SHA-Referensi 01b

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : SEPULUH HUKUM ALLAH UNTUK KEHIDUPAN MANUSIA (SHA)
Nama Pelajaran : Sepuluh Perintah yang Diberikan
Kode Pelajaran : SHA-R01b

Referensi SHA-01b diambil dari:

Judul Buku : Menggali Isi Alkitab 1
Judul Artikel : Kitab Keluaran
Pengarang : J. Sidlow Baxter
Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta, 2001
Halaman : 83 - 92

KITAB KELUARAN

Bacalah 3 kali Kel 19-24.

BAGIAN II: HUKUM TAURAT (19-24)

Bagian II ini menceritakan tentang pemberian hukum Taurat dan pengikatan Perjanjian Musa. Hukum Taurat terdiri dari 3 bagian: KESEPULUH PERINTAH, hukum Perdata, dan Syariat.

Ada beberapa hal yang perlu dicatat untuk dapat mengerti dengan baik maksud pemberian hukum Taurat, yang menandai hubungan baru antara Allah dan bangsa Israel, dan yang dinamakan Perjanjian Musa.

  1. Masuknya Hukum Taurat

    Pertama-tama harus dicatat, bahwa Perjanjian Musa itu sebenarnya bukanlah perjanjian baru, melainkan perkembangan dalam dan dari Perjanjian Abraham. Pokok perjanjian yang diberikan kepada Israel di Gunung Sinai dikemukakan sbb.

    "Kamu sendiri telah melihat apa yang Kukatakan kepada orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus." (19:4-6).

    1. Apakah yang dimaksud dengan 'Perjanjian-Ku'? Hal itu disebutkan di sini tanpa penjelasan, sebagai sesuatu yang bangsa Israel sudah dianggap mengetahuinya. Kita hanya dapat mengetahuinya, dengan cara kembali kepada ayat-ayat terdahulu di mana terdapat perkataan 'perjanjian'. Ini kita temui dalam Keluaran dua kali: 2:24 -- "Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub" dan 6:3- 4, -- "Aku telah mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk memberikan kepada mereka tanah Kanaan .... Aku sudah mendengar juga erang orang Israel yang telah diperbudak oleh orang Mesir, dan Aku ingat kepada perjanjian-Ku".

      Dalam kedua bagian firman ini kata 'ingat' menunjuk kepada Perjanjian Abraham, dan istimewa kepada Kejadian 15 dan 17, yang menerangkan hal METERAI (15:17-18) dan TANDA (17:10) akan Perjanjian Abraham itu. Antara Kejadian 17 dan Keluaran 2:24 tidak terdapat sebutan tentang sesuatu perjanjian lain. Sebab itu tak dapat keliru lagi bahwa apabila Allah berfirman kepada Israel di Gunung Sinai memelihara perjanjian-Ku' maka ini berkenaan dengan Perjanjian Abraham.

    2. Pemberian hukum Taurat di Sinai dan pembentukan Perjanjian Musa itu sering menimbulkan salah paham, karena orang tidak menangkap hubungannya dengan Perjanjian Abraham. Ada dua fakta asasi yang amat penting harus kita sadari sekitar Perjanjian Abraham.

      1. Abraham menerima perjanjian itu berdasarkan IMAN (Kej 15:6).
      2. Cara Abraham harus 'memelihara Perjanjian itu' ialah dengan tinggal tetap di dalam iman. "Hiduplah di hadapan-Ku dengan tak bercela. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau" (Kej 17:1-2).

      Tatkala Perjanjian Sinai diiringi perintah memelihara Perjanjian, maka pemberian hukum Taurat maksudnya bukan untuk mengubah dasar iman menjadi dasar amal. Karena mengenal hati manusia berdosa, maka Allah menyuruh Israel menjalankan hukum kesusilaan tidak dengan maksud untuk menjadikan TAURAT sebagai dasar yang baru bagi perdamaian dengan Allah. Bergandengan dengan Kesepuluh Perintah yang merupakan pengluasan Perjanjian Abraham, Allah memberikan syariat yang menunjuk kepada penebusan Kristus, dan memperlihatkan dasar penerimaan yang sebenarnya, yaitu perdamaian atas dasar iman. Kanaan harus diduduki, dan umat Israel masih akan diberkati, keduanya atas dasar perjanjian dan iman.

    3. Mengapa Perjanjian Musa membawa bangsa Israel kepada 'kutuk hukum Taurat' dan tidak membawa kepada berkat yang lebih penuh? Karena bangsa Israel sendiri salah caranya menyambut hukum Taurat. Seperti nyata dalam ceritanya dan terbukti dari sejarah selanjutnya, bangsa Israel sendiri dari mulanya telah menggeser tekanan dari dasar iman ke dasar amal, sehingga selanjutnya mereka berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri (Rom 10:3). Lihatlah respons mereka yang penuh andalan pada diri sendiri di Gunung Sinai itu. "Seluruh bangsa itu menjawab bersama-sama: Segala yang difirmankan Tuhan, akan kami lakukan" (Kel 19:8).

      Mereka berkata, "Segala firman Tuhan akan kami lakukan dan akan kami dengarkan" (24:7). Tak dapat disangkal bahwa nada dasar dari andalan mereka pada dan dalam diri sendiri ini adalah kesombongan.

      Dalam hikmat-Nya yang berdaulat, dan dengan mengetahui akhir dari mulanya, Allah dengan sabar menerima bangsa Israel dalam pendirian mereka yang demikian itu, dan memberi mereka Perjanjian Taurat disertai janji, bahwa mereka akan dianugerahi berkat yang melimpah-limpah jika taat kepada hukum-hukum yang diberikan-Nya. Tapi dalam kelanjutan sikap Israel yang salah itu, di Sinai dan sesudahnya, kita lihat bagaimana pengalaman mereka di bawah Perjanjian Musa berwujud dalam tragedi yang paling menyedihkan dalam sejarah Israel.

  2. Maksud Hukum Taurat Diberikan

    Jika pemberian Perjanjian Taurat tidak dimaksudkan untuk menyisihkan dasar iman Perjanjian Abraham, maka apakah sebabnya hukum-hukum Taurat diberikan? Taurat itu diberikan berdasarkan tiga alasan:

    1. Untuk menjadi ukuran kebenaran

      Apabila Allah menyatakan kehendak-Nya kepada Abraham dan Bapak- bapak leluhur Israel cukup dengan lisan, sekarang tidak mungkin lagi. Di mana Israel telah menjadi suatu bangsa dan diperintah secara teokrasi, maka sekarang dibutuhkan suatu ukuran kesusilaan tertulis dan permanen, yang mengungkapkan cita-cita Ilahi mengenai tabiat dan kelakuan (Ul 4:8; Mzm 19:7-9; 119:142).

    2. Untuk menunjukkan dan menandakan dosa

      Suatu benda akan nampak hitam jika diletakkan di depan latar belakang yang putih dan terang; demikian juga dosa akan segera nampak dan dapat dikenal, jika diterangi dengan hukum Taurat. Tapi hati manusia tak mungkin mengenali dosa, sebab hati manusia telah bercacat dosa. Sebab itu Paulus berkata, "Hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak" (Rom 5:20). "Karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa" (Rom 3:20). "Oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa" (Rom 7:7). "Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran" (Gal 3:19) artinya, supaya dosa nampak menjadi kesalahan kepada Allah.

    3. Untuk menyatakan kesucian Allah

      Suatu keharusan mutlak ialah bahwa hak-hak istimewa Israel yang unik, yang diberikan kepadanya selaku bangsa yang terpilih untuk memenuhi panggilannya yang mulia, harus dilindungi oleh pengakuan rendah hati dan khidmat akan kesucian Allah yang tak terganggu gugat, agar hak-hak itu jangan membuat bangsa menjadi sombong. Tidak percuma bahwa pernyataan Alkitab, ditinjau secara keseluruhan, pertama-tama mengutarakan KUAT KUASA Allah sebagaimana nampak khusus dalam penjadian alam semesta, air bah, Babel, kehancuran Sodom, dan keluaran Israel. Kemudian KESUCIAN Allah sebagaimana nampak khusus dalam Taurat Musa dan dalam sikap dan tindakan-tindakan Allah terhadap bangsa Israel; dan baru sesudah itu KASIH Allah khususnya nampak dalam Injil Kristus. Dari urutan ini nyatalah bahwa KASIH Allah harus dilindungi oleh perasaan khidmat, karena menyadari kuat kuasa- Nya yang maha hebat dan kesucian-Nya.

      Istilah khas yang dipakai Tuhan Yesus untuk Allah ialah Bapak. Tapi harus dicamkan baik-baik, bahwa baru setelah Kristus datang selaku mahkota penyataan Allah, maka sebutan 'Bapak' itu diberi tempat utama. Mengenai Allah selaku Bapak tanpa terlebih dahulu mengenali kuat kuasa dan kesucian-Nya, adalah sesuatu yang bisa membuat kebenaran tentang Kebapakan Ilahi menjadi kosong. Salah satu kesalahan aliran-aliran teologia modern tertentu, ialah memisahkan kasih Allah dari kuat kuasa dan kesucian-Nya.

      Lambang kesucian ialah api. Sebab itu hukum Taurat diberikan di tengah-tengah api di Gunung Sinai (19:18; 24:17), dan dengan larangan-larangan yang keras sekali (19:10-13, 21-25). Israel harus insaf bahwa Taurat berhubungan dengan Allah Yang Mahasuci (Ul 28:58; 33:2; Mzm 68:17; Ibr 12:18, 29). Selaku ungkapan kesucian Ilahi, maka Taurat yang diberikan kepada Musa tidak boleh dihampiri. Dalam Kesepuluh Perintah (istimewa kalau ditafsirkan secara rohani sebagaimana dilakukan Tuhan Yesus -- Mat 5:21-28) kita melihat kesucian Allah dalam keagungan-Nya yang tak terhingga. Dalam hukum Perdata, dengan penolakannya yang mutlak terhadap perbuatan-perbuatan jahat dan kompromi- kompromi, kesucian Allah nampak dalam kekerasan penolakan itu. Dan dalam syariat, yang mengatur ibadat Israel, kita melihat kesucian Allah dalam hal tak diperkenankan-Nya pelanggaran sedikit jua pun. Allah Sinai adalah Allah Yang Mahasuci; Allah Yang Mahasuci adalah 'Api yang menghanguskan' (Ul 4:24).

  3. Hukum Taurat dan Perjanjian Abraham

    Bagaimanakah hubungan Taurat Musa dengan Perjanjian Abraham? Ada 3 macam hubungannya sbb:

    1. Hukum Taurat adalah yang DITAMBAHKAN kepada Perjanjian Abraham. 'Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran -- sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu' (Gal 3:19). Jelaslah bahwa Taurat tidak diberikan untuk meniadakan Perjanjian Abraham yang dasarnya adalah iman. Taurat diberikan sebagai sisipan, bukan untuk menghapuskan. Untuk menjadi tambahan, bukan untuk mengurangkan.

    2. Hukum Taurat TIDAK MEMBATALKAN Perjanjian Abraham. 'Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit 430 tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya. Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, itu tidak berasal dari janji; tapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham' (Gal 3:17,18).

    3. Hukum Taurat, sebab salah terima oleh Israel, menjatuhkan hukuman mati atas kesalahan, dengan demikian mendatangkan kutuk yang MERINTANGI BERKAT Perjanjian Abraham. Tapi di dalam Kristus kutuk itu telah dilenyapkan, sehingga berkat Perjanjian Abraham dapat disampaikan oleh sebab iman. "Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat ... supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu" (Gal 3:13-14).

  4. Hukum Taurat dan Sejarah Israel

    Israel, sebagai suatu bangsa, telah melanggar HUKUM TAURAT dan PERJANJIAN MUSA (lih 1 Raj 19:10; 2 Raj 17:15; 18:12; Mzm 78:37; Yer 11:10; 31:32; Yeh 16:59; Hos 8:1; Ibr 8:9, dll).

    Tapi apakah yang dimaksud dengan melanggar hukum Taurat dan Perjanjian Musa itu? Apakah maksudnya bahwa anggota-anggota bangsa itu tidak mampu memenuhi tuntutan Kesepuluh Perintah ... dan hanya berdasarkan alasan itu ditawan dan dibuang dari negerinya? Tidak, tatkala Allah memberi Kesepuluh Perintah, Ia juga memberi syariat yang menunjuk kepada Kristus, dan yang memperlihatkan dasar penerimaan yang benar, yaitu oleh penebusan karena iman.

    Kita perlu mengerti cara penggunaan kata 'taurat' dalam PL. Pertama, hanya sekali atau dua kali kata itu digunakan untuk menyebut 'Kesepuluh Perintah' (Kel 24:12). Kedua, kata itu dipakai untuk menyebut masing-masing hukum Perdata dan 'syariat' -- 'Inilah hukum tentang korban bakaran' dsb (Im 6:9, 14, 25; 14:22; dll). Ketiga, kata itu kebanyakan dipakai untuk menyebut segenap peraturan Musa, baik Kesepuluh Perintah maupun hukum Perdata dan syariat. Ketiganya tercakup dalam perkataan Taurat atau hukum Taurat. Pemakaian dalam arti luas ini kita lihat dalam Ul 4:8, 44-45; Yos 8:34; 1 Raj 2:3; Dan 9:11-13; Mal 4:4.

    Sebab itu, jika dikatakan bahwa Israel melanggar hukum Taurat dan dengan demikian melanggar Perjanjian, maka yang dimaksudkan bukanlah bahwa orang-orang Israel secara perseorangan melanggar Kesepuluh Firman, melainkan bahwa bangsa itu selaku keseluruhan tidak memelihara syarat-syarat utama Perjanjian itu sebagaimana tercantum dalam hukum Perdata dan syariat itu. Di bawah ini diutarakan beberapa contoh:

    1. Israel diwajibkan mengadakan Tahun Sabat sekali 7 tahun, dan Tahun Yobel sekali 50 tahun, pada kesempatan mana segala hamba harus dimerdekakan dan segala hutang harus dianggap lunas. Lihat Im 25 yang menguraikan hal-hal menarik tentang itu dan berkat- berkat yang dijanjikan. Sabat-sabat itu adalah 'tanda' perjanjian antara Allah dan Israel (Kel 31:13). Pada Sabat seluruh negeri harus berhenti, dalam pengakuan penuh syukur akan kemurahan hati Allah, Pemilik yang sah dari tanah. Bila Israel setia mengadakan Sabat itu, maka berkat yang berlimpah-limpah membayangi mereka. Tapi, sejak mula pertama Israel tidak pernah mengadakannya. Tidak ada ayat-ayat Alkitab yang menceritakan bahwa bangsa itu pernah menepati segala Sabat (lih Yer 34:8-22). Karena ketidaksetiaan akan kewajiban itulah maka bangsa itu diperhamba oleh raja Babel 70 tahun lamanya. Tujuh puluh tahun yang dijalani bangsa itu dalam suatu sabat 'penghukuman' yang panjang (10x7)! Lihat hubungan mencolok antara Yer 25:11 dengan 2 Taw 36:21, kemudian baca Im 26:3235, karena inilah penjelasan atas kedua firman itu.

    2. Israel dilarang mengikat perjanjian dengan bangsa-bangsa sekitarnya, dengan saksama Israel harus menjaga supaya terpisah dari mereka -- dan ini beralasan sekali (lih Kel 23:24-33; 34:12-17; Ul 7:1-6, dll). Namun demikian, mulai dari permulaan sekali, Israel sudah melalaikan firman itu (lih Yos 9:14-16; Hak 2:2; 3:5-6, dsb).

    3. Israel diharuskan menjauhkan diri dari penyembahan berhala dan pemakaian patung-patung dalam ibadat (lih Kel 20:2-5; Ul 4:12- 20; 17:2-7). Namun demikian, sejak semula Israel telah melanggar larangan itu (lih 2:11-23; Yer 2:28; 11:10; dan cerita yang menyeramkan dalam 2 Raj 17:17-23).

    Contoh-contoh lainnya yang menyatakan dosa Israel misalnya: tidak memegang Paskah Tuhan (2 Taw 30:5), tidak memelihara hari- hari Sabat (Yeh 20:13); dan tidak mempersembahkan persepuluhan (Mal 3:8).

    Dengan cara-cara demikianlah Israel, sebagai suatu bangsa, melanggar hukum Taurat, dan memperkosa perjanjian, serta mengabaikan pemanggilan Allah.

  5. Hukum Taurat dan Injil

    Akhirnya, uraian tentang Taurat dalam hubungannya dengan Injil. Hukum Taurat dibatalkan dalam Kristus dalam 3 hal:

    1. Pelaksanaan Kesepuluh Perintah selaku syarat pembenaran diri sendiri secara definitif dianggap tidak berlaku lagi, karena "Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya" (Rom 10:4). Meskipun seluruh Kesepuluh Perintah kecuali perintah ke-4 (mengenai Sabat), dimasukkan ke dalam etika Perjanjian Baru, namun masing- masing perintah itu dimasukkan secara tersendiri, bukan sebagai bagian dari sistem hukum Musa. Hal menepati Kesepuluh Firman bukan lagi suatu KEHARUSAN untuk memperoleh keselamatan, melainkan AKIBAT yang timbul dengan sendirinya selaku sambutan atas penyelamatan itu.

    2. Pelaksanaan 'syariat' Taurat selaku jalan supaya diterima oleh Allah, sekarang dibuang dan diganti, karena segala syarat agama pada zaman Musa hanyalah lambang dan bayang-bayang saja, yang penggenapan dan pewujudannya ialah Kristus (Kol 2:17; Ibr 9:22- 10:18).

    3. Hukum Taurat sudah tidak berlaku lagi selaku suatu zaman atau metode yang dipakai Allah terhadap manusia dalam suatu periode tertentu, karena Injil telah membawa suatu zaman yang baru sama sekali bagi Israel dan sekalian bangsa seutuhnya. Zaman-zaman dalam waktu lalu adalah zaman-zaman menurut suatu PERINTAH LAHIRIAH; sedang zaman anugerah yang baru itu adalah suatu zaman menurut 'ROH', suatu PERINTAH BATINIAH - (lih 2 Kor 3-4). Yang pertama adalah peraturan obyektif; sedang yang ke-2 adalah perubahan subyektif. Yang pertama adalah suatu etika yang mengutuki, yang ke-2 adalah suatu dinamika yang memperbarui. "Apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh." (Rm 8:3,4).

Taxonomy upgrade extras: