KRP-Pelajaran 04

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kelas : Kehidupan Rasul Paulus
Nama Pelajaran : Perjalanan Misi Paulus yang Ketiga
Kode Pelajaran : KRP-P04

Pelajaran 04 -- Perjalanan Misi Paulus yang Ketiga

Daftar Isi

  1. Meneruskan Pelayanan Injil
    1. Di Efesus
    2. Mengunjungi Makedonia
  2. Pelayanan yang Penuh Tantangan
    1. Kembali ke Yerusalem
    2. Masalah Kaum Yahudi Kristen
  3. Paulus Ditangkap
    1. Penangkapan Paulus
    2. Di Hadapan Sanhedrin
    3. Selamat dari Yerusalem

Doa

Pelajaran 04: Perjalanan Misi Paulus yang Ketiga

Ketika belum cukup lama di Antiokhia, Paulus menerima kabar bahwa ada masalah dalam jemaat Galatia. Oleh karena itu, ia memulai perjalanan misinya yang ketiga, perjalanan yang panjang dan penuh rintangan. Selain tinggal lama di Efesus dan mengunjungi Ilikrium, perjalanan misi Paulus ini juga meliputi daerah-daerah yang pernah ia layani.

  1. Meneruskan Pelayanan Injil
    1. Di Efesus
    2. Dari Antiokhia, Paulus pergi ke Galatia dan Frigia untuk mendukung gereja-gereja yang telah ia dirikan dalam perjalanan sebelumnya (Kisah Para Rasul 18:23). Kemudian, ia berkeliling di wilayah barat Bitinia dan tiba di Efesus dengan perjalanan darat.

      Efesus adalah ibu kota Asia pada waktu itu, dan di kota inilah Paulus tinggal paling lama selama melakukan perjalanan misinya. Kuil Artemis (dewi Yunani) adalah salah satu dari kuil yang paling mengagumkan di dunia pada waktu itu. Dibutuhkan 220 tahun untuk membangun kuil ini. Penyembahan di tempat ini sepenuhnya jahat dan berdosa. Beribu-ribu orang datang untuk menyembah dewi ini. Namun, hal ini memberi kesempatan kepada Paulus untuk memberitakan firman Allah kepada orang-orang di sana. Setelah beberapa bulan, banyak orang yang menerima Kristus dan menolak untuk menyembah Dewi Artemis.

      Tiga tahun lamanya Paulus mengajar di tempat ibadah di Efesus. Kemudian, Paulus menyewa sekolah Tiranus selama dua tahun. Di kota inilah Paulus melakukan pelayanan yang sangat efektif. Begitu banyak orang yang menerima iman Kristen sehingga para pengikut Artemis mulai membuat masalah, dan sekali lagi, Paulus harus menyingkir ke kota lain.

      Di Efesus, ia menulis surat pertamanya kepada orang Korintus, yaitu pada tahun 54, dan surat kedua pada akhir tahun 57.

    3. Mengunjungi Makedonia
    4. Setelah tiga tahun di Efesus, Paulus kembali ke Makedonia untuk mengunjungi jemaat barunya di sana. Ia memberitakan firman Allah di Troas, kemudian meneruskan perjalanannya ke Filipi, tempat Timotius dan Titus menunggu untuk bergabung bersamanya. Jemaat di Filipi menjadi sangat kuat. Mungkin perhentian Paulus selanjutnya adalah di Ilikrium. Ia memberitakan firman Allah di daerah ini selama dua atau tiga bulan sebelum ia pergi ke Korintus.

      Jemaat di Korintus sangat gembira karena Paulus kembali tinggal bersama mereka. Di kota itu, Paulus membimbing dan melatih para pemimpin di sana. Alasan lain Paulus pergi ke Korintus adalah untuk memberi semangat kepada orang Kristen di situ untuk memberikan persembahan yang memadai bagi jemaat di Yerusalem. Ketika berada di Korintus, Paulus juga menyempatkan menulis surat kepada jemaat di Galatia.

      Sekarang, Paulus ingin sekali kembali ke Yerusalem dan Antiokhia, tempat ia memulai pekerjaannya. Ia telah bepergian selama empat tahun dan mulai memikirkan keadaan jemaat itu. Di samping itu, ia juga tidak sabar kembali ke Yerusalem untuk memberikan persembahan yang telah ia kumpulkan selama perjalanannya ini.

      Saat bersiap-siap untuk berlayar bersama rekan-rekannya ke Yerusalem, Paulus mendengar ada orang-orang Yahudi yang bermaksud membunuhnya di lautan. Oleh karena itu, Paulus mengubah rencananya dengan melakukan perjalanan darat yang sulit dan panjang bersama Lukas. Paulus sempat berhenti di Troas dan di sana ia bertemu dengan orang-orang Kristen, pada hari pertama dalam minggu itu. Mereka sudah memakai hari Minggu sebagai hari ibadah. Pada kebaktian ini, Eutikus, yang duduk dekat jendela, tidak dapat menahan kantuknya. Lalu, ia tertidur dan jatuh dari tingkat tiga. Teman-temannya cepat-cepat menghampirinya dan mendapati bahwa ia sudah mati. Namun, Paulus menghidupkannya kembali.

      Hari berikutnya, Paulus berjalan dari Troas ke Asos. Di sana, ia dan teman-temannya menumpang kapal untuk berlayar ke Miletus. Sebelum berlayar dari Miletus, Paulus memanggil para penatua jemaat Efesus untuk memberikan pesan perpisahannya dengan mereka (Kisah Para Rasul 20:17-38).

  2. Pelayanan yang Penuh Tantangan
    1. Kembali ke Yerusalem
    2. Paulus meneruskan perjalanannya menuju Yerusalem. Setiap kali berhenti di suatu kota, orang Kristen di sana selalu memperingatkan akan adanya bahaya yang menunggu di hadapannya. Orang Yahudi sudah berketetapan hati untuk membunuh dia (Kisah Para Rasul 21:1-14). Namun, Paulus tidak gentar. Ia telah menyelesaikan perjalanannya yang ketiga untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Ia juga telah memenangkan peperangan bagi mereka. Karena itu, sekarang ia siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi atasnya di Yerusalem.

      Setelah empat tahun, akhirnya Paulus tiba kembali di Yerusalem. Orang Kristen di sana penuh dengan sukacita karena dapat bertemu lagi dengan Paulus. Mereka tidak sabar mendengar tentang semua pelayanan yang telah dilakukannya dan apa saja yang telah dilakukan Roh Kudus melalui dia.

      Semua pemimpin jemaat di Yerusalem bertemu dan mendengarkan pengalaman Paulus. Paulus menceritakan dengan terperinci yang Allah lakukan di antara bangsa-bangsa melalui pelayanannya. Para pemimpin jemaat di sana sangat terkesan dan mereka bersyukur kepada Allah atas semua pekerjaan yang telah dilakukan. Paulus pun berkesempatan menyerahkan persembahan yang telah ia kumpulkan dengan setia selama lebih dari empat tahun untuk jemaat Yerusalem. Pada waktu itu, orang Kristen di Yerusalem sedang menderita kelaparan dan banyak yang tidak dapat bekerja. Oleh sebab itu, Paulus meminta jemaat dari bangsa-bangsa lain agar menolong secara sukarela saudara-saudara seiman di Yerusalem. Paulus tahu bahwa hal ini akan menjadi berkat bagi kedua belah pihak, baik yang memberi maupun yang menerima.

    3. Masalah Kaum Yahudi Kristen
    4. Banyak orang Yahudi yang menjadi percaya kepada Yesus Kristus, tetapi masih rajin memelihara hukum Taurat. Mereka membuat propaganda bahwa Paulus mengajarkan kepada orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk tidak mematuhi Hukum Musa, dan juga mengatakan supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat orang Yahudi. Hal ini tentu saja tidak benar, tetapi pemimpin jemaat di Yerusalem menasihati Paulus untuk pergi bersama empat orang yang bernazar ke Bait Allah untuk menguduskan dirinya bersama-sama dengan mereka.

      Paulus mengikuti nasihat para pemimpin itu. Namun, ketika orang Yahudi melihat dia di dalam Bait Allah, mereka mulai menghasut orang banyak dan menuduh bahwa Paulus telah membawa seorang Yunani masuk ke dalam Bait Allah dan menajiskan tempat suci itu. Memang, ada hukum yang tidak memperbolehkan orang dari bangsa lain masuk ke dalam Bait Allah. Paulus tidak melakukan hal ini, tetapi itulah hasutan yang mereka ajukan (Kisah Para Rasul 21:28).

  3. Paulus Ditangkap
    1. Penangkapan Paulus
    2. Kepala pasukan menangkap Paulus dan mengikatnya dengan dua rantai, lalu menanyakan kepada kerumunan itu tentang siapakah Paulus dan apa yang telah diperbuatnya.

      Banyak orang meneriakkan ini dan itu. Ketika kepala pasukan tidak mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi, ia menyuruh anak buahnya membawa Paulus ke markas. Ketika mencapai tangga, kerumunan orang itu menjadi beringas sehingga prajurit-prajurit itu harus memanggul Paulus di atas pundak mereka supaya dapat melindunginya. Kerumunan itu berteriak, "Enyahlah dia, enyahlah dia!"

      Ketika mereka hendak membawa Paulus ke markas, Paulus meminta kepada kepala pasukan untuk berbicara kepada orang-orang di sana. Kepala pasukan itu sangat terkesima karena ia mendengar Paulus berbicara dalam bahasa Yunani. Kemudian, Paulus mulai berbicara kepada kerumunan itu dalam bahasa Ibrani (Kisah Para Rasul 22:1- 21). Pada saat Paulus menyebut kata "bangsa-bangsa lain", kerumunan itu menjadi lepas kendali dan menginginkan Paulus dibunuh secepatnya. Ketika mereka bersiap-siap membunuhnya, kepala pasukan itu mencegah mereka. Ia membawa Paulus ke dalam dan memerintahkan para prajurit untuk menyiksanya sampai ia mengakui kejahatannya.

      Namun, ketika hendak menyiksanya, Paulus berkata, "Apakah sah bagi kamu untuk mencambuk seseorang yang adalah warga negara Roma dan tanpa diadili?" Ketika kepala pasukan itu mengetahui bahwa Paulus adalah warga negara Romawi, ia menjadi takut dan membawa Paulus ke hadapan Mahkamah Agama (lih. Kisah Para Rasul 22:20-30).

    3. Di Hadapan Sanhedrin
    4. Sebelum bertobat, Paulus sering menyeret orang-orang Kristen ke hadapan Mahkamah Agama untuk dihakimi. Sekarang, ia sendiri yang harus menghadap Mahkamah Agama. Di hadapan mereka, Paulus mengatakan bahwa selama ini ia hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah.

      Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri dekat Paulus untuk menampar mulutnya. Hal ini menyebabkan Paulus marah dan berbicara sangat keras kepada Ananias. Setelah itu, ia meminta maaf, sebab ia tidak tahu bahwa Ananias adalah Imam Besar (lih. Kisah Para Rasul 23:1-11).

      Kemudian, Paulus menyadari bahwa beberapa orang anggota dewan itu adalah orang Farisi dan beberapa orang Saduki. Paulus mengetahui mereka saling bermusuhan. Paulus berkata dengan suara yang keras, "Hai, Saudara-saudara, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi." Rupanya perkataan Paulus ini menyebabkan perdebatan dan perpecahan di antara dua kelompok itu. Lalu, kepala pasukan itu membawa Paulus pergi dari tempat itu sebab ia takut kalau-kalau mereka akan mengoyak-ngoyak Paulus. Sekali lagi, Paulus lolos dari maut.

      Malam itu, Tuhan mendatangi Paulus yang masih ada di dalam penjara. Tuhan berkata, "Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma." Sekarang Paulus tahu bahwa cepat atau lambat ia akan pergi ke Roma, tetapi ia tidak tahu berapa lama dan bagaimana itu akan terjadi.

    5. Selamat dari Yerusalem
    6. Orang Yahudi yang kalah bersilat lidah dengan Paulus sepakat untuk membunuhnya. Mereka bersumpah tidak akan makan maupun minum sebelum mereka membunuh Paulus. Namun, keponakan Paulus mendengar rencana jahat ini, lalu Paulus pergi kepada kepala pasukan dan menceritakan tentang rencana komplotan orang Yahudi yang akan membunuhnya. Kemudian, kepala pasukan memerintahkan 200 prajurit bersenjata lembing dan 70 orang berkuda untuk membawa Paulus ke Kaisarea. Di Kaisarea, Paulus dibawa kepada Feliks dan ditahan di istana Herodes. Sekali lagi, Paulus selamat dari maut. Paulus dipenjarakan di Kaisarea selama dua tahun dan ditambah lagi tiga tahun sebelum ia nanti dibebaskan (lih. Kisah Para Rasul 23:12-35).

      Mengapa Tuhan membiarkan Paulus dipenjara selama lima tahun lamanya, bukankah saat itu seharusnya menjadi waktu yang penting bagi pelayanannya? Kita tidak dapat menjawab pertanyaan ini sepenuhnya. Yang pasti, hal itu pasti juga sulit dimengerti Paulus. Namun, sekarang kita dapat melihat mengapa hal itu terjadi. Paulus membutuhkan istirahat. Setelah 20 tahun penuh Paulus menjalankan pelayanan yang sulit dan perjalanan yang sangat panjang, Paulus tentu merasa sangat letih. Waktu Paulus di penjara bukan hanya menjadi waktu untuk beristirahat, tetapi juga menjadi waktu untuk merenungkan kebenaran Kristus Yesus.

      "Saudara-saudaraku, aku ingin kamu tahu bahwa apa yang telah terjadi padaku justru telah membawa kemajuan bagi Injil, sehingga seluruh pengawal istana dan semua orang lain tahu bahwa aku dipenjara bagi Kristus." (Filipi 1:12-13, AYT)

      Akhir Pelajaran (KRP-P04)

      Doa

      "Aku bersyukur karena melalui pelajaran ini aku bisa melihat bagaimana Engkau merancang kebaikan melalui keadaan yang terburuk sekalipun. Karena itu, ingatkan aku untuk selalu memercayai-Mu dan janji firman-Mu. Biarlah Engkau terus mengajar dan menguatkanku. Amin."