PPL-Referensi 06a

Pelajaran 06 | Pertanyaan 06 | Referensi 06b


Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN LAMA
Nama Pelajaran : Hubungan PL dan PB
Kode Pelajaran : PPL-R06a

Referensi PPL-R06a diambil dari:


Judul Buku : BAGAIMANA MEMAHAMI PERJANJIAN LAMA
Judul Artikel : Hubungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
Penulis/Editor : Frank Michaeli
Penerbit : Kalam Hidup, Bandung, 1961
Halaman : 7 - 9


REFERENSI 06a - HUBUNGAN PL DAN PB

HUBUNGAN PERJANJIAN LAMA DAN PERJANJIAN BARU

Gereja Yesus Kristus hanya dapat hidup apabila dibangun di atas Firman Allah, yaitu Alkitab. Tidak ada hal lain yang dapat menjamin bahwa Gereja secara keseluruhan, atau anggota-anggotanya secara perorangan, akan dapat berdiri teguh. Setiap orang yang ingin menjadi orang Kristen harus menerima petunjuk-petunjuk dan petunjuk-petunjuk itu didasarkan pada Alkitab. Iman Kristen dipelihara dengan pelajaran- pelajaran Alkitab.

Tetapi Alkitab tidak selamanya mudah dimengerti. Dan salah pengertian dapat menimbulkan bidat. Bidat adalah suatu cara berpikir dan kepercayaan yang tidak sesuai dengan ajaran Firman Allah secara keseluruhan. Bidat mengambil sebagian dari ajaran Alkitab dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang utama, sedangkan hal-hal yang lain yang tidak kurang pentingnya, sama sekali dikesampingkan. Misalnya, kita mengambil sebagian dari ajaran Paulus tentang perkawinan (I Korintus 7) dan mengatakan bahwa perkawinan itu dilarang dan semua orang yang hidup bersama sebagai keluarga, tidak menaati Firman Allah. Tetapi, itu bukanlah ajaran seluruh Alkitab. Kita harus menempatkan kata-kata Rasul Paulus itu pada tempat yang sebenarnya dan dalam hubungan dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya Jika tidak, kita akan sesat.

Alkitab itu terdiri dari dua bagian: Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita akan mempelajari hubungan antara keduanya. Apakah masing- masing mempunyai nilai dan arti yang sama? Apakah ada perbedaan- perbedaannya? Jika ada, apakah perbedaannya.

Gereja Kristen yang mula-mula mempunyai dua pedoman Alkitab bangsa Yahudi, yaitu Perjanjian Lama dan ucapan-ucapan serta ajaran Yesus. Kemudian surat-surat para rasul dan kitab-kitab lain digabungkan dengan Injil sehingga terbentuklah Perjanjian Baru.

Kebanyakan orang Kristen yang mula-mula itu adalah bangsa Yahudi. Tetapi ada banyak pertentangan antara orang-orang Yahudi dan orang- orang Kristen. Oleh karena itu, dengan segera orang Kristen harus membuat keputusan tentang sikap mereka terhadap Perjanjian Lama. Mereka tetap mengakui bahwa Perjanjian lama adalah Firman Allah. Namun mereka bukan lagi orang-orang Yahudi, mereka adalah murid-murid Mesias, Mesias yang tidak diakui oleh bangsa Yahudi yang masih kukuh berbegang kepada adatnya. Ada tiga macam pandangan terhadap Perjanjian Lama:

  1. Yang pertama: Gereja itu menyatakan Yesus sebagai Tuhannya, dan hanya Perjanjian Baru yang menceritakan tentang kehidupanNya dan ajaranNya. Oleh sebab itu, tidak ada gunanya kita berpegang pada Perjanjian Lama. Pada abad kedua, seseorang bernama Marcion mencoba agar pendapat ini diterima oleh gereja. Tetapi untung Gereja memutuskan bahwa ia adalah seorang yang sesat dan ajarannya itu salah serta membahayakan.

  2. Yang kedua. Gereja itu didirikan atas dasar Firman Allah dan Yesus selalu emngutip Perjanjian Lama dan mengakui bahwa Perjanjian Lama adalah sama seperti Perjanjian Baru serta mempunyai wewenang yang sama.

    Pendapat ini mungkin nampaknya sangat kuat, tetapi ada bahayanya. Untuk menunjukkan bahwa Injil terdapat dalam Kitab Imamat, misalnya, maka kitab itu harus ditafsirkan dengan cara yang sangat aneh. Pada abad yang pertama, tafsiran semacam itu sangat populer dan para cendekiawan, seperti Origen, membahas Perjanjian Lama dengan cara demikian. Tetapi, baik orang-orang Yahudi maupun orang-orang kafir merasa berkeberatan sebab cara menafsirkan Alkitab seperti itu tidak jujur. Anda dapat membuatnya sesuka hati anda. Keberatan yang lebih besar adalah: jika di dalam segala hal Perjanjian lama itu sama dengan Perjanjian Baru, apa gunanya Yesus datang? Di mana letak nilai berita yang dibawaNya dan pekerjaan yang dilakukanNya? Apakah Gereja Kristen memiliki alasan yang kuat untuk hidup?

  3. Pandangan yang lain: Perjanjian Lama itu tidak dapat dihilangkan, karena tanpa Perjanjian lama, kita tidak dapat mengerti Perjanjian Baru. Kedua "Perjanjian" itu tidak sama. Masing-masing merupakan sebagian dari satu keseluruhan: keduanya seia sekata, karena Alkitab itu satu. Tetapi keduanya berbeda dalam hal isi dan cara memandang peristiwa-peristiwa.