Komentar

DIK-Referensi 09a

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Pelajaran 09 | Pertanyaan 09 | Referensi 09b | Referensi 09c

Nama Kursus : DASAR-DASAR IMAN KRISTEN
Nama Pelajaran : Suatu Hubungan yang Baru
Kode Pelajaran : DIK-R09a

Referensi DIK-R09a diambil dari:

Majalah "Momentum" No. 11 (April 1991)

Artikel ini ditulis oleh: Yakub B. Subsabda.

Judul artikel: "Iman atau Tingkah laku Agama."

Garis Besar:

IMAN atau TINGKAH LAKU AGAMA?

  1. Pengalaman dengan Allah yang sejati tidak sama dengan pengalaman dengan penghayatan makna "tradisi" agama.
  2. Pengalaman dengan Allah yang sejati tidak sama dengan pengalaman yang mengesankan dengan "hal-hal yang supranatural."
  3. Pengalaman dengan Allah yang sejati adalah Pengalaman dengan Kuasa Pembebasan dari Dosa.

REFERENSI PELAJARAN 09a - SUATU HUBUNGAN YANG BARU

IMAN atau TINGKAH LAKU AGAMA?

Kemajuan Gereja seringkali membutakan orang terhadap realita yang sesungguhnya. Sejak abad-abad Pencerahan/Enlightenment (abad 17-18) manusia sudah menjadi begitu skeptik terhadap pernyataan Gereja sebagai satu-satunya institusi yang bisa menjelaskan tentang kebenaran Allah. Wahyu Allah sebagai dasar otoritas Alkitab juga dipertanyakan. Bahkan eksistensi Allah sendiri diragu-ragukan.

Tidak semua orang berani mengekspresikan pertanyaan-pertanyaaan yang ada di dalam hati mereka. Meskipun mereka masih berbakti di gedung- gedung gereja, jiwa mereka gelisah oleh karena tingkah laku agama yang mereka lakukan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tidak heran jikalau banyak di antara mereka yang menyadari bahwa Allah sebenarnya hanyalah simbol dari kebutuhan spritual manusia. Kehadiran dan campur tangan Allah hanyalah "teologi" (logi atau ilmu tentang Allah) dan bukanlah suatu realita. Dalam pengalaman praktis kehidupan sehari-hari manusia itu sendirilah yang menentukan segala-galanya. Kegagalan oleh karena kesalahannya sendiri, atau keberhasilan oleh karena jerih payahnya sendiri. F. Nietzche (1844-1900) mengatakan, "kalaupun Allah ada, Ia tidak dapat mengubah apa-apa.

"Seabad sebelumnya Thomas Paine menulis, I do not believe in the creed professed by the Jewish Church, by the Roman Chruch, by the Greek Chruch, by the Turkish Church, by the Protestant Church, nor by any Church that I know of. My own mind is my own church. "(Saya tidak percaya pada kredo yang dibuat Gereja apapun juga. Pikiran saya adalah standar satu-satunya).

Bagaimana dengan kita? Apa yang sebenarnya sedang Gereja lakukan saat ini? Apa artinya jikalau kita mengatakan bahwa yang sedang kita perjuangkan adalah untuk 'menghidupkan kembali iman Kristiani?' Apakah kita sedang membela Allah? Apakah kita sedang membela status Allah di mata manusia? Ataukah kita sedang membela 'pengetahuan kita tentang Dia?' (formulasi doktrin yang kita buat). Atau... kita sedang membela diri kita sendiri (harta rohani, organisasi gereja, tradisi, symbols, dsb)?

Sebagai umat Kristiani yang 'Injili,' kita berusaha keras untuk membuktikan kemurnian iman kita. Sadarkah kita akan apa yang sebenarnya sedang kita perbuat.

  1. Pengalaman dengan Allah yang sejati tidak sama dengan pengalaman dengan penghayatan makna "tradisi" agama.

    Manusia adalah makhluk rohani (mempunyai roh). Tingkah laku agamani selalu menjadi bagian intergal dari kehidupan manusia, entah ia atheist ataupun ia penganut suatu agama. Setiap individu selalu terlibat dengan usaha untuk mencari dan menemukan bentuk dan pola-pola tingkah laku agamani yang cocok/sesuai dengan kebutuhan pribadinya. Semakin cocok dengan kebutuhan pribadinya, semakin tinggi level kepuasan yang diperolehnya.

    Agama Kristen tidak identik dengan "iman" Kristen. Yang satu bisa semata-mata manifestasi dari diri sendiri, sedangkan yang lain hanya terjadi jikalau ada pengenalan dan hubungan pribadi dengan Allah yang hidup. Agama Kristen (dengan ritus dan tradisi-tradisinya) bisa merupakan manifestasi dari perkembangan kebudayaan dan kebutuhan "agamawi" manusia. Oleh sebab itu kepuasan yang dihasilkan melalui keterlibatan dan penghayatan dengan "agama" Kristen, tidak selalu menjadi pertanda dari "iman Kristen" yang hidup. Dengan kata lain seorang individu Kristen bisa aktif terlibat dengan kegiatan-kegiatan gerejani/kristiani dan mendapat "kepuasan batiniah" bahkan... kegiatan dan pelayanan tersebut membuahkan buah-buah yang baik tanpa ia sendiri mempunyai pengenalan pribadi dengan Allah yang hidup.

    Seorang hamba Tuhan pernah mengatakan dengan tepat, "It is possible for a Christian to lead a bid and a growing church but he himself doesn't know the Lord. It is possible for a Christian to write a good Theological book that deepen thousands other believers, but he himself doesn't know the Lord. Even, it is possible for a Christian like me, who is writing and talking about this danger of 'apostacy' and I myself do not know the Lord. (Tidak mustahil ada orang-orang Kristen yang melayani dengan sukses besar, menjadi berkat bagi ribuan orang, bahkan dapat mengingatkan orang akan bahaya 'mempermainkan Allah,' tanpa ia sendiri mengenal Allah."

    Jiwa manusia begitu korup, sampai seringkali tanpa sadar seorang kristen bisa terlibat dengan penipuan terhadap Allah, sesama dan diri sendiri. Agama kristen dalam segala "keindahannya" bisa merupakan manifestasi permainan "religiositas" jiwa manusia semata-mata. Permainan jiwa ini seringkali berbentuk "defence mechanism" (mekanisme pertahanan jiwa) yang disebut "Sublimasi." Banyak orang kristen yang sadar sesadar-sadarnya bahwa pengenalan mereka pada Allah merupakan pengenalan "semu." Mereka tak punya pengalaman apa-apa dengan Allah. Jiwa mereka diam-diam gelisah. Mereka membutuhkan keyakinan bahwa "mereka betul-betul sudah mengenal Allah." Tetapi mereka tidak mampu membuktikan pada dirinya sendiri kebenaran kesaksian tersebut. Jiwa manusia melakukan "mekanisme pertahanan" yang disebut "Sublimasi." Maksudnya, kebutuhan agama yang tidak terpenuhi melalui sumber yang satu sekarang dapat terpenuhi melalui sumber/sarana yang lain. Manusia bisa mengajar kepada jiwanya sendiri bahkan membuat jiwanya sendiri memiliki keyakinan bahwa ia benar-benar sudah mengenal Allah. Caranya? Tak usah dipikir. Yang terpenting adalah melibatkan diri dengan kegiatan-kegiatan rohani (pelayanan; penginjilan; mengajar orang-orang lain tentang firman Allah). Dengan demikian ia sudah masuk dalam suatu proses yang akan, dengan sendirinya, menghasilkan "perasaan yakin" bahwa ia betul-betul sudah mengenal Allah. Inilah yang terjadi dan sudah menjadi pengalaman banyak orang Kristen. Mereka tidak menyadari bahwa apa yang sedang terjadi dalam hidupnya belum tentu merupakan suatu pergaulan dengan Allah yang hidup.

    Thomas Erskine megatakan bahwa "mungkin apa yang mereka lakukan semata-mata adalah tingkah laku agamaniah." Oleh sebab itu ia mengingatkan, "those who make religion" (Siapa yang mengilahikan agama takkan menemukan Allah dalam agama yang dianutnya). Kita ingin membuktikan keotentikan Allah yang kita sembah. Kita menyadari bahwa pengalaman, penghayatan bahkan kepuasan dengan "tradisi" agama Kristen hanya dapat menghasilkan pembuktian yang "semu." Kesalehan dan ketekunan dalam hidup beragama bisa diperoleh melalui tradisi agama apapun juga di dunia ini. Agama Kristen pada dirinya sendiri (terlepas dari iman Kristen yang sejati) tidak unik.

  2. Pengalaman dengan Allah yang sejati tidak sama dengan pengalaman yang mengesankan dengan "hal-hal yang supranatural."

    Kesalahan kedua dari umat kristen dalam usaha membuktikan keotentikan pengalaman mereka dengan Allah adalah keterlibatannya dengan pengalaman-pengalaman supranatural (miracles, keajaiban-keajaiban). Memang Alkitab mencatat tentang peristiwa-peristiwa keajaiban yang dilakukan baik oleh nabi-nabi, rasul-rasul bahkan Tuhan Yesus sendiri. Oleh sebab itu hal benar tidaknya "keajaiban dapat terjadi dalam hidup manusia" tidak perlu dipertanyakan lagi. Yang perlu dipertanyakan adalah "apa maksud Allah dan sampai dimana kepentingan dari pengalaman tersebut" dalam konteks iman keselamatan? Untuk itu Alkitab memberikan beberapa tuntunan:

    1. Keajaiban hanyalah sarana yang dipakai Allah untuk "menuntut" manusia kepada "iman."

      Pengalaman dengan keajaiban-keajaiban Ilahi tidak sama dengan "pengalaman iman." Keajaiban-keajaiban Ilahi hanyalah "alat illuminasi/sarana untuk menerangi hati manusia," dan illuminasi tidak sama dengan regenerasi (kelahiran baru). Illuminasi bisa membawa orang ke dalam gereja, tetapi illumiasi tidak memberikan jaminan keselamatan. Tidak heran jikalau penulis surat Ibrani mengatakan, "Mereka yang pernah diterangi hatinya (illuminated), yang pernah mengecap karunia surgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus dan yang pernah mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang namun yang murtad lagi...." (Ibr 6:4-6) "Being illuminated/diterangi hatinya" tidak sama dengan "being regenarated/dilahirkan baru." Yang pertama masih bisa murtad (melakukan apostacy/penghujatan) sedangkan yang kedua disengaja (adokismos/ backslidding). Setiap orang Kristen harus memahami bahwa "keajaiban-keajaiban (kalau benar-benar dari Allah) hanyalah sarana/alat yang dipakai Allah untuk memberi pengenalan pribadi pada Allah.

    2. Iman yang sejati tak pernah dapat dibangun di atas landasan "pengalaman dengan keajaiban-keajaiban Ilahi."

      Umat Israel selama 40 tahun (baca: empat puluh tahun) siang malam terus menerus melihat dan mengalami keajaiban-keajaiban Ilahi. Sepuluh tulah bagi bangsa Mesir, laut Teberau yang terbelah, manna yang turun dari langit setiap pagi, tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari, dsb. dan ternyata umat Israel tidak pernah menjadi umat yang beriman oleh karena pengalaman-pengalaman tersebut. Tuhan Yesus melakukan seribu satu macam cara miracle, dan murid-muridNya menyaksikan dengan mata kepala sendiri, dan toch tidak ada satupun dari mereka yang membela Dia pada saat Dia ditangkap, dianiaya dan disalibkan. Paulus sangat menyadari betapa "sekundernya" keajaiban- keajaiban Ilahi dengan konteks iman. Oleh sebab itu meskipun sebagai rasul ia juga mendapat anugerah-anugerah untuk mendemonstrasikan "Keajaiban Ilahi" (Lukas mencatatnya dalam Kisah Para Rasul) ia tidak pernah sekalipun juga bicara tentang peristiwa-peristiwa tersebut dalam surat-suratnya.

    3. Iman yang sejati hanya dapat dibangun di atas landasan Firman Tuhan (Alkitab).

      Tuhan Yesus pernah menceritakan perumpamaan tentang Lazarus dan orang kaya (Lukas 16:19-31). Dalam bagian terakhir dari perumpamaan tsb si orang kaya mengatakan, "Kalau ada orang yang bangkit dari kematian, pastilah saudara-saudaraku akan bertobat." Untuk pernyataan tersebut Abraham menjawab, "Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi (firman yang tertulis) mereka juga akan mau diyakinkan sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati." Iman hanya dapat dibangun di atas landasan Firman Allah yang tertulis. Kalau manusia tidak dapat mempercayai Firman yang tertulis mereka sudah pasti tidak akan percaya meskipun melihat orang mati bangkit dari kematian. Ini betul-betul merupakan salah satu keunikan iman Kristen. Banyak orang yang berpikir bahwa mereka akan percaya kalau mereka melihat "bukti-bukti dan keajaiban-keajaiban." Dan memang ada ribuan orang yang menjadi "Kristen" (datang ke gereja dan melibatkan diri dengan kegiatan-kegiatannya) setelah melihat dan mengalami sendiri keajaiban-keajaiban tersebut. Tetapi Alkitab mengingatkan dengan tegas sekali bahwa illuminasi tidak sama dengan regenerasi. Hal datang ke gereja dan terlibat dengan "agama Kristen." tidak sama
      Halnya dengan "percaya dan diselamatkan."

      Oleh sebab itu kepada Tomas yang menuntut bukti, Tuhan Yesus berkata, "Berbahagialah mereka yang tidak melihat bukti-bukti dan keajaiban- keajaiban, namun percaya" (Yoh 20:28). Bahkan secara demonstratif Alkitab juga menyaksikan bahwa "setiap pahwlawan iman" (baca: Ibrani 11) "tidak memperoleh" apa yang dijanjikan meskipun iman mereka telah memberikan kesaksian yang kuat (ayat 39). Mereka yang sakit tidak disembuhkan, yang dipenjara tidak dibebaskan, yang dianiaya tidak ditolong. Mereka tidak mengalami "keajaiban-keajaiban Ilahi" seperti apa yang mereka inginkan dan toch mereka tidak kehilangan iman mereka. Iman yang sejati hanya dapat dibangun di atas landasan Firman Tuhan.

  3. Pengalaman dengan Allah yang sejati adalah Pengalaman dengan Kuasa Pembebasan dari Dosa.

    Tak seorangpun yang dapat membuktikan bahwa pengalaman mereka adalah pengalaman "yang otentik" dengan Allah yang sejati, kecuali mereka mengalami tanda-tanda dari "kuasa pembebasan dari dosa."

    Banyak orang Kristen yang secara rasionil "sudah mengenal" kebenaran- kebenaran Firman Tuhan. Bahkan banyak di antara mereka yang sudah dapat mengembangkan konsep pemikiran teologi yang betul-betul dilandaskan atas kebenaran-kebenaran Firman Allah (Alkitab). Tetapi tanpa mereka mengalami "tanda-tanda" kuasa pembebasan dari jerat dosa, mereka belum dapat membuktikan "keotentikan" pengenalan mereka dengan Allah. Keyakinan iman hanya menjadi salah satu tanda yang relatif. Masalah 'kesenjangan' antara "keyakinan dan pengalaman" ini merupakan salah satu masalah yang terbesar dalam kehidupan iman.

    Banyak orang Kristen yang berusaha menutup atau memperkecil gap ini dengan upaya mereka untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Tetapi sekuat-kuatnya upaya manusia tetaplah suatu upaya yang terbatas. Kebaikan yang dihasilkan adalah kebaikan yang "inconsistent/tidak konsisten," yang tergantung keadaan, tergantung konsteksnya, bahkan tergantung seleranya sendiri. Suatu kebaikan yang "unpredictable/ yang tak dapat diduga dan yang tak terjamin." Kebaikan yang tidak berasal dari sumber yang memang ada pada dirinya sendiri "sudah baik atau berada dalam proses diperbaiki."

    Dalam 1 Kor. 13 Paulus mengingatkan tentang adanya orang-orang yang "seolah-olah" sudah begitu baik (ayat 3). Tetapi kebaikan-kebaikan manusiawi ini (yang berasal dari bakat maupun hasil suatu latihan) tidak bernilai apa-apa di hadapan Allah. Seperti gong yang berbunyi atau canang yang bergemerincing, yang cuma menarik perhatian sementara dari manusia. Kebaikan, yang Paulus sebut sebagai kebaikan yang tidak berasal dari Allah. Kebaikan yang tidak lahir dari kasih Agape. Kebaikan yang bukan buah Roh Kudus (Gal. 5:22). Kebaikan yang tidak dihasilkan oleh pengalaman pribadi dengan Allah.

    Jadi, bagaimana seorang tahu bahwa ia betul-betul sudah mengenal Allah? Untuk pertanyaan ini Alkitab memberikan beberapa petunjuk antara lain:

    1. Orang Kristen yang mengenal Allah adalah orang Kristen yang mengalami kebenaran Firman yang membebaskan.

      Tuhan Yesus berkata, "Jikalau kamu tetap di dalam firmanKu, kamu benar-benar muridKu, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekan kamu" (Yoh. 8:32-32). Dalam konteks ini Tuhan berbicara tentang dua hal. Yang pertama ialah tentang "hubungan antara Dia dan murid-murid-Nya." Dan yang kedua tentang "tanda dari hubungan tsb." Yang pertama ditandai dengan "pengenalan dan kepatuhan" pada FirmanNya, dan yang kedua ditandai dengan "kebebasan"dari jerat dosa" (ayat 34). Keduanya tidak terpisahkan. Pengalaman dengan Allah yang sejati adalah pengalaman dengan kebenaran Firman yang membebaskan. Tidak ada tanda atau bukti "keotentikan" pengenalan dengan Allah yang lebih baik daripada realita ini. Orang Kristen yang belum mengalami "tanda-tanda pembebasan" dari jerat dosa adalah orang Kristen yang belum mengenal Allah.

    2. Orang Kristen yang mengenal Allah adalah orang Kristen yang mengenal dan bergaul dengan Allah Alkitab.

      Allah Alkitab adalah Allah yang menyingkapkan diriNya melalui Alkitab. Ia adalah Allah yang hidup, yang tidak dikenal dunia (I Kor 2:9). Allah yang unik yang mengutus AnakNya ke dalam dunia untuk mati demi pembebasan manusia dari jerat dosa. Banyak orang Kristen yang tidak menyadari bahwa Alkitab merupakan penyingkapan diri Allah sendiri. Mereka berpikir bahwa Alkitab hanyalah kitab yang menyingkapkan "kehendak-kehendak Allah" dalam kehidupan praktis saja. Tidak heran jikalau 90% dari eksistensi Allah tidak pernah benar-benar dikenal oleh manusia. Kalaupun umat Kristen tahu bahwa Allah adalah Allah Tri Tunggal, Allah yang menjadikan manusia, Allah yang mengosongkan diriNya, mereka tidak memahami apa hubungan antara eksistensi Allah tersebut dengan realita kehidupan iman sehari-hari. Pergaulan dengan Allah bagi banyak orang Kristen hanyalah pergaulan dengan "kehendak- kehendak Allah dalam hal-hal praktis" saja. Akibatnya pergaulan dan perkenalan yang sesungguhnya tidak pernah terjadi. Dengan kata lain, banyak orang Kristen yang "merasa" sudah mengenal Allah, padahal (barangkali) mereka belum betul-betul mengenal Dia. Di tengah arus globlalisasi dengan semangat anti doktrin yang ada pada jaman ini pengenalan akan eksistensi Allah seperti yang disaksikan Alkitab semakin sulit. Iman Kristen dipaksa untuk menjadi "agama kristen" dimana pengenalan akan keunikan Allah seperti yang disaksikan Alkitab tidak mendapat tempatnya lagi. Yang penting adalah "kesatuan dan persatuan" dan untuk itu umat Kristen harus menanggalkan "keunikan- keunikan iman" yang bisa menjadi tembok-tembok pemisah. Keunikan pergaulan dengan Allah Alkitab yang bisa menghasilkan eksklusifitas dan intoleransi tidak perlu dipertahankan lagi. Akibatnya umat Kristen semakin tidak mengenal Allah yang mereka sembah. Di tengah kondisi yang seperti inilah umat Kristen hidup, dan mereka harus menyaksikan "keontentikan" iman mereka. Apakah Allah yang mereka sembah benar- benar adalah Allah yang hidup? Umat Kristen menghadapi suatu dilemma. Satu pihak mereka menyadari betapa di tengah arus globlalisasi, kesatuan dan persatuan harus diperjuangkan, tetapi pihak lain mereka juga terpanggil untuk menyaksikan "keunikan" iman mereka pada Allah yang unik. Ini adalah dilemma yang tidak pernah akan terselesaikan kecuali dalam iman yang sejati kepada Dia yang membebaskan. Untuk itu umat Kristen membutuhkan "keberanian" yaitu keberanian untuk mengutamakan pengenalan akan Allah yang unik tersebut lebih dari segala-galanya. Mereka harus menyadari bahwa pengenalan yang sejatilah yang akan memberikan kekuatan pembebasan dari segala macam dilemma. Pengalaman dengan Allah yang sejati tak dapat dibuat-buat. Kita sendiri tahu apakah kita sebagai umat Kristen benar-benar sudah mengenal Allah yang sejati. Kita tahu apakah kita sudah memiliki "tanda-tanda" pengenalan tersebut.

Kepustakaan:

  1. Harold L. Bussell, "Lord, I can Resist Anything but Temptation": Zondervan.
  2. "The Essence of Christianity": Harper & Brothers.
Taxonomy upgrade extras: