PKB-Referensi 01b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Pelajaran 01 | Pertanyaan 01 | Referensi 01a

Nama Kursus : Penulis Kristen yang Bertanggung Jawab
Nama Pelajaran : Mencari dan Mengembangkan Ide Tulisan
Kode Pelajaran : PKB-R01b

Referensi PKB-R01b diambil dari:

Judul Buku : Visi Pelayanan Literatur
Judul artikel : Bertumbuh Melalui Literatur
Penulis : Tim Penyusun
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 1989
Halaman : 65 -- 67

REFERENSI PKB PELAJARAN 01b - BERTUMBUH MELALUI LITERATUR

"Orang yang paling malang," kata beberapa cerdik cendekiawan, "ialah mereka yang tidak pernah belajar menikmati bacaan buku-buku yang bagus." Dan, "yang berbahagia ialah mereka yang dilahirkan dari dan dibesarkan di dalam keluarga yang gemar membaca, karena para orang tua seperti ini secara sadar ataupun tidak, meneruskan dan mewariskan kegemaran membaca pada anak-anak mereka."

Tidak sedikit tulisan yang mengulas manfaat membaca. Sudah banyak tanggapan positif yang ditujukan kepada para orang tua yang membacakan buku kepada anak-anak mereka. Bahkan, bayi yang umurnya kurang dari satu tahun pun sudah dapat merasakan sukacita karena melihat, meraba, dan mungkin merasakan dengan bibir atau lidahnya -- gambar dari sebuah buku bergambar. Anak-anak yang lebih besar, matanya akan bersinar-sinar bahagia setiap kali ibu atau ayah membacakannya sebuah cerita.

Banyak ajaran yang ingin disampaikan oleh orang tua kepada anak, lebih mudah ditangkap melalui cerita daripada tutur lisan. Orang tua yang gemar membaca, meletakkan pola belajar yang sehat bagi anak-anaknya. Anak yang tumbuh di dalam keluarga yang menyukai literatur, memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang lebih cepat di berbagai segi, antara lain:

- Meningkatkan kosakata dan pemahaman konsep, apalagi bila orang tua mau berhenti sebentar untuk menjelaskan kata-kata yang sulit untuk ukuran anak.

- Sejak usia dini anak terlatih untuk memusatkan perhatian dan menjadi pendengar yang baik. Daya tahan untuk duduk tenang dan mendengarkan itu pun akan ikut berkembang pula.

- Mempertajam daya ingat dan memperkuat dorongan untuk belajar membaca sendiri.

- Sejak dini, melalui bacaan, anak mengenal nilai-nilai moral. Literatur yang bagus mempunyai kuasa untuk memengaruhi cara berpikir dan tingkah laku yang benar. Literatur yang bagus dapat mengajarkan kejujuran dan kesabaran.

Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa literatur merupakan suatu dunia ilmu pengetahuan yang tersedia bagi siapa saja yang membaca. Sementara orang membaca untuk memuaskan kehausan mereka akan ilmu pengetahuan, tetapi tidak sedikit yang melakukannya untuk kenikmatan. Sementara itu, ada juga orang-orang yang menyisihkan waktu untuk membaca artikel-artikel yang berkaitan dengan hobi mereka atau tentang penemuan-penemuan baru, bahkan mungkin ada orang yang lari ke karikatur atau tulisan-tulisan yang akan membuat mereka tertawa. Banyak pula orang-orang yang kecewa, merasa gagal, atau putus asa, lari ke literatur -- yang mereka anggap lebih sehat daripada lari ke obat bius, minuman keras, atau yang lebih buruk lagi, bunuh diri.

Literatur, kecuali merupakan jendela ilmu pengetahuan bagi para pembacanya, juga dapat menjadi sarana yang memberi inspirasi, semangat, dan wawasan tentang hari depan yang lebih indah. Sejauh ini, kami menggarisbawahi istilah "literatur" dalam arti yang positif; tulisan-tulisan atau bahan-bahan bacaan yang dapat memperluas cakrawala, memperdalam pandangan dan menguatkan iman seseorang serta pemahaman dunia rohani. Perlu diakui pula, bahwa melalui literatur, orang juga dapat mengenal kejahatan dengan segala bentuknya. Bagian yang terakhir inilah yang akan menjadi tantangan bagi kita, umat pilihan Allah, untuk mengatasinya.

Literatur dalam Rancangan Allah

Sesuai dengan arahan tulisan ini, menuju ke "visi pelayanan literatur", maka untuk selanjutnya, istilah literatur yang kami maksudkan di sini ialah literatur Kristen, dari penulis-penulis Kristen, untuk orang-orang Kristen pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.

Sejak zaman purba, tatkala manusia mulai dapat mengguratkan sesuatu benda ke benda lainnya, telah timbul suatu prakarsa untuk mengabadikan segala sesuatu yang mereka angankan, inginkan, ataupun yang mereka pikirkan.

Tanpa diketahui dengan jelas kapan awal mula pengabadian hasil angan, karsa, dan karya manusia itu dimulai, kita kini berada di suatu era yang serba mungkin, termasuk di bidang literatur. Hampir segala sesuatu yang ingin kita ketahui, dapat kita temukan dalam literatur. Dan, kita perlu bersyukur untuk hal ini.

Namun sebagai umat pilihan Allah, pengucapan syukur kita tidak hanya berhenti pada rasa terima kasih karena tersedianya sumber informasi yang kita perlukan, melainkan lebih dari itu. Rasa syukur kita perlu didasari dengan kesadaran akan kurangnya literatur Kristen, bahkan sangat kurang, terutama bila dibandingkan dengan pertambahan jiwa-jiwa baru, dan kita mau bertindak.

Jika di dalam Kejadian 11 Allah menggagalkan pembangunan menara Babel, sementara Ia memberkati usaha manusia mengembangkan bahasa dan sastra mereka, pasti Allah mempunyai maksud yang mulia. Tuhan adalah seniman Agung yang terus berkarya. Tuhan juga yang berfirman, "Segala sesuatu bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia." (Roma 8:28). Maka, di dalam pengembangan bahasa dan sastra pun, Allah ikut berkarya supaya kita yang memanfaatkan bidang ini sebagai ladang pelayanan, memperoleh segala berkat yang terkandung di dalamnya. Literatur, salah satu sarana media massa, yang oleh manusia sudah diakui manfaat dan keampuhannya, diizinkan "ada" oleh Tuhan, supaya anak-anak-Nya dapat menggunakannya sebagai saluran berkat dan pelayanan bagi sesama.

Komentar