya." Wilson dengan jelas menunjukkan bahwa menurut pemakaian bahasa Yunani, baptisan dimungkinkan melalui beberapa cara. Wilson berkata, "Biarlah elemen pembaptisan mengelilingi obyeknya dan dalam persoalan dengan zat cair, apakah keadaan relatif ini dihasilkan dengan cara menyelamkan, memercikkan, menyiamkan atau cara yang lain, pemakaian bahasa Yunani menunjukkan bahwa hal itu dapat diterima." Selanjutnya ia menunjukkan dengan sangat rinci bahwa kita tidak mungkin tetap berpendapat bahwa kata baptizo selalu melambangkan cara penyelaman dalam Perjanjian

    Jelas bagi kita bahwa kata bapto dan baptizo mempunyai anti yang lain, seperti "membasuh", "memundikan", dan juga "memurnikan dengan cara membasuh". Pengertian tentang membasuh atau memurnikan lambat laun menjadi pengertian yang jelas, sedangkan cara bagaimana hal itu dilaksanakan makin tidak dibicarakan lagi. Bahwa pemurnian ini dimungkinkan melalui pemercikan dapat kita lihat dalam Bil 8:7; 19:13,18,19,20; Mzm 51:7; Yeh 36:25; Ibr 9: 10. Dalam Yudit 12:7 dan Mrk 7:3,4 tidak bisa kita artikan mencelup. Juga pengertian mencelup tidak bisa kita terapkan dalam ayat-ayat: Mat 3:11; Luk 11:37,38; 12:50; Rm 6:3; 1 Kor 12:13; Ibr 9:10 (cf. ay. 13,14,19,21); 1 Kor 10:1,2. Maka kata baptizo tidak harus berarti "menyelamkan". Karena Perjanjian Baru tidak pernah secara eksplisit mengemukakan bahwa baptisan harus selalu dilakukan dengan selam, maka beban untuk membuktikan arti kata itu menjadi beban orang Baptis saja. Apakah Yohanes Pembaptis harus melakukan suatu pekerjaan berat untuk menyelamkan sedemikian banyak orang itu satu per satu ke dalam sungai Yordan, dan mungkinkah dia melakukannya, atau apakah ia sekedar mencurahkan air atas mereka sebagaimana yang ditunjukkan oleh sebagian prasasti jaman itu? Apakah para rasul memperoleh cukup banyak air di Yerusalem dan apakah mereka mendapatkan fasilitas yang mereka perlukan untuk membaptiskan 3000 orang dalam satu hari dengan cara selam? Di manakah bukti yang kuat untuk menunjukkan bahwa mereka melakukan cara lain selain cara baptisan Perjanjian Lama? Apakah Kis 9:18 menunjukkan juga bahwa Paulus meninggalkan tempat di mana Ananias bertemu dengannya supaya Paulus dapat diselamkan ke dalam sebuah kolam atau sungai? Tidakkah cerita tentang baptisan Kornelius memberikan kesan bahwa air yang dibawa dan mereka yang hadir itu dibaptiskan dalam rumah mereka? (Kis 10:47,48). Adakah bukti bahwa kepala penjara di Filipi tidak dibaptis di dalam penjara atau di satu tempat dekat penjara itu tetapi membiarkan para tawanannya dibawa ke sungai sehingga ia kemudian bisa dibaptiskan? Beranikah kepala penjara itu membawa tawanannya ke luar kota ketika ia diperintahkan untuk menjaga mereka agar jangan sampai lari? (Kis 16:22-23). Bahkan juga cerita tentang baptisan sida-sida dari Etiopia (Kis 8:36-38) yang sering dianggap sebagai bukti Alkitab yang paling kuat tentang baptisan selam, tidak dapat dianggap sebagai bukti yang konklusif. Suatu telaah yang cermat dari pemakaian kata depan eis menunjukkan bahwa Lukas memakai kata depan ini bukan sekedar dalam pengertian masuk ke dalam, tetapi juga dalam pengertian ke, sehingga sangat mungkin kita mengartikan ayat 38 itu menjadi: "dan mereka berdua pergi ke air itu, baik Filipus maupun sida-sida tersebut dan Filipus membaptiskannya." Dan kendati pun kata itu dimaksudkan untuk menunjukkan arti bahwa mereka masuk ke dalam air, tetaplah belum bisa membuktikan tentang baptisan selam sebab menurut gambar-gambar yang ditemukan dari abad mula-mula, mereka yang dibaptiskan dengan cara percik juga berdiri di air. Tentu saja mungkin bahwa pada jaman para rasul, ada orang yang dibaptis dengan cara selam, tetapi kenyataan bahwa Perjanjian Baru tidak pemah bermaksud untuk menekankan selam membuktikan bahwa cara selam tidaklah esensial. Selam memang cara yang bisa dilakukan untuk baptisan, tetapi percik pun demikian juga, sebab semua itu melambangkan pemurnian. Dalam ayat-ayat yang disebutkan di atas kita melihat bahwa dalam Perjanjian Lama pembasuhan (baptisan) terjadi dengan cara dipercik. Dalam nubuatan yang menunjukkan akan datangnya Roh Kudus pada jaman Perjanjian Barin Tuhan berkata: "Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih yang akan mentahirkan kamu," (Yeh 36:25). Hal yang dilambangkan dalam baptisan yaitu Roh yang memurnikan, dicurahkan atas Gereja (Yo 2:28,29; Kis 2:4;33). Penulis surat Ibrani berkata bahwa hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni (Ibr 10:22).

Taxonomy upgrade extras: