DAD - Pelajaran 02

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kelas : Doktrin Allah Dasar
Nama Pelajaran : Keberadaan Allah
Kode Pelajaran : DAD-P02

Pelajaran 02 -- Keberadaan Allah

Daftar Isi

  1. Fakta-Fakta Alkitab tentang Keberadaan Allah
  2. Bentuk Penyangkalan terhadap Keberadaan Allah
    1. Penyangkalan Mutlak (Ateis)
      1. Ateis Teoritis (Dogmatis)
      2. Ateis Murni (Sejati)
      3. Ateis Praktis
    2. Pandangan-Pandangan Kontemporer
      1. Allah yang Imanen Saja
      2. Allah yang Transenden Saja
  3. Argumentasi Rasional tentang Keberadaan Allah
    1. Kosmologi (Sebab-Akibat)
    2. Teleologi
    3. Moral/Antropologis
    4. Historis/Etno
    5. Ontologi
  4. Alasan Menggunakan Pendekatan Rasional untuk Menemukan Kebenaran Allah
    1. Alasan Teologis
    2. Alasan Alkitabiah
    3. Alasan Penginjilan

Doa

Pelajaran 02 -- Keberadaan Allah

Alkitab menegaskan bahwa: "Tanpa iman, tidak mungkin menyenangkan Allah, sebab siapa pun yang datang kepada-Nya harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi pahala kepada mereka yang mencari Dia." (Ibr. 11:6) Orang Kristen menerima kebenaran tentang keberadaan Allah dengan iman. Namun, iman ini bukanlah iman yang buta, melainkan berdasarkan bukti, dan bukti ini ditemukan dalam Alkitab, sebagai firman Allah, dan juga melalui ciptaan-Nya.

  1. Fakta-Fakta Alkitab tentang Keberadaan Allah
  2. Penerimaan terhadap Doktrin Inspirasi Alkitab adalah dasar dari iman Kristen. Melalui firman-Nya, kita percaya bahwa Allah telah memberitahukan kepada kita tentang keberadaan Allah. Berikut ini adalah beberapa fakta Alkitab.

    - Alkitab tidak pernah tidak menjelaskan tentang bukti-bukti keberadaan Allah. Bahkan, Kej. 1:1 berkata, "Pada mulanya, Allah menciptakan langit dan bumi." Hal ini menunjukkan bahwa penulis kitab Kejadian tidak meragukan tentang keberadaan Allah. Demikian juga penulis-penulis kitab lain yang menerima fakta keberadaan Allah hampir secara alamiah.

    - Alkitab mengatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dengan kesadaran dalam dirinya tentang keberadaan Allah (meskipun hanya samar-samar). Namun, karena dosa kesombongannya, manusia menolak kesaksian ini (Rm. 1:18-32).

    - Alkitab juga mengatakan bahwa hanya orang bodoh yang mengatakan bahwa Allah tidak ada (Mzm. 14:1). Allah memberi tahu kita bahwa ada orang-orang yang secara aktif menyangkali campur tangan Allah dalam kehidupan manusia (Ayb. 22:12-14).

    - Alkitab memberitahukan bahwa Roh Allahlah yang mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya sehingga kita dapat mengakui bukan hanya keadaan Allah, tetapi kita juga dapat memanggil-Nya "... Abba, Bapa!" (Rm. 8:15).

    Melihat fakta- fakta di atas, sebagai orang Kristen, kita harus menyadari bahwa Alkitab tidak pernah menyodorkan tawaran untuk mempertimbangkan bahwa mungkin Allah ada, melainkan kepastian bahwa Allah ada. Bahkan, Allah terus bekerja hingga saat ini, menopang alam semesta dan aktif terlibat dalam kehidupan manusia.

    Sementara itu, Alkitab juga menegaskan bahwa Roh Kudus terus menuntun orang yang belum percaya untuk mengenal Allah dengan memberikan kelahiran kembali saat mereka mendengar pemberitaan Injil (Rm. 1:16). Hanya dengan demikian, orang berdosa dapat memperoleh pengetahuan yang sesungguhnya tentang Allah dan mengenal Dia secara pribadi.

  3. Bentuk Penyangkalan terhadap Keberadaan Allah
  4. Studi perbandingan agama menunjukkan fakta bahwa pengakuan tentang keberadaan "Yang Mahakuasa" atau Allah itu bersifat universal. Allah dianggap ada dalam setiap suku bangsa dan agama. Ide tentang Allah ini bahkan ditemukan dalam bangsa-bangsa dan suku-suku yang paling tidak beradab sekali pun di dunia ini, meski mereka menyebut dan menggambarkan ide Allah ini secara berbeda-beda. Namun, hal ini tidak berarti bahwa sama sekali tidak ada orang yang menyangkal tentang keberadaan Allah, dan tidak berarti juga bahwa orang-orang yang tinggal di negara-negara Kristen tidak ada yang menyangkal tentang keberadaan Allah. Justru fakta menunjukkan bahwa dari masa ke masa, telah banyak orang yang secara terang-terangan menyangkal keberadaan Allah.

    Dewasa ini, terdapat beberapa kelompok orang yang menyangkal keberadaan Allah dengan sifat dan bobot penyangkalan yang berbeda-beda. Berikut beberapa macam penyangkalan tersebut.

    1. Penyangkalan Mutlak (Ateis)
    2. Kelompok pertama adalah orang yang menyangkal keberadaan Allah secara mutlak (ateis) yang digolongkan menjadi 3 macam:

      1. Ateis Teoritis/Dogmatis
      2. Sesuai dengan namanya, mereka adalah orang yang terang-terangan tidak mengakui adanya Allah dan mendasarkan penyangkalannya pada tahap pemikiran. Mereka memakai argumentasi rasional untuk menjelaskannya. Jika gagal membuktikan Allah dengan bukti-bukti empiris/rasional, mereka berkesimpulan bahwa Allah tidak ada. Contohnya: kelompok Komunisme. Kelompok ini disebutkan dalam 2Kor. 4:4, bahwa ilah dunia ini telah membutakan pikiran mereka sehingga mereka tidak dapat melihat terang kemuliaan Injil Kristus, yang adalah gambaran Allah.

      3. Ateis Murni/Sejati
      4. Mereka adalah kelompok yang tidak memiliki kepercayaan akan keberadaan Allah sebagaimana agama-agama pada umumnya. Namun, mereka percaya akan adanya "suatu kuasa/energi" di luar diri mereka yang disebut sebagai "energi natural yang bekerja aktif dalam alam", "kesadaran sosial", dll.. Ini banyak ditemukan dalam kepercayaan-kepercayaan kuno atau aliran kebatinan.

      5. Ateis Praktis
      6. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya tidak peduli apakah Allah ada atau tidak. Dalam kesehariannya, mereka tidak mengindahkan adanya Tuhan sehingga mereka menjalani hidup dengan beranggapan seolah-olah Tuhan tidak ada. Secara tidak sadar, banyak orang Kristen mempraktikkan hidup ateis praktis karena mereka hidup untuk diri sendiri dan tidak mengindahkan/memuliakan Allah ataupun prinsip-prinsip firman Tuhan (Tit. 1:16). Dikatakan juga dalam Mzm. 10:4, "Orang fasik, dengan membanggakan batang hidungnya, tidak mencari Allah. Seluruh pikirannya adalah 'Tidak ada Allah ....'"

    3. Pandangan-Pandangan Kontemporer
    4. Dalam perkembangan ilmu teologi, kita juga menemui beberapa pandangan yang salah dalam memberikan konsep dasar pemahaman mereka tentang Allah.

      1. Allah yang Imanen Saja
      2. Pandangan ini hanya memercayai keimanenan Allah, bahwa keberadaan Allah adalah dekat (tidak terjangkau). Dia adalah Allah yang peduli akan ciptaan-Nya, Ia tidak masa bodoh. Dia merasuk ke segala sesuatu, juga ke dalam kehidupan ciptaan-Nya. Kehadiran dan kuasa Allah melebur dalam ciptaan-Nya. Pandangan ini jelas tidak sesuai dengan kekristenan karena Allah tidak sama dan tidak bisa melebur dalam ciptaan-Nya. Alkitab memang mengajarkan bahwa Allah ada di mana-mana, tetapi tidak berarti Allah ada dalam ciptaan-Nya. Allah dan ciptaan tetap terpisah dan Ia tidak tergantung pada ciptaan.

      3. Allah yang Transenden Saja
      4. Pandangan ini memiliki pendapat bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, tetapi Ia terlepas dari ciptaan-Nya. Ia adalah Pribadi yang berdaulat dan bebas sepenuhnya, dan dapat bertindak semaunya. Dia tidak dikungkung oleh alam karena Dia tanpa batas. Namun, setelah menciptakan alam semesta secara sempurna, Ia meninggalkan ciptaan-Nya untuk berjalan sendiri secara bebas. Pandangan ini tentu tidak sesuai dengan pandangan Alkitab karena tidak percaya bahwa Allah dekat dengan manusia. Allah Alkitab bukanlah Allah yang jauh dan Ia selalu ingin terlibatan dalam kehidupan ciptaan-Nya.

      Pandangan alkitabiah adalah Allah tidak hanya imanen, tetapi juga transenden. Allah Alkitab tidak hanya beserta dengan manusia dan hidup dekat/akrab dengan manusia, tetapi Ia juga Allah yang senantiasa bertanggung jawab memelihara ciptaan-Nya hingga saat ini (Kej. 1:1; Mzm. 8:3-4; 19:1-4; Yes. 40:26; Kis. 14:17; Rm. 1:18-20).

  5. Argumentasi Rasional tentang Keberadaan Allah
  6. Di sepanjang zaman, argumen-argumen tentang keberadaan Allah terus berkembang dan memperoleh dasar pijakan dalam ilmu teologi. Mereka beranggapan bahwa keberadaan tentang Allah dapat dibuktikan secara rasional. Sebagian dari argumen ini sudah muncul sejak zaman Plato dan Aristoteles, dan sebagian lain ditambahkan para filsuf agama pada zaman modern, di antaranya:

    1. Kosmologi (Sebab-Akibat)
    2. Pandangan klasik ini dikemukakan oleh Thomas Aquinas, yang mengatakan bahwa setiap akibat selalu ada sebabnya. Misalnya, dunia ini ada pasti karena ada yang menyebabkannya ada (menciptakan). Sang penyebab ini, jika ditelusuri sampai ke penyebab pertama (Causa Prima), kita akan menemukan oknum tertinggi, yang tidak terbatas, dan yang berakal budi, yang menyebabkan keberadaan akan segala sesuatu, yaitu Allah (Ibr. 3:4).

    3. Teleologi
    4. Pandangan ini adalah perluasan dari argumen kosmologis yang sebenarnya adalah pandangan purba yang masuk ke dunia barat melalui Plato. Pandangan ini digambarkan dengan analogi jam yang ditemukan di atas tanah. Tidak mungkin jam itu terjadi secara kebetulan saja, pasti ada seorang ahli yang pintar, yang membuatnya. Begitu juga dengan alam semesta, pasti ada Penciptanya, yaitu seorang Perencana Agung yang sangat pintar (Mzm. 8:4; 19:2; 94:9).

    5. Moral/Antropologis
    6. Imanuel Kant mengatakan bahwa manusia memiliki kesadaran akan adanya kebaikan dan moralitas yang "tertinggi". Manusia pasti diciptakan oleh oknum yang lebih tinggi, lebih bermoral, dan lebih pintar dari dirinya sendiri, yaitu Allah. Allah menjadi "landasan" kehidupan moral sebagai nilai transenden yang hanya dimiliki oleh Allah.

    7. Historis
    8. Manusia pada dasarnya memiliki "perasaan batiniah" dalam hatinya bahwa Allah ada (manusia religius). Itu sebabnya, sejak zaman purbakala (secara universal), dalam setiap suku bangsa, selalu ada penyembahan-penyembahan yang dilakukan karena dalam dirinya manusia tahu bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi yang memiliki kuasa melebihi kuasa manusia, dan mengontrol alam semesta termasuk dirinya (Rm. 1:18-19).

    9. Ontologi
    10. Pandangan klasik ini diberikan oleh Anselmus. Dia menyatakan bahwa manusia mempunyai ide tentang adanya suatu keberadaan yang sempurna secara mutlak sehingga yang mutlak itu pasti harus ada. Dari alasan ini, membuktikan fakta bahwa jika kita mempunyai ide tentang Allah, Allah itu pasti ada.

  7. Alasan Menggunakan Pendekatan Rasional untuk Menemukan Kebenaran Allah
  8. Setelah melihat argumentasi yang dilakukan dengan pendekatan rasional untuk menemukan keberadaan Allah, ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan pendekatan ini.

    1. Alasan Teologis
    2. Meskipun sudah jatuh ke dalam dosa, manusia tetap merupakan makhluk yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah, yaitu dengan akal budi. Oleh sebab itu, Allah tidak sepenuhnya absen dari pikiran manusia sehingga penalaran manusia tentang dunia mungkin saja membuka jalan kepada Allah.

    3. Alasan Alkitabiah
    4. Paulus dan Tuhan Yesus sering kali berdebat di depan umum untuk memberikan pembelaan Injil terhadap kritik rasional. Petrus dan Paulus sering menyebut suara hati orang kafir sebagai tolok ukur sifat moral Kristen (Kis. 19:17; 1Tim. 3:7; 1Ptr. 3:16).

    5. Alasan Penginjilan
    6. Ada jurang yang sangat lebar antara orang Kristen dan orang yang belum percaya. Oleh karena itu, sering kali, dibutuhkan jembatan untuk membantu menghilangkan praduga yang salah bahwa untuk menjadi Kristen seseorang harus membunuh akal budinya. Oleh karena itu, pendekatan-pendekatan apologetika perlu dilakukan dalam rangka menjembatani kebutuhan pengenalan akan Injil.

Pendekatan-pendekatan rasional tidak serta-merta akan menghasilkan pembuktian yang dapat diterima. Allah ada atau tidak ada, bukan karena hasil pembuktian oleh nalar manusia yang terbatas. Sekalipun manusia tidak memercayai-Nya, Tuhan tetap ada. Sebagaimana yang Alkitab katakan bahwa Allah sudah ada sejak dari Kej. 1:1. Semua keberatan tentang ketidakberadaan Allah justru membuktikan bahwa Allah ada dan bahwa semua bergantung kepada-Nya (Mzm. 19; Yes. 40:26; Kis. 14:17; Rm. 1:19)

Akhir Pelajaran (DAD-P02)

Doa

"Kami mengucap syukur karena Engkau adalah Allah yang bersedia menyatakan Diri kepada manusia melalui penyataan dan eksistensi-Mu. Ajar kami untuk semakin memercayai-Mu bahwa Engkau adalah Allah yang hidup, yang tidak pernah jauh dari kami. Amin."

Taxonomy upgrade extras: