GSM-Pelajaran 05

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Pertanyaan 05 | Referensi 05a | Referensi 05b

Nama Kursus : Training Guru Sekolah Minggu (GSM)
Nama Pelajaran : Teknik Memimpin Kebaktian Sekolah Minggu
Kode Pelajaran : GSM-P05

Pelajaran 05 - TEKNIK MEMIMPIN KEBAKTIAN SEKOLAH MINGGU


DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

  1. KELAS PERSIAPAN
  2. PEMBUKAAN KEBAKTIAN SEKOLAH MINGGU
    1. Mempersiapkan Tempat dan Fasilitas
    2. Berdoa Bersama
    3. Menyambut Anak-anak SM datang
    4. Absensi Murid
  3. ACARA PUJI-PUJIAN
    1. Salam Selamat Datang
    2. Memuji Tuhan
    3. Persembahan
  4. ACARA CERITA (FIRMAN TUHAN)
    1. Mempersiapkan Cerita (Firman Tuhan)
    2. Waktu bercerita
    3. Memahami Tahapan Usia Anak
  5. ACARA DOA
  6. PENUTUP

Doa

PENDAHULUAN

Pada pelajaran ini, kita akan membahas hal-hal praktis (teknis) tentang bagaimana menjalankan kebaktian di Sekolah Minggu. Secara sistematis, kita akan membahas kegiatan-kegiatan yang bisa/biasa dilakukan sepanjang kebaktian SM dan juga persiapannya.

A. KELAS PERSIAPAN

Kelas persiapan sebaiknya dilakukan beberapa hari sebelum hari Kebaktian SM. Ada banyak kepentingan untuk mengadakan pertemuan kelas persiapan. Diantaranya:

  1. Memilih lagu-lagu yang akan dinyanyikan bersama dan latihan menyanyi (dengan alat musik, khususnya untuk lagu-lagu baru atau lagu yang guru/anak-anak belum terlalu menguasai).
  2. Latihan bercerita untuk menghafal garis besar cerita.
  3. Membuat alat peraga yang mendukung cerita.
  4. Berbagi pergumulan antara guru SM.
  5. Persekutuan doa bagi guru SM.
  6. Berbagi informasi (mis. anak SM yang sakit, nakal, pindah dll.).
  7. Berbagi ilmu/ketrampilan mengajar, membuat alat peraga dll.
  8. Menyampaikan pengumuman dari pengurus SM atau gereja.
  9. dll.

B. PEMBUKAAN KEBAKTIAN SEKOLAH MINGGU

Usahakan agar guru SM (dan anak-anak SM yang terlibat dalam kebaktian) datang 15 menit sebelum acara kebaktian dimulai. Waktu 15 menit ini akan digunakan secara efektif untuk mempersiapkan awal kebaktian yang baik, antara lain:

  1. Mempersiapkan Tempat dan Fasilitas
    1. Membersihkan tempat.
    2. Menata kursi atau tikar.
    3. Menyiapkan alat-alat yang diperlukan: Alat musik, Papan Tulis, OHP atau gambar-gambar yang mendukung suasana kebaktian.
  2. Berdoa Bersama
  3. Guru-guru dan semua anak yang terlibat dalam kebaktian berdoa bersama, khususnya untuk memohon agar Tuhan memimpin dan memberkati kebaktian dari awal hingga akhir. Mohon pertolongan Tuhan agar setiap guru/anak yang bertugas dipakai Tuhan untuk menyatakan kehendak-Nya.

  4. Menyambut Anak-anak SM datang
  5. Anak-anak bergantian dilibatkan dalam tim penyambutan, untuk menyambut setiap anak yang datang di kebaktian dengan memberikan salam dan jabatan tangan sebagai tanda persaudaraan.

  6. Absensi Murid
  7. Melakukan absensi sebaiknya dilakukan ketika anak datang, sehingga guru dapat bertemu dengan anak-anak secara pribadi.

C. ACARA PUJI-PUJIAN DAN PERSEMBAHAN

Pujian di kelas Sekolah Minggu dapat membawa pengaruh yang besar bagi seluruh jalannya kebaktian, terutama untuk memuji Tuhan dan mempersiapkan hati anak dalam menerima Firman Tuhan. Apabila suasana puji-pujian monoton dan lesu, maka anak maupun guru akan sulit untuk membangun suasana ibadah yang penuh sukacita.

  1. Salam Selamat Datang
  2. Ketua SM atau Pemimpin Pujian perlu memberikan kata-kata sambutan dan salam selamat datang kepada semua anak sebelum kebaktian dimulai. Berikan kata-kata positif yang penuh semangat supaya anak-anak berantisipasi menikmati kebaktian SM.

  3. Memuji Tuhan
  4. Ciptakan suasana yang riang gembira, karena itulah sifat anak-anak yang selalu dibawa dimanapun mereka berada. Nyanyikan lagu- lagu yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Jangan lupa memberi penjelasan kepada anak-anak tentang isi lagu yang dinyanyikan supaya anak tidak hanya asal menyanyi tetapi menghayati kata-kata pujian yang dinyanyikan. Berikan kata-kata penyemangat di sela lagu-lagu, tapi hindarkan kecenderungan untuk berkotbah.

    Mengajak anak-anak berinteraksi dan berpartisipasi secara kreatif selama acara pujian sangat menolong sehingga mereka tidak membuat keributan (karena bosan). Misalnya, menyanyi bersahut-sahutan, memperbolehkan anak memilih lagu, maju ke depan untuk memuji Tuhan berdua/bertiga/berempat, menyanyi dengan gerakan, menyanyi dengan aneka variasi tepuk tangan, dengan boneka, dll. Kreasi-kreasi tersebut dapat digabung agar suasana pujian menjadi semakin menarik. Silakan membuat kreasi sendiri atau belajar dari orang lain untuk membangun suasana pujian yang indah. Tutuplah dengan lagu penyembahan/lembut dan doa untuk menenangkan hati anak untuk dapat mendengarkan Firman Tuhan dengan tenang.

    Beberapa hal penting yang harus dihindari oleh pemimpin pujian:

    1. Tidak menyiapkan lagu-lagu yang akan dinyanyikan sebelumnya.
    2. Menyanyi nyanyian yang dia sendiri tidak kuasai.
    3. Dia sendiri tidak ikut menyanyi bersama.
    4. Menyanyi dengan tidak tersenyum atau tanpa ekspresi.
    5. Menyanyi dengan membaca catatan (karena tidak hafal)
    6. Berbicara dengan guru lain sementara anak-anak menyanyi.
    7. Berbicara dengan suara pelan dan tidak bersemangat.
    8. Tidak bergerak, hanya berdiri di satu tempat saja.
    9. Memarahi anak tertentu didepan semua anak lain.
  5. Persembahan
  6. Acara persembahan lebih baik dilakukan pada tengah-tengah acara pujian supaya anak-anak diajar untuk memberi dalam suasana pujian yang riang gembira. Ada berapa variasi metode yang bisa dilakukan untuk acara persembahan, misalnya mengucapkan ayat hafalan sehingga anak diingatkan dengan ayat firman Tuhan pentingnya memberi dengan sukacita. Bisa juga diiringi dengan pujian yang sesuai. Pada acara persembahan ini sangat disarankan agar gurupun ikut memberikan persembahan supaya menjadi teladan yang baik bagi anak-anak.

    Kantong persembahan bisa juga diedarkan sebelum Acara Cerita (Firman Tuhan) atau sesudahnya. Tapi agar tidak menganggu acara penyampaian Firman Tuhan, mengedarkan kantong persembahan ditengah-tengah acara pujian lebih dianjurkan.

D. ACARA CERITA (MENYAMPAIKAN FIRMAN TUHAN)

Banyak guru (terutama guru baru) takut untuk bercerita di depan kelas, karena selain harus bisa membawakan cerita dengan menarik, ia pun harus bisa mempesona anak sehingga anak mendengarkan cerita dengan perhatian hingga selesai. Bercerita sebenarnya adalah suatu ketrampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh semua guru. Kalau guru SM mengerti dan menguasai prinsip-prinsip bercerita yang efektif, maka bercerita di depan kelas tidak akan lagi menjadi hal yang menakutkan.

  1. Mempersiapkan Cerita
  2. Tidak ada guru yang cukup bodoh untuk mau bercerita di depan kelas tanpa terlebih dahulu melakukan persiapan. Sepandai-pandainya guru bercerita, ia tetap harus melakukan persiapan. Persiapan apa yang perlu dilakukan guru?

    1. Membangun keyakinan bahwa Firman Tuhan/cerita yang akan dibagikan memiliki nilai pengajaran yang kekal. Untuk itu pastikan guru mengetahui inti/garis besar cerita dengan baik dan mengetahui pesan Firman Tuhan yang ingin disampaikan kepada anak. Tunjukkan bagian-bagian penting dalam seluruh cerita yang harus ditekankan agar pesannya ditangkap oleh anak.
    2. Berlatih bercerita hingga sungguh-sungguh menguasainya. Empat langkah yang harus dilakukan:
    3. - Mengidentifikasi cerita dengan baik.

      - Membuat garis besar cerita.

      - Review fakta-fakta dalam cerita (sampai betul-betul hafal).

      - Berlatihlah bercerita (imajinasikan cerita tersebut dengan mata tertutup dan melihat diri Anda bercerita).

    4. Mencari dan mempersiapkan alat peraga yang akan digunakan Untuk mendukung cerita dan menarik perhatian anak, cari dan siapkan alat peraga yang akan menolong anak menangkap inti/pesan Firman Tuhan dengan lebih baik.
  3. Waktu Bercerita
  4. Waktu bercerita adalah waktu yang paling berharga karena saat inilah guru SM menaburkan benih kebenaran Firman Tuhan dalam hati anak-anak, karena itu gunakan waktu ini sebaik-baiknya. Untuk mencapai hasil yang maksimal berikut beberapa hal penting yang harus diingat guru ketika menyampaikan cerita:

    1. Tangkaplah perhatian anak-anak dari sejak dari awal. Permulaan yang bagus sangat penting sebab lebih mudah menangkap perhatian para pendengar pada awal cerita daripada menarik perhatiannya setelah perhatian mereka mengembara ke mana-mana. Untuk anak-anak, ada beberapa cara untuk membuka cerita, misalnya menanyakan pengalaman menarik yang pernah dialami, memperlihatkan gambar yang menarik dan meminta anak menyebutkan apa yang dilihat, memperdengarkan suara dan meminta anak menebak suara apa itu, dll.
    2. Untuk bercerita dengan baik, maka beberapa hal ini harus jelas ditangkap oleh anak:
    3. - Setting (Lokasi kejadian cerita).

      - Karakter (Tokoh utama dalam cerita).

      - Problem (Peristiwa yang dialami tokoh utama).

      - Aksi (Respon dari tokoh utama).

      - Akhir cerita (Bagaimana tokoh utama menghadapi probemnya)

    4. Cara terbaik untuk menarik perhatian anak adalah dengan berinteraksi dengan anak-anak selama bercerita, misalnya:
      1. Meminta anak mencari alamat ayat dari cerita tersebut.
      2. Meminta anak membaca apa yang dikatakan Alkitab.
      3. Menceritakan kembali cerita itu.
      4. Menjawab pertanyaan tentang cerita yang sudah didengar.
  5. Memahami Tahapan Usia Anak
  6. Sesuai dengan perkembangan usia anak-anak, maka ada kareakteristik unik yang bisa dikenali guru dan menggunakannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal:

    1. Bercerita dalam Kelas Indria (4-6 tahun)
    2. Masalah yang terbesar adalah anak pada usia ini belum bisa berkonsentrasi dalam waktu yang lama, karena itu guru harus bisa menarik perhatiannya sehingga bisa berkonsentrasi lebih lama.

      - Harus berbicara dengan suara keras dan bervariasi (misalnya memakai jenis suara yang berbeda untuk masing-masing tokoh yang berbicara)

      - Hindari cerita yang memerlukan lebih dari satu pokok pikiran, karena itu cerita harus pendek dan sederhana. Harus menggunakan banyak ekspresi wajah/mimik muka, khususnya mata.

      - Banyak melakukan interaksi supaya mereka terlibat, misalnya bertanya atau minta mereka menirukan.

      - Karena anak usia ini sulit duduk diam, maka guru harus sering mengajaknya bergerak, mis. berdiri, berputar dll.. Pakailah alat peraga untuk menarik perhatian mereka.

    3. Bercerita dalam Kelas Pratama (7-9 tahun)
    4. Konsentrasi anak usia ini sudah lebih panjang (10-15 menit), tapi daya imaginasi mereka sangat tinggi dan keinginan tahu mereka sangat besar sehingga mereka sering hidup dalam dunianya sendiri, kecuali bila guru bisa menarik perhatiannya dengan tepat.

      - Berikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan cerita, misalnya memberikan pertanyaan sesudah usai cerita.

      - Hubungkan cerita dengan hal-hal yang menarik perhatian mereka atau pengalaman-pengalaman mereka.

      - Jangan mudah terganggu dengan pertanyaan yang muncul tiba-tiba di tengah-tengah guru bercerita. Layanilah pada batas- batas tertentu untuk memuaskan keinginan tahu mereka.

      - Selipkan humor atau teka-teki dalam cerita Anda agar suasana tidak membosankan mereka.

      - Lakukan interaksi sesudah selesai bercerita misalnya dengan menunjukkan gambar-gambar, buku dll.

    5. Bercerita dalam Kelas Madya (10-12 tahun)
    6. Jiwa petualangan bertumbuh pesar pada usia ini. Memberikan tantangan-tantangan kecil selalu akan disambut dengan baik.

      - Rangsang pikiran mereka dengan pokok-pokok diskusi dari cerita yang disampaikan.

      - Bercerita sambil melakukan penyelidikan Alkitab akan sangat menarik bagi kelas Madya.

      - Memberi pertanyaan lebih banyak dan tunjukkan semangat. Beri perhatian ekstra kepada mereka yang bandel dan suka mengganggu pada saat Anda bercerita.

      - Anak kelas Madya sangat suka dianggap dewasa. Terbukalah dengan mereka dan ceritakan sedikit kehidupan pribadi yang patut diteladani mereka.

      - Berceritalah sebagaimana layaknya seorang detektif, karena mereka suka menebak-nebak.

      - Anak Madya biasanya menjadi pemuja pahlawan. Mereka pasti tertarik dengan cerita kepahlawanan dalam Alkitab, seperti Daud, Ester, Debora, Daniel, dsb.

      E. ACARA DOA

      Berdoa sebaiknya menjadi acara puncak sesudah acara cerita (Firman Tuhan), karena di dalam doa ini anak dapat langsung merelasikan apa yang sudah diajarkan dengan Tuhan dan meresponinya. Ajarkan kepada mereka bahwa berdoa bukanlah sekedar minta-minta, tapi berkomunikasi dengan Allah secara pribadi, sebagaimana berbicara kepada sahabat.

      Pada saat berdoa, guru akan menuntun anak-anak mengarahkan hati kepada Tuhan dan memberi respon atas Firman Tuhan yang telah didengar. Untuk anak-anak kecil, guru dapat menuntun mereka dengan memimpin doa dan anak-anak menirukannya. Untuk anak-anak yang lebih besar guru dapat menunjuk salah seorang anak untuk memimpin doa dengan diberikan beberapa pokok doa sebelumnya.

      Pada acara doa ini, selain untuk meresponi Firman Tuhan, guru/anak juga bisa menambah pokok doa lain, misalnya:

      1. berdoa untuk anak SM yang sakit, yang tidak datang atau yang mengalami masalah/kesulitan hidup
      2. berdoa untuk SM, gereja dan masyarakat sekitar
      3. berdoa untuk kebaktian SM minggu depan

      Karena doa adalah waktu istimewa bertemu dengan Tuhan maka tanamkan beberapa prinsip-prinsip penting dalam acara doa bersama:

      1. Waktu berdoa adalah waktu khusuk, jadi tidak ada anak atau guru yang boleh berjalan-jalan, berbicara atau melihat-lihat ke sana ke mari.
      2. Tanamkan keberanian kepada anak untuk ambil bagian dalam acara doa ini, misalnya dengan mengajukan pokok doa, baik secara tertulis atau verbal.
      3. Ajarkan kepada anak-anak tentang kuasa doa, bahwa Tuhan mendengar doa dan menjawab doa-doa kita.
      4. Berikan teladan kepada anak-anak, bahwa guru SM selalu berdoa bagi anak-anak SM.

      F. PENUTUP

      Acara Kebaktian SM bisa ditutup dengan guru berdiri di depan pintu keluar untuk memberi salam kepada anak-anak yang pulang. Bagi anak yang lebih besar, guru bisa melibatkan mereka untuk berpartisipasi membersihkan ruangan dan alat-alat yang dipakai dalam kebaktian. Lalu tutuplah dengan doa bersama, khususnya mereka yang bertugas dalam kebaktian, untuk mengucap syukur atas pimpinan Tuhan.


      Akhir Pelajaran (GSM-P05)

      DOA

      "Tuhan, terima kasih untuk kesempatan istimewa yang Engkau berikan kepadaku agar bisa dipakai untuk mengajarkan kebenaran kepada anak- anak. Ini merupakan suatu tugas istimewa, ajar aku untuk selalu mempersiapkan setiap pelayanan dengan kesungguhan hati. Amin."

      [Catatan: Tugas Pertanyaan ada di lembar terpisah.]

Taxonomy upgrade extras: