PKB-Referensi 04a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Pelajaran 04 | Pertanyaan 04 | Referensi 04b

Nama Kursus : Penulis Kristen yang Bertanggung Jawab
Nama Pelajaran : Mencari dan Mengembangkan Ide Tulisan
Kode Pelajaran : PKB-R04a

Referensi PKB-R04a diambil dan disunting dari:

Judul Buku : Teknik Mengarang
Judul artikel : Mengembangkan Ide dan Mengontrol Perkembangannya
Penulis : Tim Penulis Ciptaloka Caraka
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta: 2006
Halaman : 30-36

REFERENSI PELAJARAN 04a - MENGEMBANGKAN IDE DAN MENGONTROL PERKEMBANGANNYA

Orang dewasa tidak lain daripada bayi yang telah berkembang. Demikian juga suatu karangan sempurna tidak lain daripada suatu ide yang berkembang.

Orang yang baru belajar mengarang sering mengeluh kehabisan bahan. Model karangan mereka seperti di bawah ini:

"Mutu pendidikan calon-calon dokter kita sekarang ini kurang dapat dipertanggungjawabkan. Dokter-dokter muda kurang cakap, masih agak teoritis, kurang praktik. Mahasiswa-mahasiswa fakultas kedokteran swasta tidak ada ruang praktik, hanya teori belaka yang diberikan".

Tulisan demikian terlalu umum, main pukul rata saja. Di situ, pengarang sudah memilih tema dan menyatakan pendiriannya, tetapi ia tidak mengembangkan idenya lebih lanjut. Sebetulnya, ia mempunyai banyak sekali bahan yang perlu dikatakan; hanya saja ia malas untuk memikirkannya.

Ide dikembangkan dengan memikirkan ide pokoknya, dengan membangkitkan pertanyaan yang kira-kira timbul dalam hati pembaca dan memberikan jawabannya. Carilah bahan/ide/pikiran, dengan membalik-balikkan pengalaman saudara sendiri atau dengan mencarinya dalam perpustakaan: Kamus, ensiklopedi, leksikon adalah sumber yang subur. Carilah dan pergunakanlah fakta, detail, ilustrasi, contoh yang dapat mengembangkan ide.

Misalnya, karangan pendek di atas dikembangkan dengan mengemukakan jumlah mahasiswa yang belajar di fakultas-fakultas kedokteran negeri dan swasta, kurikulum yang diberikan di masing-masing fakultas kedokteran, mutu dan kemampuan staf pengajarnya. Pengarang sebaiknya menunjukkan fakultas-fakultas kedoktran swasta yang tidak memiliki ruang kuliah dan tempat praktikum sendiri, kurangnya pembiayaan di universitas baik di negeri maupun swasta, nasib mahasiswa "abadi" yang sudah belajar 8-10 tahun tetapi belum dapat menjadi dokter karena tiada ujian negara atau pegakuan dari negara.

Dalam mencari bahan, bekerjalah dalam rangka rencana yang telah ditetapkan!

Analisis dan klarifikasi, seperti kita tahu, berguna dalam perencanaan, tetapi selain itu dapat pula dipakai untuk mengembangkan ide/karangan: dalam hal "mundurnya mutu pendidikan calon dokter sekarang ini", misalnya, dapat kita golongkan: mahasiswa-mahasiswa fakultas kedokteran negeri dan swasta, fakultas-fakultas swasta yang bermutu dan yang kurang bermutu, atau malah sama sekali "brengsek"; lalu kita analisis lebih lanjut cara pendidikan, riset, praktikum, rumah sakit dan laboratorium, soal staf pengajar, pembiayaan, kebijaksanaan, dan sebagainya.

Pengarang yang baik dengan tegas membedakan antara fakta dan penilaian. Dia mengerti relativitas pernyataan umum dan pernyataan khusus. Lalu, ia mampu menyajikan pengalaman, ilustrasi, dan data yang cocok dengan soal yang dibicarakannya.

  1. Menggunakan Fakta
  2. Penilaian (judgement)/anggapan/pendapat atau penyimpulan yang tidak mengandung isi tidak mengembangkan suatu ide. Penilaian hanya meyakinkan pembaca jika dibuktikan dengan fakta.

    Kita kerap mendengar percakapan kurang berarti seperti di bawah ini:

    "Kennedy presiden yang terbaik".


    "Oh, tidak! Eisenhower lebih baik lagi."


    "Kamu tak berpikir. Kennedy dihargai oleh semua orang".


    "Oh, tidak, dia banyak musuhnya."

    Percakapan semacam itu tak ada gunanya dan bersifat kekanak-kanakan, tidak menambah pengertian baru, tidak ada bukti. Banyak juga karangan gagal karena yang ditulis hanya penilaian melulu, dengan tidak menyertakan fakta atau bukti.

    1. Seorang pengarang membedakan fakta dari penilaian
    2. Contoh:

      Penilaian: Marta anak jelek.


      Fakta: Marta mengambil Rp 500,- tanpa bilang-bilang.


      Penilaian: Anjing Boby suka menerkam ayam.


      Fakta: Saya melihat anjing Boby menerkam ayam hitam milik tetangga.

      Penilaian dapat berupa pendapat, anggapan, pernyataan. Penilaian bersifat mencap, menggolongkan, menyatakan sikap setuju atau tidak setuju. Pengarang jangan membuat pernyataan umum, yang benar\tidaknya tak dapat dibuktikan. Misalnya, dibuat pernyataan umum bahwa guru-guru sebelum perang lebih cakap dan pandai daripada guru-guru sekarang ini; atau kaum istri itu lebih setia daripada suami mereka.

      Fakta selalu benar. Fakta mengatakan apa adanya, apa yang terjadi. Dasarnya apa yang dilihat, apa yang disaksikan.

      Hindarilah terlalu banyak penilaian! Memang, ada pernyataan yang tidak dapat secara tegas sekali dibedakan apakah fakta atau penilaian. Akan tetapi, biasanya fakta dan penilaian bisa digolongkan dengan terang. "Jakarta sekarang ini telah memiliki beberapa gedung bioskop mewah, misalnya City Theater, Apollo Theater, Star Theater, Jakarta Theater, dan sebagainya; bar dan restoran yang baru dibuka, seperti Cleopatra, Oasis, Ramayana, La casa Nirwana, Melati Room, Casino Sarinah, Hayam Wuruk, Petak Sembilan, Lokasari, dan lain-lain". Itu semua merupakan fakta. Namun, mengatakan bahwa Jakarta sekarang ini telah menjadi kota metropolitan yang setaraf dengan Washington D.C adalah suatu penilaian belaka.

    3. Membatasi pemakaian penilaian
    4. Penilaian/anggapan mudah dicari. Mungkin oranng terus menerimanya karena kurang kritis atau karena orang banyak berpendapat demikian.

      Seorang pengarang yang baru belajar sering mulai menulis dengan melontarkan penilaian/anggapan/pendapatnya tentang suatu hal. Jika cara ini tidak dibarengi dengan fakta yang konkret, itu tidak akan meyakinkan pembaca. Barangkali, untuk menjelaskan pendapatnya, ia akan mengulang-ulang pendapatnya yang sudah diutarakan itu. Namun, cara demikian kurang meyakinkan pula.

      Penilaian/anggapan/pendapat sering juga berguna untuk karangan, tetapi harus selalu diiringi dengan bukti faktual agar karangan tidak kehabisan napas. Jika pagi-pagi benar penilaian sudah dijatuhkan, tenggelamlah segala persoalan dan argumentasi. Kesempatan untuk membicarakan lebih lanjut telah tiada lagi.

      Dalam karangan yang serius, penilaian ditempatkan hampir pada akhir karangan. Dengan demikian, pembaca tinggal memilih 'setuju' atau 'tidak' atas dasar fakta, data, dan bukti yang telah disajikan.

      Banyak orang tidak dapat menyelesaikan karangannya karena katanya "segala yang diketahui" telah ditulisnya. Ini dapat dimaklumi karena mereka sering kali terlalu banyak menggunakan penilaian umum sekali atau pendapat belaka. Mestinya, ia tahu membatasi penggunaan penilaian, yaitu hanya memilih pernyataan yang dapat ia kembangkan dengan fakta-fakta.

      Misalnya, pengarang mengatakan, "Sarjana-sarjana sangat rendah mutunya." Mungkin tema itu menarik sekali untuk pertama kalinya. Namun, betapa sukar untuk mengembangkan penilaian yang sedemikian itu! Jauh lebih mudah kalau ia mengambil perumusan: "Banyak sarjana lulusan Universitas NN kurang dipersiapkan untuk pekerjaan praktis". Kemudian, ia dapat menyelidiki apa yang diberikan dalam kurikulum.

      Contoh penilaian yang tak berkembang:

      "Biaya pendidikan terlalu mahal. Mutunya semakin merosot. Biasanya murid sekolah-sekolah menengah suka membolos dan di rumah, mereka tidak belajar. Kabinet Pembangunan harus memperbaiki itu semua! Tenaga-tenaga pengajar harus dipilih dari mereka yang sungguh-sungguh bermutu.

      Kalimat-kalimat yang berupa penilaian itu tidak dibuktikan dan tidak dikembangkan. Penilaian terlalu luas dan kabur sifatnya. Lihatlah perbaikan berikut:

      "Biaya pendidikan di negara kita tahun terakhir ini telah meningkat lima kali lipat daripada tiga tahun yang lalu. Orang tua murid, khususnya pegawai negeri golongan D ke bawah, dengan gajinya tak mampu mengongkosi biaya sekolah anaknya seorang pun. Gaji mereka sebulan tidak lebih dari Rp 4500.- buat seluruh keluarga. Ongkos sekolah untuk satu anak dengan transpornya tidak kurang dari Rp 1500,- sebulan. Belum lagi diperhitungkan kebutuhan akan pakaian ...."

      Pengarang mempersempit ruang lingkup masalah dan penilaiannya. Penilaian yang dipakai itu diterangkan secara mudah dengan memberikan fakta.

      Contoh penilaian yang diulang-ulang:

      "Gedung Unika sudah tidak memenuhi syarat bagi suatu universitas. Kita harus membangun suatu gedung yang baru, yang bisa menampung semua mahasiswa dari segala jurusan. Ruang yang kini dipakai untuk kuliah tidak pantas dan harus diganti."

      Kalimat itu hanya mengulang-ulang bahwa gedung Unika tak memenuhi syarat lagi. Dengan demikian, pembaca belum diyakinkan. Perhatikan perbaikan berikut!

      "Gedung Unika sekarang ini tidak bisa menampung lagi mahasiswa-mahasiswa yang berjumlah 10.000 orang. Jumlah ruang-ruang ada 30 buah. Masing-masing berukuran 5 X 5 m2. Setiap ruang terpaksa dipakai terus-menerus secara bergilir sejak jam 7.30 pagi sampai jam 9 malam. Udara di dalamnya terlalu panas karena setiap ruang hanya mempunyai 2 jendela dan 2 lubang angin." (Penambahan fakta lebih meyakinkan pembaca bahwa gedung tersebut memang tak memenuhi syarat lagi.)

      Selain dengan penggunaan fakta, kita dapat, mengembangkan ide karangan dengan mengemukakan hal-hal kecil tetapi khas, dengan menggunakan ilustrasi atau pembatasan. Semua cara itu membantu untuk mengarang dengan cara yang meyakinkan pembaca.

  3. Penggunaan Detail yang Khas
  4. Pengarang pandai mengembangkan generalisasi-generalisasi/penyamarataan-penyamarataan melalui detail-detail yang khas.

    Pernyataan atau istilah umum menunjuk pada keseluruhan, pada suatu golongan, jenis, atau kelompok. Istilah atau pernyataan yang khusus menunjuk pada satu hal yang khas (particular). Memang, setiap istilah kurang lebih umum dalam perbandingan dengan yang lain.

    "Makhluk hidup" adalah istilah yang lebih umum daripada "manusia", "orang Indonesia" lebih khusus daripada "manusia". "Orang Indonesia" dapat diperkhusus lagi menjadi "orang Jawa"---> "Seorang bangsawan"---> "Pangeran Puger".

    1. Istilah Umum dan Khusus dalam Mengarang
    2. Baik istilah yang bersifat umum maupun khusus, kedua-duanya diperlukan untuk mengutarakan buah pikiran. Misalnya, suatu keluarga hidup dalam pondok di suatu pulau kecil terasing dari orang-orang lainnya. Tentu saja mereka sekeluarga mengenal sekalian benda-benda dan tumbuh-tumbuhan yang terdapat di atas pulau mereka. Suatu hari dalam perjalanan jauh, sang ayah menjumpai sejenis tumbuh-tumbuhan, yang menyerupai pare dan oyong tetapi jelas berbeda pula dengan keduanya. Untuk menerangkan tumbuhan itu kepada anak-anaknya, sang ayah perlu mengambil istilah umum yang menghubungkan tumbuhan yang baru dilihatnya itu dengan apa yang sudah diketahui anak-anak. Misalnya, dikatakan, "Tumbuh-tumbuhan yang kutemukan itu merupakan tanaman merambat seperti pare dan oyong." Lalu, ditambahkan segi khusus tanaman baru itu untuk menekankan perbedaanya dari dua jenis yang sudah dikenal: "Tanaman itu memiliki buah yang lonjong panjang, licin dan halus, warnanya kebiru-biruan."

      Pengarang yang cakap selalu berusaha menggunakan istilah yang spesifik meskipun ia membuat generalisasi sejauh perlu untuk menghubungkan pernyataan-pernyataan yang spesifik itu. Perhatikan karangan di bawah ini, yang berusaha mengarah kepada hal yang khas dengan berpangkal tolak dari yang umum:

      "Seperti setiap suku di Indonesia, suku Jawa mempunyai kepercayaan yang kuat kepada roh-roh nenek moyang. Mereka menunjukkan penghormatannya kepada roh-roh itu dengan mengadakan selamatan. Seorang yang disebut 'Kaum' (lebai) memimpin doa dalam bahasa daerah dan Arab, 'amin', tanda setuju pada apa yang diucapkan oleh sang Kaum. Sesudah doa, makanan yang berupa nasi, daging ayam, telur, sayur, pisang, dan lain-lain dibagikan kepada para peserta sebagai 'berkat'".

      Dalam alinea itu diusahakan kalimat pertama diterangkan oleh kalimat kedua, kalimat kedua diterangkan oleh kalimat ketiga dan seterusnya.

    3. Simbol atau Lambang
    4. Istilah yang khas berguna sekali untuk menciptakan suatu karangan yang baik. Dalam percakapan, sering kita memakai ucapan-ucapan yang bersifat simbolis. Kita mengatakan: busuk seperti musang (ular). Seorang yang tamak kerap ditonjolkan sebagai "si perut gendut" orang yang hanya pandai bicara tanpa isi sebagai "tong kosong", orang yang suka mencuri disebut "si panjang tangan"; orang yang gila perempuan diberikan julukan "si mata keranjang".

      Memang, istilah spesifik/khusus dibarengi juga dengan yang bersifat umum. Akan tetapi, bila memilih kata-kata yang khusus dan jitu, kesan yang diberikan olehnya jauh lebih hidup dan meyakinkan daripada gambaran yang bersifat umum. Yesus menyebut orang-orang Farisi "kubur yang di luar bersih, tetapi di dalamnya penuh kebusukan."

Komentar