NATAL BULAN DI BULAN DESEMBER?

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Dewasa ini ada orang-orang Kristen yang menolak merayakan Natal di bulan Desember karena menurutnya tidak mungkin Yesus lahir pada saat musim dingin. Lebih dari itu mereka mengaitkan dengan perayaan pemujaan dewa matahari pada masa kekaisaran Romawi, sehingga dikatakan bahwa merayakan Natal di bulan Desember sama dengan pemujaan terhadap dewa Matahari - penyembahan berhala! Sesat! Menjelang bulan Desember mereka biasanya aktif menyebarkan pendapat ini secara masif melalui email, WA, FB, twitter dan berbagai media sosial - supaya orang Kristen tidak merayakan Natal di bulan Desember.

Di akhir bulan November, saya berkesempatan untuk melakukan perjanalan ke Holy Land dan salah satu tempat yang dikunjungi adalah Gereja Padang Gembala di Bet Sahur, Betlehemen. Di tempat ini, malaikat Tuhan menyampaikan kabar sukacita kelahiran Juru Selamat kepada para gembala. Sekalipun sudah mau masuk musim dingin, cuaca di padang gembala Betlehem tetap cerah dan temperatur sejuk sekitar 17 derajat celcius.

Ada penjelasan dari pemandu wisata lokal (Israel) yang benar-benar membuka wawasan dalam menghadapi simpang-siur pendapat mengenai kelahiran Kristus di bulan Desember.

Pemandu wisata kita adalah orang Arab Israel yang beragama Kristen, dan dia belajar di universitas untuk menjadi pemandu wisata rohani berbahasa Indonesia, sehingga yang dipelajari bukan hanya bidang arkeologis, sejarah, buadaya, bahasa, tetapi juga ayat-ayat Alkitab! Dia bisa menyebutkan setiap ayat Alkitab dengan tepat yang berkaitan dengan situs-situs arkeologis di Israel, beserta dengan semua latar belakang sejarah dan budayanya. Ini yang membedakan dengan orang-orang Kristen di Indonesia yang aktif menolak kelahiran Tuhan Yesus di bulan Desember dengan hanya membaca berbagai tulisan dari rumahnya di Indonesia, tetapi tidak di tempatnya langsung di Betlehem.

Ketika sampai di Gereja Padang Gembala, dia melemparkan satu pertanyaan yang menarik, “Kapan Tuhan Yesus lahir?”

Dia selalu menyebut Yesus dengan kata TUHAN YESUS, suatu penghormatan yang sangat tinggi dibandingkan dengan orang Kristen di Indonesia yang umumnya hanya menyebut YESUS … tanpa disebut sebagai TUHAN … Di Indonesia, tidak ada orang yang menyebut nama orang tua yang dihormati dengan memanggil namanya saja, tetapi terhadap TUHAN dan Juru Selamat mereka dengan ringan dan santai hanya memanggil : “Yesus!”.

Terhadap pertanyaan pemandu wisata itu, dengan rasa percaya tinggi ada yang menjawab, sekitar bulan Oktober - karena Desember musim dingin. Tidak mungkin menggembalakan kambing domba di padang pada saat musim dingin.

Si pemandu wisata kita kemudian menyebutkan satu ayat dari Lukas 1: 26,27 bahwa pada BULAN KEENAM Tuhan menyuruh malaikat Gabriel pergi ke Nazaret menemui perawan Maria untuk menyampaikan kabar sukacita bahwa dia akan mengandung oleh Roh Kudus.

(Lukas 1: 26,27) – “Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.”

Setelah itu dia bertanya, peristiwa di bulan keenam itu bulan apa? Langsung saja ada yang menjawab, “Bulan Juni!”

Ternyata bulan keenam menurut Alkitab adalah menurut kalender orang Israel yang dimulai dari bulan September, bukan bulan Januari – sehingga bulan KEENAM di dalam Injil Lukas 1:26 adalah bulan MARET!

Pada bulan Maret, perawan Maria menerima kabar sukacita dari malaikat Gabriel bahwa dia mengandung oleh Roh Kudus. Sehingga gereja Kristen Ortodox, gereja Kristen mula-mula merayakan HARI RAYA KABAR SUKACITA (Feast of the Annunciation) pada tanggal 25 Maret. Bahkan di negara Libanon, tanggal 25 Maret ditetapkan sebagai hari libur nasional untuk merayakan Hari Raya Kabar Sukacita.

Setelah perawan Maria menerima kabar sukacita pada bulan Maret, maka Sembilan bulan kemudian Tuhan Yesus dilahirkan, dan itu di bulan DESEMBER! Di bulan yang diributkan oleh orang-orang Kristen di Indonesia sebagai bulan musim dingin.

Saya jadi malu karena sudah berulang kali membaca ayat Alkitab itu, tapi tidak memahami artinya bahwa Tuhan Yesus dilahirkan sembilan bulan setelah ‘bulan keenam’ (bulan Maret). Tapi untuk menutupi rasa malu, saya tetap mengajukan pertanyaan, “Bagaimana dengan ayat bahwa malaikat manampakkan diri kepada para gembala yang menjaga kawanan ternak di padang waktu malam? Bulan Desember khan musim dingin, tidak mungkin menggembalakan ternak di padang.”

Lukas 2
8. Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam.
9. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.
10. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
11. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.
12. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."

Pemandu wisata kemudian menjelaskan dengan mendetail apa yang tidak kita ketahui sebagai orang Indonesia, dan bukan penduduk asli orang Israel. Dia menjelaskan bahwa pada waktu itu, dua ribu tahun yang lalu belum ada teknologi pertanian dan peternakan seperti jaman modern sekarang ini.

Pada masa itu ada yang dinamakan musim kawin domba-domba dan musim beranak, yang terjadi hanya setahun sekali. Adapun di jaman modern sekarang ini dengan teknologi peternakan modern, domba-domba bisa direkayasa untuk beranak dua kali setahun.

Di masa itu musim beranak domba-domba adalah bulan November! Ketika domba baru dilahirkan, maka para gembala tetap harus memelihara dan merawat karena merupakan masa-masa kristis di awal kehidupan ternak peliharaan mereka.

Pada masa itu, domba-domba tidak boleh dimasukkan ke dalam kota dan tetap dirawat di padang gembala. Dan Betlehem adalah padang penggembalaan untuk kota Yerusalem. Lebih dari itu ternyata mereka bukan sekedar gembala domba biasa, tetapi para gembala orang-orang Lewi yang bertugas menyediakan domba-domba untuk korban di Bait Allah. Domba-domba korban Bait Allah dijaga oleh gembala-gembala khusus yang diikat oleh peraturan rabi-rabi Yahudi.

Pada masa itu, Bait Allah masih berdiri dan setiap hari harus dipersembahkan domba untuk korban bakaran pagi dan petang. Jadi para gembala harus merawat dan memberi makan domba-domba itu di semua musim termasuk di musim dingin sekalipun. Apalagi ketika bayi domba baru lahir, para gembala akan memberikan perhatian khusus.

Bilangan 28
1. TUHAN berfirman kepada Musa:
2. "Perintahkanlah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Dengan setia dan pada waktu yang ditetapkan haruslah kamu mempersembahkan persembahan-persembahan kepada-Ku sebagai santapan-Ku, berupa korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi-Ku.
3. Katakanlah kepada mereka: Inilah korban api-apian yang harus kamu persembahkan kepada TUHAN: dua ekor domba berumur setahun yang tidak bercela setiap hari sebagai korban bakaran yang tetap;
4. domba yang satu haruslah kauolah pada waktu pagi, domba yang lain haruslah kauolah pada waktu senja.

Adapun musim dingin di Betlehem berbeda dengan musim dingin di Eropa yang penuh salju tebal sehingga tidak mungkin merawat dan menjaga domba-domba di padang. Ketika saya tiba di Gereja Padang Gembala bulan November minggu-minggu akhir, cuacanya masih ‘sejuk’ dengan temperatur 17 derajat. Di bulan Desember temperatur sekitar 11 derajat di siang hari dan 1 derajat di malam hari. Pemandu wisata menjelaskan bahwa hujan di Betlehem tidak seperti musim hujan di Indonesia. Di sini hujan di bulan Desember hanya hari-hari tertentu, dan kontur Betlehem yang berbentuk ngarai perbukitan tetap menjaga para gembala bisa merawat domba mereka di sana sepanjang tahun! Itu karena Tuhan sendiri yang membuat padang gembalaan domba-domba yang khusus bagi persembahan Bait Allah di sepanjang tahun!

Ada lagi tanda khusus yang saya baru tahu, bahwa Alkitab sudah menyebutkan secara detail mengenai bayi Tuhan Yesus. Malaikat berkata kepada para gembala bahwa TANDA bagi mereka mengenai KRISTUS TUHAN adalah seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan (Lukas 2:12). Bagi kita orang Indonesia itu hal yang biasa, bayi dibungkus kain bedong (lampin), dan karena tidak ada tempat maka diletakkan di palungan.

Domba-domba untuk korban Bait Allah adalah domba-domba yang dipersiapkan secara khusus sejak lahir, dipilih yang sempurna dan tidak bercela (Bilangan 28:3). Domba yang baru dilahirkan akan dipilih dengan teliti, kemudian dibungkus dengan kain lampin dan diletakkan di palungan terpisah dari anak-anak domba yang lain. Anak domba itu adalah anak domba khusus untuk korban persembahan di Bait Allah.

Bilangan 28:3. Katakanlah kepada mereka: Inilah korban api-apian yang harus kamu persembahkan kepada TUHAN: dua ekor domba berumur setahun yang tidak bercela setiap hari sebagai korban bakaran yang tetap.

Ketika malaikat menyatakan tanda khusus itu, para gembala Bait Allah itu langsung tahu bahwa mereka akan melihat bayi Tuhan Yesus yang terbungkus kain lampin di tempat domba korban persembahan Bait Allah diletakkan. Tuhan Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.

(Yohanes 1:29) "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”

Luar biasa sekali ketepatan setiap Firman Tuhan yang mempersiapkan dan menggenapi setiap tanda-tanda perjalanan karya penebusan Tuhan Yesus. Bahkan Tuhan Yesus dilahirkan di Betlehem yang memiliki arti RUMAH ROTI (Beit = Rumah, Lechem = Roti). Tuhan Yesus adalah ROTI KEHIDUPAN yang dipecah-pecahkan bagi penebusan dosa umat manusia.

Setiap peristiwa kehidupan Tuhan Yesus ternyata dipersiapkan dengan detail dan teliti oleh Allah Bapa di surga dan semuanya memiliki arti yang luar biasa ajaib.

---

Di bulan Desember, saya pernah beribadah di satu gereja di Indonesia yang tidak merayakan Natal. Ketika saya tanyakan, jemaat di situ menyatakan bahwa mereka dilarang merayakan Natal karena itu adalah pemujaan berhala dewa Matahari bangsa Romawi. Apakah benar, bahwa orang Kristen dilarang merayakan Natal, merayakan kelahiran Sang Juru Selamat ke dunia? Bagaimana dengan Firman Tuhan di Alkitab?

Pada saat bayi Juru Selamat dilahirkan di Betlehem, di kandang domba, di tengah malam yang sunyi sepi, ternyata di surga terjadi sukacita yang besar, sejumlah besar bala tentara sorga merayakannya dan memuji Allah : "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya." (Lukas 2:13,14). Kelahiran bayi Tuhan Yesus dirayakan dengan penuh sukacita dan gegap gempita di surga -- tetapi tidak di dunia.

Ternyata sukacita dan perayaan di surga kadang berlawanan dengan apa yang dilakukan oleh manusia di dunia.

Ketika menghadiri berbagai perayaan Natal di gereja-gereja baik di Indonesia maupun di luar negeri, Tuhan selalu memperlihatkan hal yang luar biasa yang membuat Roh saya penuh dengan sukacita surgawi sama seperti sorak sorai pujian balatentara surga ketika bayi Juru Selamat dilahirkan di Betlehem dua ribu tahun yang lalu.

Di tengah perayaan ibadah Natal diperlihatkan Tuhan Yesus selalu hadir dengan bala tentara malaikat berkeliling yang sangat besar jumlahnya. Tuhan Yesus duduk di kursi TahtaNya yang agung dengan segala kemuliaanNya, menikmati ibadah dan setiap perayaan yang dilakukan. Bahkan Tuhan Yesus begitu bersukacita menikmati puji-pujian dan tarian anak-anak Sekolah Minggu, dan mengikuti gerakan-gerekan mereka yang lucu. Tuhan Yesus sendiri berkenan hadir dan menikmati dalam setiap Ibadah Perayaan Natal!

Bahkan atas perkenanan Allah Bapa, sekarang ini hanya ada satu peristiwa kelahiran yang dirayakan oleh banyak negara di seluruh dunia, yaitu peristiwa kelahiran bayi Natal. Ada puluhan negara di dunia memperingati Natal sebagai hari libur nasional, yaitu di negara-negara : Afrika Selatan, Albania, Amerika Serikat, Argentina, Australia, Austria, Bahama, Banglades, Barbados, Belanda, Belgia, Belize, Bermuda, Bosnia dan Herzegovina, Brazil, Bulgaria, Chile, Italia, Jamaika, Jerman, Czechnya, Denmark, Estonia, Fiji, Finlandia, Gerogia, Gibraltar, Guatemala, Haiti, Honduras, Hongkong, Hungaria, Indonesia, Inggris, Kanada, kenya, Kepulauan British Virgin, Kepulauan Solomon, Kolombia, Korea Selatan, Kosta Rika, Kroasia, Kuba, Kurakao, Peru, Philipina, Polandia, Portugal, Puerto RIco, Republik Dominika, Republik Makedonia, Rumania, Rusia, Serbia, Singapura, Siprus, Slovakia, Slovenia, Spanyol, Sri Lanka, Suriah, Swedia, Swiss, Taiwan, Tanzania, Timor Leste, Trinidad dan Tobago, Turkmenistan, Uganda, Ukraina, Uruguai, Yunani, Zambia, Zimbabwe.

Jika surga bergembira dan Tuhan Yesus sendiri berkenan atas sukacita Natal bagi seluruh umatNya, sebagai anak-anak Tuhan kita pun sudah selayaknya turut bersukacita dan memuji Tuhan bersama dengan orang-orang kudus di bumi dan surga merayakan kelahiran sang Juru Selamat umat manusia -- "GLORIA INEXCELSIS DEO!

Tetap semangat di dalam Firman Tuhan dan Langkah Iman.

GBU
(Indriatmo)

* * * * *

Komentar