Komentar

Rangkuman Diskusi Kelas AUA I Juli/Agustus 2020

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

PERTANYAAN AUA I

TERMIN I / Topik 1 -- Apologetika Alkitabiah

Pertanyaan: Bila ada seseorang mengajak kita berdebat atau berdiskusi tentang salah satu ajaran Alkitab, bagaimana kita tahu bahwa kita sedang berapologetika alkitabiah atau sekadar debat kusir? Bagaimana membedakannya?

Berapologetika adalah kewajiban bagi semua percaya sebagai bentuk pertangguanjawab iman percaya kita (1 Petrus 3:15). Namun sayangnya tidak semua orang percaya mau dan mampu untuk berapologetika. Ada yang beralasan karena tidak bisa, bukan bagiannya, itu hanya tugas para pendeta dan para pelayan lainnya dsb.. Tidak jarang juga ada orang yang berapologetika namun terjebak kepada debat kusir. Ini biasanya disebabkan karena tujuan dari berapologetika hanya sekedar ingin menang dalam perdebatan, sehingga terkadang apa yang disampaikan tidak alkitabiah. Untuk lebih jelasnya berikut ini perbedaan antara apologetika dan debat kusir:

HAL APOLOGETIKA DEBAT KUSIR
Tujuan Pembelaan dan pertunggungjawaban atas iman kita Memenangkan perdebatan
Dasar Alkitab Pengertian sendiri/pengalaman pribadi/ego
Sikap Kasih, lemah lembut dan hormat, hati nurani yang murni Ingin menang, marah, kasar, tidak hormat

Apologetika itu adalah tentang pembelaan iman kita kepada Kristus terhadap orang-orang yang menyanggah, mempermasalahkan keiman kita kepada Kristus. Dalam mempertahankan iman Kristen tidak boleh dengan cara kasar, debat kusir, marah-marah atau tidak menunjukan hormat kepada orang yang berbeda pendapat dengan kita. Pada saat melakukan apologetika Kristen, kita harus berusaha memberi pembelaan yang kuat, tapi pada saat bersamaan bersikap seperti Kristus dalam usaha pembelaan tersebut. Yang pasti setiap orang Kristen diperintahkan untuk senantiasa siap dan diperlengkapi untuk memberitakan Injil dan mempertahankan iman kita. ( Matius 28:18-20, 1 Petrus 3:15).Apologetika itu adalah tentang pembelaan iman kita kepada Kristus terhadap orang-orang yang menyanggah, mempermasalahkan keiman kita kepada Kristus. Dalam mempertahankan iman Kristen tidak boleh dengan cara kasar, debat kusir, marah-marah atau tidak menunjukan hormat kepada orang yang berbeda pendapat dengan kita. Pada saat melakukan apologetika Kristen, kita harus berusaha memberi pembelaan yang kuat, tapi pada saat bersamaan bersikap seperti Kristus dalam usaha pembelaan tersebut. Yang pasti setiap orang Kristen diperintahkan untuk senantiasa siap dan diperlengkapi untuk memberitakan Injil dan mempertahankan iman kita. ( Matius 28:18-20, 1 Petrus 3:15).

Kita mengetahui bahwa kita sedang debat kusir atau beraplogetika adalah pada saat pembicaraan masih berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan mampu menjawab/mengatasi keragu-raguan serta mampu menguatkan iman maka kita bisa dikatakan sedang berapologetika. Tetapi jika yg dibicarakan melenceng dari kebenaran Firman Tuhan dan justru memaksakan kehendak/emosi maka hal tersebut dikategorikan sebagai debat kusir. Hanya pemahaman akan Alkitab yang benar yang dapat menjadi landasan kuat dalam berapologetika, karena seluruh pertanyaan yang mempertanyakan perihal iman Kristen hanya dapat dijawab melalui isi Alkitab. Karena itu pemahaman Alkitab menjadi sangat penting.

Alkitab adalah Firman Allah, dan tanpa pencerahan dari Allah Roh Kudus; tidak mungkin memahami arti tulisan Firman yang dari pada-Nya. Itu sebab kedekatan atau hubungan yang akrab dengan Allah menjadi sangat penting, dan itulah kedewasaan rohani, hal yang penting dalam berapologetika. Oleh karena tujuan berapologetika adalah pembelaan iman kristen yang tertuju kepada Kristus, maka hikmat, kesabaran dan ketekunan dalam melakukannya diperlukan oleh orang percaya supaya dapat melakukannya "...dengan lemah lembut dan hormat (1 Pet. 3:15), bukan dengan kejengkelan. Maka berdoa mohon pertolongan Roh Kudus untuk memimpin kita berapologetika adalah hal yang utama.

PERTANYAAN AUA I

TERMIN I / Topik 2 -- Sikap Berapologetika

Pertanyaan: Banyak kali sikap kita berapologetika menjadi hambatan dan masalah untuk menjangkau jiwa-jiwa yang belum mengenal Kristus (misalnya, kurang menghormati orang lain, sombong/arogan, menghakimi, tidak mau mendengarkan, hanya mau menang sendiri, dll..). Bagaimana sebaiknya sikap kita dalam berapologetika?

I. Sikap Berapologetika

Banyak sekali sikap kita berapologetika menjadi hambatan dan masalah untuk menjangkau jiwa-jiwa yang belum mengenal Kristus (misalnya, kurang menghormati orang lain, sombong/arogan, menghakimi, tidak mau mendengarkan, hanya mau menang sendiri, dll..). Sikap-sikap demikian yang akan menjadi batu sandungan bagi kita untuk dapat membawa orang-orang untuk mengenal Kristus dan mengerti kebenaran. Lantas, sikap yang bagaimana yang harus kita miliki dalam berapologetika?

Sikap kita dalam berapologetika akan menentukan lawan bicara kita mau mendengarkan atau tidak, karena itu penting bagi kita untuk bersikap rendah hati dan tidak memaksakan kehendak serta harus bisa mempertanggung jawabkan apa yang kita sampaikan dalam berapologetika. Sikap kita dalam berapologetika yang baik adalah tidak merendahkan orang lain atau sombong. Karena sebagai orang percaya kita harus aplikasikan pengajaran kasih yang Alkitab ajarkan. Kasih dalam konteks ini bahwa, dalam berdiskusi kita tetap harus memiliki sikap tegas namun juga harus santun. Sikap kasih itu harus ada di dalam kita sebagai pengikut Kristus, supaya mereka yang berdiskusi dengan kita akan bisa melihat kasih Kristus dan menjadi berkat buat mereka. Kasih yang diimbangi dengan kebenaran yang tetap kita tegakkan. Sehingga sangatlah penting bagi kita untuk memohon pimpinan dan hikmat dari Roh Kudus sebelum kita berapologetika.

Ada dua ayat Alkitab yang dapat kita gunakan untuk mendasari sikap kita dalam berapologetika, berikut di antaranya:

1. 1 Petrus 3:15-16

-Akan tetapi, kuduskanlah Kristus sebagai Tuhan di dalam hatimu! Siap sedialah untuk memberi jawaban kepada siapa pun yang menuntutmu mengenai pengharapan yang kamu miliki, tetapi lakukanlah itu dengan lemah lembut dan hormat, serta milikilah hati nurani yang jernih supaya ketika kamu difitnah, orang yang mencaci cara hidupmu yang baik di dalam Kristus akan menjadi malu.-

Dari ayat ini ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam berapologetika:

• Kristus harus bertahta dalam hati orang percaya sebagai Tuhan.

• Bersiap sedia; belajar sungguh dalam memahami dan mendalami Alkitab yang adalah Firman Tuhan, untuk siap kapan pun dan dimana pun jika harus memberitakan isi FT.

• Memiliki sikap rendah hati, sehingga mampu bersikap lemah lembut. Artinya bahwa kita tidak boleh bersikap merendahkan lawan diskusi kita.

• Memahami status dan kondisi kita sebagai orang percaya; saat belum percaya Kristus, saat mengaku percaya dan saat berjalan dalam percaya, sehingga mampu memahami keadaan orang lain yang belum percaya dan mampu berlaku mengasihi mereka dan hormat, seperti Tuhan Yesus memperlakukan manusia.

• Menaklukan diri sepenuhnya (hati, jiwa, pikiran, perkataan dan perbuatan) kepada tuntunan Roh Kudus dalam berapologetika. Atau dengan kat lain bersandar pada pimpinan Roh Kudus dan mengijinkan Roh Kudus membukakan pengertian, pemahaman akan kebenaran Firman Allah yang tertulis dalam Alkitab. Supaya jawaban yang diberikan tepat dan benar sesuai iman Kristen kita, sehingga orang yang mendengarkannya mau datang kepada Kristus dan menerima-Nya sebagai Juruselamat pribadi.

2. Kolose 3:12

-Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran.-

Dari ayat ini kita belajar sikap dalam beberapologetika antara lain:

• Ketika kita berapologetika kasih dan kebersamaan itu sangat penting. Jangan menganggap diri kita lebih hebat tapi jangan juga membuat diri kita rendah di mata mereka. Keseimbangan dan kebersamaan harus ada sepanjang kita berapologetika.

• Jika kita berapologetika dan bertemu dengan orang yang tidak mau menerima atau menunjukkan jika dia tidak mau mengalah saat kita berapologetika, lebih baik kita hentikan niat kita dengan cara yang baik. Kerana itu akan membuatkan apologetika itu menjadi debat atau sebaliknya.

• Dengan rendah hati dan menghindari perselisihan. Sediakan dan maksimalkan dua telinga untuk mendengar, daripada satu mulut untuk bicara. Seringkali kita lupa, apologetika kita tidak hanya ditunjukkan oleh perkataan-perkataan kita. Tetapi juga oleh sikap kita menghadapi para penyerang iman kita. Selalu meminta pimpinan Roh Kudus, karena Beliaulah sumber hikmat dalam berapologetika.

II. Perspektif Budaya dan Paradigma dalam Berapologetika

Manusia dan budaya, adalah sebuah keterikatan khusus, karena budaya diciptakan oleh akal dan pikiran manusia itu sendiri. Kebudayaan dimiliki dan diwariskan dari generasi ke generasi, terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Hal ini akhirnya membentuk ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma masyarakat, dan menentukan perilaku komunikatif karena muncul dalam pemikiran masyarakat, sehingga menyebabkan orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain. Sedangkan paradigma adalah cara pandang orang berdasarkan asumsi, konsep, nilai-nilai yang diterapkan dalam memandang realitas terhadap diri dan lingkungannya, yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif).

Memahami suatu budaya dan paradigma suatu tempat akan sangat penting karena akan membantu bila kita dapat memahami akar budaya setempat, sehingga bila kelak ada bagian dari budaya itu yang bertentangan dengan Alkitab, kita sudah tahu strategi apa dan bagaimana umtuk menjelaskannya. Dengan memahami budaya dan paradigma seseorang juga akan sangat membantu kita menentukan sikap dan langkah dalam berapologetika.

Tanpa mempelajari budaya dan paradigma seseorang sangat memungkinkan berakhir dengan debat kusir. Hal ini telah diteladankan oleh Paulus bahkan Yesus Kristus sendiri di dalam Alkitab. Bahkan gerakan reformasi gereja lewat pengiriman utusan Injil juga perlu belajar budaya dan bahasa dari daerah yang nantinya akan menjadi tempat pelayanan mereka. Sehingga dalam mempelajari budaya dan paradigma seseorang akan sangat membantu dalam apologetika bahkan pelayanan yang lainnya.

Memang harus kita akui bahwa tidak mudah dan sangat sulit mempelajari budaya dan paradigma seseorang dari suatu daerah dalam waktu yang singkat. Untuk itu perspektif budaya dan paradigma harus diselidiki/dipelajari dengan saksama dan sungguh-sungguh. Dan juga dengan mengandalkan hikmat dan pimpinam Roh Kudus, akan menolong dan memampukan kita.

PERTANYAAN AUA I

TERMIN II / Topik 1 -- Ketergantungan pada Allah

Pertanyaan: Betulkah perbedaan yang paling mendasar antara iman Kristen dan non-Kristen adalah pada prinsip ketergantungannya pada Allah?

Bagaimana menolong orang non-Kristen melihat bahwa tanpa Allah hidup manusia tidak berguna (sia-sia)? Berikan contoh-contoh kongkretnya (ilustrasi, gambaran, ayat, kesaksian dll.)?

I. Perbeadaan Iman Kristen dengan Non-Kristen

Jika berbicara ketergantungan dengan Allah antara orang Kristen dan non Kristen, mungkin secara sekilas tidak ada perbedaan. Karena pada prinsipnya semua agama memiliki kepercayaan masing-masing tentang adanya Tuhan, dimana mereka bergantung kepada Tuhan yang mereka sembah. Kecuali kepada orang atheis, yang dalam kehidupan mereka tidak mengakui keberadaan Tuhan, sehingga kehidupan mereka juga tidak menggantungkan diri kepada-Nya. Namun mungkin yang membedakan orang percaya dengan orang yang beragama lainnya ialah Allah yang bagaimana dan seperti apa yang dipercayai, sehingga kita mau menggantungkan diri kepada-Nya.

Bagi orang percaya, yang membedakan Tuhan kita dengan agama yang lainnya ialah Tuhan Allah kita yang penuh kasih datang ke dunia di dalam Yesus Kristus. Ia datang menjadi manusia untuk menebus dosa orang yang percaya kepada-Nya (Yohanes 3:16). Yesus adalah Tuhan dan satu-satunya jalan, kebenaran dan kehidupan bagi manusia (Yohanes 14:6). Ketergantungan orang percaya kepada Tuhan di sini ialah manusia yang tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri tanpa Tuhan Yesus. Jadi bisa dikatakan bahwa dasar iman Kristen berdasarkan ajaran Kristus dan Pribadi Yesus Kristus, karena kebenaran itu berasal dari firman-Nya, dan kehidupan manusia itu adalah milik Tuhan. Jadi kehidupan orang percaya hanya karena anugerah Allah melaluiYesus Kristus.

Iman Kristen (Roma 9:16 dan Efesus 2:8) memberitakan bahwa anugerah keselamatan untuk manusia adalah sepenuhnya Anugerah, dan sama sekali bukan usaha manusia, sepenuhnya menyerahkan ketergantungan hidup untuk selamat hanya kepada belas kasihan Allah semata, yang berkenan menerima kematian Kristus disalib ganti kematian (saya) orang berdosa. Perbedaan iman yang dialami secara pribadi inilah yang mempengaruhi segala sikap hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kepada dunia sekitar, diri sendiri, sesama dan terlebih kepada Allah. Kitab Pengkhotbah 1:3 dan 12:7, 13-14 mengatakan bahwa manusia yang berjerih payah perlu memiliki tujuan hidup diakhirnya, dan waktu hidup manusia itu ada batasnya di dalam dunia, dan setelah itu semua roh manusia harus kembali kepada Allah Sang Pemberi kehidupan. Maka kehidupan orang percaya ialah hidup yang takut, hormat dan kasih kepada Allah Sang Pencipta, Penebus dan Penolong yang memampukan seseorang hidup selama-lamanya.

Sementara ajaran iman non Kristen, mengarahkan kebenaran berdasarkan penilaian manusia. Mereka mengajarkan bahwa keselamatan manusia tidak sepenuhnya bergantung kepada Tuhan. Manusia dapat diandalkan untuk berbuat baik, berfikir logis ataupun memutuskan dengan logika manusia mana yang pantas dan mana yang tidak pantas. Sehingga, dalam ajaran mereka, mencapai Allah adalah dengan kekuatan, kebijakan dan kebaikan diri manusia.

Caranya menolong orang non Kristen melihat bahwa tanpa Allah hidup manusia sia-sia adalah dengan menyadarkan setiap orang non-Kristen mengenai keberadaan Allah sebagai sumber kehidupan umat manusia. Selanjutnya kita dapat memberikan pengenalan dan pengalaman kita mengenai kasih Allah yang Mahakuasa dan Mahakasih kepada mereka yang belum percaya. Seperti ada tertulis di dalam Alkitab, "karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23). Akibat dosa ini setiap manusia telah rusak naturnya, karena tidak mampu untuk melakukan kehendak Allah dengan benar. Dosa yang masuk melalui Adam telah merusak segenap gambar dan rupa Allah sehingga manusia tidak lagi memiliki kemuliaan seperti ketika pertama diciptakan Allah. Agar dapat kembali kepada Allah manusia harus dipersatukan kembali dengan Kristus Yesus melalui iman agar dijadikan benar oleh Allah lewat pengorbanan Yesus di kayu salib. Jadi hanya lewat kasih karunia Tuhan dan bergantung penuh hidup kita menjadi lebih berguna. Tanpa Tuhan kita semuanya sia-sia.

Cara lain yang dapat kita lakukan untuk menolong mereka mengerti bahwa tanpa Allah hidup sia-sia adalah kita menjadi teladan dalam kehidupan kita sehari-hari. Yesus memerintahkan kita untuk mengasihi musuh, jadi ketika ada yang memusuhi kita, membenci kita, kita tidak membelas tapi kita tetap mengasihi mereka dan mendoakan mereka. Kita difitnah, kita tidak perlu marah atau membalas, tapi kita tunjukkan iman kita dengan mengasihi mereka.

II. Ateisme

Ateisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan ataupun penolakan terhadap teisme, atau dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan Tuhan. Jadi orang yang menganut paham ateis adalah orang yang menolak keberadaan Tuhan, sebagai yang mengatur dari segala sesuatu, karena orang ateis selalu berpusat kepada dirinya sendiri (logika). Saat ini ateisme bukan lagi sekedar tidak mempercayai keberadaan Tuhan, tapi sudah berkembang menjadi paham sejenis namun lebih spesifik. Seperti scientologi, yang lebih berpusat kepada pemikiran manusia sendiri daripada memilih percaya kepada Pribadi lain yang lebih berkuasa dan mengatur alam semesta ini.

Banyak orang yang mengklaim menolak keberadaan Allah karena "tidak ilmiah" atau "karena tidak ada bukti." Namun kenyataannya adalah ketika mereka mengakui adanya Allah, mereka harus menyadari bahwa mereka harus bertanggung jawab pada-Nya dan membutuhkan pengampunan dari-Nya (Roma 3:23, 6:23). Jika Allah, maka kita harus mempertanggung-jawabkan segala perbuatan kita pada-Nya. Jika Allah tidak ada, maka kita dapat melakukan apa saja tanpa harus khawatir akan hukuman/penghakiman Allah. Itulah mengapa banyak memilih untuk menolak keberadaan Allah dan memegang erat teori evolusi naturalis - karena hal itu menjadi alternatif terhadap kepercayaan dalam Allah Pencipta. Allah itu ada dan semua orang pada dasarnya menyadari keberadaan-Nya. Fakta bahwa ada kaum yang begitu gencar berusaha menyangkal keberadaan-Nya secara tidak sengaja malah membenarkan keberadaan-Nya.

Menunjukkan keberadaan Allah sebenarnya jauh lebih mudah daripada mencari-cari alasan untuk menolak keberadaannya. Segala sesuatu di alam semesta ini ada pencipta atau penemunya. Dari penemuan besar seperti komputer, internet, pesawat terbang. Sampai kepada penemuan yang tampak sederhana seperti sabun, karet gelang, plastik. Bila benda-benda itu saja kita tau ada yang menciptakan, bagaimana mungkin alam semesta yang begitu luas dan kompleks ini terjadi begitu saja tanpa ada yang menciptakan dan mengaturnya?

Dengan memberikan bukti, bahwa keberadaan alam, ada yang merancang, menciptakan, mengatur, dan menopang sehingga berjalan dengan baik. Dari bukti itu, kita dapat merasakan dan melihat keberadaan Tuhan. Karena paham atheis adalah sekelompok orang yang tidak mempercayai keberadaan Allah/Tuhan dan cenderung menggunakan jalan pikiran otaknya atau logika, maka untuk dapat meyakinkan orang atheis kita dapat menggunakan beberapa metode/cara yang dapat membukakan logikanya , antara lain melalui :

  1. Tiga fakta alam bahwa Tuhan itu ada (tanpa bukti Alkitab), yaitu: fakta Tuhan ada melalui bumi, fakta Tuhan ada melalui air dan fakta Tuhan ada melalui otak manusia.
  2. Melalui bukti Alkitab, Allah itu ada, misalnya Alkitab menyatakan bahwa kita harus menerima fakta bahwa Allah itu ada melalui iman: "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barang siapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia" (Ibrani 11:6). Jika Allah menghendakinya, Ia dapat muncul dan membuktikan kepada seluruh dunia bahwa Ia benar-benar ada. Tetapi jika Ia berlaku demikian, tidak akan ada kebutuhan beriman. "Kata Yesus kepadanya: 'Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya'" (Yohanes 20:29).

Selain argumen alkitabiah tentang keberadaan Allah, adapun argumentasi logika :

  1. Argumen ontologis yang menyangkut filsafat keberadaan dan realita harus dipertimbangkan. Argumen ontologis yang paling populer menggunakan konsep Allah untuk membuktikan keberadaan Allah. Ia dimulai dengan definisi Allah sebagai "sosok yang terbesar yang tandingannya tidak ada." Alur argumentasinya adalah bahwa keberadaan adalah lebih agung daripada ketidakberadaan, sehingga sosok terbesar yang dapat dibayangkan harus ada. Jika Allah tidak ada, maka Allah tidak mungkin menjadi sosok terbesar yang dapat dibayangkan, dan itu berkontradiksi dengan definisi Allah.
  2. Argumen teleologis, yang mencakup pelajaran tentang sifat segala sesuatu menurut tujuan atau perintah terhadapnya. Argumen teleologis menyatakan bahwa alam semesta menunjukkan sebuah rancangan yang begitu luar biasa sehingga pastilah ada seorang Perancang illahi. Sebagai contoh, jika bumi lebih dekat atau lebih jauh jaraknya dari matahari, maka bumi tidak dapat mendukung banyaknya kehidupan di atasnya seperti saat ini. Jika elemen dalam atmosfir kita berbeda sedikit, maka hampir setiap makhluk hidup di bumi ini akan mati. Kemungkinan sebuah molekul protein tunggal tercipta secara acak adalah 1:10243 (yakni angka 1 diikuti oleh 243 angka nol). Satu sel tunggal terdiri dari jutaan molekul protein.
  3. Argumen kosmologis, yaitu setiap akibat harus ada sebabnya. Inilah alam semesta dan semua di dalamnya adalah akibat. Dengan demikian haruslah ada sebuah sebab yang mengkibatkan segala sesuatu itu hadir. Dan haruslah ada pula suatu faktor yang "tanpa sebab" yang mengakibatkan adanya segala sesuatu. Faktor "tanpa sebab" itu dikenal sebagai Allah.
  4. Argumen keempat dikenal sebagai argumen moralita. Setiap kebudayaan sepanjang sejarah masing-masing mempunyai suatu bentuk hukum. Semua orang mempunyai kesadaran akan hal yang benar dan salah. Membunuh, berdusta, mencuri, dan tindakan asusila secara umum ditolak. Darimanakah munculnya kesadaran benar dan salah ini jika bukan dari Allah yang kudus?

Meskipun dengan semua argumen ini, Alkitab memberitahu kita bahwa manusia akan menolak pengetahuan tentang Allah yang begitu jelas dan sebaliknya mempercayai dusta. Roma 1:25 menyatakan, "Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin." Alkitab juga menyatakan bahwa manusia tidak beralasan atas ketidakpercayaannya terhadap Allah: "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih" (Roma 1:20).

PERTANYAAN AUA I

TERMIN II / Topik 2 -- Pandangan Alkitab

Pertanyaan: Untuk berapologetika, mengapa orang Kristen terlebih dahulu harus memahami dengan jelas pandangan Alkitab tentang penciptaan manusia sebelum jatuh dalam dosa dan juga sesudah manusia jatuh dalam dosa?

Hubungan Apologetika Dengan Kejatuhan Manusia Dan Penyelamatan Manusia

Sering kali serangan-serangan kepada iman Kristen itu tentang karya penyelamatan Yesus kepada manusia, atau tentang Yesus sebagai Juruselamat manusia. Sehingga penting bagi orang Kristen dalam berapologetika, harus memahami dengan jelas pandangan Alkitab tentang penciptaan manusia sebelum jatuh ke dalam dosa dan juga sesudah manusia jatuh ke dalam dosa. Tujuannya supaya kita dapat mempertanggungjawabkan iman kita kepada mereka, khususnya masalah kejatuhan manusia dalam dosa dan keselamatan di dalam Yesus. Selain itu, dalam berapologetika kita tetap dapat memberitakan Injil tentang keselamatan Yesus.

Dalam Alkitab dituliskan bahwa manusia telah diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:27) yaitu makhluk yang memiliki jiwa bersifat kekal (Kejadian 2:27) dengan sempurna tanpa dosa, kudus dan hidup bergaul dengan Allah. Manusia ketika itu mempunyai pengetahuan yang benar (Kolose 3:10). Namun ketika manusia jatuh ke dalam dosa oleh ketidaktaatannya kepada perintah Allah tentang pohon pengetahuan yang baik dan jahat (Kejadian 2:17), semua manusia dari Adam hingga manusia kini hidup dalam perhambaan dosa, dan hukuman maut sedang menunggu. Sebab inilah yang menjadi dasar kita untuk berapologetika mengenai janji Allah untuk menebus dan menyelamatkan manusia dari hukum dosa yaitu kematian kekal melalui kelahiran, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus supaya manusia dapat kembali hidup bersama Allah.

Kesadaran akan perlunya Juruselamat bagi kehidupan manusia yang berdosa, yaitu Kristus, akan ada di dalam diri seseorang jika memahami dan menyadari keberdosaannya yang begitu "hitam", menjijikan, sangat parah, tidak ada harapan, mematikan kehidupan, jahat, kejam dan menimbulkan hukuman yang tidak akan pernah berkesudahan (hukuman kekal). Dengan mamahami dan menyadari keberdosaan tersebut, kebutuhan akan Juruselamat akan sangat dirasakan oleh orang yang berdosa. Karena manusia akan sangat merindukan bagaimana kehidupan yang kudus seperti keadaan yang semula sebelum jatuh ke dalam dosa. Oleh karena itu, kita yang telah tercemar perlu dikuduskan lagi sebagaimana awalnya kita diciptakan. Selain itu kita juga bisa melihat dengan jelas dampak dosa itu sangat luas dalam kehidupan manusia saat ini.

Seperti kertas yang kotor dan penuh noda hitam terlihat begitu kotor dan menjijikan hanya jika ada pembandingnya, yaitu adanya kertas putih bersih. Dengan mengetahui pembanding kertas tersebut, maka baru kita sadar bahwa diperlukan pembersih untuk kertas kotor tersebut, dan sangat menghargai pembersih tersebut. Seperti ilustrasi tersebut, kita juga dapat membandingkan bagaimana keberdosaan kita dengan kehidupan manusia yang sebelum jatuh di dalam dosa.

Dilain sisi, karakter manusia sebelum dosa masuk ke dalam dunia merupakan dasar dari tugas berapologetika, meskipun pada saat ini tidak ada seorangpun di dunia yang sama sekali lepas dari dosa, namun ada kualitas manusia sebelum kejatuhan yang terbawa sampai saat ini (penciptaan manusia menurut gambar dan rupa Allah (kejadian 1:27)). Pada saat kita berapologetika, kita berhubungan dengan manusia sesama keturunan Adam dan Hawa. Oleh karena itu penting bagi kita untuk mempunyai pengertian yang kuat akan keadaan manusia sebelum dan sesudah jatuh dalam dosa. Perkara ini penting untuk difahami agar kita lebih jelas lagi bagaimana karya penciptaan dan kasih Allah kepada manusia. Seterusnya dengan pengetahuan itulah dijadikan sebagai asas untuk berapologetika. Sebab jika tanpa memahami semua itu bagaimanakah kita menjelaskan kepada orang lain atau bagaimanakah kita berapologetika sedangkan kita sendiri belum mengetahui/mendalami pandangan Alkitab tentang penciptaan manusia sebelum dan sesudah jatuh ke dalam dosa.

Kesimpulan

Penting sekali memahami bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan dan bukan muncul dengan sendirinya atau hasil proses evolusi dari makhluk lain. Manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, yang berarti memiliki unsur dari Pribadi yang menciptakannya. Itu pula yang merupakan dasar mengapa Kristus yang adalah Tuhan harus menjadi manusia untuk mewakili manusia berdosa. Kristus harus menjadi manusia yang memiliki tubuh jasmani, melewati proses pertumbuhan di dalam rahim, dan dilahirkan dari seorang manusia. Sehingga dalam berapologetika, orang Kristen terlebih dahulu harus memahami dengan jelas pandangan Alkitab tentang penciptaan manusia sebelum jatuh dalam dosa dan juga sesudah manusia jatuh dalam dosa. Agar kita dapat menjelaskan mengapa Yesus Kristus yang adalah Allah itu sendiri turun ke dunia untuk menebus umat manusia. Itulah sebabnya sentral dalam Alkitab adalah Kristus. Benang merahnya adalah Tuhan Yesus Kristus.

Soal ini sangatlah penting untuk difahami agar kita lebih jelas lagi bagaimana karya penciptaan dan kasih Allah kepada manusia. Seterusnya dengan pengetahuan itulah dijadikan sebagai asas untuk berapologetika. Sebab jika tanpa memahami semua itu bagaimanakah kita menjelaskan kepada orang lain atau bagaimanakah kita berapologetika sedangkan kita sendiri belum mengetahui/mendalami pandangan Alkitab tentang penciptaan manusia sebelum dan sesudah jatuh ke dalam dosa.

PERTANYAAN AUA I

TERMIN III / Topik 1 -- Iman dan Rasio

Pertanyaan: Iman dan rasio memegang peranan sangat penting dalam sistem apologetika. Ada 3 pendapat tentang peran iman dan rasio. Manakah yang paling Anda setujui:

  1. Rasio di atas iman
  2. Iman di atas rasio
  3. Iman dan rasio sejajar

Lalu jelaskan, mengapa Anda berpendapat demikian?

Ketika berbicara mana yang lebih penting antara iman atau rasio, sering kali terjadi perbedaan pendapat. Mengenai hal ini ada tiga pendapat yang berbeda: rasio di atas iman, iman di atas rasio, iman dan rasio sejajar. Manakah yang benar? Berikut ini kita akan membahas pendapat dari para peserta mengenai topik ini.

I. Rasio Di Atas Iman

Berikut ini beberapa pendapat mengenai rasio di atas iman:

• Dalam Alkitab ada tertulis: "iman timbul dari pendengaran....", semua yang kita dengar adalah pengetahuan, diperlukan rasio untuk mengolah informasi (pengetahuan) yang kita dapatkan, entah sejajar atau lebih tinggi, yang jelas rasio ada mendahului iman, rasio yang benar memberi kita iman yang benar, kualitas rasio kita dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas informasi yg masuk ke otak kita.

Contoh: dalam Keluaran 3, Tuhan mengutus Musa untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Orang Israel tidak akan percaya begitu saja bahwa bila Musa mengaku diutus oleh Tuhan, untuk itu Musa meminta Tuhan memberi informasi lebih untuk dibawa kepada orang Israel, dan Tuhan memberi keajaiban lewat tongkat Musa. Apakah keajaiban itu yang membuat bangsa Israel percaya? Tidak! Lalu apa? Bangsa Israel sudah memiliki pengetahuan tentang Tuhan yang dapat melakukan hal-hal ajaib, jadi keajaiban itu hanya konfirmasi, siapapun yang melakukan keajaiban berasal dari Tuhan. Di sini Musa memahami rasio orang Israel untuk bisa percaya padanya.

II. Iman Di Atas Rasio

Berikut ini beberapa pendapat mengenai iman di atas rasio:

• Iman lebih tinggi dibandingkan dengan rasio, karena pikiran manusia sangat terbatas dan tidak akan mampu memikirkan Allah yang begitu besar dan tanpa batas. Nah di dalam apologetika Kristen, maka hanya dengan iman seseorang dapat percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Karena kalau hanya diterima dengan logika, konsep penebusan yang dikerjakan oleh Yesus hanya cerita sejarah yang sulit diterima dengan akal sehat. Seperti tertulis dalam Efesus 2:8; "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah," hanya karena iman kita setiap orang percaya mendapat anugerah keselamatan. Tetapi rasio juga memiliki peran penting, karena segala sesuatu tidak bisa kita terima begitu saja sebelum dipikirkan terlebih dahulu.

• Saya berpandangan bahwa iman di atas rasio, mengapa demikian? Berikut adalah jawaban saya dengan beberapa argumentasi dan contoh realitanya. Rasio atau akal pikiran manusia itu terbatas dan tidak akan mampu menjangkau atau memikirkan Allah yang tidak terbatas itu. Rasio dicipta Allah untuk manusia ciptaan-Nya, bertujuan supaya manusia bisa memahami kebenaran yaitu firman Allah di dalam Alkitab. Iman sebagai dasar (Ibrani 11:1), sementara rasio merupakan obyek, untuk mengerti kebenaran sebagai subyek, atau dapat dikatakan juga bahwa iman itu sebagai dasar berpijak dan rasio merupakan jembatan kepada kebenaran. Dari uraian saya di atas, saya berpendapat Iman mendahului Rasio, pikiran, pengetahuan. Contoh: Ketika seseorang menyelidiki sesuatu, ia yakin dan memiliki kepercayaan bahwa ia dapat mengetahui atau menemukannya. Sehingga dengan dorongan itu, ia memulai menyelediki. Itu menyatakan bahwa semua penelitian dan pengujian ilmiah didasarkan pada suatu keyakinan yaitu Iman. Jadi dengan penjelasan dan contoh di atas saya berpendapat bahwa iman di atas rasio, sebab rasio hanyalah sebagai fungsi atau " alat bantu " yang diciptakan Allah, supaya manusia bisa memahami kebenaran yang adalah subyek itu. Kebenaran itu adalah firman Allah yang tertulis di Alkitab.

• Menurut saya iman ada di atas logika (beyond logic). Tapi beriman bukan berarti tidak rasional. Iman dan rasio tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya tetap sejalan. Hanya saja rasio yang kita miliki tidak mampu untuk menjangkau sesuatu yang sangat besar, tinggi, dan dasyat seperti Tuhan. Karenanya diperlukan iman. Karena iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat atau dengan kata lain tidak dapat kita pahami.

• Saya setuju dengan iman di atas rasio. Iman mengalahkan segala logika kita. Iman akan bekerja kalau kita tidak memakai rasio lagi.

• Iman di atas rasio. Terkadang tindakan iman itu tidak masuk akal (di luar rasio). Kemudian untuk memahami Tuhan, itu benar-benar tidak bisa memakai rasio, misalnya Tritunggal, kalau dijelaskan secara rasio, tidak ada kata sepakat sampai saat ini, Tritunggal itu masih menjadi bahan perdebatan.

III. Iman Dan Rasio Sejajar

Berikut ini beberapa pendapat mengenai iman dan rasio sejajar:

• Iman dan rasio/logika perlu berjalan beriringan dengan mengandalkan hikmat dari Roh Kudus. Karena untuk berapologetika kita menghadapi orang yang non-Kristen, maka kita perlu memberikan sudut pandang logika dari kepercayaan kita kepada Allah, Kristus dan Alkitab dengan harapan bahwa penjelasan berdasarkan logika ini dapat meyakinkan / memenangkan mereka ke dalam kerajaan Allah.

• Iman dan rasio memegang peranan sangat penting dalam sistem apologetika. Karena dengan rasio, pertanggungjawaban tertentu atas iman dapat diberikan.

• Pada pendapat saya,iman dan rasio haruslah sejajar sebab keduanya tidak bertentangan tapi saling menopang kerana keduanya berasal dari Allah. Melalui rasio,kita berupaya mengkaji, meneliti, berfikir dan sebagainya untuk sampai pada pengertian sesuatu. Sementara iman ,kita menerima hal yang tidak dapat kita pikirkan tapi dapat kita rasakan kerana Tuhan yang mengaturnya. Contohnya wahyu diterima kebenarannya dalam iman seperti sorga dan neraka. Namun harus dipahami bahawa iman itu tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akal budi tetapi jauh melampauinya dan mengatasinya.

• Saya sejutu untuk poin ke 3. Bahwa iman dan rasio itu sejajar. Sebab jika tidak kita akan terjebak dalam ekstrim menerima rasio dan menolak iman dan bisa juga sebalikbya menerima iman tanpa rasio, kedua pandangan ini justru bertentangan dengan iman Kristen.

• Kita perlu ingat bahwa sebelum kejatuhan manusia dalam dosa bahwa rasio dan iman itu berjalan secara harmonis. Itu terlihat dari cara adam hidup dan juga menamakan hewan dan melaksanakan tugas yang lainnya. Walaupun kita manusia punya rasio yang terbatas tapi kita juga perlu menerima iman berdasarkan rasio.

• Menurut saya iman dan rasio, sejajar, karena manusia pada dasarnya adalah mahluk rasional yang mempunyai hati nurani, hal ini yang membedakan manusia dengan binatang.

• Seorang Filusuf sekaligus rohaniwan abad ke-13, yang bernama Thomas Aquinas, mengatakan, bahwa iman dan rasio (akal) adalah dua hal yang tidak mungkin bertentangan. Keduanya dapat saling menopang karena keduanya berasal dari Allah. Dengan iman kita dapat menerima hal yang tidak dapat kita pikirkan, tetapi kita dapat merasakannya (Mazmur 34:9). Melalui rasio (akal), kita berupaya mengkaji, meneliti, mencari sebab-akibat, berpikir dan sebagainya untuk sampai pada pemahaman tertentu. Memang rasio itu terbatas, tetapi dengan iman, kita dapat melampaui apa yang ada dalam rasio kita.

• Saya setuju bahwa iman dan rasio sejajar kerena, Iman dan rasio itu saling memenuhi dan diperlukan oleh manusia/orang kristian. Iman merupakan kesetiaan dan kepercayaan kita kepada Allah yang tidak kelihatan dengan mata. Sedangkan rasio hanya tertumpu kepada apa yang kelihatan oleh mata. Untuk berapologetika, iman dan rasio harus sejajar bagi memudahkan kita menjangkau orang yang belum beriman. Dengan iman rasional kita boleh melihat keperluan untuk berapologetika melalui Alkitab dan pimpinan Roh Kudus.

• Menurut artikel yang saya baca dimana tulisan tersebut mengutip pendapat Thomas Aquinas (Filsuf dan Rohaniawan Abad 13), iman dan rasio adalah dua hal yang tidak mungkin bertentangan. Keduanya dapat saling menopang karena keduanya berasal dari Allah. Artinya melalui rasio, kita berupaya mengkaji, meneliti, mencari sebab-akibat, berpikir dan sebagainya untuk sampai pada pemahaman tertentu. Sementara dalam iman, kita menerima hal yang tidak dapat kita pikirkan, tetapi kita dapat merasakannya. Dengan kata lain, pengetahuan dapat membantu meratakan jalan menuju misteri, sekaligus menolong orang beriman secara lebih tepat memahami, menghayati dan menyelami kebenaran imannya dengan penuh rasa tanggung jawab. Dari penjelasan di atas menurut saya Iman dan Rasio ditempatkan sejajar.

• Untuk percaya Firman Tuhan, perlu iman. Untuk berapologetika, harus seorang yang rasional dan beriman sejajar. Kalau sudah beriman, waktu mau membagikan fakta dan hujah, harus rasional. Pada masa yang sama, mana mungkin seseorang berapologetika tanpa mengimani Firman Tuhan yang disampaikan lewat apologetika.

• Rasio dan iman adalah sejajar. Ada tertulis dalam Alkitab, 2 Timotius 1:12 "...karena aku TAHU kepada siapa aku PERCAYA ..." Ini menjelaskan bahwa Paulus mengetahui secara rasio apa yang menjadi kebenaran, diselidiki olehnya isi Kitab Suci dan dicernanya secara rasio. Dan apa yang dia tahu itulah yang dia percayai/imani. Jadi bukan iman yang membabibuta.

Saya ingin menambahkan pendapat.

Menurut Kejadian 1:26 Allah menjadikan manusia "...menurut gambar dan rupa Kita..." Dan tertulis juga dalam Kejadian 2:19 "... Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, BAGAIMANA ia menamainya; ..." Ini menunjukkan bahwa pada mulanya manusia diciptakan. Pada saat itu juga diciptakan juga rasio oleh Allah untuk hidup manusia.

Karena, Tuhan Yesus saat hadir di dunia bersoaljawab dengan para Ahli Taurat dan Farisi juga memakai rasio-Nya. Jika kita membaca jawaban dan pernyataan Tuhan Yesus, maka kita dapat menemukan jawaban cerdas di dalamnya. Itu adalah jawaban yang menggunakan rasio.

Pemazmur mengungkapkan dalam Mazmur 1:2 diungkapkan kesukaan orang benar adalah "... yang merenungkan Taurat itu siang dan malam." Ada juga tertulis dalam 1 Petrus 1:10, Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu.

Dari beberapa pemaparan tersebut, maka kita tahu bahwa semua hal tersebut mengungkapkan tentang rasio yang digunakan dalam kehidupan beriman para orang percaya, yang pada mulanya rasio itu adalah hal yang sangat baik dicipta Tuhan Allah, karena menurut gambar dan rupa Allah. Tetapi Rasio tersebut dicipta dan diberikan kepada manusia agar dipakai untuk memahami dan mengenal Allah Sang Penciptanya dengan seluruh Kebenaran sejati. Dengan rasio maka manusia dituntun untuk memahami Kebenaran, sehingga Kebenaran yang telah mengisi Rasio manusia itu sekarang akan berisi rasio yang berkebenaran sejati.

Dalam kejatuhan manusia dalam dosa, maka segala sesuatu menjadi ternoda, termasuk rasio.

Firman Tuhan yang adalah kebenaran sejak mula adalah tetaplah kebenaran. Tuhan Allah tidak menghendaki bahwa manusia menghancurkan rasio, tetapi supaya kebenaran memenuhi rasio manusia.

Karena saat orang yang mengaku beriman, ia perlu menjelaskan kepada/di hadapan orang lain mengapa (ini unsur rasio pengetahuan) ia beriman kepada Kristus.

Jadi, kita berdiri dengan iman (berserah di balik pengorbanan Kristus di salib) di hadapan Tuhan Allah, dan dengan pengetahuan (hasil cerna rasio yang berkebenaran) kita mengerti mengapa berdiri di hadapan Tuhan Allah, sehingga setelah kita paham (secara rasio yang berkebenaran) kita memberitakan Injil kepada sesama agar mereka beriman kepada Kristus.

Maka, iman ada tidak untuk meniadakan rasio dan rasio ada tidak untuk mempertentangkan iman kepada Kristus. Keduanya perlu berjalan bersama dalam kehidupan orang percaya, di dalam naungan seluruh kebenaran firman Tuhan.

• Untuk percaya Firman Tuhan, perlu iman. Untuk berapologetika, harus seorang yang rasional dan beriman sejajar. Kalau sudah beriman, waktu mau membagikan fakta dan hujah, harus rasional. Pada masa yang sama, mana mungkin seseorang berapologetika tanpa mengimani Firman Tuhan yang disampaikan lewat apologetika.

PERTANYAAN AUA I

TERMIN III / Topik 2 -- Filsafat non-Kristen

Pertanyaan: Apakah filsafat non-Kristen boleh dipelajari oleh orang Kristen? Apakah manfaatnya bagi kepentingan apologetika? Rambu-rambu apa yang harus ditaati agar orang Kristen tidak tersesat ketika mempelajari filsafat non-Kristen?

I. Mempelajari Filsafat Non-Kristen

Filsafat adalah kajian intelektual dan/atau logis dari masalah umum dan fundamental, baik tentang eksistensi, pengetahuan, nilai-nilai, bahasa, akal budi dan pikiran manusia. Setelah manusia jatuh dalam dosa, maka seluruh kehidupan manusia tidak ada yang tidak tercemar dosa, demikian pula dengan pemikiran logisnya, yang berdampak kepada filsafat yang muncul. Karena itu filsafat Kristen yang benar yang didasari firman Tuhan perlu memandu orang percaya yang membaca, mempelajari, memahami filsafat-filsafat non-Kristen. Yang selalu menjadi pertanyaan ialah, apakah filsafat non-Kristen boleh untuk kita pelajari? Ketakutan banyak orang untuk mempelajari filsafat non-Kristen yaitu, karena dianggap tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, sehingga takut nanti menjadi sesat. Memang benar, jika belajar filsafat non-Kristen tidak berhati-hati kita bisa akan menjadi tersesat. Karena jika tidak memiliki dasar iman yang kuat, bisa jadi dasar pemikiran kita akan menyimpang dari kebenaran Firman Tuhan. Namun jika iman dan pengetahuan kita sudah kuat, justru dengan mempelajari filsafat non-Kristen akan menambah wawasan kita dengan ilmu pengetahuan tentang hal-hal di luar dunia kekristenan, dan dengan demikian akan sangat bermanfaat ketika kita diperhadapkan dengan konteks pelayanan, khususnya dalam penginjilan.

Rasul Paulus sudah memperingatkan kemungkinan hal itu dapat terjadi, tertulis dalam 2 Korintus 11:3-4 dan Kolose 2:8:

  • Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya. Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.- (2 Korintus 11:3-4)
  • II. Manfaat Mempelajari Filsafat Non-Kristen Bagi Apologetika

Filsafat non-Kristen boleh dipelajari oleh orang Kristen. Hal ini dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman yang lebih komprehensif sehingga mendukung dalam berapologetika. Tentunya dengan membentengi diri dengan Firman dan Roh Kudus. Manfaatnya dengan mempelajari filsafat non-Kristen atau budaya setempat, kita dapat mengatur strategi penginjilan yang tepat, dan terukur dengan harapan penginjilan lebih efektif. Bahkan apabila pemikiran yang ada dalam filsafat tersebut sudah teruji ketat analisa logikanya, maka jika ada filsafat yang "bertentangan" dengan iman Kristen dan tidak ada alasan yang kuat (karena kekurangpahaman/kurang belajar isi Alkitab dan juga filsafat non-Kristen) untuk menyanggah argumen filsafat tersebut, orang Kristen tidak perlu goncang dengan argumen tersebut lalu mengganti iman Kristennya. Justru filsafat non-Kristen yang sudah didasari analisa logika ketat tersebut (yang menggoncangkan iman), dapat membuat orang Kristen berpikir keras dan tidak terlena dalam "zona nyaman"nya, sehingga belajar "membela iman Kristen" dalam diskusi yang ketat. Dan itu salah satu bagian dari tugas orang Kristen berapologetika.

Selain menambah pengetahuan, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Kristiani bisa saja diterapkan, contoh lebih luasnya adalah adat atau budaya. Manfaat bagi apologetika adalah menambah wawasan kita mengenai cara pandang orang non-Kristen terhadap sesuatu, sehingga diharapkan pada saat kita berapologetika, kita dapat mengerti sudut pandang mereka dan kita bisa lebih mudah untuk "masuk". Dasar yang harus ditaati adalah Alkitab, kita harus menempatkan Alkitab sebagai standar kebenaran mutlak sehingga kita tidak akan melenceng jika menemukan paham-paham yang bertentangan dengan Kekristenan. Artinya Alkitab harus tetap menjadi acuan tertinggi. Filsafat Kristen harus ditempatkan paling tinggi ketimbang filsafat non Kristen. Filsafaat Kristen bergantung sepenah pada Alkitab.

III. Rambu-Rambu Dalam Balajar Filsafat Non-Kristen

Rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam mempelajari filsafat non-Kristen adalah selalu menempatkan Tuhan dalam setiap pola pikir yang kita dapatkan dari mempelajari ilmu filsafat non-Kristen. Karena jika dasar pemikiran filsafat non-kristen sudah menguasai pikiran kita, serta otoritas Tuhan sebagai sumber dari segala sesuatu sudah mulai tergusur, maka kita harus segera berhenti dan kembali kepada jalan yang benar yaitu kepada Firman. Jangan terlalu menganggap diri mampu atau merasa bisa dan sombong dalam mempelajari filsafat non-Kristen, semua dasar pemikiran kita jangan berfokus pada diri sendiri dan kepandaian yang kita miliki, namun semua harus bergantung dan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, agar kita dapat terus waspada dan berhati-hati dalam belajar filsafat non-Kristen. Dengan kata lain, rambu-rambu yang harus ditaati ketika belajar filsafat non-Kristen, adalah jangan mengandalkan kekuatan diri sendiri (kepintaran, hubungan dekat, pengaruh dsb.nya), tetapi tetaplah berpegang pada kebenaran Firman, dan mengandalkan Roh Kudus.

Rasul Paulus menasihati kita, jangan mau digeser dari kebenaran yang sedang kita imani. Seperti dalam suratnya di kepada jemaat di Kolose Paulus, "Hati-hatilah supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi menurut Kristus." (Kolose 2:8).

Berikut adalah beberapa tambahan rambu-rambu yang harus ditaati agar orang Kristen tidak tersesat ketika mempelajari filsafat non-Kristen:

  1. Mohon pimpinan Roh Kudus agar diberi hikmat;
  2. Iman Kristen tetap dipegang;
  3. Sumber belajar filsafat non-Kristen yang sahih;
  4. Narasumber yaitu harus orang yang ahli dan kompeten dibidangnya;
  5. Harus ada guru yang mendampingi.
  6. IV. Kesimpulan

Sekalipun kita boleh mempelajari filsafat non-Kristen, jangan sampai itu mempengaruhi iman kita akan kebenaran Alkitab. Namun, orang Kristen boleh mempelajari filsafat non-Kristen, bukan berarti perlu dan harus. Karena sejatinya filsafat Kristen sudah menyediakan jawaban atas dilema yang dihadapik oleh orang-orang non-Kristen. Kristus adalah dasar dari kepastian manusia dan jawaban atas ketidak pastian manusia, maka orang Kristen tidak lagi dihadapkan pada masalah pasti dan tidak pasti yang tidak terpecahkan. Dalam berapologetika, kita mulai berkomunikasi dengan orang non-Kristen dengan cara yang relevan dengan kebutuhan mereka akan Kristus. Dan melalui Injil yang diberitakan, Roh Kudus yang akan membuka hati dan membawa seseorang beriman kepada Kristus.

IV. Kesimpulan

Antara iman dan rasio sangat penting untuk berapologetika. Tuhan menciptakan manusia dengan iman dan juga rasio. Hal ini tidak bisa dipertentangkan, karena semua dapat digunakan dalam berapologetika. Mana yang lebih tinggi kedudukannya tergantung konteks yang sedang dibahas dan orang yang sedang diajak berdiskusi. Namun demikian, iman dan rasio harus tetap digunakan.

PERTANYAAN AUA I

TERMIN IV / Topik 1 -- Mitos Netralitas

Pertanyaan: Mengerti perbedaan filsafat non-Kristen dan Kristen membuat kita mengambil kesimpulan bahwa di luar dua filsafat ini tidak ada pilihan yang lain. Atau dengan perkataan lain, tidak ada daerah netral di antara keduanya. Setujukah Anda? Apa alasan jawaban Anda?

Perbedaan Filsafat Kristen Dengan Non-Kristen

Mengerti perbedaan filsafat non-Kristen dan Kristen membuat kita mengambil kesimpulan bahwa di luar dua filsafat ini tidak ada pilihan yang lain. Atau dengan perkataan lain, tidak ada daerah netral di antara keduanya. Filsafat Kristen itu sumbernya Alkitab sebagai otoritas mutlak dan bergantungan total kepada Tuhan. Maksudnya bahwa semua pengetahuan manusia itu berasal dari Allah dan meyakini bahwa pengetahuan kebenaran berpusat kepada-Nya. Sebaliknya filsafat non-Kristen berpusat kepada dirinya sendiri dan rasio sebagai sumber kebenarannya. Dan ada juga mereka mendasarkan ajarannya berdasarkan dari ajaran turun-temurun dan dari roh-roh dunia yang merupakan filsafat kosong dan palsu (Kolose 2:8). Kecenderungan filsafat non-Kristen adalah dengan sadar menghilangkan campur tangan Allah di dalamnya dan berakar pada kemandirian, terlepas dari Allah.

Konsisten dalam logika merupakan prinsip yang disuguhkan, di mana orang Kristen dan orang non-Kristen bersepakat. Apabila kita bermaksud untuk memerlihatkan kebenaran kekristenan kepada orang non-Kristen, maka kita dapat memberikan logika dari kepercayaan kita pada Allah, Kristus, dan Alkitab. Dengan suatu pengharapan bahwa penjelasan berdasarkan logika ini dapat meyakinkan atau memenangkan mereka ke dalam Kerajaan Allah, atau paling tidak ke arah itu. Namun, walaupun kita setuju akan keharusan berpikir secara logis, pengertian kristiani akan keterbatasan dan fungsi logika sangat berbeda dengan apa yang dimengerti oleh orang-orang non-Kristen. Pemikiran manusia, dalam bentuk yang paling murni dan yang paling lengkap, tetap tidak lebih dari pemikiran makhluk yang diciptakan Allah dan yang telah dipengaruhi oleh bentuk pemikiran yang subjektif. Jadi pada dasarnya, logika pun tidak ada yang bersifat netral.

Sikap Dalam Persamaan Filsafat Kristen Dengan Non-Kristen

. Sebagai orang percaya iman kita yang tidak boleh abu-abu, atau tidak boleh suam-suam kuku. Hendaknya kita memilih filsafat Kristen untuk menjadi pedoman hidup kita. Pilihan harus tegas adalah hanya bergantung kepada Allah sumber segalanya. Alkitab mutlak pada posisi tertinggi dan tidak dapat dibandingkan dengan yang lainnya termasuk filsafat. Dalam segala hal Alkitab merupakan panduan kita dan Roh Kuduslah yang memimpin dan menyertai kita. Namun bagaimana jika ada filsafat non-Kristen memiliki kesamaan dengan kebenaran di dalam Alkitab?

Banyak orang terkadang mengambil kebenaran Alkitab dan diakuinya sebagai kebenaran sendiri. Atau juga bahwa filsafat on-Kristen ternyata ada persamaan dengan isi kebenaan dalam Alkitab, dan diakui sebagai kebenaran yang sejati. Ini yang sering kita hadapi dalam berapologetika. Namun dalam berapologetika kita menghindari -- debat kusir-, maka yang seharusnya dijelaskan kepada mereka bahwa di dalam Alkitab sudah menyebut kebenaran itu terlebih dahulu. Atau dengan kata lain, kita menjelaskan bahwa Alkitab sudah menuliskan hal itu terlebih dahulu sebelum filsafat tersebut dimunculkan. Kita mempertegas kebenaran tersebut di hadapan mereka dengan kasih. Kita tetap mengakui hal tersebut sebagai kebenaran, namun dasarkan karena hal itu sudah tertulis di dalam Alkitab. Selagi filsafat itu tidak bertentangan dengan Alkitab, boleh saja kita menerimanya sebagai kebenaran. Kita menerima filsafat itu bukan berarti kita menerima atau mengikuti ajaran/filsafat non-Kristen, tetapi menganggap itu sebagai persamaan. Matius 22:39 -- Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.- Dalam berapologetika, kasih terhadap non-Kristen harus ada pada diri kita. Jika kita dapati ada persamaan dalam filsafat non-Kristen jadikan itu sebagai alat untuk berapologetika. Kerena kebersamaan itu sangat membantu kita untuk menjangkau mereka.

PERTANYAAN AUA I

TERMIN IV / Topik 2 -- Panggilan Berapologetika

Pertanyaan: Karena berapologetika adalah tugas panggilan setiap orang Kristen, apakah usul Anda agar setiap orang Kristen dapat diperlengkapi dan bisa selalu siap sedia dalam mempertanggungjawabkan iman percayanya? Jelaskan pula apa aplikasi yang akan Anda lakukan setelah mengikuti pembelajaran AUA 1 ini!

Usulan peserta kelas AUA 1 agar setiap orang Kristen dapat diperlengkapi dan bisa selalu siap sedia dalam mempertanggungjawabkan iman percayanya, serta sharing aplikasi yang akan dilakukan setelah mengikuti pembelajaran AUA 1 ini.

Bapak Tri Sadono:

Usul agar setiap orang Kristen dapat diperlengkapi dan bisa selalu siap sedia dalam mempertanggungjawabkan iman percayanya:

  1. Hidup dekat dengan Allah;
  2. Rajin berdoa, dan meminta hikmat serta kebijaksanaan dari Tuhan dalam berapologetika;
  3. Rajin mengikuti Pendalaman Alkitab;
  4. Rajin membaca buku rohani;
  5. Mengikuti diskusi atau kursus teologi.

Aplikasi yang akan saya lakukan setelah mengikuti pembelajaran AUA 1 ini:

  1. Membela berita Injil terhadap kritik dan distorsi, baik karena penyalahgunaan maupun penyalahtafsiran Alkitab.
  2. Menyaksikan kredibilitas iman Kristen.
  3. Mempertahankan dan tetap memberitakan ajaran yang benar (sesuai Firman Tuhan).

Bapak Oey Meng Hooy

Supaya setiap orang Kristen bisa diperlengkapi dan mempertanggungjawabkan imannya. Pastinya, selain mendekatkan diri kepada Tuhan, yang harus dilakukan adalah mendalami firman Tuhan lebih lagi, dan bukan sekedar membaca firman tetapi merenungkan dan menggali lebih dalam. Dan pastinya saya sebagai pekerja gereja harus perlengkapi jemaat baik di dalam khotbah atau pengajaran. Pengajaran yang kita berikan bukan sekedar motivasi belaka tetapi kebenaran yang mendalam dari firman Tuhan.

Bapak W Widodo

Kemampuan berapologetika bertujuan bukan hanya sekedar mempertanggungjawabkan iman percaya, tetapi juga keikutsertaan dalam pemberitaan Injil untuk mengajak orang "lawan bicara" mengaku percaya dan mengikut Kristus, seperti yang dilakukan Paulus saat "berapologetika" di hadapan Raja Agripa dan Festus (Kisah Para Rasul 26). Karena itu pemahaman secara menyeluruh (bukan sepotong-sepotong) isi firman Tuhan diperlukan untuk dapat memaparkan dengan baik dan benar sesuai penulusuran secara rasio (terstruktur dan sistematis). Sehingga dapat dicerna dengan baik oleh mereka yang mendengarkan. Maka diperlukan hikmat untuk dapat menjelaskan dengan bijak. Ini memerlukan pembelajaran terus menerus secara pribadi tentang isi Alkitab dan pertolongan Roh Kudus, Sang Pewahyu.

Tetapi juga, karena pemberitaan firman Tuhan senantiasa akan mendapat perlawanan dari "musuh-musuh di udara" (Efesus 6:12), maka memerlukan hal yang paling utama, yaitu otoritas dan kekuatan dari Yang Maha Tinggi, yaitu Allah Tri Tunggal. Karena itu, orang percaya sangat perlu dalam setiap waktu hidupnya untuk:

  1. Bersaat Teduh pribadi (merenungkan Alkitab dan Ber-DOA) dengan baik dan benar.
  2. Melakukan PA pribadi secara konsisten untuk sekuruh isi Alkitab.
  3. Beribadah bersama orang percaya (ada penundukan diri bersama jemaat di hadapan Allah, menyembah, memuji dan melakukan persembahan).
  4. Konsisten dan periodik belajar pribadi dengan membaca buku rohani yang berisi pengajaran yang benar sesuai Alkitab
  5. PA bersama jemaat Gereja.
  6. Mengikuti seminar, kursus, sekolah, diskusi tentang Alkitab dan Gereja
  7. Bermisi dengan melalukan PI di setiap kesempatan bekerja

Setelah kursus AUA 1 ini, maka tetap implementasi no 1-7 di atas yang telah dilakukan disertai semangat berapologetika yang benar sesuai pemahaman yang terbaru dari kursus AUA 1.

Ibu Patricia Ana Pantouw

Dengan cara mendalami Alkitab, rajin baca referensi-referensi lainnya untuk menambah pengetahuan kita, serta juga rajin ikut diskusi Alkitab untuk mengasah kemampuan berdialog kita.

Bapak Reinhard Yeremia

Usul saya agar setiap orang Kristen dapat diperlengkapi dan bisa selalu siap sedia dalam mempertanggungjawabkan iman percayanya:

  1. Bertekun dalam pengenalan akan Tuhan melalui pembacaan firman Tuhan.
  2. Bersekutu bersama orang-orang percaya dan tunduk akan otoritas penggembalaan lokal.
  3. Membuka diri untuk berdialog

Aplikasi yang saya lakukan setelah mengikuti pembelajaran AUA 1:

  1. Lebih rendah hati saat berhadapan dengan orang lain.
  2. Bekal firman Tuhan sangat penting. Oleh sebab itu harus semangat untuk tetap bersekutu meski dengan berbagai keterbatasan

Bapak Aan Yahya

Usul dari saya:

  1. Hidup dalam dalam persekutuan pribadi yang intim dengan Tuhan.
  2. Mengandalkan Roh Kudus dalam hikmat dan kebijaksanaan.
  3. Menghidupkan firman dalam hidup sehari-hari.
  4. Mendengarkan khotbah yang baik, mengikuti pendalaman Alkitab, membaca buku-buku rohani dsb..
  5. Berkomunitas dalam grup yang sama dalam kebenaran firman.

Aplikasi setelah mengikuti pembelajaran AUA 1 :

Menerima semua doktrin, pengajaran dan pembelajaran, diibaratkan sebagai makanan "rohani", maka sebelum makanan tersebut saya "santap", terlebih dulu saya konfirmasi kepada Sang Guru (Roh Kudus), dan memohon agar Dia yang memilihkan makanan mana yang boleh/tidak boleh saya makan. (Yohanes 14:26).

Ibu Siska Yunita

Orang Kristen harus diperlengkapi dengan pengetahuan yang benar akan Firman Tuhan dengan cara terus menggali dan bukan hanya tahu sekedar dipermukaan saja, sehingga setiap saat bisa mempertahankan iman dan kepercayaannya kepada Tuhan Yesus Kristus tanpa ragu karena sudah dipersenjatai dengan Firman Tuhan.

Aplikasi yang akan saya lakukan setelah mempelajari AUA 1 ini adalah, saya akan terus belajar firman Tuhan dan berusaha mempersiapkan diri untuk bisa selalu mempertahankan iman kepada Kristus dengan dasar yang benar dan bisa dipertanggung jawabkan.

Bapak Juniarsen Saragih

Untuk membela iman, kita perlu beberapa persiapan:

1. Kita harus memiliki iman yang benar.

Dalam 2 Korintus 13:5 setiap orang diharuskan menguji diri sendiri, banyak orang kristen hidup dalam bayangan, mereka berpikir bahwa mereka percaya Yesus padahal mereka hanya percaya Yesus ada, ini bukan iman, sebab setan pun percaya dan dia gemetar. Bukti bahwa kita percaya Yesus adalah kita menuruti perkataan-Nya.

2. Kita harus sadar bahwa kita dalam situasi Perang.

Musuh kita tidak kasat mata, musuh kita adalah tipu daya yang licik, musuh kita adalah iblis, dan iblis akan menggunakan segala yg ada di sekitar kita utk menipu kita, uang, agama, gereja, pendeta, teman, bahkan Yesus berkata "musuh orang adalah seisi rumahnya". Iblis adalah bapa dari segala dusta, dia akan menipu kita dgn apa saja. contoh: banyak orang Kristen salah mengerti kata "toleransi", kata ini hanya satu contoh kecil yang digunakan Iblis menipu banyak orang Kristen, sehingga banyak jemaat berpikir "semua agama sama, semua mengajarkan kebaikan", tanpa sadar ketika berpikir seperti itu kita telah menyangkal Yesus. Iblis dan antek-anteknya tidak pernah tidur, dan Iblis akan terus mencoba menipu kita. Sadar atau tidak, kita dalam situasi perang.

3. Persiapkan perisai dan Senjata.

Iman adalah pertahanan kita, Firman Tuhan adalah senjata kita. Banyak orang Kristen merasa risih ketika membicarakan Alkitab di luar pertemuan rohani, coba saja ajak 3 atau 4 orang Kristen ngopi bareng, lihat apa yang mereka bicaran dalam 1 jam. Akibatnya Iblis pun berhasil menipu banyak jemaat untuk berpikir bahwa agama mereka lemah, coba saja pancing teman minum kopi tadi untuk membahas Alkitab, setelah Anda berhasil mengajak mereka membicarakan Alkitab, dalam 30 menit suruh teman Anda yang Muslim ikut ngopi bareng, dijamin pembicaraan Alkitab akan berhenti, tak satu orang pun akan menyambut anda bila menyinggung Alkitab. Dalam perang, pertahanan terbaik adalah menyerang, tanpa senjata menyerang musuh adalah bunuh diri. Tanpa mempelajari, merenungkan, mentaati Firman Tuhan setiap saat, dengan segenap kemampuan yang kita miliki, maka kita hanya akan menjadi sasaran empuk penipuan si Iblis.

4. Tetaplah Taat

Salah satu kelemahan kita saat ini adalah: sebagian besar kita bukan Kristen yang bertobat, sebagian besar dari kita adalah Kristen warisan, saya Kristen karena saya lahir di keluarga Kristen, ini menjauhkan saya dari motivasi mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, karena saya merasa berada di pihak yang benar. Tapi Yesus berkata: tidak semua yang berseru Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam kerajaan sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di Sorga.

Bapak Juinis Suilan

Cadangan untuk sentiasa siap sedia dalam menghadapi pertanggungjawapan iman percaya kepada orang yang meminta atau berapologetika adalah orang Kristen rajin membaca Alkitab, memdengar firman Tuhan, mendengar ceramah-ceramah Kristen dan juga selalu mendengar jawaban-jawaban pendetapendeta Kristen di media sosial, seperti YouTube, FB, dan sebagainya ketika menjawab perkara-perkara yang selalu disinggung oleh pihak agama lain, bahkan mereka selalu mengambil ayat-ayat Alkitab dan membuat kesimpulan sendiri. Selain itu, seseorang itu harus selalu menguduskan Kristus dalam dirinya iaitu hidup kudus ,hidup benar dan melakukan Firman Tuhan di dalam kehidupannya sendiri serta selalu berdoa meminta hikmat untuk menghadapi sesuatu persoalaan apapun juga termasuk berapologetika.

Setelah mengikuti pelajaran AUA 1, ketika mendengar filsafat non-Kristen, saya tidak lagi mempercayai filsafat mereka yang kelihatan benar. Karena tidak adanya titik netral dan dasar yang benar antara filsafat mereka dengan filsafat Kristen. Firman Tuhan harus diletakkan ditempat utama dan mempercayainya dengan iman walaupun orang non-Kristen tidak mempercayainya.Semoga pelajaran AUA 1 ini menjadi peringatan selalu buat saya untuk berapologetika dengan lebih bersemangat dan menguatkan iman saya kepada Tuhan Yesus.

Bapak Sammy Victory

Usul saya adalah:

  1. Rajin mengundang hadirat Allah
  2. Selalu berdoa meminta hikmat dari Roh Kudus
  3. Belajar mendalami Firman Tuhan
  4. Rajin Ibadah
  5. Hidup kudus

Aplikasi yang ku lakukan adalah:

  1. Menerapkan dalam karakter di kehidupan
  2. Tetap percaya kepada Tuhan
  3. Mempertahankan kepercayaan Firman
  4. Memberitakan Injil

Ibu Catherin Yesinka Mutiara Tambunan

Karena berapologetika adalah tugas setiap orang percaya, namun jika dilakukan tanpa "bekal" yang baik, maka bisa menjadi batu sandungan. Yang perlu dipersiapkan adalah:

  1. Kerendahan hati untuk mau mengakui bahwa kemuliaan hanya untuk Tuhan.
  2. Kesediaan untuk mau dipakai Tuhan
  3. Hubungan yang dekat dengan Tuhan melalui doa dan persekutuan pribadi
  4. Banyak belajar dan merenungkan firman
  5. Hati yang mengasihi orang yang berbeda pandangan (belum percaya), bukan menyerang
  6. Mempelajari kisah para rasul dalam memberitakan dan mempertahankan injil
  7. Siap sedia bila mendapat serangan bahkan penganiayaan karena injil
  8. Keselarasan firman dengan kehidupan

Bapak Paulus Pongot

Usul yang diperlukan orang Kristen antaranya ialah:

  1. mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama manusia sama seperti diri sendiri
  2. rajin membaca Firman Tuhan dan menjadikan Alkitab sebagai panduan dalam kehidupan seharian
  3. setia berdoa dan sentiasa mengandalkan Tuhan dalam kehidupan harian
  4. siap mendengar suara Tuhan/Roh Kudus.
  5. sentiasa melihat/meneliti keadaan sekeliling khususnya berkaitan dengan isu agama/kepercayaan.

Aplikasi yang akan saya lakukan ialah:

Saya akan lakukan usul yang sudah saya utarakan di atas. Sepanjang pembelajaran AUA 1, saya sangat diberkati dan menemui perkara/pengetahuan baru yang mendorong saya untuk terus mengikuti kelas diskusi online PESTA.

Bapak Cerry Steward Senggetang

  1. Tetap setia untuk berjalan bersama Tuhan dalam doa dan Firman-Nya
  2. Jadilah garam dan terang dunia.
  3. Pereratlah persekutuan sesama orang percaya dan teruslah bersosial dalam kebhinekaan tunggal ika.

Setelah ini saya jadi semakin semangat untuk belajar. Khususnya dasar-dasar iman Kristen serta berharap dapat ikut membagikannya juga kepada orang lain.

Yermia Kristanto

Karena berapologetika itu adalah merupakan tugas panggilan orang Kristen, maka yang sangat penting setiap kita harus memiliki dasar yang kokoh akan kebenaran sebelum berapologetika (sesuai pelajaran 6 AUA 1), supaya kita dapat membela iman Kristen dan mempertanggungjawabkan apa yang kita bela seperti dikatakan "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan dan siap sedialah pada segala sesuatu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat." (1 Petrus 3:15). Artinya supaya bisa menjalankan Tugas panggilan berapologetika, maka usulan saya sbb:

  1. Hidup Kudus dihadapan Tuhan.
  2. Membangun relasi dengan Allah dan firman-Nya.
  3. Menggali firman-Nya melalui Pendalaman Alkitab.
  4. Bersekutu dengan saudara seiman sehingga pengetahuan kebenaran Alkitab semakin luas dan lengkap.
  5. Mengadakan dan mengikuti seminar2 dalam doktrin, misi, penyelidikan Alkitab yang mendalam dan apologetika.
  6. Mengikuti diskusi-diskusi seperti yang diadakan YLSA (PESTA, dsb.).
  7. Berhubungan dengan banyak orang di luar Kristen artinya berkomunikasi dengan orang-orang di luar iman kita.
  8. Belajar dan banyak baca buku-buku terkait pandangan keyakinan lain tentang Kristen.
  9. Mengandalkan Tuhan dan memohon Roh Kudus menuntun dan memberikan hikmat surgawi dalam berapologetika. Dan hal ini saya aplikasikan dalam kehidupan setiap hari dalam bersosialisasi dengan banyak orang, khususnya di luar orang Kristen, terutama melalui penginjilan yang sudah saya kerjakan.

Bapak John Made Warkudara

Agar setiap orang Kristen dapat diperlengkapi dan selalu siap sedia dalam mempertanggungjawabkan iman percayanya adalah dengan tekun untuk terus belajar kebenaran alkitab, rajin mengikuti diskusi atau seminar tentang Alkitab, ikut persekutuan, dan lain-lain.

Aplikasi setelah mengikuti pembelajaran AUA 1 ini adalah bisa ber-apologetika dengan dasar-dasar dari pelajaran di AUA.

Bapak Victor Francis

Usul saya adalah supaya:

  1. Jangan pernah berhenti belajar dan belajar firman Tuhan.
  2. Sentiasa mengikuti komunitas yang aktif di dalam apologetika.
  3. Hidupi firman Tuhan, kerana tindakan kita sehari-hari lebih kuat berbicara berbanding kata-kata kita.
  4. Sentiasa bina hubungan intim dengan Tuhan setiap hari lewat renungan firman Tuhan dan doa yang teratur dan konsisten

Selepas sesi AUA ini, saya ingin melihat bagaimana apologetika dilakukan masa kini oleh mereka yang sudah biasa berapologetika. Pasti banyak sekali yang dapat dipelajari daripada pengalaman mereka.

Bapak Amriyadi Yehezkiel

Hendaknya setiap orang percaya selalu belajar tentang kebenaran Firman Tuhan, dan memperlengkapi diri dengan kemampuan berapologetika. Setelah sesi ini saya akan mengajak para jemaat Tuhan yang saya layani untuk belajar berapologetika.