PDA - Referensi 05

Nama Kursus : Doktrin Alkitab
Nama Pelajaran : Sifat-Sifat Alkitab (2)
Kode Pelajaran : PDA - R05

Referensi PDA - R05 diambil dari:

Judul Buku : Dasar-dasar Iman Kristen (Foundations of the Christian Faith)
Judul artikel : Kesatuan dalam Keragaman
Penulis : James Montgomery Boice
Penerbit : Momentum, Surabaya, 2011
Halaman : 52 - 58

Alasan keenam untuk memandang Alkitab sebagai firman Allah yang dinyatakan adalah kesatuan yang luar biasa dari kitab itu. Ini sebuah argumentasi lama, tetapi bagaimanapun juga adalah argumentasi yang baik. Itu adalah argumentasi yang kekuatannya semakin bertambah ketika kita semakin mempelajari dokumen-dokumen itu. Alkitab tersusun dari enam puluh enam bagian, atau kitab, yang ditulis selama hampir seribu lima ratus tahun (dari sekitar 1450 SM sampai sekitar 90 M) oleh lebih dari empat puluh orang yang berbeda. Orang-orang ini tidak sama. Mereka datang dari berbagai tingkat masyarakat dan dari latar belakang yang berbeda. Beberapa adalah raja, yang lain adalah negarawan, imam, nabi, pemungut cukai, seorang dokter, seorang pembuat tenda, nelayan. Jika ditanya tentang subjek apa pun, mereka akan memiliki beragam pandangan yang berbeda seperti pandangan-pandangan orang-orang yang hidup hari ini. Namun bersama-sama mereka menghasilkan satu kitab yang memiliki kesatuan yang luar biasa dalam doktrin, sudut pandang-sudut pandang sejarah, etika, dan harapan-harapannya. Secara singkat, ini adalah sebuah kisah tunggal tentang penebusan ilahi yang dimulai di Israel, yang berpusat pada Yesus Kristus, dan berpuncak pada akhir sejarah. Natur dari kesatuan ini penting. Pertama-tama, seperti yang R. A. Torrey perhatikan.

Itu bukanlah kesatuan yang dangkal, tetapi kesatuan yang mendalam. Di permukaan, kita sering menemukan ketidaksesuaian dan ketidakcocokan yang jelas. Tetapi ketika kita mempelajarinya, ketidaksesuaian dan ketidakcocokan itu sirna, dan kesatuan mendalam yang mendasarinya akan tampak. Semakin dalam kita mempelajari, semakin lengkap kita menemukan kesatuan itu. Kesatuan ini juga merupakan kesatuan organik -- yaitu, bukan kesatuan dari suatu benda yang mati, seperti sebuah batu, tetapi dari suatu benda yang hidup, seperti sebuah tanaman. Dalam kitab-kitab pertama dari Alkitab, kita mendapati pemikiran yang berkecambah; ketika kita meneruskannya, kita mendapati tanaman itu, dan lebih lanjut lagi kita mendapati kuncup, dan kemudian bunga, lalu buah yang masak. Dalam Kitab Wahyu kita menemukan buah yang masak dari Kitab Kejadian [1].

Apa yang dapat menerangkan kesatuan ini? Hanya ada satu cara untuk menerangkannya: di balik usaha-usaha lebih dari empat puluh penulis manusia tersebut terdapat satu pikiran Allah yang sempurna, berkuasa, dan memberi tuntunan.

Ketepatan yang Tidak Biasa

Alasan ketujuh untuk percaya Alkitab sebagai firman Allah adalah ketepatannya yang tidak biasa. Memang, ketepatan ini tidak membuktikan bahwa Alkitab bernatur ilahi -- karena manusia terkadang juga sangat tepat -- tetapi itu adalah apa yang seharusnya kita harapkan jika Alkitab adalah hasil usaha Allah. Sebaliknya, jika ketepatan Alkitab meluas sampai kepada titik ineransi atau ketidakbersalahan (yang akan kita pertimbangkan dalam bab berikutnya), itu akan merupakan bukti langsung akan keilahiannya. Karena meskipun kesalahan adalah manusiawi, inerasi pastilah ilahi.

Pada beberapa poin, ketepatan Alkitab mungkin diuji secara eksternal, seperti dalam bagian-bagian sejarah dari Perjanjian Baru. Kita mungkin mengambil Injil Lukas dan Kitab Kisah Para Rasul sebagai suatu contoh. Lukas/Kisah Para Rasul adalah suatu usaha untuk "Membukukan dengan teratur" kehidupan Yesus dan perluasan yang cepat dari gereja Kristen mula-mula (Lukas 1:1-4; Kisah Para Rasul1:1-2). Itu merupakan suatu usaha yang luar biasa bahkan pada masa kita. Terlebih lagi pada masa kuno ketika tidak ada koran atau buku-buku referensi. Faktanya tidak terdapat banyak dokumen tertulis dari jenis apa pun. Sekalipun demikian Lukas mencatatkan pertumbuhan dari apa yang dimulai sebagai sebuah gerakan agama yang tidak signifikan di sebuah tempat terpencil dalam kekaisaran Romawi, suatu gerakan yang bergulir secara diam-diam dan tanpa dukungan resmi sehingga dalam waktu empat puluh tahun dari kematian dan kebangkitan Yesus Kristus telah ada jemaat-jemaat Kristen di kebanyakan kota-kota besar dalam kekaisaran itu. Apakah karya Lukas berhasil? Ya. karenanya berhasil dengan begitu luar biasa dan dengan ketepatan yang bisa dikatakan total.

Untuk satu hal, kedua kitab tersebut menunjukkan ketepatan yang menakjubkan dalam hal gelar-gelar resmi dan lingkungan-lingkungan pengaruh yang terkait. F. F. Bruce dari University of Manchester, Inggris, telah merekomendasikan hal ini dalam karya kecilnya yang diberi judul The New Testament Documents: Are They Reliable? Bruce menulis:

Salah satu dari bukti-bukti yang paling luar biasa dari ketepatannya [Lukas] adalah pengetahuannya yang pasti tentang gelar-gelar yang tepat dari semua orang yang terkemuka yang disebutkan dalam halaman-halamannya. Ini sama sekali bukan suatu usaha yang mudah dilakukan pada masanya, yang tidak memiliki kemudahan seperti masa kita dalam mencari keterangan dari buku-buku referensi yang baik. Ketepatan Lukas dalam menggunakan beragam gelar dalam kekaisaran Romawi telah dibandingkan dengan kefasihan dan ketepatan seorang mahasiswa Oxford dalam percakapan biasanya ketika merujuk kepada para Kepala Kolose dengan gelar-gelar mereka yang sebenarnya -- Provise dari Oriel, Master dari Balliol, Rector dari Exeter, President dari Magdalen, dan seterusnya. Seorang yang bukan berasal dari Oxford seperti penulis sendiri tidak pernah menguasai dengan tepat gelar-gelar Oxford yang begitu banyak ini [2].

Lukas jelas mengetahui dan terbiasa dengan gelar-gelar Romawi; ia tidak pernah salah dengannya.

Bruce menambahkan bahwa sebenarnya Lukas menghadapi suatu kesulitan tambahan dalam hal gelar-gelar karena gelar-gelar itu sering tidak tetap sama untuk waktu yang lama. Contohnya, pemerintahan di sebuah provinsi mungkin berpindah dari tangan perwakilan langsung kaisar kepada pemerintahan senatorial, dan kemudian diperintah oleh seorang gubernur ketimbang seorang duta kekaisaran (legatus pro praetore). Siprus, sebuah provinsi kekaisaran sampai 22 SM, menjadi sebuah provinsi senatorial pada tahun itu dan karena itu tidak lagi diperintah oleh seorang duta kekaisaran tetapi oleh seorang gubernur. Jadi ketika Paulus dan Barnabas tiba di Siprus sekitar tahun 47 M, yang menyambut mereka adalah gubernur Sergius Paulus (Kisah Para Rasul 13:7).

Demikian juga Akhaya adalah sebuah provinsi senatorial dari 27 SM sampai 15 M dan kembali menjadi provinsi setelah tahun 44 M. Karena itu Lukas menunjuk kepada Galio, pemimpin Romawi di Yunani, sebagai "Gubernur Akhaya" (Kisah Para Rasul 18:12), gelar wakil kekaisaran Romawi itu selama masa kunjungan Paulus ke Korintus, tetapi bukan selama dua puluh sembilan tahun sebelum 44 M [3].

Bahkan hanya dari salah satu penulis Alkitab, kesaksian bagi kebenaran seperti ini tidak terhitung banyaknya. Contohnya, di Kisah Para Rasul 19:38, panitera kota Efesus mencoba menenangkan warga kota yang rusuh dengan mengarahkan mereka kepada penguasa-penguasa Romawi. "Ada gubernur (-gubernur)," ia berkata, menggunakan bentuk jamak. Sekilas penulis-penulis tampak melakukan suatu kesalahan, karena hanya ada satu gubernur Romawi dalam satu wilayah pada satu waktu. Tetapi suatu penelaahan menunjukkan bahwa tidak lama sebelum terjadinya kerusuhan di Efesus, Junius Silanus, sang gubernur, telah dibunuh oleh utusan-utusan Agripina, ibu dari Nero yang waktu itu belum dewasa. Karena gubernur yang baru belum tiba di Efesus, ketidakjelasan panitera kota mungkin disengaja atau bahkan menunjuk kepada dua utusan, Helius dan Celer, yang dipandang sebagai orang-orang yang jelas akan meneruskan kekuasaan Silanus. Lukas menangkap atmosfer kota itu pada waktu terjadinya gangguan internal, sebagaimana di lain tempat ia menangkap atmosfer Antiokhia, Yerusalem, Roma dan kota-kota lainnya, masing-masing dengan ciri uniknya sendiri.

Arkheologi juga telah membenarkan keandalan yang luar biasa dari tulisan Lukas dan dokumen-dokumen Alkitab lainnya. Di Delfi telah ditemukan sebuah plakat yang mengidentifikasikan Galio sebagai gubernur di Korintus tepat pada waktu kunjungan Paulus ke kota itu. Kolam Betesda, yang berisi lima serambi, telah ditemukan hampir tujuh puluh kaki di bawah permukaan kota Yerusalem sekarang. Kolam ini disebutkan di Yohanes 5:2, tetapi telah hilang dari pandangan sejak dihancurkannya kota itu oleh tentara Titus pada tahun 70 sampai waktu baru-baru ini. Kursi Pengadilan, Gabata, yang disebutkan di Yohanes 19:13, juga telah ditemukan.

Dokumen-dokumen kuno -- dari Dura, Ras Shamra, Mesir, dan Laut Mati -- telah mendukung keandalan Alkitab. Baru-baru ini telah diterima laporan-laporan tentang penemuan-penemuan yang luar biasa di Tell Mardikh di barat laut Siria, situs Ebla kuno. Sejauh ini, seribu lima ratus loh batu yang berasal dari sekitar tahun 2300 SM (dua sampai lima ratus tahun sebelum Abraham) telah ditemukan. Di dalamnya tercantum ratusan nama seperti Abraham, Israel, Esau, Daud, Yahweh, dan Yerusalem, menunjukkan bahwa semua ini adalah nama-nama yang umum sebelum pemunculan mereka dalam kisah-kisah Alkitab. Ketika dipelajari dengan cermat, loh-loh batu ini pasti akan banyak menjelaskan budaya-budaya dalam masa setelah para patriarkh Perjanjian Lama, Musa, Daud, dan yang lainnya. Kehadiran mereka sudah cenderung mensahkan kisah-kisah Perjanjian Lama.

Bukti internal dari ketepatan Alkitab juga tersedia, khususnya di mana terdapat kisah-kisah paralel dari peristiwa-peristiwa yang sama. Kisah dari Kitab Injil tentang penampakan-penampakan Tuhan Yesus Kristus yang bangkit adalah salah satu contohnya. Kisah-kisah ini jelas merupakan empat kisah yang terpisah dan mandiri; kalau tidak demikian akan ada ketidaksesuaian-ketidaksesuaian yang tampak. Penulis-penulis yang bekerja sama pasti akan meniadakan kesulitan apa pun. Namun Injil-Injil sesungguhnya tidak saling berkontradiksi. Mereka saling mendukung. Terlebih lagi, suatu detail insidentil dalam satu Injil terkadang menjelaskan apa yang tampak sebagai suatu kontradiksi di antara dua Injil yang lain.

Matius menyatakan bahwa Maria Magdalena dan Maria "yang lain" telah pergi ke kubur Kristus pada pagi Paskah pertama. Markus menyebut Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus (jadi mengidentifikasi siapa Maria lain-lain dalam Matius), dan Salome. Lukas menyebut dua Maria, Yohana, dan perempuan lain bersama mereka. Yohanes hanya menyebut Maria Magdalena. Sekilas laporan-laporan ini tampak berbeda, tetapi ketika diperhatikan dengan lebih saksama, laporan-laporan ini menyatakan suatu keharmonisan yang luar biasa. Dengan jelas sekelompok perempuan, termasuk semua yang disebutkan itu, berangkat ke kuburan. Menemukan batu itu telah digeser, para perempuan yang lebih tua menyuruh Maria Magdalena pulang untuk menceritakan kepada rasul-rasul akan gangguan itu dan meminta nasihat mereka. Sementara ia pergi, para perempuan yang masih di kuburan melihat malaikat-malaikat itu (seperti yang Matius, Markus, dan Lukas laporkan) tetapi tidak melihat Tuhan yang bangkit, setidaknya tidak sampai kemudian. Sebaliknya, Maria, yang kembali kemudian dan sendirian, melihat Dia (seperti yang Yohanes ungkapkan). Dengan cara yang sama, penyebutan Yohanes akan "Murid yang lain" yang menemani Petrus ke kubur menjelaskan Lukas 24:24; ayat itu mengatakan bahwa "Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu," setelah para perempuan-perempuan itu meninggalkan tempat tersebut, meskipun Lukas hanya menyebut Petrus (individu tunggal) dalam kisahnya sendiri.

Ini memang hal-hal kecil. Tetapi karena hal-hal ini kecil, hal-hal ini memberikan bobot khusus bagi kesaksian akan ketepatan Injil yang total.

Nubuat

Ulasan kedelapan untuk percaya Alkitab sebagai Firman Allah adalah nubuat yang digenapi. Di sini sekali lagi kita menjumpai sebuah subjek yang sangat luas, subjek yang dengan jelas di luar cakupan bab ini. Namun, kita bisa menunjukkan secara ringkas pengaruh umum dari argumentasi ini.

Pertama, terdapat nubuat-nubuat yang eksplisit. Nubuat-nubuat ini adalah mengenai masa depan orang Yahudi (termasuk hal-hal yang telah terjadi dan beberapa yang belum terjadi) dan masa depan dari bangsa-bangsa bukan-Yahudi. Di atas segalanya, banyak nubuat mendeskripsikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus, pertama untuk mati dan kemudian untuk kembali dalam kuasa dan kemuliaan yang besar. Torrey mengutip lima perikop -- Yesaya 53 (seluruh pasal); Mikha 5:2; Daniel 9:25-27; Yeremia 23:5-6; dan Mazmur 16:8-11 -- dan berkomentar:

Dalam perikop-perikop yang dikutip ini, kita mendapatkan prediksi-prediksi tentang seorang Raja Israel yang akan datang. Kita diberi tahu waktu yang tepat dari penampakan-Nya kepada umat-Nya, tempat yang tepat dari kelahiran-Nya, dalam keluarga mana Ia dilahirkan, kondisi keluarga tersebut pada waktu kelahiran-Nya (suatu kondisi yang sepenuhnya berbeda dengan kondisi pada saat nubuat itu dituliskan, dan berlawanan dengan semua kemungkinan dalam hal itu), cara Dia diterima oleh bangsa-Nya (suatu penerimaan yang seluruhnya berbeda dengan apa yang sewajarnya diharapkan), fakta, metode dan detail-detail berkenaan dengan kematian-Nya, dengan keadaan-keadaan khusus menyangkut penguburan-Nya, kebangkitan-Nya setelah penguburan-Nya, dan kemenangan-Nya setelah kebangkitan-Nya. Prediksi-prediksi ini digenapi dengan ketepatan sampai hal sekecil-kecilnya dalam Yesus dari Nazaret [4].

Penulis lain, E. Schuyler English, mantan ketua komisi editorial The New Scofield Reference Bible (1967) dan editor kepala dari The Pilgrim Bible (1948), mengamati bahwa

Lebih dari dua puluh prediksi Perjanjian Lama yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sekitar kematian Kristus, kata-kata yang ditulis berabad-abad sebelum kedatangan-Nya yang pertama, digenapi dengan sangat tepat dalam periode dua puluh empat jam pada waktu penyaliban-Nya [saja]. Contohnya, di Matius 27:35 ada tertulis, "Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi." Ini adalah penggenapan dari Mazmur 22:19, di mana dinyatakan, "Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku" [5].

Banyak dari nubuat-nubuat ini telah diragukan, dan telah dilakukan usaha-usaha untuk memberi penanggalan ulang kitab-kitab Perjanjian Lama, membawa penulisan Kitab-kitab tersebut lebih dekat kepada masa Kristus. Tetapi orang dapat membawa beberapa nubuat kepada penanggalan yang paling akhir yang bisa dibayangkan oleh kebanyakan kritikus yang paling radikal dan merusak, namun nubuat-nubuat itu tetap ratusan tahun sebelum kelahiran Kristus. Terlebih lagi, kesaksian kumulatif nubuat-nubuat itu tetap menghancurkan pandangan para kritikus itu. Nubuat-nubuat ini adalah fakta. Mereka menuntut suatu penjelasan. Apa yang akan menjelaskannya? Satu-satunya fakta yang akan menjelaskan bukti seperti nubuat-nubuat ini adalah eksistensi satu Allah yang berdaulat. Ia menyatakan lebih dahulu apa yang akan terjadi ketika Ia mengutus Yesus untuk penebusan umat manusia dan kemudian memastikan bahwa semua itu sungguh-sungguh terjadi.

Masih banyak lagi yang dapat dikatakan berkenaan dengan nubuat. Nubuat yang kita lihat sebelumnya hanya berkaitan dengan kedatangan Kristus. Terdapat juga nubuat-nubuat mengenai penyebaran dan pengumpulan kembali bangsa Israel dan nubuat-nubuat umum dan khusus mengenai bangsa-bangsa bukan-Yahudi dan sejumlah ibu kota dari bangsa-bangsa itu, yang banyak di antaranya telah dihancurkan tepat sesuai dengan apa yang telah Alkitab indikasikan bergenerasi-generasi, bahkan berabad-abad sebelumnya. Lembaga-lembaga, upacara-upacara, persembahan-persembahan, dan perayaan-perayaan Israel juga bersifat menubuatkan kehidupan dan pelayanan Yesus [6].

Catatan Kaki:

[1] R. A. Torrey, The Bible and Its Christ (New York: Fleming H. Revell. 1904-6), hlm. 26.

[2] F. F. Bruce, The New Testament Documents: Are They Reliuble? (Downers Grove, Ill.: InterVarsity Press, 1974), hlm. 82.

[3] Ibid., hlm. 82-83.

[4] Torrey, The Bible and Its Christ, hlm. 19

[5] E. Schuyler English, A Companion to the New Scofield Reference Bible (New York: Oxford University Press, 1972), hlm. 26. Penulis juga mengundang pembaca untuk membandingkan: Mat. 26:21-25 dengan Mzm. 41:10. Mat. 26:31, 56; Mrk. 14:50 dengan Za. 13:7. Mat. 26:59 dengan Mzm. 35:11. Mat. 26:63; 27:12, 14; Mrk. 14:61 dengan Yes. 53:7. Mat. 26:67 dengan Yes. 50:6; 52:14; Mi. 5:1; Za. 13:7. Mat. 27:9 dengan Za. 11:12-13. Mat. 27:27 dengan Yes. 53:8. Mat. 27:34; Mrk. 15:36; Yoh. 19:29 dengan Mzm. 69:22. Mat. 27:38; Mrk. 15:27-28; Luk. 22:37; 23:32 dengan Yes. 53:12. Mat. 27:46; Mrk 15:34 dengan Mzm. 22:2. Mat. 27:60; Mrk. 15:46; Luk. 23:53; Yoh. 19:41 dengan Yes. 53:9. Luk. 23:34 dengan Yes. 53:12. Yoh. 19:28 dengan Mzm. 69:22. Yoh. 19:33, 36 dengan Mzm. 34:21. Yoh. 19:34, 37 dengan Za. 12:10.

[6] Untuk diskusi yang lebih penuh tentang bidang studi Perjanjian Lama yang menarik ini, lihat Victor Buksbazen, The Gospel in the Feasts of Israel (Fort Washington, Pa.: Christian Literature Crusade, 1954) dan Norman L. Geisler, Christ: The Theme of the Bible (Chicago: Moody Press, 1968), hlm. 31-68.

Taxonomy upgrade extras: 

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA