Pentingnya Visi dan Panggilan

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Sebagai pemimpin dalam jemaat, kita perlu memiliki visi dan panggilan yang jelas. Jika tidak, perjalanan tugas kita bisa mengalami masalah di tengah perjalanan, khususnya bisa menghadapi tantangan yang tidak ringan. Untuk itu, pertama kita akan membicarakan tentang apa itu visi, dilihat dari ajaran Alkitab. Kemudian, pembicaraan akan dilanjutkan dengan pembahasan tentang panggilan.

Visi

Visi (vision) merupakan penglihatan akan apa yang terjadi, baik itu peristiwa, perbuatan atau tindakan, karya, maupun situasi atau keadaan lingkungan. Di dalam Alkitab, istilah visi (Ibrani: hazon, hazot, dabar; Yunani horama, horasis, optasia) bersifat nabiah karena dulu, Allah sering kali menyatakan kehendak-Nya baik kepada individu maupun kelompok, kepada bangsa Israel khususnya, melalui perantaraan para nabi. Allah adalah sumber visi bagi setiap individu maupun kelompok manusia. Ia memberi visi melalui berbagai cara, seperti mimpi, penglihatan, pendengaran suara, ataupun penampakan orang tertentu seperti malaikat (teophani). Kepelbagaian cara Allah menyatakan visi ini diringkas oleh penulis Kitab Ibrani (baca Ibrani 1:1-2).

Visi sangat penting dalam kehidupan umat Tuhan. Adanya visi yang diberikan bagi manusia menyatakan bahwa Allah tidak berdiam diri. Ia adalah MAHA PRIBADI yang berkomunikasi, menyatakan kehendak-Nya. Allah berulang kali memberikan visi kepada para individu sebagai pemimpin atau pekerja khusus bagi-Nya. Ia berbicara demi kepentingan yang bersangkutan atau bagi keperluan umat (pihak lain). Menurut Alkitab, Ia telah berbicara kepada Abraham (Kejadian 15:1), Musa (Keluaran 3:1-12), Yakub (Kejadian 28:2), Yusuf (Keluaran 41:25), Yehezkiel (Yehezkiel 1:1-3:15), Daniel (Daniel 10:7), murid-murid Yesus di atas gunung (Matius 17:19), Paulus (Kisah Para Rasul 16:9-10; 18:9; 26:19), Ananias (Kisah Para Rasul 9:10-12) dan Rasul Yohanes, bagi keperluan gereja mula-mula. (Wahyu 4:1-22:6)

Pada dasarnya, Alkitab mengajarkan bahwa orang-orang yang menerima visi dari Allah adalah orang-orang yang aktif (men of action). Bukan orang-orang yang bermalas-malasan. Allah memberi penglihatan khusus kepada orang-orang yang bersedia bekerja bagi-Nya. Artinya, Allah senantiasa memberi visi untuk tujuan atau fungsi tertentu. Ia tidak memberikan visi bagi kepuasan diri yang dapat membawa orang kepada kesombongan spiritual, sama sekali tidak.

Sedikitnya, ada tiga fungsi visi dari Allah bagi manusia. Pertama, untuk pengarahan (direction). Artinya, Allah memberikan visi yang dapat menuntun langkah dan memberi arah kegiatan kepada pekerjaan atau pelayanan yang menerimanya. Allah juga memberi pengertian tentang makna situasi dan peristiwa yang sedang terjadi. Kedua, untuk pengajaran (instruction). Dalam hal ini, Allah memberitahukan kehendak-Nya berkaitan dengan hal spiritual, moral, dan kehidupan sosial orang-orang yang dikasihi-Nya. Fungsi inilah yang sering kali membuat apa yang dilihat para perantara (nabi) dituliskan atau dicatat, dan menjadi kitab atau dokumen tertulis (Daniel 12:4, 9-13; Yeremia 36:4). Ketiga, untuk prediksi masa depan (prediction). Nabi Samuel dan Raja Daud, misalnya, diberi tahu Allah tentang yang akan terjadi atas Kerajaan Israel di kemudian hari. Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel mendapat visi dari Allah mengenai masa depan Israel, bangsa-bangsa, dan dunia secara global. Kitab Wahyu melaporkan apa yang Tuhan tunjukkan kepada Rasul Yohanes mengenai masa depan kehidupan gereja dan umat manusia umumnya, di dunia dan di "seberang sana".

Pemahaman ini memberi dasar akan pentingnya visi dari Tuhan bagi gereja di zaman ini. Allah itu hidup, Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir, yang menyatakan: AKU ADALAH AKU (Keluaran 22:32). Oleh karena itu, Ia tetap akan berbicara kepada kita yang hidup dan dipanggil di dalam dunia ini. Kita diutus ke dalam dunia, berada di dalam dunia. Namun, Ia akan senantiasa menyertai, melalui kehadiran Roh-Nya yang Mahakudus. (Yohanes 16:11-13) Roh-Nya mengajar dan memberitahukan apa yang akan terjadi, apa yang patut kita lakukan bagi kemuliaan-Nya. Ia memperjelas makna tanda-tanda zaman bagi gereja-Nya. Roh adalah yang memberi pengertian, urapan, dan pengajaran yang benar (1 Yohanes 2:20,27; 3:24; 4:2,13; 5:6-8). Roh itu mengajar kita dari dan berdasarkan firman Tuhan, agar kita mampu memahami visi dari Allah.

Telah disinggung bahwa Allah memberi visi dalam pelbagai cara, secara langsung ataupun tidak. Ia berbicara lewat prinsip-prinsip firman Tuhan sebagaimana dinyatakan Alkitab. Ia juga memakai orang-orang tertentu sebagai saluran visi dan kehendak Allah. Ia berbicara kepada hati nurani, suara hati yang dikontrol, dan dipimpin oleh Roh dan firman Tuhan. Ia pun berbicara kepada kelompok orang percaya, dalam persekutuan yang sehat. Ia juga berbicara kepada kita lewat situasi dan keadaan kontemporer yang sedang kita hadapi, termasuk di dalamnya pengetahuan, hasil riset dan berbagai "tren" yang melingkupinya.

Panggilan Allah

Secara teologis, istilah "panggilan" (calling) berasal dari kata Latin "vocation" dan kata Yunani "kaleo", "klesis", yang artinya memanggil, mengimbau, mendesak. Istilah "vocatio" lebih mengarah pada pekerjaan yang Allah nyatakan untuk dilakukan oleh manusia, bagi rencana-Nya yang khusus. Istilah "calling" lebih menunjuk pada panggilan hidup, tentang kedudukan, dan peranan di hadapan Allah.

Alkitab menjelaskan ada dua jenis panggilan. Pertama, panggilan secara pribadi untuk tugas tertentu, seperti Abraham, Musa, Samuel, Daud, Elisa, Yeremia, Yesaya, murid-murid Yesus, dan Rasul Paulus. Kedua, ada panggilan bagi kelompok, umat Israel khususnya, agar menjadi umat pilihan Allah, hamba-Nya, dan saksi-Nya bagi bangsa-bangsa (umat perjanjian) atau disebut "Kerajaan imam dan bangsa yang kudus". (Keluaran 19:3-6) Israel adalah "hamba Tuhan" yang dipanggil dan ditebus-Nya untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa. (Yesaya 49:1-7) Mereka dipanggil hanya untuk taat kepada-Nya (Yesaya 50:4-11), serta bersedia menderita dalam perjalanan dan pelaksanaan tugas. (Yesaya 53)

Menurut penegasan Perjanjian Baru, panggilan Allah umumnya tertuju pada gereja, orang-orang percaya. Mereka adalah jemaat Tuhan, "imamat rajani" dan "bangsa yang kudus, kepunyaan Allah". (1 Petrus 2:9-10) Gereja menjadi sentral dalam rencana Allah di dunia ini, sementara Yesus menjadi dasar bagi gereja. (Matius 16:18) Yesus adalah kepala dan juga fondasi gereja. (Efesus 1:22,23; 2:22; 1 Korintus 3:11) Allah ingin memperbarui gereja secara terus-menerus agar efektif menjadi saluran berkat bagi umat manusia. Jika kita dipanggil-Nya secara pribadi, maka kita tidak terpisahkan dari tubuh Kristus. Kita dihisap ke dalam tubuh-Nya. Kita menjadi anggota satu sama lain. Dapat dikatakan bahwa di luar gereja tidak ada keselamatan dari Allah.

Apakah panggilan Allah bagi orang-orang percaya? Ada banyak, tetapi hanya beberapa saja yang akan dikemukakan di sini. Pertama, kita dipanggil untuk mengenal dan memuliakan Dia, lewat perkataan dan perbuatan. (Efesus 3:10; 1 Petrus 2:9,10; 5:10) Kita dipanggil untuk mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan. Kasih ini menjadi modal dasar untuk mengenal dan menerima diri sendiri, untuk seterusnya mengasihi sesama. (Matius 22:37-39; Markus 12:29-31)

Kedua, kita dipanggil ke dalam pertobatan dan keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kita diajak untuk hidup meneladani Yesus Kristus, hidup menyerupai Dia. (1 Yohanes 2:6; 3:2-3) Kita diarahkan ke dalam perubahan hidup yang dimungkinkan oleh pekerjaan Roh Kudus. (1 Korintus 3:17-18) Kita dipanggil untuk menikmati kuat kuasa dan karunia Allah. (2 Timotius 2:1-2) Kita perlu kuat dalam kuasa Tuhan karena setiap waktu kita berada dalam "peperangan rohani". (Efesus 6:10-20) Untuk dapat bertahan, kita harus berdiri di dalam Yesus Kristus dan bersandar dalam doa yang dinamis.

Ketiga, kita dipanggil ke dalam hidup yang memiliki keunggulan moral (moral excellence). Keselamatan yang kita peroleh dari Tuhan harus nyata dalam kehidupan, pikiran, perkataan, sikap hidup, dan perbuatan kita, atau "berpadanan dengan panggilan". (Efesus 4:1) Kita mengikuti "jejak Kristus" dalam kesucian dan kesalehan hidup. (1 Petrus 2:21) Kita dipanggil untuk "melakukan apa yang kudus" (1 Tesalonika 4:7) untuk "melayani sesama dalam kemerdekaan" (Galatia 5:13); "berusaha supaya kedapatan tidak bercacat dan tak bernoda dihadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia (2 Petrus 3:14); untuk "membangun diri sendiri di atas dasar iman yang paling suci dalam Roh Kudus". (Yudas 20, 21)

Atas dasar inilah kita perlu terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan, lewat pengajaran, persekutuan, dan penyerahan diri dalam kesetiaan (komitmen). Artinya, tidak ada batas akhir untuk membina diri dan membina warga gereja. Tidak ada istilah "lulus" dalam pembinaan warga jemaat. Apa yang telah kita capai hari ini selalu menjadi awal (the beginning) bagi perjalanan hidup di hari esok. Demikian seterusnya, hingga kita mengakhiri panggilan hidup ini, lalu memasuki ruang dan waktu kekekalan (eternitas). Kita harus tetap sadar bahwa hidup ini adalah perjuangan, perjuangan dalam anugerah, kasih, dan kekuatan dari Tuhan Yesus Kristus. Panggilan kita bersifat eskatologis, mengarah ke masa depan yang senantiasa baru, yaitu panggilan surgawi. (Filipi 3:14; Ibrani 3:1) Tuhan selalu memberi perkara baru bagi kita, pengalaman baru, permasalahan baru, dan kemenangan serta kekuatan, bahkan visi baru.

Keempat, Allah memanggil kita menjadi "saluran berkat-Nya" melalui pekerjaan sehari-hari (profesi). Berulang kali Kitab Titus menyatakan bahwa Allah memanggil kita untuk pekerjaan baik, giat, serta belajar terus dalam pekerjaan baik. (Titus 2:14; 3:1,8,14) Kita dipanggil untuk meningkatkan profesionalisme kerja agar menjadi pembawa pembaruan bagi orang lain.

Sikap kerja profesional adalah kehendak Allah karena Ia adalah Tuhan atas kualitas hidup. Orang yang profesional adalah orang yang memiliki kecakapan untuk mengakui kemampuannya tanpa malu dan ragu "to profess". Pengakuan itu mencakup keterampilan, sikap, dan pengetahuan. Jadi, di mana pun kita bekerja, kita harus berwawasan luar dan eskatologis, serta mengharapkan "urapan" Tuhan secara maksimal. Saya kira gereja perlu meningkatkan pelayanan bagi kaum profesional.

Jika pekerjaan merupakan saluran berkat Allah bagi sesama, penting bagi setiap orang Kristen untuk memikirkan pertanyaan, "Di mana Tuhan menghendaki saya bekerja (berprofesi)?" dan "Apakah pekerjaan yang Tuhan kehendaki untuk saya lakukan secara spesifik?"

Oleh karena itu, perihal mengetahui kehendak Tuhan mengenai pekerjaan pun menjadi sikap hidup kristiani. Bertanya tentang kehendak Tuhan secara khusus, menurut Paulus, adalah gaya hidup yang arif, bijaksana. (Efesus 5:15-17) Ada kalanya kita juga perlu bertanya mengenai sikap hidup kristiani ketika kita dipanggil-Nya untuk percaya. (1 Korintus 7:20) Selama pekerjaan itu halal, tidak bertentangan dengan prinsip firman Tuhan (Bdk. Kolose 3:22-25), dan ada damai sejahtera di dalam batin kita, maka profesi itu dapat kita lakukan.

Kelima, jika Dia menghendaki, kita mungkin dipanggil ke dalam pekerjaan khusus, yaitu pelayanan Kristen. Ada banyak ragam pelayanan, tetapi semuanya berasal dari satu Tuhan. (1 Korintus 12:4,5,11)

Ada pelayanan memberitakan Injil, mengajar, menasihati, kepemimpinan dan manajerial, penggembalaan, dan lain-lain. (Roma 12:6-8; Efesus 4:11-13; 1 Petrus 4:10-11) Semua pekerjaan pelayanan ini adalah untuk kepentingan gereja Tuhan, bukan untuk kepentingan pribadi. Oleh karena itu, kita harus menghargai dan menerima keunikan panggilan seseorang dalam pelayanan ini. Kita mendukungnya agar ia dapat mengembannya seefektif mungkin. Kita tidak perlu merasa cemburu atau iri hati terhadapnya hanya karena kita tak dapat mengimbangi atau mengalahkannya.

Pekerjaan pelayanan ini menuntut kita untuk melakukannya dengan kesetiaan. (1 Korintus 15:58) Sebab pada dasarnya, Allah telah memberikan karunia atau talenta kepada setiap orang percaya. Mereka perlu mengenalinya, mengenal lewat pemahaman dan pengalaman. Semakin kita terlibat dalam pelayanan, semakin kita mengenal karunia apa yang Tuhan berikan secara khusus kepada kita. Kita jangan menunggu hingga hal itu jelas. Ada kalanya demikian, tetapi tidak selalu.

Integrasi Pemikiran

Dari penjelasan di atas, kita mengetahui bahwa Allah hidup dan senantiasa ingin menyatakan kehendak-Nya kepada setiap orang. Allah tidak berhenti memanggil orang-orang untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya. Ia tidak berhenti memanggil setiap individu dan kelompok (gereja) untuk bekerja bagi Dia, lewat profesi dan panggilan secara khusus dalam pelayanan. Semua orang percaya punya "jalan masuk" untuk pelayanan karena kedudukannya sebagai "imam-imam Sang Raja". (1 Petrus 2:9,10) Di dalam Kristus, tidak ada pemisahan dan pemilahan "klerus" dengan "awam". Tidak. Baik "klerus" maupun "awam" sama-sama milik Kristus, yang terpanggil untuk saling melayani. Sejauh mereka adalah anggota tubuh Kristus, mereka harus saling melayani, saling membantu, saling membutuhkan dan dibutuhkan.

Kita dipanggil untuk memuliakan Allah dalam atau melalui perkataan, sikap, pemahaman, dan perbuatan. Dalam keutuhan hidup, kita melayani Dia, ikut dalam rencana-Nya. Agar kita dapat memainkan peranan secara maksimal, tentu kita perlu arahan (direction), pengajaran (instruction), dan pemahaman ke masa depan (prediction) yang jelas dan terus-menerus. Artinya, kita memerlukan visi tentang panggilan untuk masuk dan aktif dalam panggilan-Nya sekarang. Tetapi, visi hidup kita juga akan terus diperbarui dan dipertajam dalam pekerjaan atau pelayanan kita yang akan datang.

Untuk maksud kejelasan visi dan panggilan itu, kita masing-masing perlu tetap melibatkan diri dalam pekerjaan Tuhan. Tidak ada pekerjaan yang dapat dikatakan "kecil atau hina" dalam pekerjaan Tuhan. Jika orang ingin menjadi "besar dan terkemuka" dalam pekerjaan Tuhan, ada harga dan jalan yang harus ia tempuh. Jalan itu adalah kehendak Yesus Kristus, dan merupakan gaya hidup Sang Mesias. Jalan itu adalah "melayani dan menjadi hamba". (Matius 20:27-28)

Kedua, kita perlu membangun diri sehingga kita hidup berkenan kepada Allah. Jangan lupa bahwa Allah memakai orang sebagai berita dan media. Keduanya sama-sama penting. Kita tidak saja dipanggil menjadi pemberita atau pembawa berita, tetapi juga menjadi berita yang hidup dan dinamis. Terhadap orang yang demikianlah Allah memperjelas visi dan panggilan-Nya. Visi diberikan hanya kepada orang-orang yang didedikasikan untuk pekerjaan Tuhan.

Ketiga, kita harus mengupayakan program konkret guna mengembangkan pemahaman kita akan visi dan panggilan Allah. Oleh sebab itu, program pembinaan senantiasa diperlukan. Arahnya harus ditelusuri demi relevansi. Semua kegiatan ini tentu membutuhkan tenaga, daya, dan dana yang tidak sedikit jumlahnya. Tuhan memberkati! (1 Korintus 15:58)

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul majalah : Sahabat Gembala
Penulis : Dr. B.S Sidjabat
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2005
Halaman : 12 -- 18
Umum: 
Kategori: 

Komentar