Sharing Berkat Kelas MPH 2
-
Andhy D.
Halelluyah. Bisa mengikuti sampai selesai walau agak ribet ternyata teknis kelasnya. Pengalaman yang baru, menurut saya bagus adalah tugas harian dengan menjawab melalui Google Form. Hanya memang perlu diperjelas pertanyaan dan jawaban yang diinginkan supaya peserta tidak rancu menafsirkan pertanyaannya. Terima kasih Kak Bima dan Kak Mel yang sudah mendampingi kami di kelas MPH 2. Tuhan Yesus memberkati semua Sahabat-sahabat peserta dan YLSA SABDA. Mari kita menjadi pelaku kebenaran firman yang taat dan setia sambil menantikan Hari Tuhan.
-
Benny
Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus karena bisa diberi kesempatan untuk mempelajari dan praktik Hermeneutika. Hermeneutika ternyata perlu karena dengan adanya Hermeneutika, bisa menjadi benteng untuk menghadapi ajaran sesat. Jadi, dengan mempraktikkan Hermeneutika, kita semakin bisa mempelajari Alkitab. Memang agak kesulitan waktu Hermeneutika yang studi kata, tetapi dengan hikmat dari Tuhan, akhirnya bisa juga. Aplikasi praktisnya: dengan adanya Hermeneutika, saya jadi bisa memahami makna teks Alkitab sesuai dengan konteks budaya saat itu. Diskusinya selama saya ikut kelas bagus dan bisa lebih menggali lagi. Terima kasih untuk tim SABDA. Kiranya Tuhan Yesus memberkati tim SABDA lebih lagi.
-
Dominicus Eddy
Puji Tuhan saya diberkati mengikuti kelas pembelajaran Hermeneutika ini, memotivasi saya untuk makin belajar firman Tuhan dengan benar dan banyak mendapat referensi untuk mengajarkan kembali kepada jemaat umum dan remaja.
-
Dwi Kanti
Sungguh sangat bersyukur buat kesempatan yang Tuhan izinkan untuk boleh mengikuti kelas Hermeneutika sampai selesai. Walau tertatih dalam keterbatasan, kesempatan ini tidak datang dua kali. Yang terutama, saya sudah berani mencoba dan bertahan dari hari ke hari untuk tidak menyerah sehingga nilai bukan lagi masalah. Hermeneutika ini sangat penting bagi setiap orang percaya untuk dapat memahami makna dan tujuan penulis Alkitab dengan benar, lurus, dan jujur sehingga bisa menjadi panduan hidup kita yang terpercaya. Menjadi motivasi saya dalam bertumbuh dan mengenal Tuhan dengan benar. Sangat sulit bagi saya sebagai orang awam, tetapi SABDA dan tim dipakai sebagai alat-Nya untuk menyatakan kasih Tuhan kepada umat. Dikemas dengan sederhana, praktis, dan sistematis. Melalui latihan-latihan dan diskusi sangat menolong dan membantu saya untuk belajar bagaimana menafsir firman Tuhan dalam mencari makna dan tujuan penulis Alkitab dengan baik. Terima kasih yang tak terhingga buat tim SABDA yang sudah berlelah-lelah mengajar kami untuk kami boleh semakin mengasihi Allah. Terima kasih buat Kak Bima dan Kak Melisa yang telah mendampingi kami dengan sabar. Tuhan Yesus memberkati pelayanannya.
-
Eko Novi Firmanto
Berawal dari info di WAG gereja, ditambah dengan rasa keinginan untuk belajar hal-hal baru, maka saya mencoba mendaftarkan diri di pelatihan Hermeneutika yang diselenggarakan oleh SABDA MLC. Cukup menarik karena berlaku syarat dan ketentuan dalam mengikuti pelatihan MPH ini, dan akhirnya mulailah saya mengikutinya.
Banyak hal yang saya dapat selama mengikuti kelas MPH ini, antara lain, saya jadi tahu:
- Apa itu Hermeneutika.
- Bagaimana menafsirkan Alkitab dengan dapat dipertanggungjawabkan.
- Apa saja prinsip-prinsip dalam menafsirkan Alkitab.
- Mendapatkan banyak hal menarik (informasi) saat berdiskusi.
Buat saya, hal yang menarik selama mengikuti kelas MPH ini adalah agar tidak asal mengambil 1 (satu) ayat sehingga lepas dari konteksnya (seperti yang selama ini saya tahu). Kedalaman Alkitab sebagai firman Tuhan sungguh luar biasa. Karena itu, untuk memahaminya diperlukan effort yang nggak sederhana pula. Evaluasi saya terkait kelas MPH ini mungkin perlu dibuat khusus kelas karyawan (pekerja) dan bukan mekanismenya akan lebih optimal dan maksimal, saya merasakan belum maksimal karena keterbatasan waktu yang ada di mana saya membacanya dan mengerjakan tugasnya di sela-sela rapat, bahkan ketika di lapangan. Hal ini juga berpengaruh saat diskusi berlangsung (sehingga sampai dijapri oleh mentor kelas hehehe). Yang pasti, saya bersyukur karena dapat pengalaman indah untuk mengetahui maksud atau pesan Tuhan melalui kelas MPH ini, terima kasih buat crew SABDA, tetaplah terus menginspirasi dan menjadi berkat. Gbu all.
-
Francisca Paquita
Sangat bersyukur saya bisa ikut kelas "Mempraktikkan Prinsip Hermeneutika" (MPH) ini. Terasa benar bedanya dengan jika hanya belajar dan menyimak contoh saja. Modul MPH telah disiapkan dengan sangat baik: efektif, jelas, dan menolong dalam praktik. Mempraktikkan langkah-langkah menafsir, mendiskusikannya bersama teman-teman, dan mendapat evaluasi setiap hari, menjadi pengalaman yang sungguh berharga dan menyenangkan karena bisa mendapat solusi, tambahan wawasan dan koreksi dari teman-teman, moderator, dan evaluator.
Belajar di kelas ini sangat menantang sekaligus menyenangkan luar biasa karena saling menyemangati di tengah "kelelahan" dan lebih lagi karena setelah ini, bisa menafsir dengan cara yang terarah dan bertanggung jawab, tentunya dengan berlatih terus. Terima kasih sekali teman-teman dan tim pelayanan YLSA MLC. Hormat saya kepada seluruh tim pelayanan YLSA MLC untuk kesetiaannya dan kerja kerasnya yang kali ini pasti juga luar biasa, terutama kepada Ibu Yulia, Kak Bima, dan Kak Melisa. Kiranya Tuhan menyertai dan memberkati berlimpah dalam segala yang diperlukan.
-
Hana
Semua materi bagi saya sangat berkesan dan memang membutuhkan waktu yang lebih dalam pengerjaan tugas-tugasnya daripada biasanya. Terlebih hari terakhir tentang penafsiran berdasar gaya bahasa karena perlu beberapa keahlian, dan referensi, materi, juga pengetahuan yang cukup agar bisa mengerjakan tugas tugasnya dengan baik. Harapan saya ada evaluasi juga koreksi atas tugas-tugas yang sudah saya submit agar bisa belajar dari kesalahan dan menjadi lebih baik ke depannya. Aplikasi: saya akan memakai materi yang diajarkan untuk penafsiran ke depannya. Jalannya diskusi memang tidak terlalu maksimal karena tugas cukup menyita waktu. Terima kasih kepada teman-teman di MPH 2 juga moderator serta admin yang membantu dalam memberi masukan dan saran atas kesulitan dan pertanyaan yang ada.
-
Harry Tardas
Saya mendapatkan pengajaran bahwa Hermeneutika adalah sesuatu yang penting dan dilakukan dengan cara:
- Membaca dengan hati yang tertunduk. Ketika kita membuka Alkitab, kita tidak sekadar membaca teks kuno. Kita sedang berdiri di hadapan firman yang hidup yang menegur, menghibur, dan membentuk. Namun, bagaimana kita tahu bahwa kita memahami dengan benar? Di sinilah Hermeneutika menjadi anugerah.
- Hermeneutika sebagai tindakan iman. Hermeneutika bukan hanya ilmu tafsir. Ia adalah bentuk ketaatan. Ketika kita belajar menafsirkan dengan benar, kita sedang berkata kepada Tuhan: "saya tidak ingin memaksakan pikiranku ke dalam firman-Mu. saya ingin mendengar suara-Mu sebagaimana Engkau maksudkan." Mazmur 119:18, "Bukalah mataku, supaya saya melihat keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu." Belajar Hermeneutika adalah doa yang dijelmakan dalam disiplin. Kita belajar konteks, bahasa asli, genre, dan maksud penulis bukan untuk menjadi akademisi, tetapi untuk menjadi pelayan yang setia.
- Dari teks ke transformasi. Hermeneutika mengajarkan kita bahwa setiap ayat memiliki latar, setiap kata punya bobot, dan setiap perikop mengarah pada Kristus. Kita tidak hanya belajar "apa yang dikatakan," tetapi "mengapa itu dikatakan", dan "bagaimana itu mengubah kita." Contohnya, ketika kita membaca Yohanes 1:1, "Pada mulanya adalah Firman." Hermeneutika membawa kita menyelami kedalaman Logos, bukan sekadar definisi, tetapi pribadi Yesus yang kekal dan aktif dalam penciptaan dan penebusan.
- Berkatnya: ketajaman rohani dan kerendahan hati. Belajar Hermeneutika melatih kita untuk tidak cepat menghakimi, tidak gegabah dalam mengajar, dan tidak sombong dalam pengetahuan. Justru, semakin kita memahami firman, semakin kita menyadari betapa kita membutuhkan Roh Kudus untuk menerangi dan menghidupkan teks itu dalam hati kita.
-
Herman
Mengikuti kelas "Mempraktikkan Prinsip Hermeneutika" sangat menyenangkan karena saya mendapat pencerahan ulang bagaimana menafsir kata, konteks, latar belakang, dst. melalui prinsip-prinsip Hermeneutika umum dan Hermeneutika khusus, seperti gaya bahasa, simbol, tipologi, dst.. Untuk dapat memahami makna teks, seseorang mesti melakukan eksegese dan bukan sebaliknya, eisegese, atau memaksakan tafsir sendiri ke dalam teks. Di mana dewasa ini, ada kecenderungan dari sebagian orang melakukannya demi mencapai tujuan-tujuan dengan jalan pintas untuk memenuhi keinginan telinga pendengarnya agar khotbahnya terdengar menarik, segar, dan membangun tanpa melakukan prinsip-prinsip Hermeneutika.
Pada era digital ini, saya merasa bahwa kita mendapat bantuan dari sumber-sumber yang sangat melimpah dan mudah dibandingkan dengan melakukannya secara klasik. Kesetiaan dan kedisiplinan untuk menerapkan prinsip-prinsip Hermeneutika akan menolong audience/pendengar atau jemaat mendapatkan "makanan" yang sehat dan segar. Mereka tidak akan disesatkan oleh orang-orang yang hanya mengambil "keuntungan" tanpa mau melakukan proses penggalian yang maksimal. Akhirnya, saya ucapkan terima kasih kepada tim MLC - SABDA yang telah memfasilitasi ini, dan kepada teman-teman di dalam kelas MPH 2 yang telah berdiskusi selama kegiatan ini berlangsung. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
-
Irena Rachmani Utama
Shalom. Atas pimpinan Tuhan, saya menemukan tentang MPH ini dan ikut serta. Semua pelajaran berkesan terutama pelajaran tentang latar belakang di mana sangat penting sekali untuk mencari apa yang menjadi sebab suatu kejadian agar bisa menafsir dengan tepat. Kegiatan ini sangat menarik, tetapi membutuhkan banyak waktu karena sumber-sumber yang relevan tentang budaya Yahudi pada masa Alkitab tidak banyak tersedia. Ketika membaca pelajaran dan mempraktikkan sendiri, serta harus mengisi formulir yang sangat mendetail, juga harus terlibat dalam diskusi terasa waktu sangat tidak memadai, dan tim SABDA harus terus mengingatkan peserta. Setelah beberapa hari berlatih MPH, saya jadi lebih teliti membaca renungan harian yang biasa saya lakukan dan lebih dalam merenungkan arti dan aplikasinya sehingga sungguh saya merasakan manfaat dari latihan MPH ini. Banyak terima kasih tim SABDA.
-
Lincha A. Pardede
Shalom. Setelah pertama kali belajar tentang Hermeneutika, saya semakin menyadari betapa pentingnya memahami firman Tuhan secara benar. Sebelumnya, saya sering membaca Alkitab hanya dengan pemahaman pribadi dan perasaan sehingga kadang tafsiran saya kurang tepat. Namun, melalui Hermeneutika, saya belajar bahwa ada prinsip-prinsip penting seperti memahami konteks sejarah, budaya, dan bahasa asli. Ini membuat saya lebih berhati-hati dalam menafsirkan ayat, agar tidak keluar dari maksud penulis dan pesan Tuhan yang sesungguhnya.
Saya merasa dikuatkan karena ternyata Roh Kudus tetap bekerja melalui proses ini, menolong kita memahami kebenaran dengan benar. Saya juga belajar bahwa memadukan metode penafsiran yang baik dengan ketergantungan kepada Tuhan membuat pemahaman kita lebih kaya dan mendalam. Hermeneutika bukan hanya untuk pengetahuan, tetapi juga agar firman itu hidup dan mengubahkan. Kini, saya lebih rindu untuk menggali Alkitab dengan cara yang benar agar dapat membagikan kebenaran kepada orang lain, bukan sekadar opini pribadi. Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.
-
Mas Sujono
Bersyukur bisa mengikuti kelas MPH ini. Saya semakin yakin bahwa Alkitab adalah karya yang luar biasa dan bisa meyakinkan non-Kristen bahwa Alkitab memang tidak palsu. Justru dari belajar bahasa asli, semakin nyata bahwa ini adalah karya Tuhan. Saya rasa masih 20% mengikuti ini, masih banyak yang harus dipelajari dan didalami, paling tidak ini adalah awal yang baik untuk semakin bertumbuh. Kelas ini berat sekali bagi saya, butuh analisa yang kuat, pemahaman doktrinal yang kuat, kalau tidak bisa bingung sendiri dengan ilmu yang sangat di luar logika ini. Dengan belajar MPH ini, setidaknya kita memiliki seni menafsir awam. Terima kasih tim SABDA.
-
Ronald Kessek
Saya sangat bersyukur dapat mengikuti MPH meskipun sempat kewalahan, tetapi dengan adanya MPH ini, saya merasa semakin diperlengkapi, wawasan dan pemahaman saya menjadi lebih luas, dan terlebih saya merasa menjadi semakin tajam dan mendalam dalam membaca dan merenungkan firman Tuhan, yang hasilnya tentu saja dapat terus mentransformasi hidup saya. Menerapkan prinsip Hermeneutika membuat kita bisa lebih jelas dalam melihat maksud dan kebenaran yang terkandung dalam Alkitab. Terima kasih untuk Ibu Yulia, Pak Bima, Ibu Melisa, dan semua tim SABDA yang telah dengan sabar, berjerih payah, mengadakan dan menjadikan MPH sebagai sarana belajar kami. Tuhan Yesus memberkati.
-
Stefanus Hendra Widjaja
Hari ini, saya belajar bahwa menafsir Alkitab dengan Hermeneutika, khususnya dalam menolong saya semakin berhati-hati membaca firman Tuhan. Saya diingatkan bahwa memahami konteks, latar budaya, dan maksud penulis sangat penting agar tidak salah tafsir. Berkatnya, saya semakin rindu bukan hanya membaca Alkitab secara cepat, tetapi sungguh menggali makna yang Allah ingin sampaikan untuk menguatkan iman saya hari ini.
-
Susi Wahyuni
Puji Tuhan, bisa mengikuti kelas MPH ini sampai selesai. Sejujurnya, ini kelas yang paling sulit saya ikuti, saya merasa sangat bingung setiap kali mengerjakan tugas. Dalam hati, saya tidak lulus tidak apa-apa, yang penting bisa mengikuti sampai selesai. Itu semangat yang membuat saya menyelesaikan sampai akhir. Meskipun (jujur), saya tidak yakin dengan hasil yang saya dapatkan.
Terima kasih Kak Bima selaku moderator yang mendorong dan mengingatkan saya. Terima kasih Bu Yulia yang sudah menunjukkan beberapa kesalahan yang sudah saya lakukan, secara umum, ternyata banyak sekali. Ternyata memang sangat sulit belajar Hermeneutika, seperti ikut kuliah lagi, harus belajar dan terus belajar. Terima kasih teman-teman yang begitu antusias berdiskusi, meski saya sering kebingungan juga mau menanggapi apa, tetapi diskusi kalian membuat saya memiliki semangat untuk menyelesaikannya. Terima kasih tim SABDA yang sudah memfasilitasi semuanya. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
-
Sellin
Kelas ini adalah kelas ke sekian dari SABDA MLC yang saya ikuti bersama sahabat-sahabat yang juga suka membaca dan menggumuli firman Tuhan, serta mendiskusikannya bersama-sama. Dan, setiap habis selesai ikut kelas, saya selalu mengucap syukur pada Tuhan, untuk setiap proses yang sudah saya jalani dalam kelas. Selain itu saya juga mengucap syukur karena Tuhan sudah memberi saya kesempatan untuk belajar bersama teman-teman yang baik. Secara khusus untuk kelas MPH ini, saya bersyukur sekali karena Tuhan memampukan saya untuk menyelesaikan semua prosesnya sampai akhir.
Nah, dalam sharing berkat kali ini, saya mau cerita sedikit tentang proses yang saya jalani dalam kelas ini. Sejujurnya, sejak awal kelas ini sudah terasa membingungkan untuk saya secara pribadi. Membingungkan karena memang sistem dan polanya dari kelas ini berbeda dari kelas-kelas MLC sebelumnya. Bukannya saya tidak suka/anti dengan perubahan, tetapi setiap kali ada perubahan; kita pasti butuh yang namanya proses adaptasi. Dan, kalau instruksi yang disampaikan jelas, proses adaptasi ini akan berlangsung lebih cepat. Itulah yang terjadi pada saya di diskusi hari kedua.
Untuk mengerjakan tugas dan melakukan penafsiran di hari kedua, saya sampai harus menelepon sahabat yang juga sering bersama saya belajar di kelas SABDA MLC, Ibu Ruth Lodiana, untuk mendapat penjelasan lagi tentang bagaimana cara pengerjaannya. Meskipun kami kali ini beda kelas, tetapi sekali lagi saya sungguh bersyukur; karena dari dan dalam kelas ini, saya punya sahabat-sahabat yang bersedia untuk menolong dan menjelaskan lagi ketika saya mengalami kesulitan. Bagi kami, beda kelas tidak jadi soal; yang penting adalah saling mengasihi dan saling menolong berproses bersama. Di sinilah, saya merasakan kehangatan dan kekeluargaan dalam persahabatan selama pembelajaran ini. Selain itu, saya juga bersyukur untuk support yang diberikan Pak Andhy yang sangat menguatkan saya, untuk terus menyelesaikan tugas penafsiran sampai beres di hari yang kelima.
Kalau ditanya apakah ada tantangan selama pembelajaran berlangsung? Jawabnya jelas ada. Salah satu hambatannya adalah kejelasan instruksi dari proses penafsiran. Instruksinya membingungkan menurut saya. Dan, saya sangat menyayangkan karena kelas ini tidak membuka kesempatan untuk setiap peserta berdiskusi hal-hal terkait hasil dari penafsiran. Malahan, hal-hal yang didiskusikan bersama di kelas adalah hal teknis. Kenapa ini sangat saya sayangkan? Karena menurut saya diskusinya jadi kurang seru. Diskusi dalam kelas kali ini jadi terasa membosankan. Monoton dengan pertanyaan diskusi yang sama setiap harinya. Sebab kalau berdiskusi hanya tentang teknisnya, (lagi-lagi ini menurut saya pribadi ya) semuanya akan hampir sama setiap hari. Dan, pertanyaan seputar teknis itu, sudah tidak menjadi pertanyaan lagi ketika kita mampu beradaptasi dengan polanya.
Maka menurut saya, lagi-lagi, akan lebih menarik kalau kita berdiskusi tentang hal-hal yang terkait hasil penafsiran setiap peserta. Sayangnya dalam grup kelas hal ini tidak diperkenankan. Padahal, judul dari kelas ini pun sebetulnya praktik, tetapi yang didiskusikan hal-hal teknis (jadi agak rancu ya). Padahal ketika diskusi berlangsung, wawasan kita akan diperluas dan semakin tajam. Saya minta maaf, kalau sharing berkat kali ini; apa yang saya tuliskan terkesan seperti kritik, yang saya maksudkan adalah saya hanya bercerita apa yang saya rasakan dalam bagian ini. Namun terlepas dari itu semua, saya berterima kasih untuk teman-teman yang masih berjuang dan terus berupaya untuk berdiskusi bersama selama proses kelas ini berlangsung. Kiranya apa yang terjadi dalam kelas ini boleh menjadi pelajaran yang baik untuk hidup kita dan pelayanan bersama. Sekian dari saya. Tuhan Yesus mengasihi kita semua.
Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA